
DI TOKYO
Keiko sedang di atas awan ia merasa sangat bahagia hari ini.
“mommy daddy....” teriaknya sambil berlari menuruni anak tangga di kediaman yang sangat mewah itu.
“Kei berhati hatilah” kata Livia ibunya memperingatkan putri tunggalnya.
“mommy, master Edward Pollini akan mengadakan konser orkestra lagi dan beliau meminta aku memainkan 2 lagu untuk openingnya” kata Keiko antusias
“benarkah?” kata Livia senang
“ya mommy aku akan sepanggung dengan master Edward pollini bayangkan” racau Keiko sambil membentngjan kedua lengannya
“selamat sayangku” kata Livia Antusias “ belajarlah lebih giat agar tidak mengecewakan beliau” lanjutnya sambil sejenak mengamati tabloid di tangannya
“hime sama akhirnya kau akan tampil di panggung yang selama ini kau impikan” kata Naoki tak kalah senang
“daddy aku sangat bahagia” Keiko melompat lompat berputar putar menirukan tarian ballet.
“selamat untukmu hime sama” kata Naoki ayahnya
“master Edward memintaku untuk tinggal di London agar aku lebih mudah untuk belajar” kata Keiko pelan, nada suaranya seperti takut tidak mendapatkan izin kedua orang tuanya
Naoki melirik wajah istrinya yang sedang membaca tabloid di tangannya
“jika kau tinggal di London lalu bagaimana sekolahmu?” tanya Naoki
“daddy bukankah selama ini aku sekolah melalui internet meskipun di Tokyo”
“tanyakan pada mommymu apa dia akan mengizinkanmu atau tidak”
“mommy tidak setuju” kata Livia sambil mengangkat dagunya memandang putri satu satunya
“mommy hanya 6 bulan, oke?” bujuk Keiko
“bagaimana jika kami merindukanmu? Bagaimana perasaan Kenzo? Dia akan kesepian” kata Livia tidak senang
“kenapa mommy pilih kasih? Derren dan Joe oniisan di perbolehkan kuliah di London sedangkan aku?” keluh Keiko
“siapa yang tidak memperbolehkan? Kau belum saatnya Keiko kau belum lulus sekolah menengah”
kata Livia penuh kesabaran
“mommy, ini adalah konser terakhir tuan master Edward, ia ingin mengundurkan diri karena merasa telah tua, kumohon mommy” rengek Keiko “daddy tolong bujuk mommy”
“kemari” kata Naoki pada putri satu satunya itu
Keiko mendekati ayahnya dan memeluk pinggang ayahnya seperti gurita yang menempel
“Keiko, kalian cepat sekali dewasa, mommy dan daddymu akan kesepian jika kau juga pergi ke London” kata Naoki penuh kasih sayang membelai rambut putrinya
“kita bisa face time daddy, dan aku hanya 6 bulan di London” Keiko masih mencoba bernegosiasi “daddy tolong bujuk mommy”
“apa kompensasimu jika kau di izinkan tinggal di London?” tanya Naoki penuh kelembutanr terlebih dulu
“aku akan melanjutkan studiku di fakultas ekonomi seperti mommy, aku tidak akan masuk ke fakultas seni” kata Keiko tanpa berpikir
“kau yakin dengan kata katamu? itu tidak bisa di tarik kembali, kau pertimbangkan lagi sebelum mommymu menyetujuinya” kata Naoki
Livia masih santai membolak balikkan majalah fashion di tangannya tanpa menghiraukan ayah dan anak yang sedang bernegosiasi, ia tampak seperti seorang hakim yang berhak mengetuk palu, segala keputusan di rumah itu ada di tangan Livia.
“aku yakin daddy” jawab Keiko mantap
“baiklah kalau begitu” kata Naoki “sayangku bagaimana?” tanya Naoki pada Livia
“kau sudah dewasa jangan menempel seperti itu pada daddymu” kata Livia memperingatkan Keiko putrinya
“dia daddyku” protes Keiko
“dia suami mommy” Livia tidak mau kalah, Keiko akhirnya duduk di sofa dengan benar
“mommy, jika mommy mengizinkan aku untuk belajar piano dengan master Edward aku akan melanjutkan study di fakultas ekonomi, aku tidak akan masuk fakultas seni, aku berjanji”
“baiklah mommy kunci janjimu Keiko, mommy mengizinkanmu belajar piano dengan master Edward dengan peraturan waktu dua minggu di Tokyo dan dua minggu di London, tidak ada tawar menawar lagi”
Naoki tersenyum mendengar kata kata yang di ucapkan istrinya, istrinya selalu tidak pernah mau mengalah meskipun dengan anak anaknya dan istrinya adalah wanita paling tegas namun tidak pernah menekan anak anak mereka, Keiko meskipun ia memiliki manager dan asisten pribadi di agency yang menanganinya tetap saja semua keputusan ada di tangan Livia.
