
Jonathan membawa Tiffany ke jalan menuju arah luar kota, tangan Jonathan membuka laci di bawah dashboard tepat di depan Tiffany lalu menyerahkan sebuah kotak perhiasan
“untukmu, sebagai ucapan terima kasihku” kata Jonathan
“terima kasih untuk apa?” tanya Tiffany heran
“untuk pertemanan kita”
Tiffany membuka kotak perhiasan tersebut yang ternyata berisi sebuah gelang Cartier.
“Joe ini terlalu mahal”
“jangan menghinaku Tiffany, benda murah seperti ini aku bisa membelikanmu 100 jika kau mau” jawab Jonathan dengan nada sombongnya
“baiklah terima kasih” kata Tiffany sambil memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya.
Jonathan tiba tiba meminggirkan mobilnya
“kau bisa turun di sini” katanya santai
“Joe apa maksudmu?”
“turun di sini”
“Joe di mana kita?” Tiffany mengamati jalanan di sekitarnya
“turun” jawab Jonathan dingin
“ini.... Joe ini arah keluar kota, tidak ada halte bus di sekitar sini”
“aku tidak ingin membawa kekasih pria lain di mobilku” jawab Jonathan
“Joe kau keterlaluan!”
“turun” ucap Jonathan dingin
Tiffany membuka pintu mobil dan turun, ia benar benar di turunkan oleh Jonathan di tengah jalanan sunyi. Sejenak Tiffany ingin menangis, namun senja yang indah di jalanan yang sepi. Bahkan tidak ada satu pun taxi yang akan melewati jalanan itu.
Tiffany menyentuh layar ponselnya, berpikir sejenak, ia bisa saja meminta bantuan Olivia, ataupun teman teman yang lain. Tapi melihat senja yang indah di jalanan pinggiran kota, masih ada beberapa lahan pertanian, beberapa petani tampak sedang menghalau dombanya menuju pulang ke kandangnya. Ia memutuskan menikmati senja ini terlebih dahulu baru kemudian ia akan pulang nanti, entah bagaimana caranya, meskipun harus memanggil panggilan darurat International sekalipun.
Tiffany mendekati petani itu dan ikut menghalau domba domba tersebut.
“nak apa kau tersesat?” tanya pria tua itu.
“ah yaa.... ku pikir aku memang tersesat” kata Tiffany santai “aku sedang menunggu temanku yang akan menjemputku”
“jika temanmu belum juga menemukanmu kau bisa menginap di rumahku, itu” pria tua itu menunjuk sebuah rumah tampak dari kejauhan “itu rumahku, istriku dan cucuku kami tinggal di sana” katanya
“oh ya, terima kasih” jawab Tiffany senang.
Gadis itu mengiringi langkah domba domba itu sambil bercengkerama akrab dengan pria tua itu.
Sedangkan Jonathan, ia kembali ke tempat di mana Tiffany ia turunkan. Ia berniat menggertak Tiffany, dan ingin melihat gadis itu menangis ketakutan.
Namun melihat gadis itu dari kejauhan, tidak ada ketakutan sedikit pun! Gadis itu justru berteman dengan domba domba dan petani tua!!!
Percuma mengkhawatirkan gadis aneh itu, jika Olivia atau Keiko mungkin sudah mennagis, namun rupanya ia telah salah menggertak!
Jonathan bermaksud meninggalkannya lagi, namun hatinya merasakan kesenangan tersendiri menyaksikan adegan di depannya. Setelah mengambil beberapa foto Tiffany dengan back ground hamparan rumput bersama domba, ia turun dari mobilnya dan menyusul Tiffany berjalan mengiringi domba dan petani. Menyadari seseorang yang datang Tiffany hanya melirik Jonathan dengan santai.
“oh temanmu sudah datang rupanya?” kata pak tua petani
“pak tua dia bukan temanku” kata Tiffany dengan nada sopan
“oh iya kalian tampak sangat serasi tidak mungkin kalian hanya berteman”
Tiffany “......”
“iya dia calon istriku” jawab Jonathan dengan seringai penuh kemenangan
“oooohhh hahahah sudah kuduga, ayo kalian harus istirahat di rumah kami sebentar aku akan memberikanmu beberapa sayuran segar, kalian bisa memasaknya dirumah nanti”
“maaf pak tua, tidak perlu” tolak Tiffany
“aku sangat sedih, kau menolakku, kebetulan hasil panen tomat kami sangat banyak tahun ini” kata pak tua petani itu tampak kecewa
“baiklah, kami akan singgah ke rumahmu” kata Jonathan antusias dan ia juga membantu menghalau domba domba itu masuk ke kandangnya, suasana yang tadinya kaku kini berubah menjadi canda tawa dan teriakan teriakan kecil karena mereka berdua benar benar harus bekerja keras menghalau domba untuk masuk ke dalam kandangnya, dan domba domba itu beberapa ada yang ketakutan karena ulah Tiffany yang menghalau dengan bberlebihan.
