Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
45


__ADS_3

Siang itu livia mengirim pesan pada naoki mengajaknya makan siang untuk menyampaikan rencananya menunda pernikahan mereka, naoki mengatakan ia sedang sedikit sibuk lalu naoki meminta livia datang ke perusahaannya untuk menjemput naoki.


Tunggu dulu, livia bahkan tidak tau dimana alamat perusahaan naoki? Sedangkan kini livia telah berada di belakang kemudi mobil melajukan mobilnya tanpa tau alamat yang yendak di tuju, ia benar benar merasa bodoh karena ia pergi tanpa mengetahui alamat perusahaan naoki.


Jangankan alamat, nama perusahaannya saja livia tidak tahu. Setahu livia dulu naoki adallah CEO dari perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi terbesar di jepang milik keluraganya, YAMADA company.


Bahkan sebelum hubungan mereka berakhir dulu livia tidak pernah menanyai naoki apapun selain urusan mereka berdua, Livia merasa sangat buruk dalam hal berhubungan ia hanya memikirkan kepentingannya.


Dari pada bertanya pada naoki langsung livia merasa malu, jadi ia lebih baik mendesak asistennya untuk mencari info dengan memberikan nama yamada naoki, livia hanya berputar putar di jalanan menyetir mobilnya sambil menunggu asistennya mengirimkan alamat perusahaan yang di pimpin naoki.


Namun ketika asistennya mengirimkan sebuah alamat, ia justru ragu ragu. LV STAR, itu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang layanan jasa komunikasi, teknologi dan perangkat lunak yang sangat unggul. Benarkah perusahaan itu yang di bangun oleh naoki 5 tahun yang lalu? Naoki selalu mengatakan “tunggu waktu yang tepat saat ini aku sedang membangun perusahaanku sendiri lepas dari perusahaan orang tuaku” apakah ini yang di maksudnya? LV STAR?


Hingga akhirnya ponselnya berdering


Naoki akhirnya berteriak karena livia tak kunjung sampai di perusahaannya, dan terpaksa livia berpura pura tersesat dengan alasan alamatnya tidak jelas.


Lalu naoki mengirimkan lokasinya, dan benar saja itu adalah LV STAR.


Sesampainya livia di lobi, seorang gadis cantik yang pernah ia jumpai menjemputnya dan membawanya memasuki lift khusus para petinggi perusahaan, siapa lagi gadis itu kalau bukan Ureida Mio sekretaris naoki ketika bertemu livia di kyoto, bukankah naoki berkata ia akan memindahkan ke divisi lain ?


Pikiran livia berkecamuk, pasti banyak gadis yang dengan senang hati melemparkan dirinya kepada naoki, pria itu sekarang lebih tampan, lebih mapan, lebih segalanya di bandingkan dulu ketika mereka bersama.


Livia melupakan tujuan utamanya untuk bertemu naoki, ia lebih focus pada gadis gadis di sekitar calon suaminya.


Mio mengetuk pintu ruangan naoki dan pintu itu terbuka dengan sendirinya, mio mempersilahkan livia masuk. Kemudian mio pergi setelah livia mengucapkan terima kasih.


Namun livia terkejut karena di dalam ruangan tersebut ternyata naoki bersama gadis lain yang duduk bersebrangan di meja kerja naoki


“baiklah kau boleh keluar” kata naoki pada gadis yang duduk di sebrangnya, gadis itu membawa dokumen dokumen di depannya dan dengan anggun keluar ruangan itu.


Naoki menekan tombol di samping mejanya dan pintu segera tertutup.


“kemarilah sayang” kata naoki seraya mengisyaratkan livia untuk duduk di pangkuannya


Namun livia justru memilih duduk di kursi yang ada di sebrang naoki yang tadinya di duduki gadis yang entah siapa namanya, dan entah apa jabatannya.


“kenapa duduk di situ? Kemarilah aku rindu kamu livia”


“kau seperti anak kecil” jawab livia malas


“aku?” tanya naoki heran ia bangkit dari duduknya menghampiri livia


“cepatlah aku lapar” jawab livia datar


“ada apa?” tanya naoki seraya bangkit dan berjalan menuju pada livia membelai rambut livia.


“aku lapar” jawab livia singkat


“baiklah” kata naoki kemudian mengambil dompet dan ponselnya yang tergeletak di atas meja


Mereka menuju sebuah restoran gaya barat untuk makan siang, livia hanya diam sepanjang makan siang mereka. Ia tampak tidak berminat memakan di depannya.


“livia ada apa? Kau hanya diam dari tadi” tanya naoki


“naoki, bisakah pernikahan kita di tunda dulu?” tanya livia memberanikan diri


Naoki terkejut, bukankah livia saat ia mereka berada di kyoto sudah sepakat untuk secepatnya menikah dengannya? Namun bukan naoki namanya jika tidak bisa bersikap tenang.


