
Tiffany memasuki cabin pesawat dan mendudukkan pantatnya di kursi penumpang, penerbangan di pagi hari selalu menjadi daya tarik tersendiri dimata Tifdany, ia bahkan dengan sengaja melakukan web chek in melalui aplikasi tiket milik ibunya dan memilih kursi terdekat dari jendela agar bisa memandang langit Tokyo di pagi hari.
Di sebelahnya seorang pria yang memakai masker berwarna hitam dan mengenakan topi tampak tertidur, atau mungkin menikmati music melalui earphonennya padahal pesawat belum tinggal landas.
Beberapa menit setelah pesawat tinggal landas dan lampu peringatan tanda sabuk pengaman telah di padamkan Tiffany mengambil pensil dan kertas sketsa yang selalu di bawanya.
Tangannya dengan gemulai menggambar langit Tokyo yang ia lihat dari jendela pesawat, ia mulai membuat sketsa langit yang berhiaskan awan awan putih.
Sedangkan pria di sampingnya adalah Jonathan, dengan bantuan Livia ibunya ia tau kemana Tiffany akan melanjutkan kuliah, sedangkan jam berapa gadis itu terbang ke London bahkan nomer kursi yang di pilih Tiffany, dengan mudah Jonathan bisa mengetahuinya,
Hana, ibunda Tiffany adalah pemilik aplikasi berbasis penjualan tiket pesawat, hotel dan kereta api yang bisa di akses di seluruh dunia. Dan aplikasi itu di buat oleh Naoki, konon itu sebagai hadiah tanda terima kasih Naoki kepada hana di masa lalu.
Sedangkan Jonathan, ia adalah orang yang bertindak memelihara dan mengembangkan pembaruan pembaruan pada aplikasi itu. Hanya melalui nomer ponsel Tiffany seluruh isi ponsel Tiffany bisa ia acak acak walaupun mereka berada di belahan bumi yang berbeda, namun Jonathan tidak melakukan hal tidak sopan seperti itu. Ia hanya perlu mengetahui penerbangan dan kursi yang di pilih Tiffany.
Jonathan menyeringai senang rencananya nanti di London Jonathan berniat membalas kekesalannya pada Tiffany yang begitu berani menolaknya, ia mengambil ponselnya dan mengambil foto Tiffany yang sedang membuat sketsa. Dari ekspressinya gadis itu tampak sangat menikmati setiap goresan pensil yang di hasiljan di atas kertas.
Tiffany menyesap kopinya, transit 9 jam di Doha benar benar membuatnya bosan, Beberapa buku yang ia bawa bahkan telah habis ia baca, ia mulai memasang earphonennya untuk mendengarkan musik dan membuka aplikasi manga di ponsel pintarnya dan mulai membaca manga
“jadi kau seorang otaku?” suara itu mengagetkannya, karena earphone yang terpasang di telinganya di lepas secara tiba tiba .
Refleks Tiffany menoleh dengan sedikit panik, namun ia segera merubah ekspresi paniknya dengan tatapan dingin khas Tiffany saat melihat siapa orang yang mengejutkannya, sebenarnya ia lebih terkejut karena mengetahui pria yang berada di sampingnya sepanjang pejalannya adalah Jonathan, ia mendadak merasa bodoh karena sama sekali tidak menyadari kehadiran pria sok tampan itu.
Tiffany mengatupkan bibirnya dengan erat dan melanjutkan membaca manga di ponselnya.
“di London nanti dengan siapa kau akan tinggal?” tanya Jonathan sambil menarik kursi di depan Tiffany
“ku rasa bukan urusanmu Joe” jawab Tiffany singkat
“apa salahku Tiffany? Sejak kecil kita tumbuh bersama, tapi sejak sekolah menengah atas sikapmu berubah padaku” tanya Jonathan serius, ia mengambil ponsel Tiffany dan memasukkan ke dalam saku jaketnya, mencabut kabel earphone yang menempel di ponsel gadis itu.
“sikapku biasa saja, seiring berjalannya waktu kita berkembang bukan lagi anak anak yang gemar bermain bersama, ku rasa itu wajar” jawab Tiffany dengan santai
Jonathan memandang wajah Tiffany, rambutnya kini di cat kecokelatan, matanya bulat, kulitnya putih, bibirnya tipis, dia tidak suka memakai poni seperti kebanyakan gadis gadis di jepang, gadis ini agak keras kepala sejak kecil, dan ia selalu serius dalam belajar, memang ia tampak lebih cantik sekarang setelah dewasa.
