Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 28


__ADS_3

Derren bangkit meninggalkan ruangan tersebut menuju kamarnya tanpa berkata apa apa.


Sementara Livia telah menangis didada suaminya


“bagaimana jika kita yang ke London?” Naoki mengusulkan


“bukankah sudah pernah dan dia tidak mau menemui kita?” isak Livia


“Olivia sangat dekat dengan Joe, semoga Joe bisa membujuknya”


“aku takut Olivia salah jalan dan hidup bebas di London, aku sudah berjanji pada mas Danu untuk menjadi pengganti orang tua untuk Olivia, nyatanya aku gagal” isak Livia


“jangan berkata seperti itu”


“lihat betapa keras kepalanya Derren, ada apa dengannya? Apa masalah mereka tidak bisa di bicarakan baik baik hingga harus memutuskan hubungan keluarga seperti ini?” Livia mulai terbakar emosi karena beban di pikirannya yang telah lama ia pendam sejak hubungan Derren dan Olivia dinyatskan telah berakhir.


“aku akan mencoba berbicara pada Derren nanti” kata Naoki sedikit tidak yakin.


Jonathan tidak tahan melihat adegan di depannya ia menyusul langkah kaki kakaknya, ia tidak tahan melihat Livia ibunya menangis.


Untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat ibunya sangat terpukul, menangis dan menunjukkan kesedihannya di depan anak anak mereka. Jonathan tidak mampu menghadapi itu.


Ia mendapati kakaknya sedang merokok di balkon.


“kau memang seorang dokter yang bodoh, betapa konyolnya” ejek Jonathan


Derren tidak menggubris ejekan adiknya ia memang mulai merokok sejak hubungannya dengan Olivia berakhir. Ia menikmati rokoknya, menghisap tembakaunya lebih dalam lagi.


Lalu menghembuskannya seolah berusaha menghempaskan beban berat dari dalam dadanya.


“pergilah ke London, cari Olivia, mommy sangat ingin bertemu Olivia” kata Jonathan


“kau saja” jawab Derren singkat


“kalian perlu meluruskan kesalah pahaman, ini sudah berlarut larut dan bertahun tahun”


“dia tidak ingin mendengarkan penjelasanku”


“kau tidak pernah mencoba menjelaskan apapun padanya”


“dia yang ingin menjauh dariku”


“wanita ingin di mengerti, ia ingin kau membujuknya, menunjukkan cintamu, kau seorang dokter dengan IQ di atas rata rata tapi kau tidak peka sama sekali dengan perasaan orang lain bahkan kau tidak mengerti apa pun tentang Olivia” Jonathan tiba tiba merasa geram, ia ingin sekali memukuli wajah kakaknya.


Derren tidak bersuara, ia mengambil sebatang rokoknya kembali dan menyalakannya.


“masalahmu dengan Merry bukankah kita telah menyelesaikannya? Apa lagi yang kau takutkan?”


Tetap tidak bersuara, Derren hanya menikmati rokoknya,


Jengah!!!


Jonathan bahkan melampiaskan kekesalannya dengan menendang pintu yang terhubung ke balkon sebelum ia meninggalkan kamar kakaknya, kakaknya benar benar keras kepala dan pengecut di mata Jonathan.


Joathan menuju ke kamarnya sendiri bersiap terbang ke London besok pagi untuk menemui Olivia.


Sementara Derren ia menghisap kembali tembakaunya dalam dalam, tidak ada yang bisa menenangkan pikirannya selain rokok!


Flash back


“Derren kau harus menikahiku” kata Merry ketika Derren kembali ke Burford, mereka berada di ruangan tempat praktik dokter di desa itu.


“apa?!”


“kita telah tidur bersama aku harus bertanggung jawab!”


“kau yang naik ke ranjangku, bukan aku yang menidurimu” jawab Derren dingin, kilatan matanya penuh dengan amarah.


