
Hanya satu minggu Olivia mengikuti apa syarat yang di ajukan Derren, selanjutnya ia kembali lagi tinggal di asrama bersama Miranda sahabatnya. Derren sejak awal telah menebak, Olivia pasti akan menggunakan trik semacam itu jadi Derren sama sekali tidak terkejut.
Mereka kemudian menjalani hari hari mereka seperti biasa hingga tiba libur semester mereka telah berakhir dan mereka mulai aktif kembali belajar, mereka bertingkah seperti tidak saling mengenal meskipun berpapasan di lorong fakultas, saat kebetulan bertemu di kantin ataupun saat Derren menjadi asisten dosen di kelasnya.
Namun ada yang mengganjal di hati Olivia, karena sudah lebih dari satu bulan seorang gadis berambut pirang tampak sering bersama dengan Derren.
Mereka tampak berbicara akrab di kantin, bahkan mereka beberapa kali terlihat duduk di perpustakaan berdua membaca buku.
Tanpa sadar Olivia menebak nebak kedekatan Derren dengan gadis itu dan sedikit terganggu, bukan sedikit tapi membuat perasaannya sangat resah, dan itu sangat mengganggunya, Olivia juga kadang mengendap endap membuntuti mereka untuk sekedar mengamati.
Hari itu setelah kelas selesai Olivia bergegas menuju ruang kelas Derren, ia sengaja menunggu sepupunya tak jauh dari pintu.
Tidak begitu lama Derren keluar dan benar saja gadis berambut pirang itu juga keluar dan berjalan di belakang Derren.
“Derren” panggil Olivia “aku ingin bertemu Joe, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Olivia dengan nada manja
“baik, ayo” kata Derren dengan nada biasa, tidak menaruh kecurigaan apa pun pada Olivia
Tiba tiba gadis berambut pirang itu berbicara
“Derren apakah dia kekasihmu?” tanyanya langsung pada Derren
“oh Merry, kenalkan ini Olivia sepupuku” kata Derren
👆Merry
“oh hai aku Merry senang berkenalan denganmu” kata Merry mengulurkan tangan pada Olivia dengan ramah.
“Olivia” jawab Olivia singkat sambil menerima uluran tangan Merry
Ketika sampai di apartemen tempat tinggal mereka Olivia segera berlari ke kamarnya, ia membuka pintu yang mengarah ke balkon agar udara yang terkurung segera berganti dengan udara segar.
Setelah mengganti seprei dan selimut Olivia bergegas mandi, kemudian ia keluar dari kamar dan mulai memasak untuk makan malam mereka.
“apa yang kau masak?”
Olivia terlonjak karena Derren telah berdiri di belakangnya,
“apa saja yang ada di lemari pendingin” jawab Olivia jantungnya berdegub kencang, apalagi jarak antara Derren dan dirinya mungkin hanya satu jengkal.
“jika kau ingin masak makanan Indonesia kita bisa belanja ke asian market, aku akan mengantarmu” kata Derren lembut
Olivia terkagum kagum dengan kata kata yang terucap dari bibir Derren karena itu sama sekali bukan Derren yang ia kenal, Derren yang ia kenal selalu dingin dan datar, hati Olivia mendadak senang karena perlakuan Derren yang tidak membuatnya kesal.
“benarkah?” tanya Olivia antusias
“kapan aku berbohong padamu?” tanya Derren lembut
“kau sering berbohong padaku dan kau sering membullyku” jawab Olivia dengan wajah sedikit cemberut
“oh ya? kapan?” goda Derren dengan nada suara hangat
Olivia justru merasa pipinya memanas hanya dengan mendengar kata kata Derren yang terdengar lembut dan hangat di telinganya.
“baiklah besok sepulang kuliah kita berbelanja” kata Olivia senang
Olivia dan Derren malam itu membuat pasta, mereka mengerjakannya bersama sama. Setelah pasta siap Olivia memanggil Jonathan yang sedang asik berkutat dengan keyboard dan layar komputernya.
“Joe makan malam telah siap” panggil Olivia yang hanya menjulurkan kepalanya dari pintu kamar Jonathan
Jonathan mengangguk
“aku datang” katanya sambil berdiri dan mengikuti Olivia menuju meja makan.
