Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 27


__ADS_3

Hingga malam tiba, mereka masih berada di tempat itu dan mereka menyantap makan malam yang di masak oleh Jonathan, setelah menyelesaikan nakan malam mereka duduk di sofa sambil menonton acara televisi yang sebenarnya sama sekali tidak di tonton.


“Joe aku harus kembali, mama pasti mencariku”


Jonathan mendekatkan tubuhnya pada Tiffany, meletakkan lengannya di bahu Tiffany dan mendaratkan ciuman di pucuk kepala gadis itu.


“Tiffany, aku mencintaimu”


Tiffany membeku sesaat, Jonathan menyatakan cintanya? Selama bertahun tahun pria ini hanya mengatakan ingin jadi pacar tidak pernah mengatakan cinta!!!


Pandangan mereka beradu


“aku mencintaimu Tiffany, aku serius padamu bukan sekedar obsesi seperti yang kau kira, aku mendapatkan gelar sarjanaku bersamaan denganmu” kata Jonathan


Tiffany terkeju “apa?”


“iya, kau tidak kalah dalam permainan pertemanan kita”


“kau licik Joe” Tiffany menggeser badannya menatap Jonathan dengan tatapan tidak suka “lalu 6 bulan kau berada di London?”


“siapa bilang aku di London?”


Tiffany “.......”


“aku di Tokyo, sehari setelah kau kembali aku juga kembali ke Tokyo”


“kau bahkan tidak menemuiku?” tanya Tiffany dengan nada sengit


“aku sibuk memantaskan diriku untukmu, aku mengambil alih satu perusahaan keluarga, aku belajar dan menstabilkan perusahaan di bawah kepimpinanku, setelah semuanya berjalan dengan baik aku siap menemuimu untuk menagih janjimu” kata Jonathan sambil menatap mata Tiffany dengan tatapan lembut penuh kasih sayang.


Ada rasa bahagia yang tak dapat di lukiskan tumbuh di benak Tiffany. Air matanya meluncur turun di pipinya, teharu, bahagia.


“aku mencintaimu temanku” kata Jonathan


“aku juga mencintaimu temanku” jawab Tiffany serak


“friend with benefit?” goda Jonathan sambil memeluk Tiffany


“kau memanfaatkan ku” kata Tiffany setengah terisak


“kau menikmatinya”


“kau pria penggoda”


“kau satu satunya gadis yang paling susah ku goda”


“kau licik”


“bagaimana jika kita keatas ranjang lagi?”


“tidak, aku ingin pulang mama pasti menghawatirkanku”


“baiklah, bagaimana jika besok kesini lagi?


“tidak, kau ingin memakan temanmu bukan?”


“tidak ada teman yang memakan temannya” gurau Jonathan


“kau satu satunya” Tiffany terkekeh


Mereka tertawa bahagia, dan Jonathan mengantar Tiffany kembali ke kediaman orang tuanya. Hingga tak terasa hubungan ‘teman makan teman’ itu berlangsung dua tahun.


Mereka memutuskan untuk menikmati masa pacaran mereka, pergi traveling bersama ke negara tetangga, makan malam sederhana di restoran biasa, duduk santai meminum kopi bersama teman teman mereka, menonton film action di bioskop, menonton film horror di pent house mereka.


Bukan tidak ada pertengkaran, mereka sangat sering berselisih paham karena perbedaan pendapat dan selera, namun mereka ternyata pandai mengatasi, biasanya Jonathan akan mengalah terlebih dahulu.


Namun kemudian ia akan memaksakan kehendaknya sebagai opsi yang kedua dan tidak akan bisa di bantah lagi. Sebagai misal Jonathan ingin pergi ke bangkok sedang Tiffany ingin pergi ke pulau Phi phi


Maka Jonathan akan mengalah, setelah sampai di pulau phi phi dan saat last minute mereka akan kembali ke Tokyo tiket penerbangan meraka tiba tiba di batalkan oleh Jonathan dan mau tidak mau harus menuju Bangkok.



