Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
32


__ADS_3

Setelah mendapatkan guru les untuk Richie beberapa minggu pria kecil bermata biru itu terus di sibukkan dengan belajar, Livia berpikir ia harus membawa richie berjalan jalan agar pria imut itu tidak merasa bosan tinggal didalam aparteman untuk belajar, richie ternyata anak yang cukup cerdas, dalam beberapa hari saja ia telah banyak mengalami kemajuan mengenal huruf dan angka.


Musim dingin telah berlalu dan bunga bunga sakura mulai bermekaran, namun karena masih terlalu awal musim semi udara masih terasa sedikit agak dingin, jadi livia memakaikan sweeter yang tidak terlalu tebal dan penutup kepala pada richie, ia tampak senang saat livia mengatakan akan membawanya pergi bejalan jalan.


Karena hanya berjalan jalan di luar tidak jauh dari apartemen dan berniat untuk tidak terlalu lama livia tidak membawa pengasuh richie, mereka berjalan seperti sepasang kekasih, richie terus menggenggam tangan livia.


“penculik kau menculik anakku.....!!!” teriak seorang wanita mengejutkan livia, ia makin terkejut ketika wanita itu menyambar tubuh richie, setelah melihat wajah wanita itu livia baru menyadari siapa wanita tersebut.


“whats going on?” livia bertanya heran


“penculik....!” teriaknya


“camelia jaga kata katamu, aku tidak menculik richie” Kata livia dengan pelan


“pelacur, perempuan jalang, kau menculik putraku....!!!” hardik camelia


“stop berbicara kasar di depan putramu” desis livia geram


Richie hanya terdiam menatap bingung dengan apa yang terjadi di antara orang orang dewasa di sekitarnya apalagi keduanya adalah orang yang di kenalnya.


Livia menghela nafas mendapati beberapa polisi menghampiri dirinya.


Polisi itu mengajak livia berbicara bahasa jepang, livia mengerti namun percumah saja livia menjelaskan toh polisi itu tidak akan mengerti bahasanya.


“sir bawa ia ke kantor polisi” kata pria yang bersama camelia.


“ooohhh ini memang rencana mereka” batin livia, pria yang bersama camelia jelas warga negara asing yang menguasai bahasa jepang


“tunggu” kata livia memakai bahasa jepang terbata bata “aku bukan penculik” livia mencoba menjelaskan dengan sulit, kenapa aku tidak belajar bahasa jepang rutuknya dalam hati


Ia mencoba susah payah bicara dengan polisi namun pria yang bersama camelia sama sekali tidak membantu menerjemahkan bahasa inggris livia


“livia apa yang terjadi?” livia menoleh pada sumber suara, dan bagaikan mendapatkan danau di tengah gurun pasir livia ingin sekali melompat dan memeluk tubuh pria yang datang sebagai dewa yang menyelamatkannya.


“naokiiiiii....” livia begitu bahagia melihat pria tampan dengan wajah sangat lembut itu, kemudian menceritakan yang terjadi.


“kita akan selesaikan di kantor polisi” kata naoki pada polisi itu “wanita ini biar aku yang membawanya sendiri ke kantor polisi, aku penjaminnya”


Ketika Polisi hendak membawa livia menaiki mobil polisi naoki segera mengeluarkan kartu namanya, dan polisi segera berubah ekspresinya begitu membaca tulisan di kartu nama yang naoki berikan, polisi itu berubah menjadi ramah tentunya.


Sebenarnya naoki hanya kebetulan melewati jalanan itu, ia menyetir dengan santai karena baru saja selesai menjawab panggilan, ia melihat seorang yang tentu sangat ia kenali walaupun hanya melihat ujung rambutnya, livia tampak sedang bersusah payah berbicara dengan polisi jepang, naoki tentu tau livia tidak bisa berbahasa jepang dengan baik, iya segera memarkirkan mobilnya di sembarang tempat dan mendatangi dimana livia berada.


