
Setelah Merry kembali ke kamarnya, Dave bergegas menemui Richard di ruangannya untuk menanyakan perihal kasus hukum yang membelit Merry.
Ketika Dave menanyakan hal tersebut tampak Richard mengerutkan keningnya sambil menimang nimang pena di tangannya.
“Aku akan berbicara pada Derren dan Olivia untuk masalah laporan mereka” kata Richard “kebetulan aku dan istriku akan terbang ke Tokyo malam ini”
“Baik, aku menunggu kabar baik darimu” kata Dave
“Aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua”
Dave mengangguk,
TOKYO
“Crystal, lihat betapa cantiknya Casandra” kata Olivia pada Crystal sambil menggendong putri sahabatnya, Miranda.
Sedangkan Crystal, gadis mungil itu tidak peduli, ia hanya mempedulikan kertas dan pensilnya, terus mencoret coret kertasnya hingga kertas putih itu berubah menjadi tak beraturan warnanya.
“Sepertinya putrimu mewarisi gen nenek buyutnya, ia suka menggambar” kata Miranda
“Entahlah, tapi ia juga sepertinya tertarik pada piano”
jawab Olivia sambil mencium pipi Casandra dengan hidungnya.
“Mungkin ia akan menguasai keduanya”
jata Miranda sambil jatanya menatap Crystal.
Olivia hanya tersenyum, wajahnya berseri seri jarena hidupnya sangat bahagia, apalagi Miranda sedang berada di Tokyo saat ini.
“Apa Theo tahu kalian pergi ke Tokyo?” tanya Olivia
“Kau tahu? Dia sangat kesal, aku lupa memberi tahu sebelumnya, aku baru saja memberi tahu dia beberapa haris sebelum kami pergi”
kekeh Miranda.
“Oh tuhan, apa katanya?”
“Theo ingin melihat konser Keiko, tentu saja juga merindukan putri baptisnya”
“Oh Theo yang malang, sepertinya ia tidak merindukanku” tanya Olivia dengan nada sedih di buat buat.
“Ku rasa, hahaha”
Miranda tertawa rinfan, Olivia juga demikian.
“Ku harap ia segera mendapatkan gadis yang bisa mengambil hatinya”
jata Olivia.
__ADS_1
“Ya ku harap”
“Bagaimana perkembangan Merry?”
“Entahlah, sepertinya berjalan baik, kau tanyakan saja pada Richard”
jawab Miranda sambil membenarkan posisi bantal di sofa yang di dudukinya.
“Richard tampaknya sangat mencintaimu” kata Olivia sedikit menggoda sahabatnya,
Miranda memerah karena ucapan Olivia
“Olivia, aku bersyukur, tidak sedikit pun dulu terbersit di pikiranku akan bertemu denganmu, bersahabat bahkan sekarang kita menjadi keluarga” kata Miranda dengan tulus “Terlebih lagi dengan bantuan ibu mertuamu, jika bukan karena ayah dan ibu mertuamu aku yakin Richard akan kesulitan mendapatkan restu dari orang tuaku”
“Kau berhak mendapatkan itu Miranda, kau sahabat baikku, dan kedua orang tua Derren adalah pasangan terbaik, mereka akan melindungi semua putra putri mereka dengan cara apa pun” kata Olivia.
Mereka berdua mengobrol santai, tidak seperti dulu mereka berdua sibuk dengan obrolan seputar materi pelajaran, kali ini mereka telah berubah menjadi ibu, tentu saja obrolan mereka juga berubah, mereka lebih tertarik membicarakan masalah tumbuh kembang putri mereka masing masing.
Derren sedang bekerja, Olivia sengaja mengambil cuti karena ingin meluangkan waktunya untuk bersama dengan Miranda yang jauh jauh datang ke Tokyo.
Sedangkan Richard, pria itu memilih pergi menonton konser Keiko bersama anggota keluarga yang lain, sebenarnya yang pergi menonton konser hanya Richard, Naoki dan Livia, kursi VVIP selebihnya di berikan pada Shizuku, Ayumi, Vicky dan beberapa keluarga Yamada serta teman teman Shizuku, Ayumi dan Keiko.
Sementara di belakang panggung setelah acara konser berlangsung, Keiko masih mengenakan gaun indah yang membalut tubuhnya, ia memeang belum mengganti kostumnya karena masih ada beberapa sesi foto dan wawancara seputar acara yang berlangsung.
Sarah salah satu asisten Keiko datang dengan seikat bunga mawar merah di lengannya.
“Foto, kemudian buang” jawab Keiko dengan acuh
“Kau bahkan tidak bertanya dari siapa Kei” keluh Sarah
Keiko tidak menjawab, ia tampak asik membaca barisan not not di layar ipadnya.
“Ini dari kekasihmu” kata Sarah memberi tahu bahwa bucket bunga berukuran besar dan tampak mewah itu berasal dari kekasih Keiko.