👆👆👆👆👆


Dan saat Jonathan ingin makan pizza sebagai makan malam mereka, sedangkan Tiffany ingin makan pasta maka Jonathan akan memesan keduanya dan memaksa Tiffany untuk membantu menghabiskan pizzanya.


“aku akan menjadi gemuk” itu yang selalu Tiffany keluhkah namun mau tidak mau ia harus memakan pizza itu karena terlalu menggiurkan.


Mereka tidak buru buru menikah karena jika Jonathan mengatakan ingin menikahi Tiffany pasti orang tuanya akan menentang dan mengatakan mereka masih terlalu muda, sama seperti saat Derren meminta restu untuk menikahi Olivia.


Dan berbicara tentang Olivia, gadis itu menghilang.


Sejak kabar berakhirnya hubungan Olivia dan Derren, gadis itu menolak semua panggilan dari keluarganya.


Bahkan ia juga enggan berhubungan dengan keluarga Artajaya.


Saat di temui di rumah sakit tempat ia magang praktek ia menghindar, kalaupun ia bersedia untuk di temui ia hanya memberi sedikit waktu tanpa berbicara banyak.


Ia menghindari semua orang.


Dan Derren, ia menjadi pria dingin yang tak tersentuh, ia telah lama kembali ke Tokyo.


Ia enggan berbicara dengan siapa pun, ia hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja di rumah sakit kemudian mengurung diri di dalam kamarnya.


Ia juga menjual beberapa aset atas namanya.


Dan entah apa yang ia lakukan dengan uang itu.


Bahkan Naoki yang paling dekat dengannya, ia tak bisa sedikit pun mengorek informasi dari mulut Derren, meskipun kadang Naoki mengajak Derren bermain catur, tetap saja tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Sekeras apa pun Naoki memancing pembicaraan, Derren tetap mengunci mulutnya.


Derren yang sekarang menjadi pria dingin sedingin gunung es hingga tanpa terasa sudah melewati dua tahun hubungannya dengan Olivia telah berakhir.


“Vicky....” panggil Tiffany pada adiknya


Adiknya adalah chef, ia baru saja lulus dari Culinary Institute of America atau CIA merupakan sebuah sekolah non profit yang terletak di Hyde Park, New York, Amerika Serikat, didirikan pada tahun 1946. Sekolah kuliner ini menawarkan lulusannya menjadi pakar kuliner maupun chef yang dapat bekerja di bidang pariwisata dan industri lainnya. Dan setiap lulusannya memiliki gelar sarjana muda, dan dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya.


“jie-jie kau sangat cerewet, apa lagi yang ingin ksu makan?”


(*jie-jie \= baca cici \= bahasa cina artinya kakak perempuan)


“aku ingin makan mac and cheese” kata Tiffany sambil bergelayut manja di pundak adiknya


“kau baru saja menghabiskan semua makanan di meja” keluh Vicky


“ayolah mey-mey”


*mey-mey \= adik perempuan


“baiklah tunggu 30 menit” Vicky akhirnya mengalah.


“Tiffany mama lihat kau akhir akhir ini seperti raksasa pemakan segalanya” kata Hana ibunya heran sambil memandang dada putrinya yang tampak begitu berisi tidak seperti biasanya.

__ADS_1


“entahlah, aku lapar terus mama” kata Tiffany sambil memasukkan makanan ke mulutnya


Tidak berapa lama Jonathan datang, ia membawa paper bag berisi berbagai macam cemilan dan itu pesanan Tiffany!!!


“gè-gè apa kau ingin mac and cheese juga?” tanya Vicky


(*gè-gè \= di baca koko / kakak laki laki


“tidak Vicky-chan, terima kasih aku kenyang” kata Jonathan yang menjadi kenyang hanya dengan melihat Tiffany yang terus saja makan.


“oh Joe kebetulan sekali kau datang, tunggu di sini kalian jangan ke mana mana” kata Hana “tante ada perlu denganmu” lanjutnya


Tiffany dan Jonathan mengobrol sambil menonton televisi di selingi candaan candaan, kadang Tiffany bergelayut manja pada Jonathan dan memukuli lengan Jonathan dan Jonathan juga tidak keberatan ia beberapa kali menciumi pundak Tiffany.