“aku memiliki semua foto foto kita malam itu, jika kau tidak menikahiku aku akan menyebarkan foto foto itu ke internet”


“sebarkan saja” jawab Derren dengan nada suara dingin


“aku akan menghancurkan reputasimu” ancam Merry


“hancurkan saja, aku tidak perku reputasi apa pun di dunia ini”


“semua orang akan mencemoohmu Derren dan aku akan memasukkanmu dalam penjara”


“atas tuduhan apa?” sinis Derren


“kau memperkosaku”


“bahkan aku lebih baik tidur di balik jeruji besi dari pada harus menikahi wanita sepertimu”


“tidak akan ada orang yang percaya padamu meskipun kau membela dirimu”


“aku tidak perlu kepercayaan siapapun di muka bumi ini, yang aku butuhkan hanya kepercayaan Olivia padaku, bahkan jika Olivia tidak ada di dunia ini aku juga tidak akan pernah menikahimu”


“jika kau tidak menjauhi Olivia, selama Olivia masih di London aku tidak segan segan membuatnya dalam kematian, kau tau betapa mudahnya aku menyentuhnya selama ia berada di London”


“kau jangan pernah berani menyentuhnya” kata Derren penuh tekanan amarah


“kita lihat saja nanti” Merry tertawa sumbang.


Derren meninggalkan gadis itu sendirian.


Secepat kilat ia menghubungi Jonathan dan menceritakan nasibnya pada adiknya, meminta Jonathan untuk menghapus semua foto foto dirinya dan Merry yang tersimpan di perangkat Merry.


Jonathan bisa melakukannya hanya dengan mengetahui nomer ponsel targetnya lalu melacak ip addressnya. Bukan hanya lokasinya bahkan semuanya dapat dengan mudah Jonathan hancurkan hingga ke ponselnya dalam satu klik.


Ia adalah pria yang di besarkan oleh Yamada Naoki salah satu IT terhandal di dunia, memiliki perusahaan teknologi dan komunikasi terdepan di Jepang selama 25 tahun tidak tergeser sedikitpun.


Sejak mengetahui semua bukti bukti yang dimilikinya hilang raib bagai ditelan bumi dari ponselnya Merry tidak pernah lagi mendekati Derren, ia terus memutar otaknya untuk mendapatkan Derren, namun hasilnya nihil hingga pria incarannya kembali ke Tokyo, ia telah kehilangan jejaknya.


Flash back off


Derren mematikan rokoknya yang hampir membakar jarinya.


Ia memandang langit Tokyo, pikirannya semakin kalut dan perasaannya seperti teriris.

__ADS_1


“Derren... seperinya akan menyenangkan jika kita memiki sebuah rumah di pedesaan, kita bisa membuka praktik di desa, membuat klinik, dan aku ingin menjadi dokter spesialis anak”


Saat itu Derren baru saja tinggal di burford, Olivia menyusulnya. Mereka berjalan di hamparan rumput di perkebunan milik warga setempat. Olivia memetik sebatang bunga rumput dan meniup bunga itu berulang ulang, hingga bunga rumput itu bertebaran.*



" kenap harus spesialis anak?”


“karena mereka menggemaskan”


“bukankah mereka datang padamu saat sakit? Mereka dalam keadaan lemah, tidak menggemaskan”


“itu dia, aku ingin membuat mereka menggemaskan kembali”


“kalau begitu aku jadi dokter kandungan, agar kita bisa praktik berdampingan di klinik kecil kita”


Tiba tiba Olivia mendengus menatap kesal pada Derren,


“hey kenapa?” tanya Derren


“kau tidak boleh mengurus wanita”


“mereka pasien, wanita hamil”


“tetap saja wanita”


“mereka bersuami”


“kau hanya boleh mengurus aku, Keiko, mommy Livia dan putri kita” katanya galak


“baiklah, kau pencemburu sekali” kekeh Derren


“aku tidak mau tanganmu menyentuh wanita lain selain aku dan putri kita nanti” katanya sambil meniupkan bunga rumput ke wajah Derren, mereka tertawa bahagia.


