Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
25


__ADS_3

Di perjalanan menuju kyoto tangan livia di genggam erat oleh andrew, livia telah melakukan perjalanan dari tokyo menuju kyoto puluhan kali, namun hari ini semua berbeda, beberapa hari yang lalu ia menjadi wanita menyedihkan bersama hana menuju kyoto, hari ini ia kembali ke kyoto bersama orang yang membuat hatinya terbang dan turun naik seperti naik roller coaster namun ia meninggalkan tokyo dengan menanam luka pada naoki yang telah begitu baik padanya, kebahagiaan yang seharusnya melambungkan hatinya sepertinya kini menjadi tidak berarti, hati kecil livia ingin berada di sisi naoki me emaninya di masa sulit pria itu tapi sekarang ia harus berada di sisi andrew untuk membayar semua perbuatannya.


“sayang, apa kamu lelah?” tanya andrew saat melihat livia termenung


“aku cuma lagi mikir...” kata livia pelan


“mikirin apa?”


“gak nyangka aja sama semua ini” kata livia, ia menyembunyikan pikiran sedihnya tentang naoki.


“aku juga gak nyangka, akhirnya pengejaran panjangku membuahkan calon bayi”


“apaan sih, itu sih pembuahan” jawab livia kesal karna andrew terus saja bercanda “kemarin kamu bilang ngejar aku 4 kali, kapan kamu ngejar 4 kali?” tanya livia penasaran


“penasaran?”


“gak juga sih cuma mau memastikan”


“bilang aja penasaran”


Livia meemalingkan wajahnya malas, andre meraih dagu livia dengan hati hati hati


“hadap sini, aku ceritain story ngejar gadis cengeng yang bikin aku hampir gila”


Livia mencubit lengan andrew pelan


“tapi nanti malam dapat jatah yaaaaa” rengek andrew


“gak usah aja cerita aku dah gak penasaran” potong livia benar benar malas “drew besok kita foto prewed yah pakai kimono di fushimi inari, ama di bamboo forest” kata livia tiba tiba


“baik tuan putri, terus apa lagi?”


“terus kita bulan madu kemana drew?”


“kamu maunya kemana?”


“gak tau, kalo ke new zeland gimana?”


“mau lihat sapi?” tanya andrew


“mau lihat pinguin kali, masa sapi” jawab livia kesal


“iya iyaaaaa, tapi gimanna perut kamu nanti di perjalanaan?”


“ini gara gara kamu sih drew, aku jadi hamil”


“kok gara gara aku?”


“kamu keluarin di dalem terus kenapa gak pake kondom harusnya pakai KONDOM?”


“tapi enak kan, kamu aja sampe merem melek” bisik andre vulgar


Livia memukul lengan andrew dan cemberut


Karena kelelahan sesampainya di apartemen livia langsung tertidur pulas, ia bahkan tidak memperdulikan makan malamnya, ia baru terbangun jam 1 malam dan mulai merengek membangunkan andrew mengeluh kelaparan.


Andrew bangun dan tengah malam memasuki dapur untuk membuatkan livia makanan, livia makan dengan lahap sup ayam yang di buatkan andrew, ia bahkan menambah nasi dan sup nya beberapa kali, andrew tersenyum melihat porsi makan calon istrinya yang mengerikan, ia mulai membayangkan tubuh livia yang akan jadi gemuk selama hamil, pasti akan menggemaskan.

__ADS_1


Setelah kenyang livia menggosok giginya kemudian bergegas masuk ke dalam selimutnya kembali, ia memejamkan matanya, namun andrew mulai meraba raba bagian dadanya,


“drew jangan, tunggu nanti pas udah resmi aja” tolak livia


“Cuma pegang dikit sayang, ini jadi membesar, nih kan besar banget sekarang, kenceng banget lagi enak di pegang” kata andrew mencakupkan telapak tangannya ke buah dada livia.


“owh jadi dulu kendor dan gak enak di pegang?!” livia menjauhkan tangan andrew dengan kesal


“duh gitu aja marah, ibu hamil” goda andrew sambil mencubit pipi livia “dulu juga kenceng, enak di pegang, sexy, cuma sekarang rasanya beda, lebih besar, lebih kenyal” kata andrew mulai meraba lagi buah dada livia


“masa sih?” livia ikut meraba buah dadanya sendiri


“iyaaaaa” bisik andrew dan mulai mengecup bibir istrinya, livia tidak menolak, ia membalas kecupan itu dan kecupan itu perlahan berubah menjadi lumatan lumatan yang memabukkan, lidah mereka saling membelit, nafas mereka mulai terengah engah


“aaahhhhhhhh” erang livia di sela sela ciuman mefeka, ia mrasakan nikmat yang menjalar karena andre meremas buah dadanya hang telah menegang tegak menantang.


Ketika andrew hendak menurunkan tali gaun tidurnya livia menahannya “gak boleh ya drew, nanti aja kalo dah nikah” kata livia


tegas


“sekali aja” kata andrew


“ceritain dulu pengejaran 4 kali baru di kasih” kata livia bernegosiasi


“oke tuan putri” kata andrew bersemangat kemudian ia menceritakan “pertama, aku ketemu kamu setelah itu aku nyari kamu tiap malam selama 6 bulan di club” kata andrew


“ooooo” hanya itu tanggapan livia, ia sama sekali tidak terkesan di luar dugaan tanggapan livia biasa saja.