Mereka bertiga makan dengan di selingi obrolan ringan antara Jonathan dan Olivia, sedangkan Derren ia hanya menyahuti seperlunya saja.
“ku harap kau tinggal di sini, tidak perlu kembali ke asrama” kata Jonathan pada Olivia
“mmmm asal kakakmu tidak berbuat jahat padaku lagi” jawab Olivia sambil melahap pastanya
“aku akan membelamu, kenapa kau harus takut padanya?”
Derren tidak menanggapi kata kata mereka berdua, ia hanya melirik Olivia dengan ekor matanya.
“apa kau telah bertemu Tiffany?” tanya Jonathan
“Tiffany?” tanya Olivia heran
“ya Tiffany, dia kuliah di London juga”
“benarkah? Dimana dia?” tanya Olivia ingin tau
“UCL” jawab Jonathan dengan nada malas “tapi aku tidak tau di mana ia tinggal”
“aku akan menghubunginya nanti” kata Olivia bersemangat.
“Joe bersihkan piring piring, kau juga harus bekerja sama” kata Derren sambil beranjak pergi meninggalkan meja makan.
“dasar pria dingin” ejek Jonathan “Olivia kau serius kan tinggal disini lagi?”
“aku... aku... aku Iya, aku bosan di asrama” jawab Olivia gugup karena ia sendiri tidak mengerti mengapa ia tiba tiba ingin tinggal bersama Derren lagi.
__ADS_1
Besok paginya Olivia berangkat ke universitas bersama Derren, Derren juga tidak keberatan, ia bahkan terus mengikuti langkah kaki Derren hingga mereka berpisah di depan ruang kelas.
Setelah kelas selesai Olivia bergegas mencari Derren namun ia tak menemukan Derren di perpustakaan maupun kantin fakultas mereka.
Olivia menekan nomer ponsel Derren dan mencoba menghubunginya beberapa kali, namun ponsel Derren tidak aktif.
Merasa kesal Olivia menuju asrama dan merebahkan tubuhnya di atas sofa, kemudian ia teringat Tiffany.
Ia memanggil Tiffany dan mulai mengobrol dengan Tiffany, meereka juga membuat janji untuk saling bertemu.
“kau sepertinya dalam suasana hati yang buruk” kata Miranda yang sedari tadi memperhatikan Olivia teman sekamarnya yang tampak gelisah.
“miranda apa kau tau siapa gadis yang sering bersama sepupuku?” tanya Olivua pada miranda sambil menegakkan punggungnya
“oh itu? Dia Merry sword, dia putri salah satu pemilik rumah sakit ternama di sini”
“kau mengenalnya?” tanya Olivia terkejut
“hanya kau yang tidak mengenalnya ku rasa, ia sangat tenar karena penampilan glamournya, ia tak kalah tenar dengan Derren sepupumu”
“cih, aku membencinya” gumannya lirih namun masih dapat terdengar oleh Miranda
“kenapa?”
“dia terlalu menempel pada sepupuku”
“hahahaha” Miranda tertawa “ada apa denganmu? Bukankah katamu sepupumu itu adalah musuhmu?”
👆Miranda
Olivia mengatupkan bibirnya kesal, ia bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Miranda tanpa menjawab pertanyaan temannya, Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar mandi dan kepalanya telah di bungkus dengan handuk, Ia memeriksa ponselnya, ada 3 panggilan tak terjawab dari Derren.
Olivia mematikan ponselnya lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, setelah itu ia menuju dapur dan membuka lemari pendingin memeriksa bahan bahan yang mungkin dapat di olah untuk makan malamnya bersama Miranda.
“Olivia... ada seseorang menunggumu di bawah, penjaga asrama menelfon” kata Miranda setengah berteriak sambil menutup gagang telfon.
“siapa yang mencariku?” tanya Olivia
“kata penjaga namanya Joe, sepupumu”
“untuk apa Joe mencariku?” guman Olivia sambil berjalan keluar.
Ia hanya mengenakan setelan celana pendek dan crop hoodie berwarna pink. Ia bahkan tidak menggunakan bra. Ia juga mengenakan sandal rumah dengan kepala kelinci berwarna pink.
Ketika sampai di loby asrama, ia terkejut karena yang datang ternyata bukan Jonathan melainkan Derren.
