Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
Ekstra part ke....


__ADS_3

Menyaksikan istrinya yang terbakar amarah seperti itu membuat Naoki menekan pelipisnya yang tiba-tiba menjadi berdenyut, mungkin ia akan mengalami gejala darah tinggi atau stroke lebih awal jika ia lebih lama lagi mendengarkan ocehan istrinya yang berapi-api seperti itu. Sepanjang kebersamaannya bersama Livia, Naoki tidak pernah menyaksikan kemarahan Livia yang membabi buta.


Livia tiba-tiba bangkit dari duduknya ia melangkah menuju di mana tas tangannya berada kemudian membuka resleting tasnya, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian dengan wajah berang mengusap layar ponselnya.


Naoki segera menghampiri istrinya dan bermaksud meminta ponsel di tangan Livia. “Siapa yang ingin kau bohongi?”


“Tentu saja aku akan hubungi Andrew,” jawab Livia dengan nada tidak menghiraukan suaminya.


“Biar aku saja yang menghubungi Andrew,” kata Naoki. Matanya menatap Livia dengan tatapan mata penuh harap.


“Tidak, kau terlalu sabar jika berbicara dengannya,” jawab Livia !asih dengan nada tidak peduli.


Naoki menghela napasnya.


“Biarkan aku yang mengurusnya,” kata Naoki setengah memohon.


“Kali ini biar aku yang mengurusnya, oke?”


“Kenapa kau kenapa kau bukan tidak menelepon ibunya saja?” kali ini Naoki mengubah metodenya seolah-olah ia cemburu karena Livia hendak menghubungi mantan suaminya.


“Oh, Naoki-sama. Jangan katakan kau cemburu, betapa umurmu sebenarnya?”


Jawaban istrinya membuat Naoki merasa kalah telak, jika ia melanjutkan perdebatan ini ia yakin tekanan darahnya mungkin bisa melonjak. Meladeni istrinya yang sedang terbakar amarah sepertinya lebih baik ia membiarkan saja Livia berbuat sesuka hatinya. Naoki kemudian mengangkat kedua bahunya dan membiarkan istrinya bertindak sesuai apa yang diinginkannya.


Ia memilih kembali duduk di samping Philip dan membuka tabloid yang tergeletak di atas meja meski telinganya ia pasang untuk menguping pembicaraan istrinya yang sedang berbicara dengan mantan suaminya.

__ADS_1


“Andrew, kamu di mana?” tanya Livia langsung ketika dering panggilannya dijawab oleh Andrew di seberang sana.


“...”


“Di Kyoto? Ngapain kamu di Kyoto?”


“....””


“Iya. Memang bukan urusanku tapi sekarang aku punya urusan sama kamu,” kata Livia dengan nada judes.


“....”


“Jangan terlalu besar kepala kamu Drew, aku mau tanya kamu di mana karena aku ada urusan penting sama kamu,” katanya masih dengan nada judes.


“....”


“....”


“Jadi kamu gak tau? Zakia gak kasih tau apa yang udah Nameera perbuat? Anak gadismu itu nyaris membunuh Keiko dan menantuku.”


“....”


“Kamu santai banget nanggepinnya, kamu ini gak becus banget didik anak kamu. Heh, Andrew aku gak peduli kamu siapa dan anak kamu siapa. Aku gak akan kan kasih ampun sama putrimu itu. Dia harus tanggung jawab.” Nada suara Livia kian meninggi.


“...”

__ADS_1


“Keiko udah dua Minggu koma, Nino baru aja bangun. Enak aja kamu bilang selesaikan baik-baik, kamu pikir nyawa anak-anakku mainan. Kamu ya, sebagai bapaknya seharusnya kamu didik dengan benar bukan di biarin nurunin sifat ibu sama bapaknya. “ Dengan dasar Livia mematikan sambungan panggilan kemudian ia menghempaskan bokongnya di sofa masih dengan sedikit kasar karena emosinya masih tampak meletup-letup.


“Sudah puas?” tanya Naoki sambil menatap Livia dengan tatapan serba salah.


“Jonathan dan Derren, apa mereka juga tahu masalah ini?” Livia tampak masih ingin mengerahkan kemarahannya.


Naoki tidak mengangguk tetapi tidak juga menggeleng.


“Jadi hanya hanya aku yang tidak tahu? Sungguh kalian keterlaluan!” tangis Livia pecah ia merasa dibodohi oleh seluruh keluarganya.


Naoki mendekati Livia, merengkuh pundak istrinya membawa ke dalam dekapannya. “Maafkan aku, maafkan kami. Kami semua tidak bermaksud membohongimu, hanya saja aku takut jika aku mengetahui hal yang sebenarnya reaksimu pasti akan panik seperti ini, kami masih mencari momen yang tepat untuk memberitahumu,” ucapnya.


“Di mana Nameera sekarang? Apa kalian telah membuat laporan polisi?” Livia terisak.


“Dia berada di Uzbekistan, Derren telah menyerahkannya kepada Zakia. Tetapi, sepertinya Zakia belum memberitahu Andrew karena Andrew sama sekali tidak bereaksi sampai sekarang,” jawab Naoki.


“Seperti dugaanmu, dia belum memberitahu Andrew,” kata Livia dengan nada penuh kekecewaan.


Sementara di Kyoto.


Andrew yang sedang menggendong seorang bocah laki-laki berumur lima tahun menurunkan bocah itu dan mendudukkan bocah tampan itu di atas meja makan. Ia merogoh saku celananya untuk menjawab panggilan telepon. Andrew cukup terkejut saat ia melihat siapa nama pemanggil. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


SEGINI DULU YAH BIAR KALIAN PENASARAN 😆😆😆


JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2