“apa alasanmu menolakku?” tanya Jonathan tiba tiba
“menolakmu? Kapan?” tanya Tiffany dengan sinis
“oooh jadi jadi kau menerimaku?” jawab Jonathan tak kala sinis.
‘bahkan jika semua pria dimuka bumi ini mati aku masih tetap tidak mau menjadi pacarmu’ cibir tiffany dalam hati
Tiffany tersenyum tipis sambil memandang Jonathan
“aku bukan gadis yang banyak memiliki waktu luang untuk mendengarkan bualanmu Joe”
“aku tidak membual padamu Tiffany”
“hahahhaha” Tiffany tertawa lepas ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya
“Joe, lebih baik kau simpan rayuanmu untuk para gadis di London nanti”
“satu satunya gadis yang ingin ku jadikan pacar adalah kau” jawab Jonathan serius
“tapi aku tidak ingin menjadi pacarmu Joe” jawab Tiffany datar
“suatu saat kau sendiri yang akan datang padaku meminta aku menjadi pacarmu, dan saat itu aku sudah tidak menginginkanmu lagi” kata Jonathan penuh percaya diri
“itu tidak mungkin Joe, jangan terlalu percaya diri” jawab Tiffany sinis
Tiffany merasa semakin muak dengan kata kata yang keluar dari bibir Jonathan, ia berdiri dan sambil mengulurkan tangannya
“ponselku!”
Dengan malas Jonathan mengeluarkan ponsel Tiffany dari sakunya dan mengulurkan pada Tifanny, pandangan mata Jonathan tidak lepas dari wajah Tiffany.
Dengan secepat kilat Tiffany menyambar ponselnya dan meninggalkan Jonathan. Gadis itu bahkan tidak peduli lagi dengan buku buku dan tumpukan kertas sketsa miliknya.
Jonathan mengemasi kertas kertas itu dan memasukkan ke dalam tasnya.
Hingga pesawat yang mereka tumpangi mendarat di London mereka terus bungkam tidak saling bicara lagi, setelah melalui imigrasi dan mengambil bagasinya Tiffany berjalan melalui Jonathan dengan acuh.
Gadis itu menghampiri seorang pria bermata biru, tubuhnya tinggi, hidungnya mancung. Dan pria itu langsung memeluknya, mereka bahkan berbicara dengan bahasa mandarin. Membiarkan Jonathan mematung melihat keakraban mereka lalu pergi meninggalkan Jonathan begitu saja, ada gejolak amarah di dada Jonathan saat melihat seorang pria menjemput Tiffany, apalagi pria itu memeluk gadis yang ia incar untuk menjadi calon pacar pertamanya.
Ingin rasanya ia menghancurkan wajah pria bermata biru itu, namun dari postur tubuh dan wajahnya, jelas Jonathan bukan tandingan pria yang tampak terlihat lebih tua beberapa tahun darinya.
Jonathan mendengus kesal!!!
5 menit kemudian Derren muncul untuk menjemput Jonathan.
“ada apa dengan wajahmu? kau sepertinya sedang dalam mood buruk” kata Derren sambil mengemudikan mobil
“Tiffany benar benar sialan” jawab Jonathan setengah berguman
“Tiffany?” jawab Derren bingung
“aku memintanya menjadi pacarku, tapi ia menolakku dua kali”
Derren tersenyum tipis
“Apa kau kehilangan akal?” kata Derren
“aku serius kepadanya”
“kau masih anak anak”
“aku seorang mahasiswa sekarang, aku memiliki pekerjaan, memiliki perusahaan dan kau tau berapa jumlah aplikasi yang berada dalam genggamanku?”
__ADS_1
“ku rasa kau harus mendekatinya dengan cara lain”
“bagaimana? Katakan”
“kau bertanya padaku? kau benar benar bodoh” kata Derren dengan nada malas, bertanya pada orang yang tidak pernah memiliki pengalaman cinta? Konyol sekali
Kakak beradik itu kemudian terdiam dalam pikiran masing masing.
Sesampainya di apartemen Jonathan terheran heran karena ternyata Olivia tidak berada di sana,
“jadi kalian benar benar tidak bisa tinggal bersama? Kau selalu menggodanya dan membuatnya marah” kata Jonathan langsung dengan nada tidak suka.
Derren hanya diam, ia duduk sambil memainkan layar ponselnya.
“panggil dia ke sini” kata Derren pada adiknya, ia menyadari sepenuhnya jika dirinya yang memanggil Olivia pasti gadis itu tidak akan datang namun jika Jonathan yang memintanya gadis itu pasti akan datang dengan segera.