Mereka akhirnya terengah engah karena kelelahan.
Setelah meneguk air minum yang di suguhkan oleh istri pak tani itu Jonathan dan Tiffany berpamitan dan mereka benar benar di beri sekantong tomat segar yang baru saja di petik.
Jonathan melepas pakaiannya, otot otot tubuhnya terpahat sempurna, dengan kulit sedikit kecokelatan peluh yang mengalir di dadanya membuatnya semakin sexyHampir saja Tiffany menelan ludahnya, ia segera mengalihkan pandangannya.
Jonathan meletakkan kantong plastik yang berisi tomat segar di bagasi mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk Tiffany.
Kecanggungan kembali merasuki keduanya, bibir Tiffany terkatup rapat. Ia tidak ingin kembali bersama Jonathan namun hari sudah mulai gelap!!!
“masuk” kata Jonathan
“aku bisa memanggil Nino, kau pulanglah” jawab Tiffany dengan nada sedikit keras kepala
“jangan keras kepala” Jonathan menatap mata Tiffany dalam, tidak ada kemarahan lagi di sana “Tiffany”
Akhirnya Tiffany mendudukkan pantatnya di kursi samping kemudi, Jonathan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang dan mereka larut dalam kebisuan.
“Aku dan Nino tidak ada hubungan apa pun selain sebagai saudara” tiba tiba Tiffany membuka suaranya ingin meluruskan kesalah pahaman di antara mereka.
Jonathan sama sekali tidak menjawab, ia mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal Tiffany.
Ia memasukkan tomat dan sayuran segar ke dalam lemari pendingin, menyusunnya dengan rapi lalu meninggalkan Tiffany, keluar dari apartemen itu tanpa berbicara sepatah kata pun.
Ada ketakutan di benak Tiffany, takut Jonathan benar benar marah padanya dan tidak mau bertemu dengannya lagi, ua bahkan tidak dapat memejamkan mata karena khawatir.
Keesokan sorenya Jonathan datang menjemput Tiffany ke kampusnya dan membawa banyak bahan masakan, dan mereka lalu membuat saus dari tomat segar, mereka membuat pasta untuk makan malam mereka.
Mereka mulai berbicara normal dan menyingkirkan kecanggungan di antara mereka.
TOKYO
__ADS_1
“mommy, umurku 17 tahun bulan depan” kata Keiko mengingatkan mommynya
“iya mommy ingat”
“aku ingin mobil baru setelah lisensi mengemudiku keluar” kata keiko santai
“tidak ada mobil baru, kau bahkan sudah mengganti warna Ferarri mommymu jadi mobil barumu tidak ada” kata Naoki ayahnya
“apa? Daddy kau kejam sekali”
"lagi pula kau akan pergi melanjutka study di luar negri, untuk apa daddy membelikanmu mobil disini?" kata Naoki sesuai fakta
“selama kalian semua belum mendapatkan gelar sarjana dan belum memegang perusahaan kalian masing masing kami tidak akan membiarkan kalian membeli barang barang sesuka hati kalian” kata Livia
Itu adalah peraturan mutlak untuk keempat anak anak mereka, keungan mereka dibatasi meskipun mereka semua hidup dalam kekayaan yang fantastis, anak anak mereka memiliki pekerjaan sendiri, keuangan mereka masih dikontrol ketat oleh Livia.
Livia tidak ingin putra putrinya tumbuh menjadi anak anak yang hidup penuh kemewahan dengan mudah, mereka harus belajar mengontrol pengeluaran mereka sebelum mereka hidup mandiri kelak.
“kau sangat manja Kei-san” kata Kenzo yang sebal pada kakak perempuannya
“aku tidak manja” Keiko membela diri
“kau tidak manja tapi setiap hari kau merengek tidak jelas”
Mereka bedua mulai berdebat, bahkan terkadang mereka juga berdebat hanya karena masalah tempat duduk.
Livia menekan pelipisnya.
