Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 30


__ADS_3

Sebelum pergi ke Tokyo Olivia diam diam memindahkan tempat tinggalnya, ia menyewa apartemen yang lebih baik dan privacynya lebih terjaga.


Ia tidak ingin sekembalinya ia dari Tokyo keluarganya menemukan tempat tinggalnya lagi, ia tidak bermaksud ingkar janji kepada Jonathan! Bukan, ia akan menepati semua kata katanya tapi itu kelak saat hatinya telah siap menghadapi semuanya.


Ia hanya akan berada di Tokyo selama 48 jam, tidak lebih, ia telah memesan tiket untuk kembali secepatnya, di samping enggan berlama lama di Tokyo karena Derren, ia juga tidak bisa berpisah dengan putrinya yang imut terlalu lama.


Olivia duduk di bangku cabin penumpang sambil mendengarkan music melalui earphonenya.


Sejak tadi Keiko juga melakukan hal yang sama, kecanggungan yang sebelumnya tidak pernah hadir di antara mereka kini menyeruak, membentangkan jarak yang cukup luas.


Mereka hanya saling menyapa saat baru saja bertemu dan mereka, berbicara sedikit saling menanyai kabar.


Hanya sebatas itu, Keiko tidak berani berbicara banyak karena ia melihat ekspressi Olivia yang datar, bukan seperti Olivia yang dulu.


Untunglah Keiko membawa sarah salah satu asistennya, jika tidak ia kan merasa mati karena bosan tidak bisa berbicara kepada siapapun.


Kemarin saat Keiko memanggil untuk mengajak Olivia membeli gaun pesta namun Olivia menolak dengan alasan bekerja.


Sesampainya di Tokyo Olivia menolak untuk tinggal di kediaman orang tua Derren, ia berniat tinggal di kediaman Yudha pamannya. Namun Jonathan yang menjemput Olivia dan Keiko di Haneda menatapnya dengan tatapan marah hingga akhirnya Olivia terpaksa mengalah.


“Olivia” Seru Livia tantenya yang langsung memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman yang bercampur isak tangis “bagaimana kabarmu sayang? Olivia marah pada mommy? Kenapa Olivia mengabaikan mommy? Apa salah mommy?” pertanyaan pertanyaan itu seolah membuat Olivia menjadi terdakwa, ia hanya mampu terisak tanpa menjawab pertanyaan apapun.


Tubuh Olivia bergetar, ia sangat merindukan wanita ini, wanita yang selalu memperlakukan dirinya sebagai putrinya.


“mommy, maafkan Olivia” hanya itu yang Olivia gumankan, air matanya juga membasahi pipinya, ia merindukan keluarga. Ia sekarang bahkan tidak memiliki tempat yang bisa ia sebut dengan sebutan ‘rumah’


ia tidak memiliki itu sejak kedua orang tuanya tiada.


“mommy, aku juga butuh pelukanmu” rengek Keiko yang dari tadi berdiri cemberut


“oh mommy lupa kau ada di sini” kekeh Livia, ia segera memeluk Keiko dan menghujaninya dengan ciuman kasih sayang.


“Olivia kau semakin cantik” kata Naoki sambil membelai rambut Olivia.


“Terima kasih daddy”


“kalian istirahatlah dulu, mommy akan siapkan makan malam kalian, Olivia kau ingin makan apa sayang?” tanya Livia


“apa saja mommy” jawab Olivia sopan


“katakan kau ingin makan apa? Kau rindu masakan Indonesia bukan?”


“aku rindu semuanya” kata Olivia dengan nada ringan


“baik, tunggu pelayan akan memasak semuanya untukmu” Livia mengusap bahu Olivia kemudian berlalu menuju dapur, sedangkan Keiko ia berteriak tidak terima karena ia juga menginginkan perhatian ibunya dan ia menyusul ibunya ke dapur dan di ikuti oleh Naoki.


“pergilah ke kamar Keiko, kau masih ingat kamar Keiko bukan? jangan sampai tersesat ke kamar kakaknya” kata Jonathan sedikit menggoda Olivia.


Olivia tidak menanggapi kata kata Jonathan ia menyeret koper kecilnya menuju kamar Keiko, setelah membersihkan tubuhnya ia merebahkan diri di ranjang sambil memanggil Miranda melalui video call untuk melihat putrinya.


Jonathan langsung masuk menuju kamar kakaknya Derren, ia mendapati kakaknya sedang merokok di balkon.


