Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 12


__ADS_3

Ketika Derren menggendong Olivia yang tertidur untuk memasuki kamarnya, Jonathan yang melihat itu segera menyusul Derren ke dalam kamarnya


“apa yang kau lakukan pada Olivia?”


“dia hanya sedikit mabuk”


“apa kalian ada hubungan?” tanya Jonathan langsung


“....” Derren hanya diam ia memberikan kode pada Jonathan untuk keluar dan berbicara di ruang makan


“Derren sadarlah, dia sepupu kita!”


“aku menyukainya” Kata Derren dengan nada Tegas


“Derren jangan konyol, keluarga kita akan menentang kalian”


“aku akan membawanya pergi sejauh mungkin jika keluarga menentang kami”


“Derren, are you lost your mind?”


“bisakah kau merahasiakan ini hingga kami sama sama menjadi dokter?” tanya Derren langsung


“baiklah” kata Jonathan “aku telah curiga sejak lama, hubungan kalian tidak biasa” lanjutnya


Derren mencubit tulang di antara kedua alisnya, karena kepalanya tiba tiba berdenyut.


“aku sedang mengejar skripsiku tahun ini bagaimanapun caranya, aku harus lulus tahun ini”


“kau?” Jonathan tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut kakaknya, 3 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran itu hal yang sangat sulit hampir mustahil.


“setelah itu aku akan magang selama 2 tahun dan mendapatkan izin praktikku, ku harap aku bisa memenuhi targetku, agar aku bisa secepatnya menikahinya” kata Derren sambil meletakkan satu lengannya ke belakang kepalanya dan menyandarkan kepalanya ke kursi.


“apa kau yakin? Apa Olivia telah menyetujuinya?”


“aku belum tau”


“apa kalian sudah berpacaran?”


"....." kepala Derren menggeleng dengan ragu ragu, nyaris tak terlihat, namun Jonathn jelas memahami.


"jadi kau belum tau perasaan Olivia?"


“ya.. tapi aku yakin dia...” Derren menggantungkan kalimatnya


“ya aku tau” kata Jonathan, Jonathan juga bisa melihat pandangan Olivia yang tak bisa lepas dari Derren “baiklah, aku kan menjaga rahasia kalian, kau kejarkah cita citamu dengan baik”


“terima kasih” kata Derren


Sementara Tiffany, siang itu ia menuju kediaman mrs. Herdiana pollini.


Setibanya di mansion mewah itu seorang pelayan mengantarkan Tiffany di mana studio lukis mrs. Pollini berada. Sebenarnya itu bukan kali pertama Tiffany datang ke mansion mewah itu, wanita berumur itu sering mengundangnya untuk sekedar menunjukkan lukisan barunya, mengajaknya melukis bersama, bahkan kadang hanya untuk minum teh seperti hari ini.


“mrs. Ini tempat ini sungguh indah, aku menyukainya” kata Tiffany, mereka berada di taman dekat kolam renang


“ya tempat indah ini selalu sunyi, kami hanya tinggal berdua” dari mimik wajahnya terlihat Herdiana tampak begitu kesepian.


“saya akan sering kemari jika mrs. Pollini memerlukan teman meminum teh” kata Tiffany sopan, ia ingin menanyakan ke mana anak anak Herdiana berada namun ia ragu ragu


“aku berasal dari Indonesia, tepatnya Yogyakarta” kata Herdiana membuka pembicaraan


“kebetulan ibu saya juga berasal dari Yogyakarta” kata Tiffany memberitahu wanita itu dengan nada riang


“benarkah? Sungguh dunia ini banyak kebetulan” jawab Herdiana antusias.


Tiffany tersenyum, ya dunia ini begitu sempit, bahkan kekasih Jonathan secara tidak langsung adalah teman kuliahnya, jauh dari yang di pikirkan Tiffany, ia telah berusaha menghindari Jonathan untuk tidak kuliah di Oxfird University meskipun ia bisa masuk ke universitas itu, namun takdir selalu mempertemukan mereka membuat Tiffany semakin ingin mencekik sahabat masa kecilnya.


Sementara Derren ia mati matian mempersiapkan skripsinya, ia hampir tidak memiliki waktu lagi untuk Olivia, begitu juga Olivia ia sibuk belajar dan belajar. Olivia menargetkan harus selesai dalam 4 tahun program sarjana kedokteran.


Mereka berdua seperti bertempur melawan waktu dan tidak memiliki waktu satu sama lain.


Berbeda dengan Merry, ia tidak berani untuk mengganggu Derren. Ia lebih memilih diam dan mengawasi Derren dari jauh, ia melihat Olivia tidak terlalu menempel lagi pada Derren akhir akhir ini, Merry merasa sedikit lega.