Hana menggelengkan kepalanya, tidak biasanya putri pertamanya begitu manja pada Jonathan, biasanya jika Jonathan datang mereka mengobrol santai atau hanya main game bersama Vicky.


30 menit kemudian Livia tiba di rumah sahabatnya.


“mommy?” Jonathan terkejut saat Livia ibunya tiba tiba sudah berada di ruangan itu.


Livia tidak menjawab, ia langsung menuju ruang makan dimana Hana menunggunya.


“Joe, Tiffany kemarilah” panggil Hana dari ruang makan.


Kedua sejoli itu duduk di depan kedua ibunda mereka masing masing,


“ada apa tante?” tanya Jonathan polos


“kalian berdua tolong jawab jujur pertanyaan kami” kata Hana


Jonathan dan Tiffany mengerutkan kening dan sling memandang heran


“apa kalian pacaran?” tanya Livia


“iya” jawab Jonathan tanpa ragu ragu


“tidak” jawaban Tiffany cepat


Bersamaan


“yang jujur” Hana menekankan kalimatnya sambil memandang putrinya


“iya....” jawab Tiffany lirih, malu malu


“oooh jadi kau berhasil mendapatkan hati putriku?” tanya Hana menggoda Jonathan


“Tiffany yang menggodaku tante” jawab Jonathan jahil


“Joe kau...” Tiffany melotot galak pada Jonathan


"sudah berapa lama kalian pacaran?"


"darling apa kau ingat tanggal kita jadian?" tanya Jonathan


Tiffany menggeleng


“lalu apa yang kalian lakukan saat pacaran?” tanya Livia menginterogasi dua pemuda di depannya


“traveling, makan malam, nonton di bioskop” jawab Jonathan


“selain itu”


“selain itu?”


“berpegangan tangan, berciuman, mommy kau pernah muda bukan?” jawab Jonathan protes pada ibunya.


Tiffany menginjak telapak kaki Jonathan hingga pria itu meringis.


Livia mengeluarkan sebuah kotak kecil terbungkus plastik dari dalam tasnya.


“Hana kau temani Tiffany ke toilet” kata Livia


“biar aku saja tante...” kata Jonathan


“kau duduk saja Joe jangan cerewet” kata Livia sambil mengulurkan kotak itu pada Hana


Hana mengikuti Tiffany ke kamar mandi dan membuka kotak di tangannya.


“gunakan ini pada air senimu” kata Hana


Tiffany mengambilnya dan mengikuti instruksi yang di katakan hana ibunya.


“mama ini” kata Tiffany polos sambil menyerahkan benda yang ada di tangannya.


Setelah mencuci tangannya Tiffany kembali duduk disamping Jonathan


“Tiffany, Joe, selamat kalian akan menjadi ayah dan ibu” kata Hana tampak bersemangat


Jonathan memandang wajah Tiffany dengan tatapan terkejut dan bahagia.


“sayang kau hamil? Kenapa tidak bilang padaku?” Jonathan memeluk Tiffany dan menciumi pipinya di depan ibu mereka


Tiffany menjauhkan tubuhnya dari Jonathan karena merasa malu


“aku? hamil? Bagaimana bisa?” tanyanya heran wajahnya tampak bingung


Hana dan Livia menggelengkan kepalanya bersamaan mendengar kata kata Tiffany yang polos


“iya kau hamil, kita akan menikah dan memiliki anak” Jonathan sangat antusias, ia kembali memeluk Tiffany


“Joe lepaskan Tiffany” kata Livia


“mommy kau sangat kuno”


“kita belum selesai bicara, kau bisa memeluk Tiffany nanti saat berduaan” sungut Livia


“akhirnya kita benar benar menjadi keluarga, perjodohan ini akhirnya terlaksana juga” kata Hana sambil memeluk Livia sahabatnya


“apaaaaa?????” kali ini Tiffany dan Jonathan yang terkejut


“Iya kalian memang kami jodohkan sejak lahir” jawab Livia santai


“Joe, kau tau ini?” tanya Tiffany galak


“tidak aku tidak tau” ia memang betul betul tidak tau


“tapi kau bilang pada Tasya waktu itu?”