“temui Olivia ia tidur di kamar Keiko, aku berhasil membawakan untukmu” kata Jonathan dengan nada dingin


Derren tidak merespon


“Aku benar benar ingin menghajarmu” kata Jonathan, telapak tangannya bahkan telah mengepal, ia benar benar tidak mengerti mengapa kakaknya begitu dingin dan pengecut!


“kesempatanmu hanya kali ini, aku yakin kau akan menyesal nanti, sekali ini jika kau membiarkan Olivia lolos kembali, aku akan menghancurkanmu!” desis Jonathan penuh dengan tekanan emosi.


Olivia masih melakukan Video call bersama Crystal, meskipun baru berpisah 20 jam itu sangat berat, Ia sangat merindukan Crystal, ini adalah kali pertama mereka harus berpisah cukup jauh dan dalam waktu lama. Olivia berulang kali menciumi gadis kecil di layar ponselnya yang terus berceloteh.


Ketika mendengar suara gagang pintu di buka Olivia buru buru mematikan sambungan video callnya dan melepas earphonnya.


Ternyata Jonathan yang datang.


“Bagaimana kabar Crystal?” tanya Jonathan langsung


“dia baik”


“aku merindukannya” kata Jonathan sambil menatap mata Olivia yang tampak gelisah


Olivia tidak menjawab ia justru menghindari tatapan Jonathan


“mommy memerintah kau memakai ini besok” kata Jonathan sambil memberikan sebuah kotak yang di kemas dengan imut, sepertinya itu adalah seragam bridesmaid.


“terima kasih” jawab Olivia canggung


Mereka terdiam beberapa saat, jemari Jonathan mempermainkan ujung pita yang menghiasi kotak yang barusan ia letakkan di atas ranjang.


“Olivia, berhentilah bersikap seolah olah kau orang asing di sini” kata Jonathan mencoba mengikis jarak yang selalu Olivia bangun.


"sikapku biasa saja seperti dulu" guman Olivia dengan nada dingin


"aku tidak mengenal dirimu yang sekarang Olivia, kau bukan seperti Olivia saudara kecilku yang dulu"

__ADS_1


“Joe, aku harus bagaimana? Bukan aku yang menginginkan berada di sini, sekarang aku disini menuruti keinginanmu!” Nada suara Olivia mulai terdengar sengit


“Olivia, bisakah jangan kau libatkan kami dalam dendammu pada kakakku?” Jonathan benar benar harus memohon, ia tidak tau lagi dengan cara apa membujuk Olivia. ‘keduanya sama sama keras kepala!’ batin Jonathan


Kali ini Olivia tertunduk, sepenuhnya ia menyadari bahwa ia egois, ia yang memasang tembok penghalang terlalu tinggi untuk menghindari keluarga Derren, bukan hanya keluarga Derren bahkan keluarganya sendiri, Olivia juga menyadari hal itu, ia takut menghadapi kenyataan tang mungkin akan melukainya lrbih dalam lagi.


Jonathan mengelus pucuk kepala Olivia


“aku tau kau masih Olivia kami yang dulu, jangan memaksakan dirimu untuk menjadi terlihat kuat dan sombong” kata Jonathan lembut “ayo turun, semua menunggumu untuk makan malam” Jonathan tau gadis di depannya akan segera menangis jika ia terus mendesaknya, ia tidak sanggup melihat air mata Olivua lagi, apalagi jika harus mengingat Crystal. Jonathan semakin tidak ingin membuat Olivia menitikkan air mata,


“Joe, aku.... akuu....” Olivia tidak ingin bertemu Derren


“Olivia” Jonathan berlutut di depan Olivia, “cepat atau lambat kau pasti bertemu Derren, kita berkeluarga, itu tidak bisa di putuskan meskipun kita tidak memiliki hubungan darah” pelan Jonathan memberi pengertian


“tapi aku tidak lapar” Olivia berkilah


“kau seharian di perjalanan, mustahil kau tidak lapar” bujuk Jonathan pelan


“Joe, aku....”


“Olivia, menurutlah, jangan siksa dirimu”


Olivia akhirnya mengangguk, Jonathan bangkit dan mengelus pucuk kepala Olivia


“Duduklah di sampingku atau berlindung di punggungku jika tidak ingin melihat kakakku oke?” kata Jonathan


Jonathan menuntun Olivia menuju meja makan, seperti menggandeng seorang anak kecil, Benar saja ia duduk di samping Jonathan! Tapi di tengah tengah antara Jonathan dan Derren!!!


