
“lalu pria seperti apa yang ingin kau jadikan pacar?” tanya Keiko
Tiba tiba wajah Derren terlintas di otaknya, Olivia menginjak rem mobilnya karena terkejut dengan bayangan wajah Derren yang muncul tanpa pemberitahuan.
“maaf Kei aku melamun”
“apa pertanyaanku mengejutkanmu?”
“ha ha ha, tidak sama sekali”
“lalu pria idamanmu seperti apa?”
“tampan, mapan, smart, dan pendiam”
“seperti Derren oniisan misalnya?” tanya Keiko polos
“tidak Derren dia jahat sering membully ku” Jawab Olivia dengan nada gugup dan ragu ragu
“dia pria dingin, aku yakin ia akan kesulitan mendapatkan pacar” kata Keiko
Lalu susaana di mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu berubah menjadi hening.
Di dalam sebuah Aston martin DB11, Tiffany dan Anthonino sepupunya berbincang
“siapa gadis gadis tadi itu?” tanya Anthonino
“Olivia, dia sepupu Jonathan, Keiko dia adik Jonathan, dan Tasya temanku di fakultas”
“ku kira mereka semua korbaan Jonathan”
“yang bermata biru, itu mungkin akan menjadi korbannya” kata Tiffany sambil tertawa ringan
“yang mana adik Jonathan”
“Keiko yang bermata coklat dan tubuhnya paling tinggi di antara gadis lain”
“mengapa wajahnya berbeda?”
“ayah mereka berbeda, kau banyak sekali bertanya”
“cantik sekali, apa ia memiliki pacar?”
“jangan gila, umurmu 23 tahun dan Keiko berusia 16 tahun, kau akan tampak seperti pedofil jika menyukainya”
Anthonino justru tertawa lepas
“dia seorang model ternama di jepang kau pura pura saja jadi fans garis kerasnya, aku yakin sainganmu banyak melebihi jumlah pilot di maskapaimu” kata Tiffany mengejek
“ide bodoh” jawab Antonino
Sedangkan di mobil yang lain Jonathan dan Anastasya mereka menuju apartemen tempat Anastasya tinggal. Dan entah bagaimana mereka berakhir di atas ranjang, saling mengerang dan menikmati irama yang mereka ciptakan hingga tengah malam mereka baru menyudahi permainan panas mereka.
Jonathan memasang kembali pakaiannya yang berserakan di lantai kamar itu dan meninggalkan Anastasya yang tertidur, ia menuju tempat tinggalnya menggunakan taxi.
Pikirannya kacau, ia membayangkan Tiffany mungkin saja juga sedang bercinta dengan pria bermanik mata biru itu hingga ia melampiaskan kekesalannya dengan bercinta dengan Anastasya.
Paginya jonathan makan sarapannya dengan buru buru karena Anastasya meminta ingin di antar olehnya pergi ke kampus, Jonathan dengan senang hati menerimanya.
“kenapa kau meninggalkanku tadi malam?” tanya Anastasya manja
“aku akan di bunuh kakakku jika tidak kembali ke tempat tinggal kami” kata Jonathan beralasan
“lalu apa hubungan kita sekarang?”
“hubungan?” Jonathan bingung
“aku ingin kita berpacaran”
“baiklah terserah maumu” Jawab Jonathan lembut seolah ia senang
“kau tidak boleh selingkuh”
“kau sangat cantik mana mungkin aku selingkuh” kata Jonathan terdengar begitu manis
Ketika turun dari mobil Jonathan, gadis itu menghampiri Jonathan dan mencium bibir Jonathan.
“jemput aku setelah kelas selesai” kata Anastasya dengan nada genit
“baiklah, sampai jumpa sweety” kata Jonathan sambil memundurkan mobilnya.
Sudah 3 bulan hubungan Jonathan dan Anastasya berjalan, Anastasya selalu memanerkan kebersamaannya dengan Jonathan di media sosial, mereka pergi mmenonton, berkencan, dan makan malam bersama.
Jonatha selalu bersikap manis dan tidak pernah menolak apapun yang di inginkan Anastasya. Anastasya tidak pernah sedikitpun menaruh curiga pada Jonathan kalau priaa itu hanya mempermainkannya.
Bagi jonathan ia hanya mengikuti kehendak gadis itu, hanya makan dan menonton, bukan hal yang menyusahkan. Apalagi gadis yang mengclaim dirinya adalah pacarnya itu sangat binal dan liar di ranjang, Jonathan hanya menikmati apa yang diberikan Anastasya.
Namun bukan Jonathan jika tidak menebar pesonanya kepada gadis lain, ia tak pernah cukup dengan satu gadis. Di belakang Anastasya ia tetap sibuk berkencan dengan gadis gadis yang datang sendiri kepadanya dan menginginkan dia menjadi pacarnya. Hampir setiap gadis yang melemparkan dirinya ke pelukan Jonathan ia terima dengan senang hati, menikmati tubuh tubuh molek para gadis tanpa harus merayu.
