
Beberapa minggu telah berlalu, dan livia merasa tubuhnya semakin berisi, ia juga semakin manja pada naoki ia tiba tiba sangat menyukai makanan pedas, dan yang paling aneh buah dadanya semakin montok, ia mulai mengeluhkan berat badannya yang mulai naik pada naoki namun naoki justru selalu mengatakan “bagus livia kamu semakin sexy” kata naoki.
Beberapa malam naoki menginap di apartemen livia, livia sangat senang tentunya karena mereka tinggal bersama, memasak bersama setiap pagi dan sepulang naoki bekerja, livia seperti seorang istri shalih yang menunggu suaminya kembali dari bekerja setiap sore, livia sangat bahagia.
Naoki memeluk livia di atas tempat tidur setelah mereka bercinta beberapa kali, entah kenapa tubuh livia semakin menggairahkan, begitu juga livia ia sangat menikmati bercinta dengan naoki akhir akhir ini, lebih nyaman dari pada waktu yang telah mereka lewati beberapa tahun. mungkin karena livia mulai merasakan rasa berbeda pada naoki...
“sayang kamu hangat sekali” bisik naoki sambil menyentuh bagiann dada livia, “apa kamu sakit? ini hangat sekali” naoki meraba raba bagian dada livia yang benar benar terasa lebih hangat beberapa hari ini berbeda dari biasanya
“tidak sayang aku sehat” jawab livia, memang belakangan ini tubuhnya lebih hangat batinnya
“kamu semakin cantik sekarang, kamu sangat indah, tubuhmu sedikit berisi”
livia mencubit lengan naoki “sayang sekali lagi" pintanya pada naoki
“tidurlah, besok pagi saja” bujuk naoki
Namun livia terus berusaha membujuk naoki, baru saja mereka melanjutkan aktifitasnya bell di pintu terdengar terus trusan di tekan
“aku saja” kata naoki seraya mengenakan pakaiannya
Livia juga mengenakan pakaiannya dan mengikuti naoki menuju pintu ruang tamu karena penasaran pada orang yang datang,
Naoki terkejut melihat melalui interkom karena yang datang ternyata ibunya, lebih terkejut lagi melihat yang di sebelahnya adalah tunangannya.
Naoki menarik nafas berat, 'siap tidak siap, cepat atau lambat livia memang harus tau' batin naoki sambil membuka pintu dengan pelan dan mempersilahkan kedua orang itu masuk
Livia mengangguk sopan dan mengucapkan selamat datang dengan bahasa jepang sederhana, untunglah mereka mengenakan baju lengkap dan sopan.
“jadi kau tidak pernah kembali ke rumah disini kau rupanya naoki?!” pernikahanmu bahka tingggal 2 minggu lagi dan kau masih disini bersama pelacurmu ini?” teriak ibu naoki
“mama dia livia calon istriku, dia bukan pelacur”
kata naoki sambil meraih telapak tangan livia.
“omong kosong apa? Siapa yang kau sebut calon istrimu?” tanya ibu naoki sinis
“kau harus sadar calon istrimu adalah gadis ini nanami tunanganmu sejak kecil bukan pelacurmu...!!! kau telah membuat malu keluarga kita kau mencium pelacur itu di bandara dan foto foto kalian tersebar? Tinggalkan pelacur itu atau dia tidak akan selamat”
“mama kau tidak boleh mengancamnya, itu melanggar hukum” kata naoki memperingatkan mamanya
__ADS_1
Livia hanya diam menyaksikan percakapan itu, ada perasaan senang saat naoki mengatakan ia adalah calon istrinya, namun perasaannya jauh lebih sedih saat tau naoki akan segera menikahi gadis pilihan orang tuanya.
Tentu livia mengerti keseluruhan percakapan itu, ia tidak mempunyai kata kata untuk membalas perkataan ibu naoki, walaupun ia membalas toh ibu naoki tidak akan mengerti jika livia membalas dengan bahasa inggris atau bahasa indonesia.
Sementara nanami tunangan naoki, ia hanya menatap livia dengan tatapan jijik, ia tak mengeluarkan sepatah katapun, jika masalah wajah ia tentulah kalah dengan livia yang berwajah cantik, bermata coklat, hidung mancung dan bulu alis tebal, jika masalah body jelaslah nanami tak akan mampu bersaing dengan livia yang mempunyai postur bak model. Yang membuat nanami percaya diri adalah keluarganya cukup kaya, setara dengan keluarga naoki dan orang tua naoki menyukainya.
“kalian pulanglah dulu, aku akan menyusul” pinta naoki sambil mengantarkan ibunya dan tunangannya menuju pintu.
Naoki menutup pintu menatap livia yang tak mampu mengucapkan apapun. Ia mendekap tubuh livia yang bergetar dan berusaha menenangkannya
“livia maafkan aku” naoki berusaha menjelaskan pada livia “kami telah di jodohkan sejak kecil sebelum kita bertemu, tapi aku benar benar tak menginginkannya, itulah sebabnya aku selalu berkata belum bisa menikahimu, aku harus membangun perusahaanku sendiri, lepas dari keluargaku, lalu menikahimu, aku masih berusaha mencari jalan untuk menggagalkan perjodohan ini percayalah padaku”
Livia masih terdiam ia merasa seperti mimpi, ia akan menjadi simpanan naoki jika ia telah beristri? Ia akan menjadi orang ketiga? Atau mungkin ia akan di campakkan oleh naoki besok?