‘dasar licik’ batinnya
“ayo pulang” kata Derren langsung sambil menatap Olivia dari ujung kepala hingga kaki.
‘imutnya’ batin Derren
“tidak, aku ingin tidur di sini”
“kau ingin masak makanan Indonesia bukan?”
“tidak aku telah kehilangan mood”
“tapi aku ingin makan masakanmu malam ini” kata Derren dengan tatapan memohon
“....” Olivia tidak menjawab
“maaf, aku tadi lupa menyalakan ponselku, aku mengerjakan tugas kelompok bersama teman temanku di atap gedung”
Mendengar pengakuan Derren wajah Olivia ekspressi nya semakin gelap ‘pasti ada Merry disana’ perasaannya semakin terbakar kekesalan yang tidak biasa.
“maaf” kata Derren sambil membelai rambut Olivia “ayo pulang”
Perasaan kesal Olivia seketika lenyap, hatinya luluh hanya karena mendengar perkataan Derren yang lembut.
“aku harus mengambil ponsel dan dompet”
“minta tolong teman sekamarmu mengantar ke sini” Derren takut Olivia menipunya dan tidak kembali lagi.
“tidak Derren, Miranda sedang sibuk”
“5 menit saja waktumu, ambillah”
Olivia mengangguk dan segera menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 3.
Derren benar benar kejam, ia hanya memberi waktu 5 menit, Olivia sedikit kesal namun tetap saja ia menuruti Derren dengan setengah berlari.
“Miranda, aku akan pulang ke apartemenku” kata Olivia sambil menyambar ponsel dan tasnya.
“oke, sampai jumpa” Miranda tersenyum melihat tingkah Olivia yang cepat sekali berubah moodnya. Mereka telah saling mengenal selama 1 tahun, sifat manja Olivia membuat Miranda merasa nyaman dan kadang terhibur.
“jangan lagi mematikan ponselmu, aku khawatir” kata Derren setibanya mereka di dalam mobil
“kau juga mematikan ponselmu” Olivia tidak mau kalah
“iya aku salah, maafkan aku, tidak akan terjadi lagi”
__ADS_1
‘Derren meminta maaf padaku ? aku tidak sedang bermimpi bukan?' batin Olivia
Mereka tiba di sebuah swalayan yang khusus menjual bahan masakan dari Asia, ketika Olivia hendak turun Derren menarik pergelangan tangan Olivia.
“pakaianmu terlalu mini” kata Derren ia melepaskan jaket yang di kenakannya dan memakaikan pada Olivia, nafas Derren sangat dekat menyapu wajahnya, tubuhnya menjadi kaku seketika dan jantungnya terasa hampir melompat dari rongga dadanya.
Dan mereka berbelanja banyak bahan makanan dan berbagai bumbu dapur.
Sambil memasak Olivia dan Derren saling melempar canda tawa ringan yang membuat Olivia sering merengek manja pada Derren, dulu jika Olivia merengek Derren akan membuat Olivia semakin merengek hingga menangis atau marah. Namun kali ini jika Olivia merengek Derren berhenti menggoda namun ia hanya tertawa ringan atau mengacak acak rambut di krpala Olivia.
Jonathan yang melihat itu merasa sedang berhalusinasi melihat keakraban dua orang yang selalu bermusuhan sejak kecil itu kini tampak intim, bahkan sangat intim. Rasanya aneh melihat tingkah kakaknya yang tampak begitu nyaman berada di samping Olivia, tampak begitu lembut tidak mencari keributan dengan Olivia, dan pandangan mata Derren terus saja mengarah pada Olivia.
“Joe besok aku akan bertemu Tiffany, apa kau mau ikut?” tanya Olivia sambil mengaduk rendang yang sedang ia buat di dalam panci.
“kau lebih baik pergi bersamaku” kata Derren pada Olivia
‘see...! Kakakku benar benar aneh! setelah ia mulai menempel pada Olivia ia juga merebut posisiku?’ batin Jonathan
“bagaimana jika bertiga” tanya Olivia
“Tiffany akan malas bertemu denganmu jika melihat wajah playboy Jonathan” kata Derren santai
“aku? Playboy?” Jonathan tidak terima, play boy itu memiliki banyak pacar, sedangkan ia? ia bahkan tikak memiliki satu orang pun sebagai pacar. menggoda gadis gadis tentu saja tidak masuk hitungan!!