Jonathan ia tenggelam dalam pekerjaan dan kuliahnya, ia membuat banyak perkembangan aplikasi game, ia juga membuat beberapa aplikasi baru yang masih dalam tahap pengujian oleh perusahaan Yamada.


Jika otaknya merasa lelah Jonathan tanpa pikir panjang ia menghubungi salah satu koleksi gadisnya dan bersenang senang dengan tubuh gadis gadis tersebut, namun sebanyak apapun ia meniduri gadis gadis koleksinya, ia tetap menginginkan Tiffany yang berada di bawah kendalinya, wajah angkuhnya itu benar benar membuat Jonathan penasaran.


Beberapa bulan telah berlalu, bukan berarti Jonathan melupakan untuk mengejar Tiffany, Ia hanya terlarut dengan kesenangannya berganti ganti tubuh gadis cantik dari berbagai Fakultas, banyak yang patuh dan manis, menurut dengan bualan Jonathan dan tipu dayanya, seperti Anastasya misalnya yang sifatnya bertolak belakang dengan Tiffany yang tegas serius dan dingin padanya.


Hanya satu kesamaan mereka, Anastasya dan Tiffany sama sama memiliki hobi melukis.



Hari itu Derren akan melaksanakan sidang skripsinya, ia tampak semakin tampan dengan balutan pakaian formalnya, Olivia dan Jonathan berada di samping Derren, tidak ketinggalan Merry, ia juga berada di antara mereka dan beberapa teman teman Derren lainnya.


30 menit sebelum Derren memasuki ruangan seperti yang di jadwalkan ponsel Derren berdering.


Derren menjauh dari teman temannya dan menjawab panggilan Livia ibunya, matanya melirik pada Olivia dan adiknya Jonathan.


Setelah menutup panggilan Derren mendekati Olivia dan Jonathan.


“Joe kemari sebentar” kata Derren setengah berbisik


Jonathan mengikuti kakaknya


“kau hubungi Tiffany untuk menyiapkan semua paspor dan barang barang ku dan Olivia, kami harus ke Indonesia malam ini juga, berikan kode akses apartemen kita pada Tiffany” perintah Derren


“apa yang terjadi?”

__ADS_1


Derren membisikkan sesuatu di telinga adiknya, Jonathan tampak terkejut namun ia harus mempertahankan ketenangannya.


“kau alihkan perhatian Olivia jangan sampai ia membuka ponsel, koran, televisi dan media lain terserah bagaimana caramu, tunggu aku selesaikan sidangku” kata Derren


“Olivia, aku pinjam ponselmu” kata Derren


“untuk apa?”


“sini” kata Derren sambil mengulurkan tangannya pada olivia


Olivia mengulurkan ponselnya pada Derren tanpa curiga, Derren mematikan ponsel Olivia dan memasukkan ke dalam saku celananya dan bersiap siap masuk ke dalam ruang sidang, namun sebelum pergi Ia membisikkan sesuatu di telinga Olivia yang membuat Olivia merona wajahnya.


Jonathan menghubungi Tiffany melalui pesan singkat dan memerintahkan semua yang di instruksikan Derren. Jonathan membawa Olivia berkeliling dengan mobilnya, alasannya Jonathan merasa sangat tegang menunggu sidang skripsi Derren.


Karena di antara salah satu mahasiswa teman Derren ada seorang yang berkebangsaan Indonesia, Jonathan khawatir orang itu akan berbicara sesuatu yang membuat Olivia khawatir.


Beberapa jam berlalu dan Derren keluar dari ruang sidang dengan wajah lega.


“Derren bagaimana?” kata Merry langsung


“thans God” kata Derren


“selamat” semua teman temannya memberi selamat,


“ayo kita rayakan malam ini” kata Louis


“maaf semua, aku akan mentraktir kalian nanti, aku ada urusan mendadak, ini sangat penting, sampai jumpa” Derren segera meninggalkan teman temannya yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi,


Merry *** ujung tangkai buket bunga yang di pegangnya, itu pasti semua ulah Olivia sepupu Derren yang lebih terlihat seperti seekor gurita yang gemar menempelkan tentakelnya pada pria incarannya. Ia bahkan tak sempat memberikan buket bunga itu pada Derren!!!


Di apartemen Derren dan Tiffany menunggu Olivia yang masih bersama Jonathan,


“Tiffany terima kasih” kata Derren


“tidak masalah, ku pikir Olivia harus makan dulu sebelum kau memberitahu berita ini, aku tadi membeli makanan akan ku hangatkan” kata Tiffany


Bersamaan dengan itu Olivia dan Jonathan datang,


“Derren bagaimana?” tanya Olivia


“aku berhasil” kata Derren senang


“selamat, ini untukmu” Olivia memberikan boneka teddy bear dan seikat bunga


“terima kasih”


“Tiffany, kenapa tidak memberi tahuku kau akan datang?”