“kenapa?” tanya naoki


“aku sibuk” jawab livia singkat

__ADS_1


“hanya itu?” tanya naoki


Livia mengangguk cepat


“aku bisa membantumu” jawab naoki


“tidak itu merepotkanmu”


“aku calon suamimu livia, kita akan berbagi suka duka bersama di masa depan” jawab naoki meyakinkan


“untuk saat ini kita hanya sebatas calon bukan?” tanya livia datar


“katakan sejujurnya ada apa?” naoki menatap livia dengan tatapan mengintimidasi


Livia menghela nafas dalam “naoki tolong....” kata livia baru saja livia hendak mengatakan sesuatu, seorang gadis cantik dengan riasan mencolok datang, dan menyapa naoki dengan riang dan akrab, bahkan gadis itu sama sekali tidak memperdulikan keberadaan livia.


Naoki memperkenalkan livia sebagai calon istrinya, mereka berjabat tangan.


“Nana” kata gadis itu singkat


“livia” kata livia tanpa minat


Dan gadis itu dengan santai duduk di meja mereka, mengajak naoki mengobrol kembali, dari arah obrolannya livia tau gadis ini adalah mitra kerja dari perusahaan naoki, namun tetap saja livia merasa kesal.


“maaf” kata livia bangkit dari duduknya, “aku harus pergi ke toilet” ia menyambar tasnya dan dengan anggun berjalan menuju toilet, ia hanya menjuju toilet kemudian melewatinya dan berjalan dengan hati hati menuju mobilnya dan duduk di kursi kemudi, untunglah tadi kunci mobil berada di tasnya. Melesat meninggalkan restoran itu dan memutuskan menuju ke apartemennya, baru saja 5 menit ia meninggalakan restoran itu naoki memanggilnya namun ia enggan menjawab panggilan dari calon suaminya.


Livia memasuki apartemennya dan langsung menuju kamar putranya jonathan, melihat jonathan sedang dalam tidur siangnya livia menghampirinya dan membelai rambut putranya mengecup keningnya kemudian merebahkan dirinya di samping jonathan tanpa mengganti bajunya.


“mommy” panggil derren tiba tiba masuk kamar adiknya mengetahui ibunya telah kembali dan berada di kamar itu


Livia mengisyaratkan derren untuk mendekatinya, dengan patuh derren mendekat.


“kenapa tidak tidur siang?” tanya livia pada derren


“baiklah, apa yang kau gambar? Bagaimana sekolahmu?” tanya livia


“aku menggambar gedung, aku suka sekolahku” kata derren dengan lucu.


“baiklah, good boy” livia mengecup rambut putranya kemudian membujuk putranya untuk tidur siang hingga mereka benar benar tertidur.


Ketika sore hari ia terbangun dan mendapati dirinya telah berpindah berada di kamarnya.


Livia bangkit dan menuju keluar dari kamarnya, ia mendapati naoki sedang menonton kartun anak anak bersama jonathan dan derren. Jadi tadi naoki memindahkannya ia benar benar tertidur pulas seperti orang mati rupanya, Livia berjalan melewati mereka menuju dapur untuk minum.


“kau sudah bangun rupanya?” sapa naoki yang tiba tiba telah berdirinya di belakangnya.


“hhhhmmmm” hanya itu yang di gumankan livia ia kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa menggubris naoki kemudian memasuki kamar mandi, kemudian menikmati mandinya.


Ia agak menyesal tidak bisa mengontrol emosinya di depan naoki dan ia melarikan diri karena cemburu, 'bodoh!!!' Umpatnya dalam hati.


Setelah 15 menit ia keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandinya, rambutnya yang panjang di gulung dengan handuk di kepalanya. Kemudian mengambil ponselnya dan duduk di tepi ranjangnya mengotak atik media sosialnya, setelah bosan dengan ponselnya ia mengenakkan pakaian santai untuk di rumah dan menuju dapur.


Kali ini naoki bersama bunda yunita sedang dengan santai mengobrol sambil memasak, naoki menggulung kemeja di lengannya dan menggunakan celemeknya, ia memegang pisau dan memotong potong sayur menyadari kehadiran livia naoki meletakkan pisaunya.


“livia kau ingin makan apa malam ini? Aku sedang belajar memasak masakan indonesia, bunda mengajariku dengan baik” naoki berkata kata seolah olah tidak terjadi apa apa di antara mereka


“apa saja tidak masalah” jawab livia datar sambil menyandarkan tubuhnya pada lemari pendingin.


Bunda yunita tersenyum melihat putrinya yang bersikap seperti itu, pasti ada sesuatu terjadi pada livia atau moodnya sedang buruk.


“livia bantu naoki sebentar, bunda mau lihat joe udah selesai dimandiin atau belum?” kata bunda yunita seraya melepas celemeknya dan meninggalkan livia untuk berduaan dengan naoki.