“Derren... ayo temani aku nonton film horor” biasanya Olivia akan merengek jika hari libur


“drama korea saja sayang”


“tapi film ini kata Miranda dan Theo bagus” selalu saja Olivia termakan hasutan temannya itu, padahal mereka hanya menggoda Olivia karena mereka tau Olivia penakut.


“tidak aku malas, kau menggigitku setiap hantunya muncul”


“kalau begitu aku akan minta Joe menemaniku”


Dan Derren terpaksa menuruti, bagaimanapun ia tidak rela Olivia menempel pada Jonathan meskipun Jonathan adiknya, dan lambat laun Derren memiliki cara agar ia selamat dari gigitan Olivia, ia mengusulkan Olivia menonton di dalam selimut, ia bahkan menutupi matanya. Dan keesokan harinya Derren mendongengkan film yang mereka tonton. Ralat! Film yang Derren tonton!


Olivia benar benar merepotkan


“Derren nanti kalau kita menikah, kau harus mengurus anak kita karena bagianku hamil dan melahirkan oke?”


“Derren nanti aku ingin kita membangun yayasan amal ibu dan anak”


“Derren pegang tasku”


“Derren aku ingin es krim”


“Derren gendong aku”


Rengekan rengekan Olivia di masa lalu hampir setiap detik mengisi kepalanya, nyaris membuat Derren gila. Jika di pikir pikir kembali Derren mungkin telah jatuh cinta pada Olivia sejak mereka kecil, Derren begitu bahagia jika melihat Olivia menangis karena tertindas oleh ulahnya, ia hanya sangat gemas setiap melihat wajah kecil Olivia dan ia merasa ingin membullynya.


Hampir 3 tahun sudah Derren merindukan rengekan gadis itu, ia tidak berani menemui Olivia, ia terlalu takut Olivia menolak dirinya, ia juga tau Olivia belum menyelesaikan intersipnya.


Setahun pertama Derren beberapa kali pergi ke London untuk menemui Olivia, namun melihat ia begitu ceria bersama teman temannya seolah hidupnya sangat bahagia meskipun tanpanya, melihat tubuhnya juga lebih berisi di banding ketika mereka bersama, Derren semakin ragu untuk menemuinya, ia hanya berani melihat Olivia dari kejauhan.


Ia juga sering menanyakan kabar Olivia pada Louis dan Louis selalu berkata Olivia baik baik saja.


Mungkin Olivia memang tidak menginginkannya lagi, buktinya ia baik baik saja meskipun tanpa Derren.


LONDON


Olivia baru saja kembali dari prakteknya, ia telah mendapatkan gelar dokternya.


Memang agak terlambat, seharusnya ia telah mendapatkan izin praktek mandirinya. Namun karena ia sempat mengambil cuti beberapa bulan prakteknya tertunda. bagi Olivia itu tidak masalah, toh sebentar lagi ia akan melalui itu, hanya tinggal beberapa bulan lagi.


Dan beruntungnya ia tidak perlu bertugas di desa kecil.


Baru saja Olivia menempelkan ponsel ke telinganya hendak memanggil Miranda sahabatnya tiba tiba bell pintu terdengar berbunyi.


Olivia mematikan panggilannya dan membuka pintunya.


Ia sangat Terkejut, hingga rasanya ingin menutup kembali pintu tempat tinggalnya karena melihat siapa yang berdiri di depannya.


“Jo.....e?” sapanya dengan nada tidak yakin


Bukan senang melihat siapa yang berdiri di depannya justru Olivia spontan gugup, bahkan kegugupannya tidak bisa di sembunyikan


“joe, ada apa?” tanya Olivia tanpa mempersilahkan tamunya masuk


“kau tidak mengajakku masuk?”


