
Paginya setelah selesai sarapan Olivia buru buru pergi menemui Miranda di klinik tempatnya bekerja.
“ada apa?” tanaya Miranda yang merasa lucu pada Olivia, baru kemarin ia marah marah dan meninggalkan Miranda tiba tiba hari ini ia datang menemuinya lagi Benar benar seperti anak kecil.
“Miranda kurasa aku ingin membawa Crystal pergi”
”apa apa kau ini?” Miranda terkejut, tentu saja terkejut karena baru saja tadi malam ia dan Derren bertemu untuk membicarakan kesalah pahaman yang terjadi di antara Derren dan Olivia.
“tadi malam Derren pergi bertemu Merry”
“apa kau melihat sendiri?” Miranda **** senyumnya
“aku yakin, ia menerima panggilan di dapur tadi malam dan setelah menidurkan Crystal ia bergegas pergi” kata Olivia dengan nada Yakin
“kau tidak bertanya kemana ia pergi?” tanga Miranda, dalam hati kecil Miranda tentu saja geli, kerena ialah pelaku utama tadi malam.
“tidak” jawab Olivia singkat
“lain kali kau harus menanyainya secara detail, kalau perlu kau ikuti kemanapun Derren pergi”
“aku tidak seperti itu, yang benar saja” Olivia tampak begitu kesal, ‘bagaimana mungkin aku berani mengikutinya, aku tidak sanggup melihat mereka berdua bertemu’ batinnya
Miranda terkekeh, sementara Olivia masih terus cemberut.
“Olivia....” kata Miranda penuh kesabaran, sahabatnya ini meskipun cerdas namun emosinya terlalu lemah, ia sangat kacau jika menyangkut Derren, dan Miranda sangat memahami itu “jangan terburu buru, oke, kau kumpulkan dulu bukti jika Derren tidak layak bersama kalian kemudian kau bisa memisahkan Crystal dari Derren, lagi pula kau tidak boleh menuduh tanpa bukti bukan?”
Olivia terdiam, semua yang di katakan Miranda memang benar. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya setuju.
“kau lebih baik pergi ke pusat kebugaran, spa atau berbelanja, kau mungkin akan berubah keriput dan jelek jika terus saja cemberut” ejek Miranda “jangan sampai kau kehilangan kecantikanmu hanya karena stress yang tidak perlu” lanjutnya
“aku masih muda tidak mungkin aku mengalami penuaan diini" sungut Olivia, "apa kau tidak rindu Crystal?”
“tentu saja merindukannya aku ingin sekali tidur dengannya, huh!!” keluh Miranda sebal! Ia juga ingin menyingkirkan Derren karena ia sekarang kehilangan posisi sebagai salah satu guardian angel bagi Crystal, namun tidak mungkin ia sekeji itu.
Olivia akhirnya tersenyum, beberapa menit kemudian Olivia pamit pada Miranda untuk kembali ke tempat tinggalnya.
Sore hari setelah mandi dan mengganti pakaiannya Olivia mendatangi Crystal di kamarnya yang ternyata juga baru saja mandi dan masih menggunakan handuk, meskipun Crystal memiliki seorang nanny tapi Derren lebih banyak mengurus Crystal dengan tangannya sendiri.
Olivia menyandarkan tubuhnya di pintu dan menyaksikan pemandangan yang menghangatkan hatinya, seharusnya kebahagiaan ini telah menjadi miliknya sejak dulu.
“mama, kau sudah pulang?” tanya Derren lembut.
__ADS_1
“mama ayo kita pergi” kata Crystal dengan bahasanya sendiri
“mama ayo kita pergi berbelanja” kata Derren sambil memakaikan pita pada rambut Crystal “kau sangat cantik seperti mamamu” kata Derren kemudian mengecup pipi bulat Crystal, gadis mungil itu membalas kecupan ayahnya di pipi.
Setelah memakaikan Crystal syal Derren juga memakaikan sepatu pada putrinya lalu memberikan Crystal pada Olivia, ia sendiri masuk ke dalam kamar dan membawa tas berisi keperluan Crystal juga tas tangan, jaket milik Olivia.
“ayo sayang” kata Derren.
Olivia membopong Crystal dan Derren berjalan di belakang Olivia. Mereka bertiga memasuki maybach hitam dan sopir melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
“sepertinyaya kita perlu mobil keluarga” kata Derren
“kapan kau akan kembali ke Tokyo?”
“minggu depan” kata Derren sambil membenarkan posisi Crystal di pangkuannya
“baguslah” kata Olivia datar, ada sedikit sakit menggigit batinnya, ia akan terpisah lagi dengan Derren. Rasanya 1 minggu bersama Derren terlewati begitu singkat.
