
Sebelum berangkat berlibur Tiffany datang ke perusahaan Travel milik ibunya yang telah berganti kepemilikan menjadi miliknya sejak ia mendapatkan gelar sarjananya, namun sejak menikah dengan Jonathan, ia tak banyak memiliki waktu untuk mengurus perusahaan yang menjadi tampak kecil jika di bandingkan dengan Tjiptadjaja Group.
Hari ini Tiffany menghadiri pertemuan dengan sebuah maskapai penerbangan yang menawarkan untuk bekerja sama dengan perusahaan miliknya, Tiffany telah mempelajari penawarannya, ada banyak keuntungan yang bisa di dapatkan dengan bekerja sama dengan salah satu maskapai penerbangan di negeri sakura itu, ia datang sendiri tanpa membawa sekretarisnya, hal seperti ini memang sudah biasa ia lakukan, ia tidak terlalu memerlukan bantuan sekretaris hanya untuk hal hal seperti ini.
“Selamat siang Tiffany” sapa Taichi
“Taichi?”
“aku bekerja di sini”
“Oh ya?”
“Ayo aku antar kau bertemu langsung dengan atasanku”
Taichi membawa Tiffany ke lantai paling atas gedung itu dan memasuki sebuah ruang Direksi
“Tunggu di sini sebentar” kata Taichi, pria itu menghilang fi balik pintu dan tidak lama ia kembali,
“Masuklah, bossku menunggumu” kata Taichi
“Baik terima kasih”
Tiffany masuk diantarkan Taichi, setelah saling memperkenalkan diri, mereka terlibat dalam pembicaraan serius cukup lama membahas hal hal yang berhubungan dengan kerja sama yang akan mereka jalankan.
“Jaman sekarang masyarakat lebih menyukai segala sesuatu yang bersifat instant, seperti pembelian tiket pesawat mereka cenderung tidak mau repot, dan ku lihat aplikasi milik perusahaan milikmu benar benar sempurna, tidak hanya fitur yang mudah di pahami, bahkan kalian juga sangat memperhatikan promo promo dan cash back yang menjanjikan”
“Tentu saja, kepuasan pelanggan sangat penting”
jawab Tiffany sopan
“Ya itulah sebabnya kami ingin setiap pembelian tiket penerbangan kami di aplikasi milik perusahaanmu kami akan memberikan diskon 5%”
“Saya rasa diskon 5% terlalu sedikit, apa tidak sebaiknya 10%?”
“Tidak, maskapai lain bahkan tidak berani memberikanndoskpn apa pun”
“Maaf tuan Nobu Asano, maskapai yang tidak menawarkan diskon adalah dua maskapai terbaik di negara ini, mereka tidak memerlukan promosi apa pun”
Nobu terdiam sejenak sambil mengangguk anggukkan kepalanya, seolah setuju dengan pendapat Tiffany.
“Biaklah, ku rasa aku setuju dengan usulmu dan aku rasa kita cocok untuk bekerja sama” senyum di wajah Nobu mengembang.
Pria itu memanggil sekretarisnya yang tak lain adalah Taichi, menginstruksikan menyiapkan kontrak untuk di tanda tangani kedua belah pihak.
Setelah membaca dan memahami kontrak secara saksama Tiffany menandatangani perjanjian kerja sama selama satu tahun, begitu juga dengan Nobu.