“aku hanya mengarang cerita”


“ini karena mulutmu, jadi ada kebetulan seperti ini” sungut Tiffany

__ADS_1


“tapi kita saling mencintai, tidak ada yang di paksa dalam perjodohan ini” protes Jonathan


“kau yang sejak awal memaksaku”


“kau juga me.....” Tiffany langsung membekap mulut kotor Jonathan yang akan menceritakan aibnya. ‘menyerahkan kesucian pada temannya’ itu pasti yang akan Jonathan katakan!!! ‘Dasar mulut cabul!!!’ Tiffany sangat kesal dalam hati hingga rasanya ingin mencekik leher Jonathan.


“astaga kalian lanjutkan bertengkar nanti, sekarang pikirkan kapan kalian akan menikah” kata hana sambil menekan pelipisnya


“secepatnya, Tiffany kau akan berubah menjadi gemuk saat hamil, kau harus menikah secepatnya, foto pernikahanmu akan terlihat gemuk jika terlalu lama menundanya”


“Livia kau jangan samakan putriku denganmu yang sangat ketakutan gemuk setiap kali kau hamil” kekeh hana.


“sebenarnya aku telah kama melamar Tiffany, tapi aku tau pasti mommy akan meminta kami menunda menikah dengan alasan kami masih muda, untunglah Tiffany ku hamili, kami akan segera menikah” kata Jonathan jujur


Tiffany mencubit pinggang Jonathan gemas, pria cabul itu benar benar tidak tau malu di depan orang tua mereka.


“melamar? Tiffany tidak memakai cincin?” kata Hana


“sayang tunjukkan cincinmu” kata Jonathan


Tiffany menarik kalungnya, ya cincin itu ia pasang sebagai liontin di lehernya.


“oh ya tuhan, aku benar benar tidak bisa menolak tua, akhirnya aku akan di panggil nenek juga” keluh Livia


Dan semua yang ada di ruangan itu tertawa.


"Besok kita siapkan lamaran resminya, Joe kau hanya memiliki waktu 1 hari siapkan semuanya" titah Livia


"oke mommy" jawab Jonathan bersemangat.


Livia mengecek jam di pergelangan tangannya, itu masih jam 7 malam.


"kau bawa Tiffany ke dokter Obgyn sekarang periksa usia kandungannya, ini penting" kata Livia lagi


"apa perlu kutemani?" tanya Hana antusias, bagaimanapun ia akan memiliki cucu


"tidak perlu ma, papa mungkin akan segera pulang" kata Tiffany, ayahnya mengelola beberapa bisnis restoran China warisan turun temurun keluarganya.


"ma... apa papa akan memarahiku?" tanya Tiffany sambil menunduk, ia takut ayahnya marah karena ia hamil.


"jika pria lain yang menghamilimu mungkin ia akan marah, serahkan semua pada mama" kata Hana membelai rambut putri sulungnya.


"terima kasih mama"


Jonathan dan Tiffany meninggalkan kediaman orang tua Tiffany menuju rumah sakit, ternyata usia kandungan telah beusia Tiffany 12 minggu.


"darling apa dia laki laki?"


"belum bisa di ketahui" kata Tiffany sambil membelai perutnya, memang perutnya akhir akhir ini agak membuncit, Tiffany pikir karena ia terlalu banyak makan.


"dia akan menggemaskan sepertiku" kata Jonathan percaya diri


"dia tidak boleh sepertimu, kau play boy!" gerutu Tiffany


"tapi kau jatuh cinta pada mantan play boy" goda Jonathan


"Joe...." kata Tiffany sambil memeluk pinggang Jonatathan yang sedang mengemudikan mobilnya


Jonathan mengelus rambut Tiffany yang akhir akhir ini memang berubah sedikit manja


"ada apa darling"


"apa benar kau sudah berubah?" tanya Tiffany, tentu saja ia takut suatu saat pria ini bermain api seperti dulu


"Tiffany.... kamu dan anak anak kita kelak sudah cukup buatku, aku tidak ingin anak anak kita memanggil papa pada pria lain" jawabnya getir.