Keiko tampak masih acuh
“Bawa pulang dan masukkan ke dalam vas” jawabnya sambil sedikit mendengus
“Kediaman Olivia atau Mommymu?”
“Mommy saja” jawab Keiko cepat “Oh iya, Sarah jangan lupa untuk mengambil beberapa foto bunga itu, kirimkan padaku”
“Baiklah” jawab Sarah sambil menggelengkan kepalanya.
Ketika rangkaian acara yang harus di ikuti oleh Keiko dan seluruh anggota band yng terlibat telah usai mereka jalani, Keiko segera menghampiri kedua orang tuanya yang menunggunya tak jauh dari pintu bagian belakang gedung.
“Mommy, daddy” Keiko setengah berlari, padahal ia masih mengenakan sepatu hak tinggi 17 cm, tentu saja tinggi badannya semakin menjulang.
Ia segera memeluk ibunya dan ayahnya bergantian.
__ADS_1
“Mommy bagaimana penampilanku?” tanya Keiko
“Sangat indah, kau sangat memukau” jawab Livia dengan nada bangga
“Aku memang memukau, tapi bagaimana dengan permainan pianoku?” tanya Keiko, ia memang selalu begitu.
“Seperti biasa, kau semakin meningkat” jawab Livia, sejujurnya ia tak mengerti dengan musik, namun melihat putrinya begitu berkilau di atas sebuah panggung yang besar itu sudah sangat membuatnya bangga.
“Benarkah?” Keiko tampak tidak puas
“Kau yang terbaik hime-sama” itu suara Naoki, ia memahami betul putrinya itu tidak akan puas dengan jawaban ibunya, bahkan dengan jawaban dari ayahnya sendiri meskipun Naoki berkata jujur bahwa permainan pianonya sangat memukau gadis itu tidak akan merasa puas.
“Daddy, kurasa aku masih perlu banyak belajar” kata Keiko dengan nada seperti ia sedang mengeluh.
“Bagus, jika kau masih merasa belum puas, kau harus terus mengasah kemampuanmu” jawab Naoki sambil mengelus rambut putri semata wayangnya.
“Richie kau datang” kata Keiko sambil melompat ke dalam pelukan Richard
“Tentu saja, aku tidak ingin melewatkan penampilanmu” kata Richard senang, ia memeluk Keiko seraya mengacak acak rambut gadis itu seolah Keiko adalah anak kecil.
“Kenapa Theo tidak ikut bersama kalian?” tanya Keiko tampak di wajahnya ada sedikit kekecewaan.
“Maaf Kei kami lupa memberi tahu rencana keberangkatan kami ke Tokyo” jawab Richard apa adanya.
“Oh astaga, poor him” guman Keiko “Theo pasti kecewa”
“Kami akan menebusnya nanti” kata Richard
“Ya, ku harap ia memaafkan kalian Richie”
Mereka berdua bercakap cakap dengan sangat akrab, seperti biasa Keiko selalu tampak lebih dekat dengan Richard sejak pertama kali ia mengetahui siapa Richard, ia selalu membandingkan Richard dengan Derren, meskipun ucapan Keiko yang tajam dan terkesan terlalu blak-blakan namun baik Richard dan Derren tidak pernah menanggapi kata kata yang meluncur begitu saja dari bibir Keiko.
“Kei, kita harus segera menuju tempat pesta” kata Lelya
“Lelya, bisakah aku tidak menghadiri pesta itu? Aku ingin pulang dan makan malam di rumah, Olivia menyiapkan pesta makan malam untuk kami” kata Keiko dengan tatapan memohon.
Lelya menghela nafas, ini adalah peraturan dunia hiburan yang selalu di tentang oleh Keiko, ia tidak akan menghadiri pesta jika hatinya tidak menginginkannya, dan Lelya harus berdebat dengan tim manajemen setiap kali Keiko menolak menghadiri pesta seusai konser maupun show.
“Lelya tolong kau gantikan aku oke?” kata Keiko seraya melarikan diri sambil menarik pergelangan tangan Richard, meninggalkan Lelya yang harus bertanggung jawab menghadapi manajer Keiko, ia selalu di salahkan karena sering tidak berhasil membujuk Keiko untuk menghadiri acara pesta.
Richard terkekeh sambil mengikuti langkah kaki Keiko menuju mobil yang akan mereka tumpang, sementara Naoki dan Livia menyusul Keiko dengan berjalan santai, mereka hanya saling memandang sambil tersenyum bahagia.
Hallo 😚😚
Duh aduh... maaaf ya kesatangan author pembaca Found Love in Kyoto.
Author mendadak sibuk kemarin hampir seminggu 😊😊
Doakan yaa semoga nulisnya kancar lagi dan bisa up setiap hari ❤❤❤
__ADS_1