Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 15


__ADS_3

Jonathan ia pergi ke pusat kebugaran, sejak kedok play boynya terbongkar, Anastasya berubah menjadi monster posessive yang pengatur, Jonathan hampir tidak bisa pergi tanpa Anastasya dan jika gadis itu tidak berada di sampingnya ponselnya akan terus on dalam mode panggilan atau video call.


Jonathan benar benar merasa bosan dengan perbuatan Anastasya namun ia tak bisa mengakhiri hubungan mereka karena Anastasya selalu mengancam akan melakukan bunuh diri jika Jonathan mengajaknya putus.


Setelah selesai melakukan pembentukan ototnya, Jonathan membersihkan tubuhnya dan mengemasi barangnya. Ia berjalan menuju area parkir dan tidak sengaja berpapasan dengan Tiffany dan Anthonino yang sedang menuju pusat kebugaran.


Dengan ekspresi dingin Tiffany bertingkah seolah olah tidak mengenal Jonathan, ia bahkan segera menempel di lengan Anthonino berpura pura berperilaku manja.


Jonathan tau siapa dalang Hilangnya kebebasannya, mereka juga telah lama tidak bertemu. tiba tiba Jonathan memiliki sebuah ide untuk bisa mengembalikan kebebasan dalam hidupnya lagi.


Sesampainya di tempat tinggalnya Jonathan mencari Olivia


“Olivia....” Jonathan memanggil Olivia yang sedang membaca buku di kamarnya


Melihat Olivia memegang buku ditangannya sambil keluar dari kamarnya Jonathan menggaruk kepala bagian belakangnya.


“aku heran apa semua mahasiswa kedokteran tidak memiliki aktivitas lain selain membaca buku?”


“.....” Olivia hanya memandangi Jonathan tanpa ekspresi


“dan kau sekarang mirip kakakku, wajahmu mulai datar”


“ada apa Joe?” Oliva mengerutkan keningnya


“Olivia tolong undangkan Tiffany untuk datang kesini, aku ingin bicara sesuatu dengannya”


“Tiffany pasti tidak akan mau” jawab Olivia langsung


“ayolah tolong aku Olivia, kau saudaraku yang paling baik bukan?”


“jangan libatkan aku, bagaimana jika Tiffany marah padaku nanti?”


“Tiffany tidak akan tau, aku jamin ia tidak akan marah padamu”


“apa alasanku mengundangnya kesini?” Olivia serius tidak tau apa alasannya mengundang Tiffany.


“katakan kau merindukannya atau katakan kau ingin belajar masakan China atau apa pun”


Akhirnya Olivia mengikuti kemauan Jonathan, dan keesokan sorenya benar saja Tiffany datang bahkan ia repot repot membawakan bahan baku masakan yang akan mereka olah.


Kedua gadis itu memasak di dapur sambil saling bercerita tantangan suka duka di fakultas masing masing.


“Olivia, Derren memanggilmu di kamar” kata Jonathan yang tiba tiba muncul di dapur.


Olivia langsung tanggap dengan kode dari Jonathan


“Tiffany, maaf sebentar aku tinggal” kata Olivia “Joe bisakah kau bantu Tiffany?” Olivia benar benar menjadi partner terbaik Jonathan dalam persekongkolan itu!


“baik nyonya” jawab Jonathan sambil melangkah dan sekarang berdiri tepat di samping Tiffany. Jonathan sama sekali tidak berbuat kurang ajar, justru ia banyak membuka banyak topik pembicaraan dan sesekali mereka bercanda. Jonathan dan Tiffany memasak bersama, setelah masakan siap dihidangkan Jonathan memanggil Derren yang Olivia yang sedang santai duduk sambil menonton drama Korea di laptop milik Derren.


‘sejak kapan kakaknya menjadi penggemar drama Korea?’ batin Jonathan


Mereka berempat makan dengan alami dan terkesan seperti dua pasangan harmonis, bahkan Jonathan beberapa kali menyuapkan makanannya pada Tiffany, semua Tiffany menolak namun Jonathan terus membujuk dengan sopan, melihat Jonathan hari ini tidak memancing keributan Tiffany akhirnya mengalah untuk menurut.


Setelah acara makan malam selesai Olivia dan Tiffany mereka masuk ke dalam kamar Olivia, mereka mengobrol selayaknya gadis gadis remaja saat mereka berkumpul.