“Baiklah nona Tiffany, selamat untuk kerja sama kita” kata Nobu dengan nada ramah
“Senang bisa bekerja sama dengan anda” jawab Tiffany ramah
“Bagaimana jika kita makan siang bersama sama untuk merayakannya? Saya akan mentraktir nona”
__ADS_1
“Terima kasih untuk tawaran anda tuan Nobu, tapi sayangnya saya harus memohon maaf saya harus segera kembali, putra saya menunggu di rumah, saya telah terlalu lama meninggalkannya”
“Sayang sekali, baiklah saya anggap anda memiliki hutang kepada saya”
“Baiklah tuan Nobu, saya akan membayarnya suatu saat” jawab Tiffany sopan
Setelah berpamitan dan saling mengucapkan salam perpisahan Tiffany segera meninggalkan tuangan itu, Taichi mengantarkan Tifany hingga ke depan lobi perusahaan sambil berbincang bincang, mereka masih akrab seperti dulu saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
------
Sementara Dave semenjak kedatangan Mrs. Sword ibu Merry, meskipun ia telah bertekad untuk melanjutkan hidupnya seperti biasa, bayang bayang kekejamannya pada Merry menghantuinya, ia tidak bisa lagi memejamkan matanya dengan tenang, setiap kali ia memejamkan mata bayangan wajah gadis tomboy berambut pirang yang selalu menempel padanya sejak kecil menggelayuti pikirannya, berulang kali ia menepis bayangan itu dengan menghisap rokoknya, meminum beberapa teguk vodca bahkan pergi ke club dan menari bersama para wanita di club, tetap saja bayangan Merry menghantui pikirannya.
Bayangan wajah Merry menangis, merintih memohon ampun di bawah kuasanya, dan lima orang lainnya, membuat batinnya terasa sakit seperti di tikam belati.
Seperti apa Merry menjalani hari harinya setelah penghinaan itu?
Dan seperti apa ia wajah putra mereka? Benarkah itu putra miliknya? Benarkah mirip dengannya?
Dave ingin sekali melihatnya.
Seharusnya ia tak membalas perbuatan Merry, seharusnya ia fokus mengurus dirinya dan mengurus ibunya setelah keluar dari penjara saja, seharusnya ia tak meluapkan api dendam yang membuat Merry harus depresi seumur hidupnya.
Dave mengusap wajahnya dengan kasar, setengah berteriak ia menyambar beberapa potong pakaian, memasukkan ke dalam tas punggung dan segera melajukan mobilnya menuju London, membelah jalanan sepi dengan kecepatan tinggi, bahkan jarak tempuh yang seharusnya 2 jam 39 menit ia mampu menempuhnya hanya dalam waktu 1 jam 20 menit, ia tiba di kediaman orang tua Merry saat masih pukul 6 pagi, itu adalah mansion yang merupakan tempat tinggalnya selama 16 tahun.
Mansion itu masih sama seperti dulu, lengang seperti tidak ada kehidupan, untungnya penjaga pintu gerbang masih orang yang dulu, Dave tidak kesulitan mendapatkan izin masuk, Dave duduk di ruang tamu, memandangi pucuk sepatunya.
“Jadi kau akhirnya datang Dave?” kata wanita yang muncul mendadak di depan Dave
Dave menatap dingin wajah ibu Merry
“Aku ingin melihat putraku”
“Aia sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, mungkin kau bisa ikut bersama kami sarapan”
Dave terdiam, tiba tiba ia merasa tidak siap.
“Kau tidak siap?” tanya Mrs sword
Dave masih diam.
“Dia tidak tahu, apa yang terjadi dengan ibunya”
“Maksudmu?”
“Aku akan menceritakan nanti, setelah Daniel pergi sekolah, sekarang lebih baik kau bersihkan wajahmu, kau tampak kacau Dave, aku tidak ingin cucuku melihat ayahnya yang tampak seperti pemabuk seperti ini”
Dave masih tidak bergeming, sementara Mrs. Sword mendengus kesal
melihat sikap lemah Dave.
__ADS_1
“Pergilah ke kamarmu, tempat itu masih sama Dave, tidak ada yang menghuni”
Dave dengan linglung bangkit mengikuti instruksi Mrs. Sword, ia menuju kamarnya, meletakkan tas punggungnya, membersihkan tubuhnya mengganti pakaiannya. Ia sempat menyapukan pandangannya, tempat itu masih sama, bahkan saat ia membuka lemari pakaiannya, barang barang miliknya masih utuh.