Tidak ada kucing yang menolak ikan gratis!
Hidup Jonathan terasa Sangat menyenangkan.
Sementara Tiffany, ia sibuk dengan belajar di fakultasnya dan melukis, ia memutuskan keluar dari club basket karena tak bisa membagi waktunya lagi, ia memilih berolahraga tiga kali seminggu di pusat kebugaran.
Hari itu ia baru saja selesai berolah raga di sebuah pusat kebugaran, ketika hendak memasuki toilet wanita ia seperti mendengar suara pria dan wanita dari dalam toilet itu.
Ragu ragu ia memasuki ruangan itu, dan ia mendapati seorang gadis, yang jelas gadis itu bukan Anastasya, gadis itu duduk di atas meja toilet dengan pakaian tersingkap hingga ke bagian dadanya sedang di cumbui oleh Jonathan, pemandangan ini sudah biasa ia lihat sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun dulu jonathan hanya menciumi para gadis gadis di sma bukan mencumbui hingga hampir naked seperti yang ia lihat saat ini.
“ada hotel di sekitar sini, apa kau tidak mampu membayar hotel Joe?” tanya Tiffany sinis.
Jonathan memandang Tiffany dengan tatapan dingin karena teman masa kecilnya itu mengganggu ritualnya.
Tiffany mengangkat alisnya melewati Jonathan untuk memasuki salah satu ruang ganti.
Ketika Tiffany keluar dari ruang ganti pasangan yang dianggap mesum oleh Tiffany telah meninggalkan tempat itu, Tiffany mencuci wajahnya.
Ia terlonjak kaget saat sebuah lengan tiba tiba melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Tiffany hendak berteriak namun mulutnya ditutup telapak tangan.
Ketika ia membuka mata ia melihat wajah Jonathan di pantulan cermin
“Sialan kau joe, lepaskan !” kata Tiffany sambil menghempaskan lengan Jonathan.
“aku ingin sekali menjadi pacarmu Tiffany”
“jangan bermimpi!!!”
‘tidak tau malu? Barusan menciumi gadis lain tapi mengatakan ingin jadi pacarku? Apa dia tidak waras??’
“apa milik pilot itu lebih besar dari pada milikku?” tanya jonathan sambil mengeratkan dekapannya
Tiffany sedikit bingung milik? apa itu? namun saat Jonathan menggesek gesekkan sesuatu yang keras ke pantatnya, Tiffany segera sadar apa yang di maksud Jonathan.
'benar benar menjijikkan!' batin Tiffany
“tentu saja” kata Tiffany dingin, sebenarnya batinnya sangat gugup ia sama sekali belum pernah mengetahui 'benda' yang sedang mereka perdebatkan.
“kau belum merasakan milikku, kau juga belum melihat bagaimana mungkin kau menyimpulkan begitu saja?”
“aku tidak menyangka anak tante Livia sebejat ini” Tiffany meronta untuk melepaskan diri dari dekapan Jonathan
“kau menolakku berulang kali, aku bisa saja lebih bejat dari ini jika kau terus menolakku” kata Jonathan sambil menggeser paksa tubuh sahabatnya hingga menghadap ke arahnya.
“akan ku adukan pada tante Livia semua perbuatanmu!!!” ancam Tiffany
“lakukan semaumu tiffany, suatu saat kau sendiri yang akan datang kepadaku dan mengerang di bawahku” kata Jonathan sambil melahap bibir Tiffany
Tiffany terkejut ia merasa tiba tiba lututnya lemas dan tidak berdaya.
Ciuman pertamanya di rampok oleh pria yang paling di bencinya!!!
“Mmmmmmmmmmm” Tiffany meronta ronta namun tenaga Jonathan lebih kuat dari pada tenaganya, sia sia ia berontak.
Jonathan melepaskan ciuman yang tak berbalas itu
“nanti aku akan mengajarimu cara berciuman” katanya sambil melepaskan tubuh Tiffany dan meninggalkannya sendirian.
Ingin rasanya Tiffany berteriak dan memaki maki Jonathan namun ia tak mungkin melakukannya karena itu tempat umum.
Sejak saat itu baik Tiffany maupun Jonathan mereka saling menghindari, sedangkan Anastasya masih seperti dulu setiap hari menghampiri Tiffany untuk menceritakan hubungannya dengan Jonathan hingga Tiffany merasa mual.