Tidak lama Jonathan menyusul masuk ke dalam kamar Olivia untuk memanggil Tiffany


“Tiffany, bisakah aku minta tolong?” tanya Jonathan


“tergsntung..." jawab Tiffany acuh


Jonathan menghela nafas belajar bersabar menghadapi temannya yang angkuh itu.


“aku memiliki tugas kuliah yang berhubungan dengan ilmu ekonomi” kata Jonathan berpura pura


“bawa kesini tugasmu aku akan melihatnya”


“ayo kita ke kamarku saja, Olivia akan memarahi kita jika kita berisik”


“kau memang pembuat kegaduhan Joe, aku tidak ingin kamarku dipenuhi dengan suaramu” Olivia dan Jonathan benar benar beracting seperti pemain drama terbaik tahun ini.


“ya, kau lebih baik menemani Derren si kutu buku” ejek Jonathan, Olivia hanya menyeringai


Tiffany ragu ragu mengikuti langkah Jonathan menuju kamarnya, Jonathan mendudukkan Tiffany di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja penuh dengan alat alat yang tidak dia mengerti, belum lagi layar komputer ukuran besar dan beberapa dalam ukuran normal yang menghiasi meja di depannya itu.


“apa yang harus ku kerjakan?”


“temani aku mengerjakan tugasku”


“Joe jangan menjebakku!” kata Tiffany ketus


“tidak, percayalah padaku” tiba tiba tangan Jonathan di kalungkan di pinggang Tiffany dan nafasnya begitu dekat dengan telinga Tiffany membuat Tiffany reflek menjauhkan kepalanya.


Dan hingga setengah jam berikutnya Jonathan hanya berputar putar dan memamerkan beberapa software yang sedang ia kembangkan.


“Joe, aku sebaiknya pulang kau hanya membuang buang waktuku saja” keluh Tiffany yang mulai bosan


“aku akan mengantarmu”


“aku bisa naik bus”


“ini sudah malam berbahaya”


“aku bisa memesan taxi”

__ADS_1


“berbahaya, jangan membantah lagi Tiffany atau kau lebih suka ku paksa tidur di sini bersamaku”


Tiffany bangkit dari duduknya


“aku akan berpamitan pada Olivia”


“Olivia di kamar Derren, aku akan sampaikan padanya nanti” kata Jonathan yang sebenarnya hanya menerka nerka keberadaan Olivia


Akhirnya Jonathan mengantarkan Tiffany kembali ke tempat tinggalnya, dan ini adalah salah satu cara agar ia bisa mengetahui di mana Tiffany tinggal, Ketika Tiffany hendak keluar dari mobil, Jonathan menahannya dan tiba tiba melumat bibir Tiffany sementara kedua tangan Tiffany telah di kunci oleh sebelah tangan Jonathan.


“bajingan kau jua” maki Tiffany pada Jonathan setelah bibir Jonathan terlepas dari bibir Tiffany


“Tiffany, kau harus membayar mahal atas kesalahan yang kau perbuat”


“kesalahan? Kesalahan apa?”


“aku dan Tasya”


“bukankah kalian tidak putus untuk apa aku bertanggung jawab?” tanya Tiffany dengan nada tidak terima.


“ia mengekang hidupku, ia mengikutiku ke mana pun aku pergi, menelefonku setiap saat dan itu sungguh membuatku muak”


“kau tinggal putuskan dia apa susahnya?!"


“dia mengancam akan bunuh diri setiap aku mengatakan ingin putus darinya”


“itu kesalahanmu karena kau bermain main dengan perasaan wanita”


“kau juga bermain main dengan perasaanku”


“perasan apa? Kau juga hanya ingin bermain main denganku”


“jika ku katakan aku serius?”


“kau serius? Serius dalam hal apa?”


“aku serius ingin menjadi pacarmu”


“pacar? Hahahah” Tiffany tertawa sumbang


“jadi kau tidak ingin menjadi pacarku? Atau kau ingin aku menikahimu?”


“kau jangan bermimpi Joe” sinis Tiffany


“umur berapa kau ingin menikah?”


“30 tahun”


“terlalu tua, aku pasti menikahimu kelak tapi aku tidak mau menunggu 11 tahun lagi”


“Joe bisakah kita berteman seperti dulu, jangan ganggu aku dengan pernyataan konyolmu aku bosan”


“tidak, tidak bisa menjadi temanmu”


“kau berpacaranlah dengan gadis lain, aku tidak ada perasaan apa pun padamu” kata Tiffany jujur


“jadi kau lebih memilih kekasihmu yang bermata biru itu?” Jonathan mengeratkan tangan yang mencengkram kedua pergelangan tangan tiffany


“itu bukan urusanmu Joe”


“akan ku buat kalian putus, bagaimanapun caranya!”