Berbagai bisikan ketakutan bermunculan di otaknya dan pandangan livia tiba tiba kabur ia tak mampu lagi menopang dirinya dan jatuh tak sadarkan diri
Naoki segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan livia, ia juga memanggil hana karena panik
Ketika hana datang dokter sedang memeriksa keadaan livia, hana mendekati ranjang di mana livia berbaring dan duduk di sisi ranjang yang kosong
”selamat kau akan menjadi seorang ayah” kata dokter setelah memeriksa keadaan livia “usia kandungannya sekitar 8 atau 9 minggu” lanjutnya “tolong jaga kesehatan istrimu, jangan biarkan ia lelah dan setress berlebihan, itu bisa mengganngu janinnya, lebih baik besok kau bawa istrimu ke dokter obgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut” kata dokter itu tanpa memperhatikan ekspresi naoki maupun hana yang sama sama terkejut.
Ia menghampiri naoki yang sedang menggenggam tangan livia dengan penuh kasih sayang,
“naoki” kata hana “bisakah kita berbicara sebentar di luar”
Naoki meletakkan tangan livia dengan hati-hati dan mengikuti hana keluar duduk di sofa
“kenapa kau ceroboh sekali? Tidak memakai pengaman? Astaga”
Naoki masih diam
“kau bingung sekarang?! Kau tidak ingin menikahinya bukan? kenapa tidak menggunakan pengaman?”
“aku selalu memakai pengaman” kata naoki dingin “kau pasti tau apa yang terjadi, 8 minggu yang lalu kalian berada di kyoto” naoki menatap mata hana dengan pandangan menusuk
Kali ini hana yang terdiam, 'sialan andrew' maki hana dalam hati, apalagi melihat tatapan mata naoki menyiratkan kemarahan membuat hana benar benar takut.
Naoki menceritakan bahwa ia telah di jodohkan, pernikahannya juga tinggal 2 minggu lagi dan baru saja ibu dan tuangannya datang ke tempat ini untuk memaki maki livia serta mengancam livia
__ADS_1
“jadi bagaimana?” tanya hana hati hati
“aku akan menikahi tunanganku kemudian aku akan menceraikannya sebelum anak livia lahir, dan aku akan menikahi livia agar bisa memberikan nama belakang untuk anak itu, lalu membesarkan sebagai anakku sendiri”
“kelihatannya mudah naoki, tapi percayalah, tidak akan semudah itu kau menceraikannya” kata hana yakin
Mereka terdiam beberapa saat dan naoki kemudian keluar untuk membeli vitamin yang di resepkan dokter, ketika ia kembali livia telah bangun dan hana duduk disampingnya.
Hana tidak berbicara apa apa.
Naoki mengambil segelas air putih dan memberikan vitamin kepada livia untuk meminumnya. Livia dengan patuh menelan vitamin itu walaupun ia tidak tau apa yang di minumnya, hana pelan pelan meninggalkan kamar livia dan duduk di sofa ruang tengah apartemen itu.
“naoki, apa aku sakit?” tanya livia polos
“tidak sayang” jawab naoki dengan menghela nafas berat “kau akan menjadi seorang ibu” jawab naoki seraya mengecup kening livia
“apa kau bilang??” tanya livia tak percaya
“kau akan menjadi seorang ibu, ibu dari anakku” jawab naoki sambil tersenyum yang di paksakan menatap livia
Air mata livia sepeti sungai yang mengalir tiba tiba, Livia menagis ia tak tau harus bahagia atau sedih, jelas jelas ini bukan anak naoki, yang di dalam rahimnya adalah anak andrew yang telah mencampakkannya, ia merasa tak lagi memiliki wajah di depan naoki, ia sangat takut, dan tentunya malu.
“naoki bencilah aku, caci maki aku, tampar aku pukul aku, aku gadis yang buruk, aku menghianatimu aku tidak pantas untukmu” jerit livia
“tidak, kau yang terbaik, aku yang terlalu sibuk, tidak ada waktu untukmu, aku juga tidak jujur dari awal hubungan kita, aku yang salah” bujuk naoki.
“aku penghianat naoki aku jahat” isak livia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya
“sudah jangan di pikirkan, aku akan menikahimu, kita akan membesarkan anak itu bersama sama, menjaganya berdua sampai kita menua” naoki meraih kedua telapak tangan livia
“tidak naoki aku akan membesarkannya sendiri, kau memiliki calon istri kau tidak boleh mengecewakan orang tuamu”
“tidak livia” bisik naoki lembut “kemungkinan terburuk hanya aku harus menikahinya kemudian menceraikannya sebelum kau melahirkan dan aku menikahimu agar anak ini lahir sebagai putraku” naoki mengelus perut rata livia.
“istirahatlah, untuk sementara aku akan minta tolong hana dan yukari untuk menjagamu, kau tidak boleh tinggal sendirian” naoki mengecup dengan lembut kening livia, kemudian merebahkan tubuhnya disamping livia, memeluknya erat hingga livia benar benar tertidur kembali.
Naoki meninggalakan apartemen itu setelah memasrahkan livia pada hana, ia perlu waktu untuk menenangkan diri. Ini bukan waktunya saling menyalahkan, naoki melajukan mobilnya dengan pelan menuju gedung perusahaanya, ia akan tinggal di sana untuk sementara waktu lalu mencari apartement untuk ia tinggal.
Pikirannya berkecamuk, livia menghianatinya namun ia tak bisa membenci gadis itu ia akan menikahi livia apapun yang terjadi walaupun dalam rahim livia ada benih pria lain, ia tidak akan pernah menikahi wanita yang tak di cintainya.
__ADS_1
Naoki sungguh membenci orang tuanya yang selalu memaksakan kehendak mereka.