Tiffany mengerti, ternyata pria yang selalu ceria ini memiliki trauma dari perceraian kedua orang tuanya dulu.


3 hari kemudian Di kediaman orang tua Jonathan


Keluarga itu sedang makan malam seperti biasa, hanya ada obrolan obrolan santai seputar bisnis dan teknologi antara Jonathan, Kenzo dan Naoki. Terkadang Livia menyahut, sedangkan Derren hanya diam sambil memakan makanannya dengan anggun.


“daddy, ada yang salah sepertinya dengan teorimu”


“teori apa?"


“kau berkata ada hal hal yang tidak bisa di paksakan di dunia ini”


“oh ya? Benarkah?” tanya Naoki


“buktinya aku bisa memaksa Tiffany hingga ia bertekuk lutut” kata Jonathan dengan nada sombongnya


“kau menjebak dengan bualanmu dan menghamilinya tentu saja ia tidak memiliki pilihan lain, mommy yakin” kali ini Livia pasang badan membela teori dari suaminya


“mommy kau benar benar tidak mau kalah”


“tentu saja, berapa banyak gadis yang berhasil termakan bualanmu?”


“aku tidak membual, mommy mereka ysng datang sendiri padaku”


“betapa bodohnya gadis gadis itu, tapi aku yakin kau yang jatuh bangun mengejar Tiffany”


“cih, tidak juga” tentu saja Jonathan gengsi mengakui.


“tapi meski kau tidak mengejarnya kau akan tetap menikah dengan salah satu putri Hana, sudah jelas jelas aku dan hana sepakat salah satu putraku harus ada yang menikah dengan putrinya”


“sayang kau benar benar menjodohkan mereka?” Naoki terkejut


“tentu saja hubby, jika tidak mana mungkin Hana bersikeras Tiffany harus kuliah di London sedangkan suaminya ingin Tiffany kuliah di Guagzhou di tempat asal suaminya”


“kalian benar benar sahabat sejati, Joe kau tidak boleh mengecewakan, kau harus menjaga rumah tanggamu kelak, karena hubungan kalian adalah pertaruhan persahabatan keluarga kita”


Jonathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, niatnya ingin mengejek ayahnya justru menjadi boomerang bagi dirinya! Benar benar pasangan suami istri yang menyebalkan!!!


“oh iya Joe bisakah kau menjemput Olivia untuk menghadiri pernikahan kalian?” tanya Livia setelah mereka selesai makan, ada Derren di sana, sedangkan Kenzo telah bangkit dari duduknya terlebih dahulu ia tidak tertarik dengan obrolan orang dewasa.


“aku akan menjemputnya” jawab Jonathan seraya melirik wajah kakaknya, mencari perubahan ekspresinya namun ia tak menemukan apa pun di wajah dingin itu. Derren bersikap seolah olah patung.


Jonathan sedikit merasakan sakit menggigit jantungnya, ia lupa pada Olivia, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kisah cinta miliknya sendiri dan Tiffany. Pernah Jonathan dan Tiffany kebetulan pergi ke London dan menemui Olivia tapi gadis itu juga sedingin Derren, tidak banyak bicara dan terkesan tidak ingin di dekati.


“mommy serahkan padamu, pastikan dia datang, sudah hampir tiga tahun keluarga tidak ada yang bisa menemuinya, mommy minta tolong bujuk dia agar mau kembali ke keluarga” kata Livia, matanya mulai berkaca kaca.


Derren bangkit meninggalkan ruangan tersebut menuju kamarnya tanpa berkata apa apa.



👆👆👆👆👆👆 Daddy naoki ama mommy Livia tempo dulu. (author yang bikin)


Foto Joe sama Tiffany itu juga made in author tolong jangan di bully editannya kasar 😭😭😭


READY BUAT PENGEJARAN CINTA DERREN DAN OLIVIA BAABAK KEDUA 👍😁

__ADS_1


__ADS_2