Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 33


__ADS_3

Malam hari Olivia setelah kembali dari pesta pernikahan Jonathan ia segera mengurung diri di dalam kamarnya, mengunci pintu rapat rapat. Ia tidak ingin Derren menyusup masuk lagi.


Ia tidak boleh tergoda oleh Derren, pria itu adalah racun bagi tubuhnya, mematikan namun juga membuat Olivia ketagihan. Setelah melihat Crystal melalu video call Olivia segera merebahkan tubuhnya dan memaksa matanya untuk tertidur.


Paginya setelah seluruh keluarga selesai sarapan Olivia bergegas berpamitan pada seluruh keluarga yang berada di rumah itu.


“Olivia kenapa buru buru? Kau bisa kembali lusa atau minggu depan, bersantai dulu di Tokyo kau sudah lama tidak kesini, mommy juga masih rindu padamu” terkejut, tentu saja Livia tidak menyangka Olivia begitu terburu buru seolah ingin nelarikan diri lagi. Mata Livia berkaca kaca tak mampu menahan kesedihannya.


“maaf mommy, Olivia harus bekerja” kata Olivia dengan berat hati, ia juga tidak ingin pergi, ia ingin bersama keluarganya di Tokyo tapi Crystal berada di London.


"apa Derren membuatmu marah? apa Derren menggertakmu?" tanay Livia, ia yakin Olivia begitu terburu buru ingin kembali ke London ada kaitannya dengan Derren.


"tidak mommy dia tidak menggertakku, tapi aku harus bekerja" kata Olivia lirih, wajahnya memerah! 'Derren bukan hanya menggertak namun juga membuatnya nyaris terperangkap lagi!' batin Olivia


“aku akan mengantarmu” kata Derren tiba tiba


“tidak perlu Derren, aku bisa menggunakan taxi, kau pergilah bekerja” tolak Olivia cepat


“Ooliiviia” jika sudah seperti ini Olivia tidak bisa menolak, itu adalah kebiasaan Danu ayahnya, setiap kali keras kepala Olivia muncul ayahnya akan memanggil Olivia dengan nada panjang dan lembut namun dingin.


Olivia akan berubah menjadi penurut, orang selanjutnya yang memanggilnya demikian adalah Derren dan Jonathan.


Olivia cemberut, tidak bisa lagi menolak akhirnya ia pasrah diantarkan oleh Derren,


“mommy, tolong uruskan jadwalku dan beri tau asistenku” kata Derren pada ibunya Livia


Untuk pertama kali setelah kandasnya hubungan cintanya dengan Olivia Derren berinisiatif berbicara lebih dulu pada orang lain di rumah itu.


Livia sangat senang putranya akhirnya mau membuka mulutnya dan berinisiatif berbicara lebih dulu padanya.


“baiklah nak, hati hati di jalan jaga Oliva baik baik” jawab Livia benar benar bahagia, ia menaruh harapan besar pada Derren dan Olivia untuk memperbaiki hubungan mereka.



Keiko yang sedang menggendong Luna tampak cemberut melihat Olivia begitu terburu buru kembali ke London.


"Livia, mereka pasti akan berbaikan, kau jangan terlalu memikirkannya" kata Modori, mertua Livia, entah kenapa sejak Livia menemukan orang tua kandungnya wanita itu berubah sifatnya pada Livia.


Mertuanya berubah menjadi penuh perhatian, ia sering membawakan Livia berbagai makanan olahannya, dan barang barang lain. ia juga sering mengundang Livia untuk datang kerumahnya, bagi Livia hal hal seperti itu justru membosankan, hubungan yang dibentuk karena sesuatu justru membuatnya tidak nyaman. namun bagaimanapun juga ia menerima kebaikan mertuanya, karena itu juga yang dulu ia harapkan meskipun lambat laun Livia tidak lagi menginginkan hubungannya dengan mertuanya menjadi baik, seperti kata suaminya Naoki, cinta Naoki telah cukup untuknya.


Olivia di antar oleh Derren pergi ke air Port, Derren bahkan mengantarnya hingga sampai di terminal kedatangan di London, Olivia entah harus senang atau justru berduka.


“untuk apa kau ke London?” tanya Olivia dengan nada sengit, ia telah lelah memutar otaknya agar bisa lepas dari Derren sejak mereka melakukan chek in counter.


“aku bilang aku akan mengantarkanmu bukan?”


Ya betul, tidak salah. Mengantarkan sampai ke London!!!


Olivia kembali memutar otaknya, Setelah melewati imigrasi chek ia mulai berpura pura sakit perut.