“ya apalagi jika bukan play boy? Bahkan baru 2 bulan di London kau telah berganti ganti gadis yang mengantar dan menjemputmu ke kampus”
“itu karena mommy belum membelikanku mobil disini, aku kesulitan untuk pergi ke kampus”
“kau bisa naik bus”
“tidak, aku mampu membayar taxi” jawab Jonathan malas
“kenapa tidak meminta mobil pada daddy Naoki?” tanya Olivia
“siapa bendahara di rumah? Pasti itu jawaban daddy” jawab Jonathan menirukan gaya Naoki
Olivia tertawa "kau mirip sekali Joe"
“dia benar benar suami takut istri” kata Derren mengatai Naoki ayahnya.
“Derren kau tidak sopan” protes Olivia
“tapi sejujurnya aku ingin seperti daddy jika kelak memiliki istri” jawab Derren sambil ekor matanya melirik Olivia.
“aku tidak mengerti mengapa dulu mommy harus menikah dengan daddy kita Andrew” keluh Jonathan.
Derren tidak menanggapi lagi perkataan Jonathan.
Malam itu mereka bertiga makan malam dengan rendang buatan Olivia.
“sudah lama kita tidak pergi ke Yogyakarta karena nenek Yunita lebih sering berada di Tokyo sejujurnya aku benar benar rindu kuliner di Yogyakarta” keluh Jonathan
“tentu saja mereka lebih sering berada di Tokyo karena cucunya 90% berada di Tokyo” keluh Olivia “hanya aku sendiri yang di Yogyakarta” lanjutnya tampak kesal.
“di masa depan kau juga akan tinggal di Tokyo” kata Derren
“itu mustahil, setelah menjadi dokter aku akan membuka praktek di Yogyakarta, aku ingin mendirikan sebuah yayasan amal ibu dan anak” kata Olivia antusias
Derren tersenyum “tidak ada yang mustahil” kata Derren
Jonathan melirik kakaknya yang tampak semakin berbeda hari ini.
‘apa yang telah terjadi dengan pria dingin ini?’ batin Jonathan makin penasaran!!
Keesokan sorenya Olivia di temani Derren menuju museum, Olivia dan Tiffany memilih tempat itu untuk bertemu.
Ternyata Tiffany datang di temani seorang pria berbadan tinggi tegap, dengan mata biru dan rambut kecoklatan.
Pria itu hanya tersenyum ramah pada Olivia dan Derren lalu pergi meninggalkan Tiffany masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan mereka bertiga.
“Tiffany apa kabarmu? Jika bukan Joe yang memberi tahu kau berada di London juga kau pasti tidak mengabariku bukan?” keluh Olivia
“Olivia maafkan aku, aku sangat sibuk hingga aku lupa memberikanmu kabar” kata Tiffany menyesal, ia memang sangat sibuk dengan kegiatannya “Derren apa kabarmu?” tanya Tiffany pada Derren
“aku baik” kata Derren
"Tiffany, siapa pria tadi? tampan sekali" bisik Olivia pada Tiffany
"rahasiakan pada siapapun" bisik Tiffany "terutama Joe, kau mengerti kan?"
Olivia hanya mengangguk meskipun ia tidak mengerti, kedua gadis itu kemudian terkekeh bersama.
Derren mengerutkan alisnya menatap curiga pada kedua gadis di depannya.
Mereka akhirnya berpindah tempat dan mengobrol santai sambil menikmati makanan di sebuah restoran tak jauh dari museum hingga malam telah mulai tiba Tiffany berpamitan untuk lebih dulu pergi, ketika Derren menawarkan untuk mengantarkannya Tiffany ke apartemennya gadis itu menolak dengan halus dan mengatakan seseorang telah menunggunya di depan restoran.
Setelah mereka saling mengucapkan salam perpisahan Derren menghela nafasnya
“tampaknya saingan Jonathan cukup berat” kata Derren
“maksudmu?” tanya Olivia
“ayo kita pulang” ajak Derren tanpa menjawab pertanyaan Olivia
__ADS_1
TAP JEMPOLNYAAAA YAH SHEZAAAENNGGG 👍👍👍👍👍💖💖💖💖💖💖