“Keiko, apa kau sudah menentukan ke mana kau akan melanjutkan study?” tanya Livia
“di mana saja, mommy tolong pilihkan aku tidak masalah” jawab Keiko tampak tidak berminat
“Kei?” ayahnya Naoki mengerutkan keningnya
“daddy, granddad ku master Edward pollini, aku bisa belajar piano padanya 24 jam jika aku mau, aku tidak lagi memerlukan Oxford University untuk belajar piano” jawab Keiko antusias “dan untuk gelar sarjanaku, aku tidak masalah mommy dan daddy memilihkan untukku”
“Kei? Apa kau tidak berminat untuk kuliah?” tanya Livia memastikan
“sayangnya iya mommy, aku ingin menekuni piano dan model, aku akan terus menjadi model selama usiaku masih memenuhi syarat”
Naoki memandang putrinya tidak senang.
“lalu akan kau apakan perusahaan yang daddy wariskan?”
“Kenzo yang akan mengurusnya, aku cukup menerima uangnya, lagi pula aku seorang wanita, aku akan memiliki suami yang akan mengurus hidupku, aku tidak perlu perusahaan. Bukan begitu mommy?” Keiko cukup cerdik mencari dukungan ibunya jika masalah seperti ini.
“ya sayangku, Tapi pendidikan itu sangat penting sayangku” kata Livia
“kalau begitu aku kuliah di UCL saja seperti Tiffany oneesan fakultas ekonomi, aku bisa selesaikan 3 tahun” kata Keiko penuh percaya diri
“sepertinya hanya kau yang kuliah tidak masuk melalui jalur beasiswa” ejek Kenzo
“kalian saja yang masuk melalui beasiswa, lagi pula hanya memasukkan aku ke sebuah universitas tidak akan menghabiskan 1% uang daddy, bukan begitu mommy?” tanya Keiko lagi lagi mencari dukungan ibunya
“anak gadis yang pintar, Kei kau kelak harus pandai membantu suamimu menghabiskan uangnya, seperti mommy” kata Livia bangga
“tentu saja, aku akan belajar seperti momny” Keiko tertawa riang. Ibunya sangat tegas jika masalah aturan tapi ia mudah goyah jika Keiko sedikit saja memujinya, dan hanya Keiko satu satunya yang pandai menggunakan jurus itu.
Hari pertama Kenzo menjadi siswa sekolah menengah atas, ia mewakili seluruh sisa baru berpidato di depan seluruh siswa dan guru. Dan ia mulai menjadi idola baru di Japan International High School di Tokyo, bukan karena wajah tampannya, melainkan karena kecerdasannya sesuai namanya Kenzo yang berarti Cerdas.
Siapa pun tau ia pernah mewakili negara Jepang untuk Olimpiade sains tingkat International ketika di sekolah menengah pertama, banyak yang bertanya tanya padanya masalah itu, namun Kenzo hanya menjawab “aku sama seperti kalian, mata pelajaran itu sangat membosankan bagiku”
Semua temannya semua tidak percaya namun melihat fakta Kenzo selalu hanya tidur di kelas siapa pun percaya kalau Kenzo memang memiliki kelebihan!
1 bulan kemudian datang seorang gadis bernama Luna!!! Luna Alexandra Dirck
“hallo” sapa gadis itu, ia murid baru yang barus aja pindah dari prancis, suaranya lembut serasi dengan wajah cantiknya. mata hijau dan rambut kehitamnya. Ia bahkan duduk tepat di depan Kenzo, bangku Kenzo adalah bangku paling belakang di dekat jendela, bangku yang paling nyaman untuk ia tidur di saat pelajaran membosankan.
“hallo...” jawab Kenzo, ia hampir salah tingkah karena sempat terpesona pada kecantikan gadis itu.
Seiring berjalanya waktu secara alami mereka berteman karena bangku mereka berdekatan, Luna ternyata anak yang cerdas, ia juga salah satu murid akselerasi yang menamatkan sekolahnya menengah pertama hanya dalam waktu 2 tahun.
Diam diam Kenzo merasa takut pada Luna, ia takut jika Luna lebih unggul dari dirinya. Ia tidak ingin kalah dari seorang gadis, tentu saja itu memalukan baginya!!!
Suatu hari saat mereka hanya berdua di kelas
“kenapa kau di panggil Luna?”
“karena namaku Luna”
“ku pikir Alexandra lebih baik dari pada Luna”
“kau tidak menyukai namaku?”
“ya, itu mengingatkan seseorang” jawab Kenzo ‘kucingku’ batinnya.
“baiklah, kau boleh panggil aku Alexa”
Tentu saja Kenzo lebih nyaman memanggil temannya Alexa di banding memanggilnya Luna, ia merasa kesulitan karena seperti sedang memanggil kucing kesayangannya di rumah.