Livia tidak memberikan kebebasan mutlak pada karir Keiko, Livia sangat menjaga putrinya.
Keiko ia juga tidak pernah membantah kedua orang tuanya, bahkan ke empat anak anak Livia semua adalah anak anak yang manis, penurut, patuh dan taat kepada orang tuanya.
Keiko dengan lapang hati menerima keputusan yang di berikan ibunya, setidaknya itu lebih baik di banding ia kehilangan kesempatan besar yang mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidupnya.
Sementara keesokan siang menjelang sore seorang remaja pria berumur 13 tahun baru saja kembali dari sekolahnya, ia lebih suka pulang naik kereta bersama teman temannya di banding di jemput oleh orang tuanya, kevetulan hari itu hujan cukup lebat, ia berjalan dengan hati hati sambil memegang payungnya.
Di tengah jalan sebelum memasuki area perumahannya, ia melambatkan langkahnya. Ia mendekati seorang gadis yang basah kuyup sedang berjongkok sementara payungnya di letakkan begitu saja di trotoar.
Kenzo menghampiri gadis itu, membagi payungnya.
“adik kecil apa yang kau lakukan?”
Tanpa menoleh gadis itu menggelengkan kepalanya
Kenzo mengamati payung itu dan menggesernya, ternyata seekor bayi kucing yang basah kuyup berada di bawah payung itu.
“apa ini kucingmu?”
Gadis kecil itu menggeleng
“kau ingin memeliharanya?”
Gadis itu mengangguk
“ayo oniisan antar kau pulang, bawa kucingnya”
__ADS_1
Gadis itu menggeleng lagi
Kenzo menarik nafas
“adik kecil apa rumahmu jauh dari sini?”
Gadis kecil itu mendongak menatap wajah tampan Kenzo, pantas gadis itu seperti ketakutan padanya, ia bukan orang jepang, jelas sekali dari bola matanya yang berwana hijau.
“siapa namamu?” tanya Kenzo lembut dengan bahasa inggris
“Emily” katanya pelan
“kau bisa bahasa jepang?”
“just a little” jawab Emily
“baiklah, ayo kita bawa kucing ini ke rumahmu”
“tidak mungkin”
“kenapa?”
“kami akan kembali ke Belanda”
“baiklah, biar aku yang merawat kucing ini” Kenzo mengangkat payung yang berada di atas trotoar dan menyerahkan pada Emily, lalu mengambil kucing kecil itu dan membawanya ke dalam gendongannya.
“apa aku boleh melihatnya sebelum aku kembali ke Belanda?”
“tentu saja, namaku Yamada Kenzo” kata Kenzo kemudian ia menunjukkan pada gadis kecil itu di mana tempat tinggal orang tuanya.
Kenzo mengantarkan gadis kecil itu hingga di depan pagar rumahnya yang ternyata tak jauh dari rumahnya.
Sesampainya di rumahnya Kenzo memandikan kucing itu dan mengeringkannya dengan pengering rambut milik kakaknya, jika Keiko mengetahuinya tentu saja kakaknya itu akan memakannya!
Kenzo diam diam mengembalikan pengering itu ke tempat semula.
Setelah itu ia meminta bantuan pada pelayan untuk membelikan makan khusus untuk Kitten di pet shop.
Dan sore harinya ketika kedua orang tuanya datang, Kenzo sama sekali tidak menyangka reaksi ibunya saat melihat anak kucing itu.
“Kenzo, keluarkan dari rumah ini kucing itu!!!”
“mommy, tapi dia sangat lucu dan kasihan dia yatim piatu mommy aku ingin merawatnya”
"dari mana kau tau ia yatim piatu?" tanya Livia setengah geli
"aku menemukan di jalanan" jawab Kenzo dengan nada kesal
“Kenzo, mommy yang akan pindah dari rumah ini kalau begitu!”