“aku hanya kebetulan lewat dan membelikan kalian makanan, ayo kita makan” kata Tiffany


Mereka makan dengan suasana canggung, hanya Olivia yang tidak mencium gelagat apa pun.


“aku baru saja makan Derren kau membuat perutku berlemak jika aku mandi sekarang”


“hanya kali ini saja, ayolah gadis baik”


Olivia menurut


Derren juga mandi dan mengambil tas yang telah Tiffany siapkan, setelah memeriksanya mereka berempat menuju sebuah gereja. Derren membawa Olivia duduk di bangku paling depan dan duduk untuk berdoa, Tiffany duduk di samping Jonathan yang sedari tadi hanya membisu.


Derren untuk apa kita ke sini?”


“Olivia, setiap yang datang di dunia ini, cepat atau lambat pasti akan pergi, seperti halnya setiap mahluk yang bernyawa pasti mereka akan mati”


“maksudmu?” Olivia mengerutkan keningnya


“Olivia, sejak saat ini aku berjanji kepada Tuhan dan papi untuk menjagamu selama kau di sini”


“Derren ada apa?” Olivia semakin bingung dan mulai gelisah


“papi dan mamimu, telah tiada”


Seperti tersambar petir dengan apa yang Derren ucapkan. Olivia terdiam mematung, tidak bereaksi apapun.


Hening....


Olivia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, ia hanya memandang mata Derren dengan tatapan bingung.


Derren masih menggenggam jari jemari Olivia.


5 menit kemudian, masih hening.


“kita akan kembali ke Yogyakarta, jenazah mami belum di temukan” kata Derren sambil memeluk Olivia yang kini matanya telah dibanjiri oleh air mata, Melihat adegan di depannya itu refleks tangan Tiffany menggenggam tangan Jonathan.


Jonathan membalas genggaman tangan Tiffany.


Tiffany bangkit tanpa melepas genggamannya di tangan Jonathan dan menghampiri Olivia mereka berempat kini saling memeluk. Air mata Tiffany juga mengalir, sama seperti Olivia hanya saja Olivia sama sekali tidak terisak. Ia seperti patung yang mengeluarkan air mata.


Derren membawa Olivia ke airport, setelah mereka berdua duduk di kabin pesawat Derren memberikan obat tidur pada Olivia agar gadis itu tertidur dan berhenti menangis, Derren benar benar tidak mampu melihat Olivia dalam keadaan seperti itu.


Setelah perjalanan yang melelahkan mereka sampai di Jakarta dan langsung melanjutkan perjalanan menggunakan jet pribadi milik keluarga Tjiptadjaja untuk menuju ke Yogyakarta, sementara Yudha, Livia dan Naoki mereka telah berada di Yogyakarta terlebih dahulu.


Saat hari naas itu, Danu dan Gendis sedang berada di lokasi proyek pembuatan resort baru mereka yang berada di pesisir pantai. untung tak dapat di raih dan malang tak dapat di tolak, tidak ada yang bisa mengira bencana datang dengan tiba tiba, bencana tsunami menyapu bersih semua yang berada di bibir pantai.


Sesampainya di rumah rumah duka Olivia langsung pinsan, Derren merawatnya, bahkan sedetik pun Derren tidak melepaskan genggaman tangannya pada Oliva. Ia terlihat begitu possesive dan penuh kasih sayang mengurus Olivia, bahkan setiap malam Derren memeluk Olivia yang tertidur.


Naoki sedikit menaruh kecurigaan pada Derren namun bukan saat yang tepat untuk menaruh kecurigaan, ia menepis jauh jauh pikiran itu.

__ADS_1


Hingga dua hari kemudian jenazah Gendis di temukan dan di kebumikan, Olivia masih saja mematung sambil matanya mengeluarkan air mata seperti sungai, ia bahkan tidak terisak dan juga tidak berbicara.


Tangannya bahkan telah di pasang jarum infus, ia tetap mematung hingga hampir satu minggu sudah ia terbaring lemah, tidak satu pun orang yang berhasil membuat Olivia mau membuka mulutnya untuk bicara.


Derren setia terus berada di sampingnya, sore itu Derren duduk di tepi ranjang sambil mempermainkan jari jemari Olivia.


“Olivia, apa kau benci padaku? Kau sudah satu minggu mendiamkanku” kata Derren sore itu dengan nada sedih


Tidak ada reaksi, Derren terus membermainkan jari jemari Olivia.