---
Waktu bergulir terus berlalu, tanpa terasa hubungan Jonathan dan Tiffany berkembang sangat baik, sudah hampir dua tahun mereka menjalani persahabatan seperti sedia ketika mereka anak anak.
Jonathan tidak pernah lagi menyatakan obsesinya pada Tiffany, lagi pula Jonathan harus berkonsentrasi pada studynya, ia telah berjanji pada Tiffany untuk menyelesaikan dalam studynya dalam waktu 4 tahun,
Dua minggu yang lalu Derren telah mengambil sumpah dokternya, ia telah memiliki gelar dokter sekarang!
Hari ini juga Olivia menyelesaikan sidang skripsinya dengan baik, ia keluar dari ruang sidang dengan wajjah yang begitu lega, Derren yang menunggunya di depan ruangan segera memeluknya dan memberikan selamat, tidak ketinggalan sebuah bucket bunga mawar berwarna pink di berikan Derren untuknya.
“selamat sayang” kata Derren sambil memeluk tunangannya, menciumi pucuk kepalanya. Ia bahkan mengangkat tubuh kecil Olivia dan membawanya berputar putar, tidak seperti Derren yang dingin dimata semua orang, keceriaan dan kehangatannya memang hanya bisa ia tunjukkan setiap berada di sekitar Olivia, siapa pun tau itu.
Miranda, Claudia dan Theo juga berada di sana bergantian memberikan selamat.
“Miranda, akhirnya kita bisa menyelesaikan sarjana kedokteran kita dalam waktu empat tahun” kata Olivia saat Miranda memeluknya, sahabat baiknya selama empat tahun di London
“kita masih harus berjuang 2 tahun lagi, kita masih akan bersama Olivia” kata Miranda
Malam itu mereka merayakan keberhasilan mereka dengan acara makan malam bersama sama,
Ketika kembali ke apartemen, penjaga memberikan paket berupa bunga untuk Olivia, pengirimnya tidak di kenal.
Olivia menolak bunga itu dan menyuruh untuk mengembalikannya.
“sayang kenapa paket misterius itu datang lagi? aku penasaran” kata Olivia sambil merebahkan tubuhnya di sisi Derren. Memiringkan posisi tubuhnya.
__ADS_1
“jangan pedulikan sayang”
Derren yang semula berbaring juga memiringkan tubuhnya dan meletakan satu telapak tangannya ke belakang kepalanya bertumpu pada siku sambil memandang wajah calon istrinya.
“minggu depan aku mulai praktik di desa” kata Derren dengan nada berat
“di mana kau ditugaskan?” Olivia menyentuh dagu Derren dengan ujung jari jarinya memainkan bulu bulu halus yang tumbuh di sana, Olivia sangat mengagumi bulu bulu halus di wajah Derren.
“Burford,” Derren berhenti sejenak “20 mil dari Oxford”
(Oxford itu nama sebuah kabupaten, tapi Oxford University itu gak terletak di kabupaten oxford itu sendiri, *kira kira gitu penjelasan author biar readers gak salah paham)
“56 + 20 Derren, oh Tuhan aku akan sangat merindukanmu” jarak antara London ke Oxford adalah 56 mil sedangkan jarak Oxford ke pedesaan Burford 20 mil, di mana Derren akan bertugas sebagai dokter praktek selama 1 tahun
“internsip hanya 1 tahun, bersabarlah, kau tau sayang, aku tidak sabar lagi ingin mengucapkan sumpah di altar pernikahan kita” kata Derren sambil matanya dalam menatap mata Olivia, gadis kesayangannya.
“2 tahun lagi aku menerima gelar dokterku, bersabarlah” jawab Olivia matanya berbinar indah
Derren membelai rambut di dekat telinga Olivia kemudian menyelipkan di belakang telinganya
“aku akan mengunjungimu saat liburku, pedesaan Burford sangat indah bukan?” tanya Olivia
“tentu, aku juga akan kembali sebulan sekali untukmu, berjanjilah untuk menjaga dirimu dengan baik selama kita berjauhan” pinta Derren
Olivia mengangguk
“Olivia, kau milikku, hanya milikku, ingat itu, hatimu, jiwa ragamu, hanya aku yang boleh memilikimu”
Olivia mengecup bibir Derren “kau juga milikku Derren”
“aku telah membelikan sebuah mobil untukmu, besok mobilnya akan di antar”
“aku tidak perlu mobil baru”
“lalu kau perlu apa? Mmmmmmm”
Olivia menunjuk dada Derren dengan telunjuknya sambil tersipu
Derren meraih telapak tangan Olivia dan mengecupnya
“kau sudah memiliki seluruh diriku tanpa harus meminta, aku mencintaimu Oliviaku” sambil menatap dalam dalam mata Olivia
“aku juga mencintaimu Derren” jawab Olivia sambil tersenyum menggoda lalu menyembunyikan wajahnya di dada Derren menghirup aroma pria yang paling di cintainya.