Ibunya ternyata phobia dengan kucing, ia bahkan berdiri di atas meja dengan tubuh bergetar karena ketakutan
“mommy itu hanya anak kucing dia tidak menakutkan” Kenzo berusaha meyakinkan ibunya
“mommy ini sangat lucu” kata Keiko yang juga telah berada di rumah, ia bahkan menggendong anak kucing itu dengan gemas, menciumi benda bulat, bernyawa, kenyal dan berbulu itu.
“aku tidak takut, aku hanya geli pada bulunya” kata Livia galak
Naoki berpikir sejenak lalu memanggil seseorang melalui ponselnya.
“Kenzo, Keiko bawa kucingmu ke belakang, biar daddy urus mommymu” kata Naoki setelah ia selesai berbicara di telefon “ayo turunlah sayang, kau seperti anak kecil saja” lanjutnya
Livia akhirnya turun dengan mimik gusar diwajahnya.
“jadi kau takut kucing?"
“aku hanya geli!” Livia masih tidak mengakuinya
“sejak kapan?”
“sajak kecil aku takut pada semua hewan berbulu, itu menggelikan”
“kau tidak takut pada hewan berbulu milikku” bisik Naoki di telinga Livia
“hubby!!!” Livia melotot galak, ia masih kesal pada kucing!
Naoki tertawa, ternyata istrinya memiliki sisi menggelikan yang ia simpan rapat rapat.
“hanya keluarga Artajaya yang mengetahui, sebab mereka khawatir aku di takuti oleh teman temanku, itu sebabnya mas Danu dan mas Yudha ketika kami masih kecil selalu mengawasiku saat aku bermain di luar rumah” Livia mulai menceritakan phobianya pada hewan.
“baiklah, aku akan membuatkan rumah khusus di belakang untuk kucing Kenzo agar kucingnya tidak berkeliaran di rumah, untuk sementara menunggu rumah kucing itu jadi biarkan kucing itu di penitipan”
Livia akhirnya sedikit lega meskipun ia tidak ingin ada kucing di sekitar rumahnya tapi apa boleh buat, anak anak menyukainya, kali ini ia akan mengalah dulu.
Beberapa hari kemudian rumah untuk kucing itu telah jadi dan juga Keiko mengalami ruam ruam merah pada kulitnya, ternyata Keiko mengalami alergi dengan bulu kucing karena terlalu sering menggendongnya.
Livia tertawa penuh kemenangan!!!
Ia mengharap Kenzo mengalami alergi juga agar ia terbebas dari perasaan phobianya.
Genap seminggu Kenzo mengurus kucing itu, ketika ia kembali dari sekolahnya seorang gadis kecil berkepang dua menunggunya di depan pagar rumahnya.
“Emily...”
“Kenzo aku ingin melihat kucing itu, bolehkah?” tanyanya dengan wajah muram
“tentu saja, ayo kerumahku” ajaknya
“siapa namanya?” tanya Emily ketika mereka berada di dalam rumah rumahan khusus kucing.
“apa harus punya nama?”
“tentu ssja”
__ADS_1
“mmmmmmm” Kenzo bingung
“kalau begitu beri dia nama Luna” kata Emily
“apa dia betina?”
“aku tidak tau”
“bagaimana jika jantan?”
Emily tampak berpikir
“apakah bulan di langut itu laki laki atau perempuan?” Emily berguman
Kenzo tertawa riang.
“baiklah, namanya Luna” kata Kenzo
Setelah 15 menit berinteraksi dengan Luna Emily bergegas berpamitan, Kenzo mengantarnya hingga gadis itu keluar dari gerbang rumahnya.
“kakakku mencariku” kata Emily sambil menunjuk sorang gadis kecil yang sedang berdiri di tepi jalan agak jauh dari mereka
“besok aku akan kembali ke belanda, selamat tinggal kenzo”
“selamat tinggal emily” kata Kenzo
DI LONDON
Olivia sedang berdiri menunggu Jonathan yang sedang di perjalanan untuk menjemputnya. Tiba tiba seorang pria berwajah tampan menghampirinya.
“Olivia apa kau mau pulang?”