Tentu saja semua sudah di atur, karena semua kursi telah terisi oleh kakek, neneknya, Herdiana, master Edward dan seluruh anggota keluarga di rumah itu.


Olivia ingin sekali menusuk paha Jonathan menggunakan garpu yang ia pegang karena merasa telah dibohongi Jonathan, akhirnya Olivia tidak tahan lagi untuk melakukan protes ia mencubit Jonathan dengan sekuat tenaga. Wajah keduanya tetap datar meskipun Jonathan menahan sakit di pahanya sedangkan Olivia menahan kesal di dadanya.


Makan malam berlangsung hangat karena celotehan Keiko, Kenzo dan Jonathan. Nenek dan kakek Olivia juga sangat bahagia, hanya Olivia dan Derren yang Membisu dan Canggung, mata Derren terus mencuri curi pandang pada Olivia, sedangkan Olivia tidak sedikit pun melirik pada Derren.


“Olivia, ayo makan yang banyak” kata Livia,


“iya mommy” jawab Olivia sopan, ia hanya memakan telur balado saja” praktis dan mudah di makan. Padahal hampir semua masakan Indonesia benar benar tersaji di depan matanya, namun karena kecanggungan yang menyelimuti Olivia dan Derren ia lebih memilih gengsinya di banding mengambil makanan yang membuat air liurnya hampir menetes.


Setelah selesai makan dan sedikit berbincang dengan nenek kakeknya Olivia kembali kamar Keiko. Sejak datang Keiko tidak memasuki kamarnya sama sekali.


‘apa aku salah kamar?’ batin Olivia karena sejak mereka datang Keiko sama sekali tidak memasuki kamar itu, tapi jelas jelas ini adalah kamar Keiko.


Olivia merebahkan tubuhnya, menatap langit langit kamar, sambil membayangkan sedang apa putrinya Crystal. Ia tersenyum sendiri, rasanya tidak sabar menunggu Crystal tumbuh sedikit lebih tinggi, ia ingin memakai pakaian yang sama dengan Crystal.


Sementara di dapur, Livia mengambil piring diisi nasi dan berbagai macam lauk lalu membawanya ke kamar Derren


“Derren...” panggil Livia seraya mengetuk pintu kamar putranya..


Derren membuka pintu kamarnya. Wajahnya kaku, dingin, tanpa kehidupan.


“beri Olivia makan, ia tidak banyak makan tadi”


“dia sudah makan” jawab Derren datar


“beri saja dia makan, Olivia tidak bisa makan banyak karena kau tadi, sekarang kau harus tanggung jawab” kata Livia sambil menyerahkan secara paksa piring itu.


"dapatkan gadismu lagi atau kau ku tendang keluar dari silsilah keluarga!" ancam Livia, ia benar benar tidak memiliki kesabaran lagi ingin Olivia kembali pada putranya. ia tidak ingin memiliki menantu selain Olivia dari Derren.


Setelah Livia memaksa putranya lalu menyeretnya menuju kamar Keiko, membuka pintunya perlahan dan mendorong tubuh putranya, memasukkannya ke dalam kamar di mana Olivia berada, Livia juga yang telah melarang Keiko kembali ke kamarnya sejak Keiko baru mendarat di Haneda.


Olivia terperanjat melihat Derren masuk ke dalam kamarnya, ia segera duduk dengan tegak, memandang Derren dengan tatapan permusuhan.


“makan” kata Derren datar


“aku sudah makan” jawab Olivia ketus


“buka mulutmu” Derren mulai mengaduk aduk nasi dan lauk


Olivia justru mengatupkan bibirnya


“aaaaaaaa” kata Derren sambil mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulut Olivia


Olivia tetap tidak membuka mulutnya


“aaaaa” kata Derren lagi “jangan keras kepala”


Olivia menggeleng, ia meskipun ia tidak terlalu kenyang tapi ia enggan disuapi mantan tunangannya.


“Olivia” Derren menyipitkan matanya karena tidak senang dengan penolakan Olivia


“aku bisa makan sendiri” kata Olivia sambil mengulurkan tangan bermaksud mengambil alih piring di tangan Derren


“Ooliiviia”


Akhirnya Olivia membuka mulutnya, 1 suap, 2 suap, 6 suap, 8 suap.

__ADS_1


Derren terus menyuapinya sambil matanya terus menatap Olivia penuh kerinduan, sementara Olivia terus menghindari kontak mata langsung dengan Derren, ia terus membuang pandangannya.


Jantungnya terasa hendak melompat, ia tak mampu melihat Derren, ia merindukan pria yang berada tepat di hadapannya !!!