__ADS_1


Livia masih berdiri mematung diam seribu bahasa naoki juga sibuk dengan acara memasakannya, sesekali ia membaca resep di buku yang ada di depannya.


“livia, ayo belajar memasak” naoki memanggil livia dengan nada antusias tanpa menoleh


Livia dengan enggan mendekatinya, memasang celemek dan membantu naoki memasak dengan suasana yang sangat canggung, bukan hanya itu mereka semua berkumpul di meja makanpun dengan suasana canggung, naoki sama sekali tidak menanyai livia apapun perihal livia meninggalkan naoki di restoran saat makan siang tadi.


Setelah makan malam kemudian mereka mengobrol dan bermain main sebentar derren dan jonathan, kemudian livia menidurkan jonathan sedangkan derren ia adalah pria kecil yang telah belajar mandiri , di usianya yang masih tiga tahun. Dia akan pergi tidur sendiri tanpa harus di bujuk livia ataupun bunda yunita.


Naoki duduk di sofa sambil menonton tv, ia menunggu livia keluar dari kamar jonathan. Seperti yang naoki duga, ketika livia keluar ia dengan acuh mengabaikan naoki dan menuju kamarnya.


Naoki bangkit dan mengikuti livia memasuki kamarnya


“naoki lebih baik kau pulang” kata livia malas


“kita belum selesai berbicara siang tadi” kata naoki sambil menghempaskan tubuhnya di atas ranjang


“tidak ada yang perlu di bicarakan lagi ku rasa” kata livia sambil mendudukkan pantatnya di depan meja rias


“jadi kamu cemburu pada nana sehingga melarikan diri dari restoran dan membiarkan aku pulang naik taxi?”


“kamu seorang pria, tidak ada masalah dengan naik taxi, keamanan di jepang sangat baik” jawab livia sinis


“dia hanya sebatas rekan bisnis livia” kata naoki sambil memiringkan tubuhnya menghadap livia satu tangannya menopang kepalanya.


“oh ya? Ku rasa kau banyak berubah sekarang, banyak wanita mengelilingimu” livia sedikit tertawa dengan nada mengejek


“benarkah?” kata naoki santai


“ya kurasa, dan aku mungkin tidak akan tahan hidup bersama pria yang di kelilingi banyak wanita” jawab livia jujur, ia adalah wanita posessive yang jika ia mencintai seorang pria maka tidak akan ia izinkan satupun gadis lain mendekati pria yang ia cintai, seperti danu dulu, ia berusaha menyingkirkan gendis dengan cara apapun, bahkan dengan cara mengorbankan kesuciannya memberikan pada danu sekalipun asalkan gendis bisa ia singkirkan walaupun semuanya berujung sia sia.


“livia, sejak kapan kau jadi pencemburu?” naoki bangkit dari tempat tidur duduk di pinggiran tempat tidur menghadap livia


“sejak aku mengenal cinta aku adalah wanita yang pencemburu” jawab livia setenang mungkin


“jadi aku harus bagaimana? Apa aku tidak di izinkan untuk menjalin bisnis dengan perusahaan lain yang di pimpin oleh wanita?” tanya naoki merasa lucu, bukankan livia juga seorang CEO wanita dan memiliki banyak urusan bisnis dengan pria, bahkan sekretaris utama livia juga seorang pria, ia mempekerjakan seorang wanita di kantornya sebagai asisten bukan sekretaris.


“aku tidak berkata begitu” kata livia malas


“tapi dari sikapmu kau menginginkan itu” kata naoki sembari berdiri dan menangkup kedua tangan livia, menggenggamnya “katakan aku harus bagaimana agar calon istriku ini puas?” tanya naoki


Livia mengatupkan kedua bibirnya


“katakan sayang” bujuk naoki


“pulanglah” kata livia, ia ingin mengatakan bahwa ia cemburu pada sekretaris naoki yang keseluruhannya wanita, namun ia tak mampu mengucapkan.


“baiklah, jika kau tak ingin mengatakannya aku akan pulang” kata kata naoki sungguh di luar keinginan livia, tentulah livia ingin naoki membujuknya.


“istirahatlah, aku akan kembali besok untuk mengantarmu bekerja” naoki mengecup kening livia dan bergegas pergi meninggalkan kamar itu.


Livia merasa sangat kecewa karena naoiki sama sekali tidak membujuknya hingga benar benar frustasi, bahkan sampai pukul 1 dini hari ia tak bisa memejamkan mata karena ia terlaku banyak tidur siang dan moodnya semakin kacau.


Andai saja ia saat ini masih lajang tentu ia akan berlari kabur dari tempat tinggalnya kemudian pergi ke club.


‘Aaarrrggghhhh indahnya masa muda...’ jerit livia dalam hati


Livia berniat menghubungi tommy, namun livia mengurungkan niatnya. Mungkin tidak hari ini, sudah terlalu larut.


Naoki-kun sourch ig :@mackenyu.1116


__ADS_1


😗😎


__ADS_2