“oh iya, masuklah” Olivia tampak sangat gugup,


Jari jemarinya segera mengetik di atas papan keyboard layar ponselnya.


“apa kabarmu?” tanya Jonathan


“aku aku baik” jawab Olivia


Jonathan memandang wajah Olivia yang tak mampu menyembunyikan kegugupan.


“setelah hampir tiga tahun menghilang kau tidak bertanya bagaimana kabar keluarga kita? Mommy daddy Keiko, Kenzo?” tanya Jonathan


“kuharap mereka baik baik saja, heeeee” Olivia tertawa hambar, matanya melirik ke ponselnya untuk mengecek pesan yang ia kirim pada Miranda namun pesan itu belum di balas.


“semua merindukanmu” jawab Jonathan singkat


Tiba tiba Olivia membuang pandangannya ke lantai, menggigit bibir bawahnya, air matanya hendak menyeruak mendesak ingin jatuh dari kelopak mata indahnya. Ia mengedipkan matanya dan mengatur nafasnya.


“ada perlu apa?” tanya Olivia, nadanya berubah dingin

__ADS_1


“aku akan menikah minggu depan, dengan Tiffany”


“oh selamat” kata Olivia hambar


“kau harus datang”


“maaf, aku tidak bisa datang Joe, kau tau aku masih internsip” tolak Olivia langsung


Jonathan mengerutkan keningnya,


“bukankah seharusnya kau sudah selesai?”


“ya... aku tak secerdas kalian, ada beberapa kendala jadi sedikit terlambat” kata Olivia canggung “oh ya Joe aku harus pergi, maaf”


“kau mengusirku?”


“tidak... bukan begitu.. ayo kita berbicara di luar saja mungkin lebih santai” kata Olivia menyeret Jonathan keluar.


Di depan lift Olivia dan Jonathan bertemu Louis dan Miranda yang membawa seorang anak kecil yang tampak tertidur di dalam stroller, wajah anak kecil itu sedikit terlindung, Jonathan tidak melihat dengan jelas. Wajah mereka berdua juga tak kalah tegangnya dari wajah Olivia.


“Miranda aku pergi dulu sebentar” kata Olivia sambil melambaikan tangan pada Louis dan Miranda.


“baiklah” jawab Miranda.


Beberapa saat setelah mereka berdua duduk di sebuah sebuah cafe, ketegangan mulai berkurang di wajah Olivia, namun kelihatan sekali ia sangat berhati hati berbicara dan menghindari pembicaraan tentang Derren ataupun masalah pribadinya.


“ini tiket pesawatmu” kata Jonathan menyodorkan aplop berisi print out e-tiket Untuk Olivia


“Joe maaf aku tidak bisa hadir”


“kenapa Olivia? Apa karena kakakku?”


Olivia menunduk, iya tentu saja ia tidak siap bertemu Derren. Tidak akan siap untuk membuka luka lama itu lagi.


“itu sudah masa lalu, aku telah menguburnya dalam dalam” jawab Olivia berbohong


“aku tau, keluargaku, terutama mommy ku, sangat berhutang budi pada keluargamu, keluarga Artajaya, asal kau tau mommyku selalu menangis setiap hari karena merindukanmu. Olivia untuk sekali ini saja aku mohon datanglah ke Tokyo, setelah itu kau boleh mengabaikan apa pun permintaan keluarga kami” kata Jonathan dengan nada getir.


Olivia sekuat tenaga menahan tangisnya yang sudah hampir pecah


“Olivia, i beging you” kata Jonathan lagi


Ia ingin sekali memeluk Olivia, gadis yang tak pernah ia anggap orang lain, gadis yang ia anggap saudara perempuannya setelah Keiko adiknya, Jonathan semakin merasa bersalah karena tak pernah berusaha membujuk Olivia, membiarkan Olivia yang rapuh selama ini menyendiri.