“apa kau sudah memanggil andrew?” tanya naoki ketika dalam perjalanan


“panggilanku tidak di jawab, tapi aku telah mengirimkan pesan”


“baiklah, aku akan menghubungi pengacaraku, biar mereka mengurus semuanya” kata naoki dan kemudian memanggil pengacaranya untuk menangani kasus yang bagi naoki bahkan tidak ada seujung kukunya.


“siapa wanita dan anak itu?” tanyanya kemudian


Livia menceritakan semua dengan ringkas siapa camelia dan richie.


“naoki, maafkkan aku, kau tidak membenciku bahkan kau menolongku di saat seperti ini” kata livia setelah selesai menceritakan kemalangan yang menimpanya.


“apa dengan membencimu membuat segalanya berubah?” tanya naoki lembut, pria ini selalu lembut dan pria ini selalu membereskan semua kekacauan yang livia ciptakan bahkan sekarang saat ia tak berhubungan lagi dengan naoki masih saja naoki yang membereskan kekacauan yang dialaminya.


Livia hanya diam tertunduk, ia sangat malu pada naoki air matanya mulai mendesak akan keluar membuat kelopak matanya terasa panas.


“sudah livia, jangan menangis” naoki tau livia akan segera menagis, ralat, telah menangis “kau bahkan sedang mengandung dan akan segera menjadi ibu, kau masih saja cengeng” naoki terkekeh


“naokii” rengek livia yang merasa di ejek oleh kata kata naoki


Ketika sampai dihalaman kantor polisi livia hendak turun namun tangannya di tahan oleh naoki

__ADS_1


“aku sangat merindukanmu livia, maaf” kata naoki sambil menggenggam erat tangan livia seolah enggan melepasnya kembali. “bolehkah aku memelukmu?” pinta naoki


Livia mengangguk pelan


“livia aku sanggat mencintaimu” bisik naoki pelan , ‘kenapa kebaikanku selama ini bahkan tak bisa menumbuhkan cintaku kepadamu?’ Lanjutnya dalam hati sambil mendekap tubuh livia


Livia membalas pelukan naoki, ia benar benar tersentuh dengan kata kata naoki, ia juga merindukan pria ini diam diam...


“tidak apa naoki aku senang kau masih merindukanku dan masih mencintaiku” kata livia jujur.


“jika andrew menyakitimu, jangan ragu untuk datang padaku” bisik naoki sambil mengecup bibir livia, dan reflek ia membalas kecupan naoki, bahkan ia hampir terhanyut dengan ciuman itu. Livia merasakan ada aroma tembakau di bibir naoki, livia menyudahi ciuman mereka dan mendorong dengan lembut tubuh naoki untuk melepaskan pelukan mereka


“naoki, andrew tidak akan menyakitiku, yang terbaik di masa depan adalah kita bisa bersama sama membesarkan anak anak kita sebagai sahabat, kau pasti akan mendapat gadis yang baik sebagai istrimu” kata livia setelah beberapa saat mereka menyadari kesalahan yang telah mereka buat “dan ku harap kau berhenti merokok, aku tidak ingin kau merokok lagi” kata livia kemudian karena setahu livia naoki yang bersamanya dulu bukan pria perokok.


Sesaat keheningan dan kecanggungan menyelimuti mereka dan mereka segera turun dari mobil untuk mengakhiri suasana canggung tersebut menuju pintu masuk kantor polisi dimana pengacara naoki telah menunggu mereka, naoki meminta livia menunggu di luar ia dan pengacaranya masuk ke dalam untuk berbicara bersama polisi.


Sudah hampir satu jam Livia duduk di sebuah kursi sambil memainkan ponselnya dengan rileks, ketika langkah sepatu berhenti tepat di depannya ia mendongakkan kepalanya.