“baiklah jika kau membenciku, aku akan kembali ke London” kata Derren. Tiba tiba jari jari Olivia menggenggam erat telapak tangan Derren


“kenapa?” tanya Derren


Tiba tiba pandangan mata Olivia berubah, bibirnya yang terkatup rapat di majukannya


“katakan sayang” kata Derren


“jangan pergi” kata Olivia lirih


“baik, tapi kau harus berbicara dan makan, setelah itu besok pagi kita kunjungi makam papi dan mami, bagaimana?”


Olivia mengangguk dan mengangkat tangannya yang di tusuk jarum infus memberikan kode untuk melepas


“kenapa?” tanya Derren lagi


“lepaskan”


“baik tuan putri”


Derren mengambil peralatan medis darurat dan melepaskan jarum infus dari kulit Olivia setelah mematikan aliran cairan infus terlebih dahulu.


Setelah itu ia meminta sepiring makanan dan mulai menyuapi Olivia, Derren sesekali menggodanya dan Olivia menutup wajahnya dengan telapak tangannya kadang Olivia merengek dan memukuli lengan Derren.


Naoki dan Livia yang menyaksikan keintiman mereka berdua merasa aneh dan saling pandang,


Naoki menyeret istrinya menjauh dari ruangan itu dan berbisik


“sepertinya mereka ada hubungan cinta”


“itu bagus” kata Livia antusias


“kita akan segera memiliki cucu” goda Naoki


“tidak, aku tidak mau di panggil nenek aku masih muda”


Naoki tertawa sampai terpingkal pingkal, Livia selalu seperti itu memang begitulah istrinya ia selalu menolak tua.


“jangan biarkan mereka tau bahwa mereka tidak bersaudara, biarkan mereka berjuang” kata Livia


“kau ibu yang kejam”


“kisah cinta tak selamanya berjalan mulus bukan? harus ada perjuangan”


“tapi tidak harus seberat aku mendapatkanmu bukan?”


“aku yang Berjuang agar kau nikahi, setiap hari aku harus merengek padamu” protes Livia


“baiklah nyonya Yamada, iya kau yang berjuang” kata Naoki mengalah sambil menarik hidung istrinya.


Keesokan harinya Derren membawa Olivia ke makam tempat orang tuanya di semayamkan,


“menangislah Olivia, jangan di tahan, katakan semua isi hatimu di sini” kata Derren sambil membawa olivia berjongkok di depan pusara Danu


Olivia menangis meraung raung sejadi jadinya


“papi jahat, mami jahat, Olivia sendiri sekarang nggak punya papi, papiiiiii........” bagi seorang anak gadis ayahnya adalah cinta pertama mereka, Danu pria yang selalu memanjakan Olivia, yang tidak pernah berkata tidak jika Olivia memiliki keinginan, yang selalu menuruti keinginan Olivia meskipun keinginan itu bagai memerlukan kekuatan sihir dalam sekajap.


“papiiiiii............. papiiiiiiiiiiii” ratap Olivia


Setelah beberapa lama Derren mengusap batu nisan Danu


“papi, aku telah berjanji padamu, aku akan menjaga Olivia, dari sekarang aku yang akan menggantikan tugas tugasmu pada Olivia” kata Derren penuh keyakinan “papi, mami semoga kalian tenang di sisi tuhan” kata Derren, kemudian merangkul Olivia.


Setelah beberapa saat mereka kembali menuju kediaman Olivia,


“jangan khawatir, kau memiliki aku, aku akan menjagamu, aku akan nenggantikan papi, jangan sungkan padaku Olivia" kata Derren


Olivia hanya diam sambil menyeka air mata yang masih terus jatuh di wajahnya


“suatu saat kau akan menikah dengan, dan aku benar benar akan sendiri di dunia ini Derren”


“kau tidak akan sendirian, ada mommyku, Joe, Keiko, dan jika kau belum menemukan pria yang tepat untukmu, aku tidak akan menikahi siapa pun, percayalah padaku” kata Derren


“benarkah?”


“aku berjanji. seperti kataku saat aku masuk ruang sidang, apa kau ingat?”


“demi masa depanku?” hari itu Derren berbisik ditelinganya ‘doakan aku ini demi masa depanmu’


“Iya”


“ku pikir kau hanya menghiburku”


Derren tidak menjawab ia hanya mengelus rambut Olivia.


__ADS_1


Ini adalah tahapan menjadi dokter, sorry yah kalau author ngelantur dan gak paham masalah ini karena author dulu kuliah di bidang komputer 😁😁


jadi kalau ngelantur dan halu mohon di maklumi, tolong di koreksi juga yaaa biar di perbaiki 💖💖💖💖


__ADS_2