Dan benar saja tidak menunggu lama Olivia dan Jonathan mereka berdua telah bercengkerama akrab sambil Olivia membantu Jonathan memindahkan barang barangnya dari koper ke lemari dikamar Jonathan.
Dan mereka juga mulai saling memaki sambil memainkan game online , sesekali mereka tertawa lepas.
“Joe kau curang, lihat aku akan membalasmu”
“kau bukan tandinganku, kau bahkan tidak bisa menang melawan Kenzo” ejek Jonathan
“hahahha, kita lihat saja nanti aku sedang memiliki banyak waktu untuk bermain game”
“kau menyia nyiakan libur semestermu, mengapa tidak pulang ke Indonesia?”
“papi dan mami kadang datang bergantian untuk menjengukku, jadi aku tidak perlu pulang ke Indonesia” jawab Olivia santai
“kau benar benar dimanjakan”
“aku satu satunya putri mereka, tentu saja aku dimanjakan”
“kenapa kau tidak mau tinggal disini Olivia?”
“kakakmu selalu menggangguku, aku tidak tahan dengan semua sikap buruknya padaku”
“sekarang ada aku disini, dia tidak akan bersni mengganggumu”
“aku merasa lebih nyaman tinggal di asrama”
“Aku akan kesepian, kau tau Derren itu tidak suka bermain game, disni aku tidak memiliki teman bermain game” rengek Jonathan mencari cari alasan agar Olivia mau tinggal bersamanya dan Derren.
“aku akan mengunjungimu nanti agar kau tidak bosan”
“tinggallah disini”
“tidak bisa Joe”
“setiap week end saja, bagaimana?” bujuk Jonathan
“Baiklah lihat saja nanti” kata Olivia sambil meletakkan ponselnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Jonathan “Joe selama liburan ini aku menggantikan seseorang yang sedang kembali ke negaranya”
“sudah 3 minggu, oooh aku lelah sekali” keluh Olivia
“aku yakin kau sering membuat kekacauan”
“ya awalnya aku gugup, tapi tidak sekarang aku cukup ahli”
“apa pekerjaanmu?”
“hanya menyanyi di sebuah cafe, aku harus banyak menghafal lagu, otakku terasa di peras” keluhnya “kupikir menyanyi itu hal yang mudah, ternyata tidak semudah yang terbayangkan olehku”
“dan sekarang kau tau susahnya mencari uang bukan?”
“ya, aku ingin tidur sebentar” kata Olivia memejamkan matanya dan tidak lama matanya terpejam.
Di kamarnya Derren sedang duduk dengan nyaman di sofa di depan jendela membaca bukunya, ia hanya menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari pintu, kemudian melanjutkan membaca bukunya.
Jonathan merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik kakaknya
“tidurlah di kamarmu” kata Derren tidak senang
“Olivia tidur di ranjangku, apa aku harus tidur dengannya?” tanya Jonathan malas
“kenapa Olivia tidak tidur di kamarnya?”
“entahlah”
Derren melanjutkan membaca bukunya sementara Jonathan memejamkan matanya.
Setelah beberapa saat Derren menutup bukunya, melirik Jonathan yang telah tertidur pulas kemudian Derren pergi ke kamar Jonathan, ia memandangi wajah Olivia, tangannya reflex hendak membelai pipi mulus sepupunya, ia merasakan sangat merindukan Olivia.
Namun niat untuk menyentuh kulit wajah gadis itu ia urungkan, Derren menarik tangannya, matanya beralih ketubuh ke Olivia yang terbaring, dadanya berukuran sedang dengan perut yang ramping, jujur naluri pria Derren bangkit setiap kali Olivia berada di sekitarnya. Derren lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Ia juga mengatur suhu ruangan agar Olivia merasa nyaman.
Dua jam kemudian Olivia terbangun karena suara dering panggilan ponselnya, gadis itu menjawab panggilan dan mengecek waktu di ponselnya, ternyata itu sudah hampir jam 8 malam.
Ia bergegas membuang selimutnya dan turun dari atas ranjang, lalu menyambar tasnya dan berlari menuju pintu.
Ketika ia hendak membuka gagang pintu Derren menghampirinya dan bertanya dengan nada dingin
“mau kemana ? Ini sudah malam”
“aku harus bekerja”
“bekerja?”
“iya...” kata Olivia sambil menarik gagang pintu namun Derren menarik pergelangan tangan Olivia
“pekerjaan apa yang di lakukan tengah malam?”