“livia, apa yang terjadi?” pertanyaan kali ini dari andrew suaminya


“jangan khawatir drew, naoki dan pengacaranya sedang mengurusnya di dalam” jawab livia santai


Wajah andrew begitu tegang, ia bahkan meninggalkan pertemuan saat membaca pesan dari livia, ia menyetir dengan kalap di jalanan memikirkan istrinya di bawa ke kantor polisi dan ia menemukan istrinya sedang dengan santai memainkan ponselnya tanpa wajah khawatir dan lebih lebih ia mengatakan naoki sedang mengurus???


‘livia.... are you kidding me????’ keluh andrew dalam hati


“dimana ruangannya?” tanya andrew kemudian


Livia menunjuk pintu ruangan dimana naoki dan pengacaranya berada tanpa memperdulikan ekspressi andrew yang benar benar telah terbakar cemburu, andrew langsung masuk ke dalam.


30 menit kemudian naoki keluar di susul andrew yang membopong richi dan beberapa pengacara yang di siapkan naoki juga keluar dari ruangaan itu.


Livia bangkit dari duduknya ketika mereka telah mendekat ia bertanya “bagaimana?”


“camelia dan teman prianya di tahan, mereka terjerat pasal membuat keonaran dan tuduhan palsu” kata andrew


“bisakah aku bertemu dengannya, hanya 2 menit?” tanya livia matanya memandang naoki


“pengacaraku akan mendampingimu, pergilah” kata naoki dengan suaranya yang lembut


“terima kasih” kata livia dan berlalu menuju ruangan di mana camelia berada di dampingi 2 orang pengacara naoki


Sesampainya di ruangan dimana camelia berada livia duduk dengan anggun


“nyonya camelia, bagaimana rasanya?” tanya livia sinis


“sombong sekali kau” desis camelia


“ya, betul. Aku adalah wanita sombong tapi sayang aku bukan jalang aku bukan pelacur, aku livia istri sah dari pria yang kau manfaatkan uangnya” jawab livia santai


“pergi kau !!!” usir camelia


“ya tentu aku akan pergi, nikmati waktumu disini dengan baik nyonya camelia” kata livia dengan ramah dan dengan lembut bangkit dari duduknya “oh iya, everthing you do came back to you!!! Aku harap kamu bisa mengingat kata kataku, selamat tinggal” kata livia lagi dan berlalu meninggalkan camelia yang mengepalkan jari jarinya dengan kuat.


Livia keluar dari ruangan itu dan menuju ke arah dua pria yang duduk berhadapan saling menunduk dalam diam seolah olah diantara mereka ada gunung es yang tinggi menjulang memisahkan mereka


“eehhhmmmmm, richi apa kau ingin pulang sekarang?” tanya livia, ia enggan menyapa andrew maupun naoki karena ia merasa bingung nama siapa yang harus lebih dulu ia sebutkan.


Kedua bangkit dari duduk bersamaan.


“naoki terima kasih atas semua bantuanmu” kata andrew mengulurkan tangannya pada naoki


“tidak masalah” jawab naoki sambil tersenyum ramah dan menerima uluran tangan andrew “sampai jumpa lagi” lanjutnya dan mereka berpisah menuju mobil masing masing

__ADS_1


Sesampainya di kediaman mereka, livia menyerahkan richie pada pengasuhnya dan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya, kemudia ia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, ia merasa lelah meskipun hanya bebera jam berada di kantor polisi.


“livia, kenapa kamu panggil naoki? Bukan aku?!” nada suara andrew meninggi


“bisakah kau bertanya dengan baik baik tuan andrew?” tanya livia dingin


“livia jangan sesekali membuatku cemburu!”