“Derren, tolong pegang tas ku”


Olivia menyerahkan koper dan tasnya sambil meringis


“sayang apa kau baik baik saja?” tanya Derren, ia sangat khawatir


“aku ingin ke toilet lagi, perutku sakit” Acting Olivia sangat sempurna


“kau baru saja ke toilet tadi” Derren mengecek suhu tubuh Olivia denan telapak tangannya.


“tapi aku ingin lagi perutku sangat sakit” kata Olivia mendadak manja


“baiklah” kata Derren sembari mengikuti Olivia


“apa kau ingin di teriaki ibu ibu?” sungut Olivia ketika Derren hendak ikut masuk ke dalam toilet


“tapi aku khawatir kau kesakitan”


“tunggu di bangku itu, di sini kau menghalangi orang lewat” kata Olivia memerintahkan Derren


Derren akhirnya menurut.


15 menit kemudian


Derren sudah tidak tahan lagi karena Olivia tak kunjung muncul.


Ia terpaksa memasuki toilet wanita seperti orang tak tau malu, memanggil memanggil Olivia dan menanyai petugas dengan menunjukkan foto Olivia dan petugas di toilet mengatakan gadis itu telah keluar sejak tadi.


Derren benar benar geram, ia ingin mencekik Olivia jika ia menemukannya!!!


Gadis itu bersni bersninya menipu, melarikan diri darinya!!


Ia memeriksa tas Olivia, tas itu hanya berisi beberapa peralatan make up.


Tidak ada dompet, paspor ataupun ponsel!!!


Derren mencoba menghubunginya namun ponselnya juga tidak aktif.


“Joe” panggil Derren begitu Jonathan menjawab panggilannya


“kau mengganggu pengantin baru” jawaban Jonathan malas di seberang sana


“lacak keberadaan ponsel Olivia, ia melarikan diri lagi”


“di mana kalian?”

__ADS_1


“London” jawab Derren singkat


“shitttttt!!!!” omel Jonathan, Ia segera mematikan sambungan panggilannya dan melacak keberadaan Olivia


“ponselnya terakhir aktif ia berada di area bandara” isi pesan Jonathan.


Derren memanggil taxi menuju apartemen alamat apartemen Olivia yang di kirim oleh Jonathan melalui pesan singkat, Derren namun sialnya apartemen itu telah kosong.


Derren telah mengecek langsung dan menanyakan pada petugas.


Derren tersenyum pahit, Olivia memang ingin menjauh darinya, Olivia memang tak menginginkannya lagi, sepertinya apa pun yang Derren lakukan tak bisa membuat kembali Olivia berada ke dalam genggamannya.


Tapi Derren tak mungkin kembali dengan tangan kosong, sudah cukup ia mendiamkan Olivia membiarkan gadis itu melakukan apa yang ia mau, bebas dari cengkeramannya selama 3 tahun, gadis itu tidak akan Derren lepaskan lagi, dengan cara apa pun ia harus memilikinya lagi bahkan dengan cara memaksanya sekalipun.


Derren memutuskan untuk kembali ke Apartemen milik orang tuanya yang di temoati bersama Olivia dan Jonathan, ia memasuki kamar Olivia, menarik laci dan mengambil cincin dan kalung angsa milik Olivia.


Semua benda yang Olivia serahkan dulu masih di tempat semula, tempat Derren meletakkan setelah Olivia memutuskannya.


Air mata Derren mendesak keluar, dadanya terasa membengkak, sakit.... jantungnya terasa di remas.


‘Olivia mengapa gadis ini begitu keras kepala dan tidak ingin bersamaku?’ batin Derren nelangsa.


Sedangkan Olivia


Ia berhasil lolos dari Derren dengan cara masuk ke dalam toilet, pintu toilet itu ada dua di sisi kanan dan kiri.


Olivia masuk melalui sisi kanan dan keluar dari sisi kiri, sebelum keluar ia menginjak ponselnya hingga layarnya tak berbentuk, membasahi dengan air lalu memasukkannya ke dalam bak sampah di toilet, ponselnya adalah malapetaka, ia tidak akan bisa bersembunyi dari keluarga Derren jika masih menggunakan ponsel dalam hidupnya. Lalu ia melenggang pulang menuju apartemen barunya. Dan berniat menjalani hari harinya seperti biasa, sebelum ia bertemu Derren kembali.


Ia tidak ingin hidupnya kacau karena perasaannya pada Derren yang masih seperti dulu.