“joe di antara kita terlalu banyak perbedaan, kau juga bukan tipeku, kau terlalu banyak bermain main dengan para gadis”


“aku bermain dengan para gadis, hanya bermain main aku tidak serius”


“tapi kau tidur dengan para gadis gadis itu Joe”


“aku akan berhenti jika kau yang memintaku”


“apa istimewanya aku bagimu?"


Jonathan hanya diam, memandang lekat lekat wajah sahabat masa kecilnya


"Kau hanya penasaran karena aku satu satunya gadis yang menolakmu bukan?” tanya Tiffany penuh dengan kepahitan


“ya betul” Jawab Jonathan dengan mudahnya.


Tiffany tertawa hambar, Jonathan memang hanya penasaran padanya pria mesum yang tak lain sahabat masa kecilnya memang hanya penasaran padanya.


Tiffsny menghela nafas dengan berat, berfikir sejenak lalu ia berucap “baiklah akan ku beri kau kesempatan namun ada syaratnya”


“maksudmu kita akan berpacaran?” Jonathan melepaskan cengkeraman tangannya. Ia sangat antusias


“tidak” kata Tiffany sambil mengibaskan pergelangan tangannya yang terasa kebas.


“Tiffany kau jangan bermain main dengan kata katamu!”


“dengatkan sku joe, kita berteman dulu, lalu aku ingin kau selesaikan studymu dalam waktu 3 tahun”


“kau gila!!! Itu tidak mungkin” Jonathan sadar kalau ia tak secerdas kakaknya Derren si kutu buku yang dingin.


“4 tahun”


“akan kucoba”

__ADS_1


“dan satu lagi, aku tidak ingin memiliki calon kekasih yang mengidap HIV, berhentilah bermain main dengan gadis manapun”


“baiklah aku menyetujui semua persyaratanmu, tapi aku juga memiliki syarat untukmu”


“jangan coba coba mengajakku untuk melakukan tawar menawar Joe” Tiffany menyipitkan matanya tidak senang.


“ini tidak sulit, selama kita dalam masa berteman kita harus saling membantu dalam hal apa pun dan jika aku berhasil dengan semua syaratmu maka mau tidak mau suka tidak suka kau harus menjadi istriku”


“baiklah, ayo berjanji” jawab Tiffany, menurutnya Jonathan tidak akan lulus dalam memenuhi semua syarat yang di ajukan Tiffany oleh sebab itu Tiffany berani menyetujuinya dengan mudah.


Mereka kemudian mengaitkan jari kelingking mereka untuk membuat janji.


Besok paginya Jonathan sudah berada di depan apartemen Tiffany, membuat gadis itu sangat terkejut.


“aku akan mengantarkanmu ke kampus”


“terserah kau saja” kata Tiffany sambil membuka pintu mobil Jonathan, duduk di samping kursi kemudi dan memasang seat beltnya


Tidak banyak percakapan yang mereka ucapkan hingga mereka tiba area parkir fakultas tempat Tiffany belajar.


Jonathan yang biasanya tidak pernah turun dari mobilnya jika mengantarkan Anastasya hari itu ia sengaja turun dan membukakan pintu mobil untuk Tiffany.


“aku akan menjemputmu untuk pulang, kirim aku pesan jika kelasmu telah berakhir” kata Jonathan


“Joe tidak perlu” kata TifFany malas


“bukankah kita berteman? Apa tidak boleh temanmu ini menjemputmu?”


Tiffany memandang wajah Jonathan dengan tatapan kesal, apalagi jarak mereka begitu dekat.


'si cabul ini mulai menggunakan alasan pertemanan sebagai tamengnya' batin Tiffany


“sayaaang....” itu suara Anastasya memanggil Jonathan


“aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Tasya, bekerja samalah temanku atau foto ciuman kita di mobil tadi malam akan ku kirimkan ke forum kampusmu” bisik Jonathan ditelinga Tiffany, ia bahkan mengecup pipi Tiffany di depan Anastasya.


“licik, kau merekam semua?” Tiffany membelalakkan matanya penuh kemarahan.


“ya, tentu saja bahkan adegan di dapur dan di kamar”


‘Omong kosong!!!’ mereka hanya berbicara santai di dapur dan kamar, namun Jonathan ahli di bidang teknologi, tidak sulit untuk memanipulasi sebuah foto maupun video.