Tak tertahan lagi air mata Olivia meluncur bebas di pipinya yang mulus.


“Joe aku harus kembali” Suaranya bergetar, sambil menyeka air mata yang mengalir di ppipinya dengan punggung tangannya, tanpa meraih amplop berisi tiket di atas meja gadis itu bangkit dan melangkah meninggalkan Jonathan


“aku akan mengantarmu” kata Jonathan sembari berusaha menangkap pergelangan tangan Olivia namun Olivia dengan gesit menghindarinya.


“tidak perlu aku bisa naik taxi” tolaknya cepat dan bergegas gadis itu terus melangkah pergi menjauhi Jonathan.


‘Ada yang tidak beres’ batin Jonathan, Oliva tidak pandai berbohong. Gadis itu tidak pernah segugup itu.


Jonathan kembali ke mansion kakeknya, ia duduk di samping Keiko yang sedang memainkan ponselnya


“bagaimana studymu Kei?”


“membosankan” jawabnya singkat padat dan jelas


“bagaimana jadwal show modelingmu?”


“aku akan tampil lagi di New york Fashion week, kemudian bla bla bla bla........” panjang lebar Keiko menjelaskan jadwal shownya, ralat bukan menjelaskan namun memamerkan.


Dan Jonathan juga tidak mendengarkan sama sekali, pikirannya fokus pada Olivia. ‘Sesuatu di sembunyikan oleh Olivia’ pikiran itu menggentayangi Jonathan.


“kau kembali nanti ke Tokyo bersama Olivia” kata Jonathan pada Keiko


“Olivia oneesan?” tanya Keiko, ia langsung duduk dengan tegak “dia bersedia di temui? Kau berhasil membujuknya?”


“jangankan Olivia, Tiffany saja mampu ku bujuk” jawab Jonathan santai


“aku harap mereka akan berbaikan” kata Keiko, ia sangat merindukan Olivia, bahkan sejak Keiko tinggal di London untuk meneruskan studynya di UCL Olivia belum pernah menemui Keiko sekalipun, Olivianseolah memusuhi seluruh keluarga yang berkaitan dengan Derren.


“mereka pasti kembali jika Derren si otak dingin itu mau berusaha” kata Jonathan dengan nada kesal


“aku tidak sudi memiliki kekasih seperti Derren oniisan” keluh Keiko yang lebih mirip teriakan.


“Keiko ada apa kau berteriak?”


Itu suara Herdiana, wanita tua itu tergopoh gopoh berlari dari dapur


“aku benci Derren oniisan, grandmom aku ingin Olivia oneesan bersama kami seperti dulu lagi” rengek Keiko seperti anak kecil.


“kau melebih lebihkan, kau over acting!!” kata Jonathan jijik pada tingkah adik perempuannya yang sejak tinggal di mansion itu ia selalu saja bertingkah selayaknya putri.


“Joe, jangan seperti itu pada adikmu”


See.....! Bagaimana tidak? Neneknya memperlakukan cucu perempuan satu satunya yang sudah dewasa itu seperti dia seorang anak kecil.


Jonathan menggeleng gelengkan kepalanya.


“grandmom apa kalian sudah siap? Lusa kita akan pergi ke Tokyo”


“aku akan menyuruh pelayan untuk berkemas besok” kata Herdiana.


“aku akan mengajak Olivia oneesan besok untuk belanja gaun pesta” kata Keiko percaya diri


“aku berdoa untukmu semoga sukses Kei” ejek Jonathan



NIH YANG KANGEN KEIKO 👆👆


SELALU GAK BOSEN BOSEN AUTHOR INGETIN YAAA...


TAP JEMPOL KALIIAN 👍💖😁


KIRA KIRA KENAPA OLIVIA TIDAK MAU BERTEMU SELURUH KELUARGA DERREN?

__ADS_1


JAWAB DI KOMEN 👇👇👇👇


__ADS_2