Sudah satu minggu Olivia menjalani hari harinya, dengan biasa. Setiap pagi ia pergi untuk praktik, dan sore hari ia bermain bersama putrinya beserta sahabat sahabat baiknya.


“kami akan mengajak Crystal jalan jalan sebentar” kata Louis, calon suami Miranda


“kau istirahatlah, tidak perlu memasak untuk malam ini, kita makan diluar saja” kata Miranda


“baiklah, Crystal jadilah gadis baik” kata Olivia sambil membelai rambut coklat putrinya


“bye bye mama” Olivia melambai lambaikan tangannya pada Crystal yang berada di gendongan Louis


Olivia menikmati waktunya, mendengarkan ia membuka laptopnya membuka internetnya dan mulai menonton drama Korea. Sudah lama ia tidak melakukan bermalas malasan seperti ini, sangat menyenangkan...


1 jam kemudian


Bell pintu berbunyi


Dalam hati Olivia untuk apa sahabat sahabatnya menekan bell? Bukankah mereka memiliki kode akses pintu? Olivia membuka pintu dan lututnya seketika melemas, ia tidak menyangka Derren masih berada di London?


Derren berdiri tepat di depannya dan langsung masuk dalam ruang apartemennya, sekali lagi, bukan hanya ponsel musuhnya, internet di laptopnya itu juga malapetaka!!!! mengapa ia sangat ceroboh???!!!!


“apa kabar Olivia?” tanya Derren dengan nada mengejek khas Derren pada Olivia dulu.


“mau melarikan diri lagi?” rahang Derren tampak mengeras


“Derren pulanglah” kata Olivia pelan


“aku akan pulang tapi bersamamu” geram Derren


Olivia menghembuskan nafasnya, kesal!


“pergilah” kata Olivia dingin


“aku tidak akan pergi kemana mana”


“Derren kita tidak memiliki urusan”


“Olivia...” Derren maju satu langkah dan Olivia memundurkan tubuhnya, terus hingga tubuh Olivia terpojok di dinding dan lengan Derren mengurungnya


Dan Derren mencium bibir Olivia dengan kasar, sedikit brutal, penuh amarah tertahan, melumatnya tidak memberikan ruang untuk Olivia menolak. Tidak, Olivia tidak mampu menolak sentuhan Derren, ia bahkan menginginkan lebih, bahkan kedua lengannya telah berada di tengkuk Derren.


Klik... pintu apartemen terbuka, Olivia tergagap....


Louis datang dan Crystal beraada dalam dekapannya.


“ye bica bica” seru Crystal yang berada di dekapan Louis namun wajah gadis kecil itu menghadap ke belakang sambil memegang rubicnya


Derren membeku.


Jadi Olivia dan Louis??? Sahabatnya dan Olivia mereka memiliki putri, jadi ini yang membuat Olivia begitu gigih menghindar darinya???? Beribu prasangka bersarang di benak Derren. Emosi di dadanya membuat dadanya tergoncang naik turun, bahkan Derren telah mengepalkan telapak tangannya, menekan tinjunya ke tembok tanpa suara, amarahnya mulai merayap naik ke ubun ubunnya.


Louis menatap Derren dengan tatapan terkejut, tidak mengira temannya menemukan tempat tinggal Olivia secepat ini.


Derren menatap tajam Louis dengan tatapan emosi


Tidak ada yang bersuara


Olivia menepis lengan Derren untuk melepaskan diri dari kurungan Derren


10 detik...


30 detik...


1 menit...


Hanya saling tatap

__ADS_1



“mama icital bica ma” Crystal berteriak sambil memalingkan tubuhnya untuk memamerkan rubic di tangannya.


Derren mengamati wajah gadis kecil yang meronta ronta di pelukan Louis, sesaat Derren membeku melihat anak kecil yang mirip ibunya Livia, dan Keiko.


Pintu apartemen terbuka lagi


“sayang apa Olivia sudah sia.......” Miranda tidak menyelesaikan kalimatnya melihat 3 orang dewasa yang sedang saling tatap.


“Olivia jelaskan padaku....” kata Derren dengan nada lemah


Olivia bungkam hanya melangkah mendekati Louis dan mengambil paksa Crystal dari gendongan Louis


Crystal justru meronta ronta ia ingin di gendong Derren


“papa papa papa”


“Crystal dia bukan papamu sayang” kata Olivia, suaranya parau karena menahan tangisnya


“Olivia, dia milikku bukan?”