“setelah semuanya urusan beres kita akan ke Indonesia bertemu keluarga”
“mmmmmm” hanya itu yang Olivia ucapkan
“Crystal akhirnya kita akan pulang ke Tokyo” kata Derren dengan nada riang pada Crystal yang bertepuk tangan kegirangan, padahal mungkin ia tidak terlalu mengerti apa yang ayahnya katakan.
“tentu saja papa akan membawa Crystal” jawab Derren dengan nada bahagia
“kau... Derren sepertinya kau tidak mengerti, kau ku beri kebebasan bersamma Crystal seperti ini tapi bukan berarti kau boleh membawanya pergi sesuka hati” kata Olivia dengan nada sengit
Derren justru tertawa geli, Olivia benar benar dalam mood buruk rupanya, Derren tidak menggubris omelan Olivia ia justru menciumi Crystal, Derren tau Olivia yang pasti telah berpikir Derren hanya mengajak Crystal.
Olivia mengatupkan bibirnya kesal dan membuang pandangannya ke luar jendela melalaui kaca, dadanya mulai sesak terasa terhimpit. Akhirnya yang ia takutkan terjadi, keluarga Derren mengambil Crystal darinya, batinnya benar benar marah!
Mereka tiba di sebuah mall terbesar di London, sebelum turun dari mobil Derren memberikan kartu bank pada Olivia
“gunakan kartu ini, pinnya tanggal lahirmu”
Olivia mengabaikan Derren ia tidak mengambil kartu itu. Olivia menyambar tasnya lalu turun dari mobil dan melenggang berjalan tanpa mempedulikan Derren maupun Crystal.
Olivia berhenti di sebuah toko kosmetik dan memilih beberapa skin care yang ia perlukan, lalu membayarnya.
‘Benar kata miranda, lebih baik memikirkan kulitku’ batinnya jengah
Setelah itu ia berjalan menuju starbucks caffe memesan segelas matcha ice dan duduk sendiri menikmati matchanya.
__ADS_1
‘Sudah terlanjur seperti ini sepertinya ia harus belajar menikmati hidup sendiri’ batinnya
Air matanya nyaris tergelincir namun ia segera menata batinnya.
“nona barang barangmu terjatuh” sapa seorang pria yang cukup tampan dengan manik mata biru yang berdiri di dekat mejanya sambil menyerahkan paperbag Olivia
“terima kasih tuan” kata Olivia sopan
“nona apa kau sendiri?” tanyanya lagi
Belum sempat Olivia menjawab
“tidak baik merayu wanita yang bersuami” itu suara Derren
“oh sungguh tidak di sangka kau memiliki seorang putri ku pikir kau remaja 17 tahun” kekeh pria tampan itu, “hey bung istrimu sangat cantik jangan biarkan ia duduk sendirian lagi” lanjutnya sambil meninggalkan Derren dan Olivia, sedangkan Olivia ia bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa di depannya
Derren duduk di depan Olivia, memandangi wajah Olivia penuh dengan kelembutan, meraih jari jemari Olivia dan memasukkan cincin di jari Olivia.
Olivia terkesiap, reflex ia menarik tangannya namun cincin telah melingkar di jari manisnya.
Itu adalah cincin 3 tahun yang lalu.
“Derren aku tidak ingin cincin ini” kata Olivia galak
“jadi kau ingin yang baru? Ayo kita beli yang lebih baik”
“aku tidak ingin cincin mana pun” ketusnya
Derren meraih telapak tangan Olivia dan mengecupnya
“pertahankan saja keras kepalamu Olivia” katanya “ayo, nikmati waktumu” lanjut Derren sambil menarik Olivia dan mereka mulai berjalan mengitari mall, masuk ke counter brand brand mahal, dan secara alami Olivia mulai berbicara pada Derren, mencoba beberapa potong pakaian dan menanyakan pendapat Derren model yang mana yang cocok untuknya.
Hampir semua yang di coba Olivia di bayar oleh Derren ia bahkan memanggil sopir untuk mengangkat semua hasil buruan Olivia.
Setelah berbelanja mereka kembali ke apartemen sebelum jam makan malam dan di perjalan kembali ke tempat tinggal Olivia mulai mengunci mulutnya lagi, entah bagaimana cara membuat gadis ini berhenti memasang wajah cemberut, Derren benar benar merasa dirinya sangat buruk tidak bisa merayu gadis yang ia inginkan.
Sesampainya di tempat tinggal mereka Derren memberikan Crystal yang telah tertidur pada nannynya, ternyata di meja makan telah di siapkan makan malam romantis, dengan lilin lilin kecil dan seikat mawar merah.
CIEEEE DILAMAR 😍😍😍😍😍
AHEEMMMMMM.....
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN 😙😙😙😙