Pakaiannya 12 tahun yang lalu, yang hampir semuanya di pilihkan dan di belikan oleh Merry. Sekali lagi jantungnya bagai di tikam belati.
15 menit kemudian ia masuk ke dalam mansion itu, langsung menuju ruang makan dan ia mendapati seorang bocah berusia 11 tahun sedang duduk di meja makan dengan manis, bocah itu adalah gambaran dirinya ketika kecil.
Semuanya mewarisi wajah Dave, kecuali rambut pirangnya, itu adalah satu-satunya yang ia dapat dari Merry.
Lutut Dave seperti runtuh, ia nyaris ambruk, ia telah beberapa hari tidak tidur karena memikirkan hal ini, dan sekarang ia benar benar merasa bersalah kepada Merry.
“Dave, duduklah” kata Mrs. Sword ramah, sangat berbeda dengan sikapnya saat menemuinya di Bournemount.
Dave kembali linglung, ia tak bisa berkat apa pun, ia duduk tepat di depan Daniel. Putranya.
“Grandmom, siapa dia?” tanya anak itu dengan polos
Mrs. Sword tersenyum manis kepada cucunya
“Daniel, habiskan dulu sarapanmu, setelah itu kau pergilah ke sekolah, sopir akan mengantarkanmu”
“Baik grandmom”
Daniel dengan patuh mengikuti apa yang di perintahkan neneknya, ia dengan anggun memakan sarapannya, meminum susunya lalu berlari pergi ke sekolah setellah mengucapkan selamat tinggal pada Dave dan neneknya.
“Daniel tidak tahu kalau ibunya di rumah sakit rehabilitasi mental dan jiwa, ia aku bawa ke sini sejak Merry harus menjalani rehabilitasi” Mrs. Sword memulai ceritanya.
Dave hanya diam,
“Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Merry, pertengkaran apa hingga kalian harus berpisah saat Merry hamil putramu, Merry bahkan tidak berani melihat wajah putranya sendiri, mungkin ia terlalu takut melihatmu dalam wajah putranya, ia menyuruhku menitipkan Daniel di panti asuhan, namun aku memilih mengurusnya di mansion pribadiku, orang orangku merawatnya dengan baik tanpa sepengetahuan siapa pun, aku tidak ingin keturunanku terlantar.”
Deeeg darah Dave kembali berdesir, Merry tidak menceritakan perbuatan bejatnya pada siapa pun?
“Masalah orang tuamu, seharusnya aku tidak terbawa emosi saat itu, ibumu telah membantu membesarkan Merry, dan jika aku tahu kalian saling mencintai, dan Merry bahkan hingga depresi karenamu, aku tidak akan menentang hubungan kalian, aku tahu seperti apa rasanya menikah tanpa cinta seperti aku dan ayah Merry”
Dave merasa semaikin dihimpit penyesalan dengan semua yang di katakan orang tua Merry, batinnya semakin hancur berkeping keping karena rasa bersalahnya.
Seharusnya ia tidak membawa 5 bandit untuk melakukan kebejatan pada Merry!!! Seharusnya hanya dia yang menyentuh Merry!!!
Dave bangkit tanpa berkata apa apa.
Ia segera menuju rumah sakit di mana Merry menjalani rehabilitasi.
SELAMAT MALAM 😅😅😅
BUG DI NOVEL AUTHOR BELUM TERATASI, AUTHOR BINGUNG DAN SEDIKIT KECEWA SAMA MANGATOON ☺☺☺ RASANYA MAU BERHENTI UPDATE AJA KLAU HAK AKU GAK DI KEMBALIKAN!!!
TAPI YA SUDAHLAH, AUTHOR COBA BERPIKIR JERNIH, AUTHOR MENCOBA LEBIH DEWASA DAN TANGGUNG JAWAB SAMA PARA PEMBACA AJA, MUDAH MUDAHAN YANG HILANG DIGANTIKAN OLEH TUHAN BERLIPAT GANDA. AAMIIN.
__ADS_1