“oh ya? Semua ini gak akan terjadi kalau orang di masa lalu kamu gak muncul” jawab livia santaib“asal kamu tau ya, aku gak panggil naoki, ia kebetulan lewat dan menolongku, apa aku salah menerima bantuannya?” tanya livia


“baiklah, aku percaya kamu” akhirnya andrew mengalahm“kayanya naoki masih sayang banget sama kamu istriku yang cantik” kata andrew sambil duduk di tepi ranjang


“bagus dong, banyak yang sayang sama aku” kekeh livia menyembunyikan fakta bahwa ia bahkan hampir bercumbu dengan naoki.


“terus kamu juga kayanya seneng banget kalau ada dia, kayanya dia....”


“stop drew... “ potong livia galak “disini posisi kamu duluan yang bermain api, dan aku menyambutnya jadi naoki itu ada di posisi teraniaya karna kamu ngerebut aku dan aku menghianatinya” lanjut livia berbicara fakta.


“kok kamu jadi marah sih livia?”


“kamu itu ya selalu marah cemburu gak beralasan setiap sesuatu berhubungan dengan naoki, padahal masalah naoki masih cinta atau gak sama aku kan urusan dia emangnya aku bisa ngontrol perasaan orang?” kata livia sebal


“aku gak suka aja ada pria menatap kamu kaya gitu” keluh andrew, ia sangat kesal livia selalu membela naoki.


“dan itu berarti tugas kamu bikin aku gak berpaling dari kamu suamiku yang pencemburu” balas livia dan ia mengubur kepalanya ke dalam selimut dan memegangnya erat erat, ia merasa kesal pada andrew setiap andrew menyebut nyebut naoki.


“livia jangan sembunyi” andrew berusaha menarik selimut livia “kita belum selesai ngomong, aku kan cuma bilang kayanya naoki masih sayang kamu kok kamu jadi marah gini sih?”


‘dasar perempuan, aku cuma ngomong beberapa kata dia balesnya kaya kereta api’ batin andrew


“liviaaaa” panggil andrew pelan “iya deh aku salah maafin aku” pintanya mau tidak mau harus mengalah.


Livia membuka selimutnya dan bibirnya cemberut terkatup rapat


“cantik banget siiih istriku kalo manyun gitu” rayu andrew sambil mencolek pipi livia


“apaan sih pegang pegang”


“pegang istri sendiri masa gak boleh sih”


“aku maih kesel ya drew jangan macam macam” ancam livia


“biar ilang keselnya gimana kalau kita belanja?”


“gak drew aku males” memang livia semenjak hamil tidak terlalu gila belanja, penyababnya adalah semua baju yang di kehendaki tidak akan cocok untuk di kenakan dan andrew sudah tau hal itu


“beli aja dulu nanti di pake pas dede dah lahir”


“udah ketinggalan jaman dong modelnya, gak mau ah”


“terus maunya apa?” bujuk andrew


“Aku gak pengen apa apa”


“kita belum bulan madu sayang” andrew mengingatkan


“habis aku melahirkan aja drew aku gak mau foto fotonya aku gendut gak banget”


“iya miss perfect” jawab andrew menyerah


Malam itu andrew bahkan tidak bisa tidur memikirkan livia dan naoki yang seolah olah adalah pasangan yang tidak seharusnya ia pisahkan, ia melihat tatapan livia dan naoki yang begitu lembut saat pandangan mereka beradu, keduanya tampak saling merindukan, bahkan andrew tak pernah menemukan sikap setenang itu pada livia bahkan ketika ia terbelit kesulitan.


Tampaknya istrinya sangat mempercayakan hidupnya jika di hadapan naoki, dan cinta naoki pada livia sepertinya bukan hal main main yang bisa ia kalahkan, bahkan cinta andrew mungkin tak ada separuh dari cinta naoki untuk livia.

__ADS_1


Sebaik apapun sikap andrew pada livia, selembut apapun andrew sepertinya naoki selalu lebih baik darinya.


Dadanya sedikit sesak, andrew menghubungi dokter dan diam diam malam itu ia pergi menemui dokternya untuk memeriksakan kesehatannya.


__ADS_2