“dia milikku, Crystal milikku, aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, dia milikku” seperti biasa Olivia selalu langsung emosi setiap berdebat dengan Derren


“Olivia...” kata Derren dengan nada sangat rendah


Olivia tak mengindahkan Derren ia membawa Crystal yang masih meronta ronta masuk ke dalam kamarnya


Membujuk Crystal untuk diam.


“untuk apa kau kesini?” Louis membuka suaranya


“Louis, kau temanku dan kau merahasiakan ini selama 3 tahun, kau selalu berkata Olivia baik baik saja” Derren tidak tau lagi harus bagaimana melampiaskan kekesalannta pada Louis


“dia memang baik baik saja, aku bisa apa? Olivia sahabat baik calon istriku, dia juga ku anggap adikku sendiri”


Derren terduduk lesu di sofa, dadanya seribu lebih sakit dari pada saat Olivia memutuskannya.


“kau datang hanya menambah luka hatinya, sudah cukup berat ia mengandung dan membesarkan Crystal sendiri”


“dia yang ingin menjauh dariku” suara Derren terdengar lemah


“kau menghianatinya”


“aku di jebak, Merry menjebakku!”


“dan kau tidak berusaha menjelaskan pada Olivia?


“dia berkata lebih percaya pada yang ia lihat, aku harus bagaimana?”


Louis duduk di samping Derren sedangkan Miranda telah pergi ke dapur mengambilkan air untuk Olivia.


“ceritakan yang sebenarnya padaku, apa yang terjadi antara kau dan Merry”


Derren menceritakan semua yang di lakukan Merry padanya tanpa mengurangi satu pun atau melebihkannya. Louis mengangguk angguk mengerti, cerita Merry dan versi Derren berbeda. Tentu saja Louis lebih percaya Derren kali ini.


“kau jagalah baik baik Olivia dan putrimu, luruskan kesalah pahaman di antara kalian, aku serius Derren, Olivia cantik, aku sendiri sempat mengaguminya, jika bukan karena pandangan matamu yang tak bisa jauh darinya aku pasti sudah berusaha mendekatinya” kata Louis jujur.


Derren terdiam, merasa sangat bodoh dan bersalah telah membiarkan Olivia pergi terlebih lagi saat itu ia ternyata sedang hamil.


“karena kau telah tau keberadaan Crystal, aku bisa tenang, sekarang kau bujuk Oliviamu selesaikan masalah kalian baik baik”


Louis bangkit menuju kamar Olivia


“Olivia, kami keluar dulu, kau bicaralah dengan Derren baik baik” kata Louis sambil menyentuh pucuk kepala Olivia.


“ayo sayang” kata Louis mengajak Miranda pergi


“Crystal aunty pergi dulu, Crystal sama mama ya” kata Miranda sambil melambaikan tangannya.


Olivia masih menangis sambil memeluk putrinya


“mama mama why you cry?” tanya Crystal sambil menyapu air mata ibunya


“mama tidak menangis" jawab Olivia sambil menangkap tangan mungil Crystal dan menciuminya


“Crystal ayo ikut papa...” tiba tiba Derren telah berada di belakang tubuh Olivia dan langsung memeluknya


“papa.... see, mama cry” kata gadis cilik itu sambil merambat kebahu Derren


“Crystal dia bukan papamu”


“sini sayang, ikut papa, mamamu memang cengeng” kata Derren sambil mengangkat tubuh mungil Crystal, menciuminya dengan penuh kebahagiaan.


Ia ternyata telah menjadi seorang ayah dari seorang gadis yang sangat mungil, sejuta sesal tidak berguna, ia telah salah membiarkan Olivia pergi tanpa mengejarnya. Benar kata Jonathan, andai ia mengejar Olivia, membujuknya, semua ini tidak perlu terjadi!


Crystal tertawa terkekeh kekeh, mereka tampak sangat bahagia, hati Olivia terasa melelah di suguhi pemandangan itu.


Akhirnya Crystal tertidur setelah berbagai macam cara Olivia membujuknya untuk tidur, gadis kecil itu terlalu bersemangat dan ingin bermain terus menerus bersama Derren.


“mama... papa icital lapar” Derren bergelayut manja pada Olivia seraya menirukan cara Crystal memanggil Olivia


Olivia tak menghiraukan Derren ia pergi ke kamar mandi membersihkan wajahnya, menggosok giginya dan merebahkan tubuhnya di samping Crystal. Meskipun ia juga sebenarnya sangat lapar, namun karena merasa lelah ia tertidur juga.


__ADS_1


PUASKAN??? DERREN UDAH KETEMU CRYSTAL???


TAP JEMPOL KALIAN 😂😂😂😂


__ADS_2