“iya...” Olivia tampak berpikir mengingat ingat siapa pria yang tampak familiar di depannya itu
“aku teman Derren, Louis” kata pria itu mengingatkan dirinya “astaga kita sering kali bertemu, aku beberapa kali datang ke tempat tinggal kalian bersama Merry dan yang lain dan kau juga sering bersama Derren kan menunggu kami mengerjakan tugas”
“oooo... iya maaf aku tidak begitu mengingat” jawab Olivia sopan, tentu saja Olivia tidak mengingat siapa pun, dimatanya ia hanya bisa menatap derren.
“aku bisa mengantarkanmu, aku juga membawa mobil” kata pria itu sambil menekan kontrol pintu mobil hingga sebuah Audi berwarna hitam berbunyi dan mengedipkan lampu.
“terima kasih, sayang sekali Joe dalam perjalanan untuk menjemputku” tolak Olivia
Mereka kemudian mengobrol santai hingga Jonathan datang dan Olivia masuk ke dalam mobil, Tidak lama Merry menghampiri Louis.
“kau tertarik dengan sepupu Derren?” tanya Merry langsung
“ya gadis Asia memang menarik”
“kulihat sejak pertama Derren mengenalkan sepupunya pada kita kau selalu memperhatikannya”
“kau berlebihan”
“dapatkan dia, aku akan membantumu” kata Merry diiringi seringai licik.
Louis tertawa ringan sambil melangkah menuju mobilnya sambil melambaikan tangan pada Merry.
Malamnya Derren berniat mengajak Olivia pergi untuk menikmati malam minggu mereka karena kebetulan hari ini Derren kembali dari rumah sakit lebih awal. Sejak resmi sebagai pasangan kekasih mereka banyak menghabiskan waktu untuk sekadar berkencan dan berjalan jalan santai di kota London, kadang mereka pergi ke taman hiburan atau pergi berolah raga bersama.
“sayang kali ini kau ingin kita ke mana?” tanya Derren sambil melajukan mobilnya
“berkeliling keliling tanpa arah saja tidak masalah” jawab Olivia sambil sibuk bercermin untuk membenarkan rambutnya
Setelah menikmati makan malam mereka Akhirnya Derren memarkirkan mobilnya dan mereka berjalan kaki menuju London eye di pinggir sungai Themes.
Suasana malam di sana sangat romantis, mereka menaiki kincir London eye dan menikmati keindahan kota London di malam hari dari ketinggian 160 meter.
Olivia bersandar di pundak Derren, Derren mengambil satu tangan Olivia dan menciumi punggung telapak tangan Olivia penuh kasih sayang, Olivia tersipu malu karena perlakuan mesra Derren.
“Olivia aku sangat mencintaimu” bisik Derren lembut di telinga Olivia saat mereka berada di puncak kincir
Olivia hanya tersipu dan mengarahkan matanya ke wajah Derren dan pandangan mata mereka bertemu lalu mereka tenggelam dalam ciuman penuh cinta.
Putaran kincir London eye yang sangat lambat dan di perlukan waktu sekitar 30 menit untuk sekali putaran dan mereka telah berada di puncak kincir itu sebanyak 2 kali.
“besok aku tidak ada jadwal di rumah sakit, bagaimana jika malam ini kita habiskan berdua?” bisik Derren dengan suara parau
Olivia mengerti apa yang di maksud Derren wajahnya menjadi terbakar merah merona.
Mereka turun dari kincir itu dan Derren membawa Olivia ke sebuah apartemen mewah.
“sayang apartemen siapa ini?”
“tempat tinggal kita, aku membelinya, Suatu saat nanti kita akan tinggal berdua di sini” jawab Derren sambil memeluk Olivia dengan penuh kasih sayang.
“kau telah merencanakan ini?”
“aku tidak ingin moment pertama kita di lakukan di kamar hotel Olivia”
Olivia tersipu
“aku tidak mengerti bagaimana caranya” Olivia mengatakannya dengan ragu ragu dan Ekspressi yang menggemaskan dimata Derren.
“kita telah mempelajari ilmu reproduksi, sekarang mari kita praktikkan” goda Derren yang membuat Olivia semakin gugup dan merona!!!
CIEEEEE 😄😄😄
MAU NGAPAIN KALIAN BERDUAAN 😅😅😅😅
PASTI READERS PADA PENASARAN 😆😆
__ADS_1
TAP JEMPOLNYA YAH MAN TEMAN 👍😁
LANGSUNG KU UP 2 CHAPTER KALAU LIKENYA 1000 DALAM SEHARI 😆😆