Tiffany baru saja menyadari ia telah terjebak sejak ia menginjakkan kaki di tempat tinggal Jonathan tadi malam. Tiffany kini benar benar merasa menjadi korban pertemanannya dengan Jonathan mungkin perasaan Tiffany lebih merasa tersiksa di banding perasaan Anastasya yang melihat pacarnya mencium teman sekampusnya.


“Tasya.... kenalkan ini tunanganku Tiffany” kata Jonathan sambil mengecup bibir Tiffany.


mata Anastasya terbelalak melihat adegan yang membuat wajahnya seperti tertampar pagi itu.


“what’s joke?!” Anastasya kembali terkejut sambil tertawa hambar


“Tasya, sejak tadi malam kami telah menerima pertunangan yang di atur sejak kami masih bayi, ku harap kau bisa mengerti, hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi” kata Jonathan tanpa beban “mulai sekarang kita tidak ada hubungan lagi Tasya”


Anastasya mengerjap kerjapkan matanya ia berharap dirinya hanya sedang berhalusinasi.


“darling selamat belajar” kata Jonathan sambil mengecup bibir Tiffany lagi, telapak tangan Tiffany mengepal gadis itu ingin sekali memukul rahang Jonathan.


Namun nasi telah menjadi bubur, ia hanya mematung dan pura pura tersenyum dengan kaku sambil melambaikan tangan pada jonathan yang meninggalkannya di pintu gerbang diiringi tatapan para mahasiswa yang berlalu lalang.


Jonathan baru saja menyelesaikan masalahnya sendiri namun ia memberikan masalah baru untuk Tiffany!


“Tiffany, aku tidak menyangka kau, kau ternyata perebut pacar temanmu sendiri...! Tidak tau malu” Anastasya menunjuk wajah Tiffany setengah berteriak membuat semua mata tertuju pada mereka berdua.


“maaf Tasya, masalah urusanmu dengan Joe tidak ada hubungannya denganku” jawab Tiffany sambil berlalu pergi meninggalkan Anastasya yang mematung dengan wajah terbakar amarah.


‘maaf Tasya, aku tidak bisa berbuat apa apa’ batin Tiffany,


Anastasya mengambil ponselnya dan memanggil Jonathan berkali kali, namun tidak ada jawaban, Ia juga rela membolos kelas dan mencari Jonathan ke kampus di mana Jonathan menimba ilmu namun sayang pria yang dicarinya juga tidak berada di sana.


Jalan satu satunya adalah mendatangi Jonathan ke apartemennya. Namun karena privacy apartemen itu sangat ketat Anastasya hanya bisa sampai di meja recepsionis dan ia juga tidak tau Jonathan tinggal di lantai berapa ia tak bisa meminta recepsionis untuk menyambungkan telefon. Tapi beruntung mobil Jonathan terparkir di luar gedung apartement, bukan di dalam basement parkir di dalam gedung itu.


Jonathan memang seperti itu, ia sering memarkir di luar karena enggan repot.


Akhirnya ia menunggu di depan loby hingga hampir sore, dan benar saja Jonathan muncul.


“sayang aku ingin bicara” pinta Anastasya sambil mengejar Jonathan menuju mobilnya


“tidak ada lagi yang harus di bicarakan Tasya”


“Joe aku hamil” kata Anastasya


Jonathan tertawa hambar.


“Joe aku serius, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja sementara aku sedang hamil”


Jonathan menghentikan langkahnya tepat di depan mobilnya.


“aku selalu menggunakan pengaman, jika sel telurmu di buahi aku yakin itu milik pria lain” kata Jonathan berbicara fakta


“Joe jadikan aku yang kedua tidak masalah, asal jangan putuskan aku”


“Tasya, tidak bisa”


“Joe aku akan melakukan segala hal agar kau dan Tiffany tidak bisa bersama”


“jangan pernah kau berani menyentuh tunanganku walau seujung rambutnya, atau kau akan berurusan langsung denganku” kata Jonathan datar sambil masuk ke dalam mobilnya dan menginjak pedal gasnya meninggalkan Anastasya untuk menjemput Tiffany.

__ADS_1


Anastasya benar benar tidak menyangka, hubungannya bersama Jonathan kini benar benar berakhir begitu saja tanpa mampu ia perbaiki! padahal ia sangat bangga bisa memamerksn siapa Jonathan yang sangat terkenal di kalangn gadis gadis cantik kelas atas di London.


TAP JEMPOL KALIAN PLISH 👍😁


__ADS_2