“Jonathan itu benar benar tampan, ia juga sangat lembut berbeda dengan mantan pertamaku” kata Anastasya sambil meminum cola dari gelasnya
“benarkah?” tanya Tiffany seadanya namun dalam hatinya ‘semua wanita di perlakukan sama oleh jonathan, bahkan mungkin nenek nenek juga akan di rayu olehnya’
“kalian mengenal sejak kecil mengapa kalian tidak saling tertarik?” tanya Anastasya
“tidak ada alasan untuk kami saling tertarik” jawab Tiffany datar
“ku rasa Joe adalah tipe pria terbaik dimuka bumi ini” kata Anastasya dengan wajah yang luar biasa berbinar.
Tiffany tersenyum menyeringai ‘semua korban jonathan pasti berkata seperti itu karena mulut manisnya, kau akan menangis cepat atau lambat’ batin Tiffany mencibir temannya lagi.
Di sisi lain deren dan Olivia terjebak dalam hubungan yang ambigu.
Bahkan sebagian tugas Olivia dengan senang hati Derren yang mengerjakan, juga setiap hari meskipun jadwal mereka berbeda mereka selalu berangkat dan kembali ke tempat tinggal mereka bersama. Kadang Olivia menunggu Derren di asrama hingga Derren menjemputnya di asrama untuk kembali ke apartemen.
Merry benar benar dibuat kesal oleh Olivia yang selalu hadir di antara Derren dan Merry, Merry ingin sekali mengusir Olivia yang selalu menempel seperti gurita pada Derren, begitu pula yang di rasakan Olivia ia ingin mengusir gadis berambut pirang itu untuk tidak mendekati sepupunya.
Sikap merry yang kadang sinis pada Olivia benar benar tidak pernah Olivia gubris, Olivia bersikap seolah olah tidak mengerti dengan kekesalah Merry padanya, ia terus saja bersikap seolah tidak mengerti apa pun.
“Derren papi memintaku merayakan natal di Indonesia”
“hhhhmmmm” kata Derren sambil matanya tetap menatap barisan huruf yang berjejer rapi dibuku yang ia pegang
“minggu depan aku pulang” kata Olivia sambil merebahkan tubuhnya di sofa
“sampai jumpa di Indonesia” kata Derren santai sudut matanya melirik pada Olivia, dada Olivia !!! yang tidak pernah menggunakan bra di dalam tempat tinggal.
”Derren apa maksudmu?” tanya Olivia
“kami juga merayakan natal di Jakarta, nanti aku akan ke Yogyakarta untuk bertemu papi dan tante Gendis” kata Derren.
“apa Keiko dan Kenzo juga ke Indonesia?”
“tidak nenek Yamada akan menangis jika mereka tidak ada di depan matanya saat natal dan tahun baru”
“sayang sekali, padahal aku merindukan Kenzo dan tante Livi” keluh Olivia
“nanti kita ke Tokyo, jika ada libur panjang”
Olivia tersenyum senang mendengar apa yang di katakan Derren
“kapan penerbangan kalian?”
“sama dengan jadwalmu”
“Derren kau menggodaku?”
“untuk apa menggodamu?” Derren meletakkan bukunya memandang Olivia yang tak tau malu tidur terlentang diatas sofa persis di depannya, dadanya tampak tegak membuat emosi pria Derren selalu naik ke ubun ubun setiap Olivia berada di sekitarnya.
“jangan memakai pakaian seperti itu jika Joe ada di rumah atau kau mungkin akan dimakannya” kata Derren memperingatkan Olivia dengan tameng adiknya.
“Joe tidak akan memakanku” jawab Olivia sambil mengetik di layar ponselnya
"kau sudah dewasa Olivia, berpakaianlah yang sopan"
"bajuku tertutup" kata Olivia, ia menggunakan piyama berlengan pendek, hanya saja bagian celanya memang pendek di atas lutut.
Derren menekan pelipisnya, Olivia benar benar tidak mengerti pikiran Derren yang sedang tersiksa, apalagi bagian lain dari Derren kini bangkit!!!
“jika kau ingin ku makan, terus saja berbaring seperti itu di situ Olivia” Derren hendak mengangkat pantatnya namun Olivia secepat kilat melompat dan berlari ke dalam kamarnya.
Jantung Olivia berdegup kencang, pipinya merona merah seakan akan adalah tomat masak yang siap di santap. Ia berguling guling di atas ranjangnya dan menutupi wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
Derren tersenyum, ia bangkit dan mendatangi Olivia di kamarnya
“pakai pakaianmu” kata Derren sambil mengambil bantal yang menutup wajah Olivia
“Aku nyaman memakai pakaian ini” Olivia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
“apa kau ingin keluar rumah menggunakan pakaian seperti ini?”
“aku tidak ingin pergi”
“ayolah ini akhir pekan, kita bisa berbelanja untuk hadiah natal papi dan tante Gendis”
“untukku juga?” tanya Olivia senang sambil duduk namun karena terlalu bersemangat kepalanya menubruk hidung Derren hingga Derren kesakitan
“Olivia kau sangat ceroboh” keluh Derren sambil memegangi hidungnya.