Derren membawa Olivia kedalam pelukannya memeluknya erat hingga mereka tertidur.
Paginya mereka telah duduk di sebuah Maserati Quattroporte GTS GranSport RWD
“Derren, ini terlalu mahal”
“tidak sama sekali”
“mommymu akan memarahimu”
“Tidak masalah, di keluarga ada peraturan anak anak boleh menggunakan uang dan perusahaan sesuka hati setelah meraih gelar sarjana. Dan semua yang ku beli disini atas namamu, apartemen kita juga”
“oh ya? Sepertinya aku menjadi seorang gadis yang kaya di London” canda Olivia
“kau gadis yang bersuami”
“ya kedengarannya cukup bagus, gadis yang bersuami”
“kau belum berterima kasih padaku Olivia” Derren menatap wajah Olivia dengan alisnya yang terangkat
“ahaaa... aku hampir melupakannya, katakan bagaimana aku harus berterima kasih?” Olivia menyeringai lebar
“beri aku ciuman” kata Derren
“hanya itu?” tanya Olivia menggoda
“iya hanya ciuman”
“kau yakin?” Olivia harus memastikan, karena mustahil seorang Derren hanya menginginkan ciuman
“sangat yakin”
Olivia mendekatkan wajahnya pada Derren dan ******* bibir Derren dengan lembut dan tidak membuang kesempatan dengan cepat Derren memindahkan posisi Olivia keatas pangkuannya, mereka terhanyut dalam ciuman memabukkan yang menuntut, bahkan Derren telah berada di dalam tubuh Olivia, pinggulnya mendesak, menghentak dengan lembut berirama, 15 menit, 30 menit.... akhirnya cairan hangat memenuhi rahim Olivia.
Derren menempelkan dahinya pada dahi Olivia, pandangan mata mereka beradu dan menatap penuh kasih sayang dengan sisa nafas yang masih terengah engah
“kau sangat pandai berterima kasih Olivia, kau milikku, aku mencintaimu”
Olivia tergagap, ia baru saja tersadar dengan apa yang telah mereka lakukan di dalam mobil, itu bahkan berada di basement parkir apartemen mereka. Pesona Derren memang luar biasa, Olivia selalu saja tak mampu menolak magnet Derren setiap kali mereka berdekatan, hanya dengan ciuman saja mampu membuat Olivia lupa diri.
“kau menipuku lagi”
“sayang kau sanggat menikmatinya, bagaimana? Apa kita masih perlu ranjang?” tanya Derren menggoda
“apa kau belum cukup?”
“aku tidak akan pernah cukup Olivia, kau adalah candu yang memabukkanku”
Olivia tersipu mendengar kata kata Derren, ia segera pindah ke kursi pengemudi.
“ayo kita coba mobil ini” kata Olivia mengalihkan percakapan mereka
“kau yakin bisa menginjak pedal gas?”
“aaa... aaa” ya ternyata benar kakinya memang terasa lemas.
Derren keluar dari mobil, membuka pintu mobil untuk gadisnya lalu menggendongnya ala bridal style kembali masuk ke tempat tinggal mereka.
“kita coba nanti, sekarang kita istirahat dulu” kata Derren sambil menendang pintu kamarnya
Bukan untuk istirahat namun untuk kembali membuat Olivia pasrah di bawah kendali Derren, Derren sangat menyukai setiap Olivia berada di bawah kendalinya melihat ekspressi wajahnya yang menikmati dan seperti tersiksa membuat Derren semakin bersemangat dan tidak pernah ingin jauh dari Olivia.
**PERCAYALAH, KALAU AUTHOR PUNYA SATU YANG KAYA DERREN GITU DI RUMAH, JUGA PASTI AUTHOR BAKAL MESUM TINGKAT DEWA EEEEHHHHH
NAH MENANGGAPI JAWABAN KALIAN NIH, AUTHOR EMANG BERNIAT MENYELESAIKAN KISAH JOE DAN DERREN DI NOVEL INI, KIRA KIRA MASIH ADA 15 CHAPTER LAGI 👍😁
SEDANG KEIKO DAN KENZO NANTI DI LAPAK LAIN KARENA CERITANYA PASTI UDAH BEDA.
TAPI ITU MASIH LAMA 😁
INTINYA TAP JEMPOL KALIAN 👍😄💖💖💖💖**
__ADS_1