__ADS_1
“aku tidak melakukan hal buruk”
“pekerjaan apa?"
“aku tidak melakukan pekerjaan yang melanggar hukum”
“pekerjaan apa?” Derren mengulang pertanyaannya
Olivia diam, ia takut pada Derren yang bertanya dengan nada mengintimidasi seolah ia melakukan dosa besar.
“ooliviiiaaa” panggil Derren dengan nada rendah, panjang dan dingin.
“aku hanya bernyanyi di sebuah live music cafe, hanya sampai jam 12 malam”
“apa kau benar benar memerlukan uang?”
“bukan begitu”
“berapa kau perlu uang?” tanya Derren lagi dengan nada Emosi
“Derren aku hanya bernyanyi”
“kenapa kau melanjutkan study untuk menjadi seorang dokter kalau kau lebih ingin menjadi seorang penyanyi?”
“oh ayolah Derren, aku hanya bernyanyi” Olivia mulai kesal
“baiklah aku akan mengatakan pada papi, kau lebih memilih bernyanyi dibanding belajar”
Derren meraih ponsel yang berada di saku celanya
“Derren jangan lakukan, ku mohon” Livia tentu saja takut atahnya akan memarahinya.
“berhenti bekerja, jika kau ingin bernyanyi kita bisa pergi ke tempat karoke, hanya bersamaku! tidak ada asap rokok di sana”
“tapi.... aku telah berjanji untuk menggantikan temanku dalam satu bulan” ia telah berjanji pada Theo untuk menggantikan penyanyi di Cafe karena penyanyi di Cafe milik Theo sedang pulang ke negara asalnya.
“pilihan ada padamu olivia”
“ini hanya tinggal 1 minggu lagi Derren ku mohon, temanku akan marah jika aku berhenti mendadak”
Derren memandang wajah Olivia, tampak berpikir sebentar.
“baiklah, tapi ada syaratnya”
“apa itu?” Olivia bertanya dengan nada ragu ragu, ia takin Derren memiliki niat jahat.
“kau harus ikut aturanku”
“kau selalu saja begitu” gerutu Olivia, 'tebakanku benar kan?' jeritnya dalam hati
“aku akan merahasiakan pada papi namun selama itu kau harus ku antar jemput, dan tinggal disini”
“baiklah, hanya satu minggu”
“tinggal di sini seterusnya” kata Derren tegas
“baiklah, baiklah” Olivia menyerah untuk saat ini.
“besok kemasi barang barang mu di asrama”
Olivia tidak menjawab, ia enggan membantah perkataan Derren, ia tentu saja telah memiliki rencana pemberontakan di otaknya.
Setelah mengganti pakaian Olivia memberitahu Derren di mana Cafe ia bernyanyi, karena kebetulan hari itu ia membawa sepeda motor milik Theo.
Olivia berpikir kalau Derren hanya mengikutinya saja untuk mengecek tempatnya bekerja sementara, namun ternyata sepupunya dengan sabar menunggu hingga Olivia selesai bernyanyi, dan itu berlanjut hingga satu minggu dan pekerjaan Olivia selesai, sepupunya bertindak sebagai sopir dan pengawasnya.
“Derren karena ini adalah gaji pertamaku maka aku akan mentraktirmu makan” kata Olivia sambil mengibaskan uang hasil pertama ia bekerja tepat di depan wajah Derren.
“baiklah, ayo habiskan gaji pertamamu” Derren menyeringai
“Enak saja, aku hanya akan mentraktirmu makan sepotong cake” kekeh Olivia
“kau benar benar pelit”
Derren melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang berada di sebuah hotel mewah karena waktu telah menunjukkan tengah malam.
“Derren kau akan memerasku?” keluh Olivia “ayo cari tempat lain”
“aku mau disini” kata Derren
“uangku tidak cukup!”
Derren tersenyum licik, ia sama sekali tidak peduli, ia benar benar menghabiskan gaji pertama Olivia.
“Derren kau benar benar penjahat, bajingan, licik!!!” umpat Olivia tanpa ampun, ia kembali di buat mabuk!!!
Yang gak sabar kapan mereka mulai jadian, siap siap 😄😍😅
**TAP JEMPOLNYA JANGAN LUPA!!!!
KALIAN TEAM DERREN - OLIVIA ?
APA TEAM JONATHAN - TIFFANY ?
ATAU TEAM DERREN DENGAN CEWEK LAIN?
ATAU TEAM JONATHAN - OLIVIA?
JAWAB DIKOMEN
__ADS_1
👇👇👇👇👇👇😍😍😍😍**