“aku haus” guman Olivia


“tunggu aku ambilkan minum” Derren meletakkan piring di atas nakas dan melangkah pergi ke dapur untuk mengambilkan Olivia air minum,


Sementara Olivia di dalam kamar mengatur nafasnya, lututnya bahkan mungkin tidak akan bisa berdiri dengan benar.


Livia yang melihat Derren pergi ke dapur dan membawakan segelas air ia tersenyum dan mengerlingkan matanya pada Yunita dan Herdiana.


Ketika Derren datang dan menyerahkan segelas air, Olivia segera meneguk air di gelas hingga tandas.


“aaaaaa” kata Derren bermaksud menyuapkan makanan lagi namun Olivia menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


“ayolah, habiskan dulu makanmu” kata Derren lembut


“aku hampir muntah kekenyangan, aku tidak sanggup, aku bisa mati karena terlalu banyak makan” keluh Olivia.


“tidak ada manusia yang mati kekenyangan, kau bukan ikan Olivia” nada suara Derren kali ini mulai ringan dan tidak datar


“tapi aku benar benar kenyang” rengek Olivia manja secara alami


Derren meletakkan piring di atas nakas samping tempat tidur.


Derren menarik pergelangan tangan Olivia


“kemana?”


“apa kau ingin jadi babi? Kau ingin langsung tidur setelah makan?”


“tidak masalah aku menjadi babi yang manis” guman Olivia


“ayolah Olivia, jangan keras kepala”


Olivia mengikuti langkah kaki Derren, ternyata hanya berdiri di balkon,, memandang langit malam Tokyo.


5 menit berlalu....


15 menit kemudian.....


30 menit...


Kedua orang itu saling bungkam. Hanya detak jantung milik masing masing yang berpacu terdengar hingga ke rongga telinga.


Olivia meninggalkan Derren masuk ke dalam kamar mandi menggosok gigi lalu membungkus tubuhnya dengan selimut dan berusaha memejamkan matanya. Tidak berhasil!!!


Ia gelisah, apa lagi Derren masih berdiri di balkon, perasaan gelisah di benak Olivia makin menjadi jadi, ia merindukan pelukan pria itu. ia ingin berada di pelukan Derren!!!


Setelah entah berapa lama akhirnya Olivia tertidur, tengah malam ia terbangun dalam pelukan Derren, aroma maskulinnya, kehangatannya, membuat Olivia ingin berada lebih lama lagi di dalam pelukannya, menghirup dalam dalam aroma pria yang telah mematahkan cintanya dengan kejam, meskipun ada sedikit aroma tembakau disana.



‘jadi sekarang dia merokok?’ batin Olivia


Begitu logikanya kembali Olivia berniat bangkit dan akan menendang Derren turun dari ranjang itu, namun lenfan kekar Derren memeluknya lebih erat.


“lepaskan” guman Olivia ia masih enggan menyebut nama Derren


“jadilah patuh, tidur Olivia ini masih malam”


“kau bisa tidur di kamarmu!” kata Olivia ketus


“aku ingin tidur disini”


“kalau begitu aku yang tidur di kamarmu!!” kata Olivia semakin ketus, Derren langsung melepaskan pelukannya, mengangkat tubuh kecil Olivia dan membawa masuk ke dalam kamarnya.


“kau....!” Olivia melotot galak pada Derren


“aku juga ingin tidur di sini Olivia”


Olivia langsung masuk kedalam selimut, berpura pura memejamkan matanya. ‘Benar benar licik!!!’ Gerutu Olivia dalam hati, Batinnya mengutuki kebodohannya yang bersedia tinggal dirumah itu, dan yang pasti perasaannya sekarang kacau, jantungnya melompat lompat tidak karuan. ‘Siaaaalllllll.....’


**BTW KALIAN BACA TULISAN 👉TJIPTADJAJA APA????


BACANYA ITU 👉 CIPTAJAYA YAH TEMAN TEMAN😂😂


SORRY TOO LATE BUAT NGASIH TAUNYA, LUPA MULU AUTHORNYA 😁😁😁


JANGAN BERPIKIR NAKAL SAAT LIHAT OTOT DERREN OK!!!! HAHAHAHA


DAN YANG MAU LIHAT DANU SAMA YUDHA AKU UDAH ADA REVISI PELAN PELAN DI CHAPTER 16 ATAU 17 ADA MEREKA 😚


INGAT TAP JEMPOL KALIAN 👇👇👇👇**👇

__ADS_1


__ADS_2