“Derren maafkan aku” kata Olivia sambil membuka telapak tangan Derren untuk memeriksa keadaan hidung Derren
“jika tulang hidungmu ini patah kita harus membawanya ke ahli bedah plastik secepatnya” kata Olivia sambil lembut menyentuh batang hidung Derren
“konyol” kata Derren sambil menjentikkan jarinya ke dahi Olivia, sesaat pandangan mata mereka beradu namun mereka kemudian tertawa bersama sama.
“cepat ganti pakaianmu” kata Derren, ia tidak ingin berlama lama hanya berduaan dengan Olivia sementara pikiran liarnya benar benar ingin menjelajahi tubuh indah sepupunya.
Olivia mengganti pakaiannya dan mengambil. Mereka kemudian pergi untuk berbelanja, Derren mengajak Olivia ke sebuah toko perhiasan yang terletak di tengah tengah mall.
“saya ingin kalung itu” kata derren sambil menunjuk sebuah kalung dengan liontin berbentuk angsa.
Pegawai itu mengambil benda yang di tunjuk Derren
Derren mengambil dompetnya dan menyodorkan sebuah kartu bank untuk membayarnya.
Olivia menerka nerka, dan ada ketakutan dalam hatinya.
“apa itu untuk Merry?” tanya Olivia
“menurutmu?”
“....” Olivia mulai cemberut
Setelah pembayaran selesai pegawai toko perhiasan menyerahkan sebuah paper bag kecil kepada Derren
“bisakah anda membantu memakaikan padanya?” tanya Derren pada pegawai toko itu
“baiklah, dengan senang hati”
Olivia terkejut,
“untukmu, anggap kado ulang tahun yang terlupakan” kata Derren
“....”
“tidak suka?”
“aku sangat menyukainya, terima kasih” kata Olivia senang ia memandangi liontin yang kini bergantung di lehernya.
“jangan pernah di lepas dan rahasiakan siapa yang memberi itu padamu”
“kenapa?”
“agar orang lain penasaran” kata Derren sambil tersenyum menggoda
“baiklah aku akan merahasiakannya”
“gadis pintar, sekarang kita pilih hadiah natal”
"Derren terima kasih" kata Olivia sambil melompat kedalam pelukan Derren, Derren memeluk erat tubuh Olivia sambil menciumi pucuk kepalanya. Setelah pelukan itu terlepas suasana menjadi canggung, Olivia diam diam malu dan mengutuk kebodoyannya yang telah meneluk Derren terlebih dulu.
'memalukan!!!' batinnya
“Derren itu uangmu kan bukan uang dari tante Livi?” tanya Olivia mencoba mengikis kecanggungan di antara mereka
“aku bisa menghidupimu 10 tahun ke depan tanpa uang dari keluarga daddy Andrew maupun uang dari daddy Naoki, kau percayalah padaku” kata Derren sambil mengusap usap pucuk kepala Olivia dan mereka berjalan menyusuri toko toko di mall besar itu.
Sesekali Derren menggenggam telapak tangan Olivia dan kadang merangkul pundak gadis itu.
Setelah berbelanja beberapa barang Olivia dan Derren makan di sebuah restoran sambil meneguk wine.
Olivia mulai terbiasa dengan kebiasaan Derren yang suka membuatnya mabuk, ketika mereka meninggalkan restoran mulut Olivia mulai meracau tidak jelas di dalam mobil.
“Derren...”
“ya...”
“Derren...”
“ada apa Olivia?”
“Derren... aku aku tidak suka pada Merry jangan terlalu dekat dengannya”
“baiklah”
“maukah kau berjanji?”
“iya aku berjanji”
Derren tersenyum dengan tingkah Olivia, gadis itu selalu membuat Derren kerepotan setiap mabuk namun Derren berulang kali membuatnya mabuk. Alasannya hanya karena Derren baru bisa menyentuh Olivia saat Olivia berada di luar kesadaran, tentu saja Derren tidak ingin dimarahi sepupunya yang galak itu jika menciumi bibirnya saat ia sadar.
Ketika Derren menggendong Olivia yang tertidur untuk memasuki kamarnya, Jonathan yang melihat itu segera menyusul Derren ke dalam kamarnya
“apa yang kau lakukan pada Olivia?”
HAYOOOOOO 😄😄😄
YANG NUNGGUIN UPDATE SIAPA AJAAAA 😊
__ADS_1
JSNGAN LUPA TAP JEMPOLNYA 👍😁👍👍
KLIK PROFILE AKU FOLLOW DAN GULIR KE BAWAH LIHAT KARYA YANG LAIN 💖💖💖💖