“trus 11 hari di kyoto ngejar kamu” kata andrew


“di kyoto kamu gak kejar aku drew kita tiap hari bareng bareng” kata livia gak terima


“trus aku ngejar kamu ke jogja”


Livia hanya diam


“livia dengerin aku kan?”


“hhmmmmmm” guman livia terdengar pelan


“trus ngejar kamu lagi ke kyoto buat lamar kamu, akhirnya aku dapetin kamu juga” kata andrew sambil merangkak di atas tubuh livia namun andrew mendapati mata livia telah terpejam dan nafasnya perlahan melemah, menandakan ia telah tertidur, andre dengan kesal kembali berbaring di samping tubuh livia dan memeluk tubuh calon istrinya yang telah menipunya.


Gadis ini benar benar menggemaskan, pantas saja naoki begitu menyayangi livia batin andrew, segala tingkah lakunya membuat andrew tidak bisa memalingkan mata darinya, mungkin andrew tidak akan bisa sebaik naoki merawat livia, andrew bahkan bisa melihat cinta dan kasih sayang yang sangat besar dari mata naoki.


Dua hari sebelum acara pernikahan livia dan andrew mereka mengadakan beberapa foto preweding sesuai impian livia, mengenakan kimono dengan background daun daun maple yang menyala di yoshimenadera, lalu pergi ke fushimi inari dan bamboo forest, namun faktanya bukan seperti livia dan andrew yang melakukan preweding tapi lebih tepatnya yudha dan livia yang tampak seperti akan menikah. Karena mereka berdua jauh lebih repot dengan pose pose mereka.


Hanya beberapa bidikan yang di ambil untuk livia dan andrew, sedangkan sisanya bersama yudha dan beberapa kali bersama danu, Andrew sebenarnya agak kesal dengan tingkah livia yang mengabaikannya setiapa kali yudha dan livia bersama apalagi jika livia telah menempel pada danu, seolah olah dunia ini hanya ada livia dan danu, andrew bahkan tak di lihatnya sama sekali.


Selesai melakukan sesi foto mereka berlima, livia, gendis, danu, andrew dan yudha mereka berkumpul di apartemen yang di tinggali livia dan andrew untuk memilih foto foto terbaik mereka.


Andrew mengoprasikan macboocknya


“mas yang ini bagus deh, coba lihat livi imut banget kan?” kata livia dengan tingkah manjanya pada yudha


“imut apa? lihat pipi kamu deh livi mulai tembem, ntar lama lama hidung kamu bakal ketutup pipi tuh” jawab yudha yang mulai menjajah adiknya, ia tidak tahan untuk tidak menjajah livia adiknya.


“iih mas yudha apaan sih? livi tuh gak gemuk ya baru naik 3 kilo” elak livia “nah, aku mau foto ini drew, yang ini” tunjuk livia memerintah andrew sambil menunjuk fotonya dan yudha, ia sama sekali tidak tertarik dengan foto andrew dan livia

__ADS_1


Andrew dengan patuh menyalin foto itu.


“sama yang ini drew salin” tunjuknya pada fotonya dan danu “terus yang ini juga” lanjutnya menujuk foto di mana ia berada di tengah tengah antara danu dan yudha


Andrew menyalinnya kembali tanpa berkata apapun, wajahnya tampak gelap dengan keacuhan livia pada andrew


Danu dan gendis yang berada di antara mereka hanya tersenyum melihat wajah andrew yang tampak kesal


“foto sama andrew gak sekalian di pilih livi?” tanya danu mencoba mencairkan suasana


“andrew aja yang pilih, foto foto sama andrew kan bagus semua, gak kaya sama mas yudha gak ada yang bener” kata livia enteng, andrew tersenyum senang pada akhirnya


“sok kecakepan” ejek yudha


“emang cakep dari sananya” bela livia


“gembrot” ejek yudha sambil mencolek pipi livia


Livia berdiri dan berkacak pinggang di depan yudha yang masih duduk, “bilang gembrot lagi” perintah livia sambil melotot


“gembrot kaya gajah” ejek yudha


“livi sumpahin ya mas yudha gak laku” balas livia sambil melotot


“enggak mempan” jawab yudha menjulurkan lidahnya


Andrew hanya terdiam mendengarkan ocehan keduanya, ia merasa iri. Livia tidak sedekat itu dengannya, ia bahkan belum tau sifat livia yang ternyata sangat berisik seperti ini.


Livia menendang kaki yudha karena kesal tidak bisa menang mengejek yudha, yudha bangkit dan berkacak pinggang di depan livia, sekarang dua saudara kembar itu sedang saling berkacak pinggang sambil beradu mulut dan saling mencela aib masa kecil mereka.


“mas danuuuuuuuuu” teriak livia manja


“apaan sih livi kamu kalah pasti panggil mas danuuuuu” kata yudha menirukan cara livia memanggil danu dengan centilnya


“gak gitu banget ya livi manggil mas danunya” bela livia


“mas danuuuuuu” ejek yudha memanggil danu dengan gaya livia


“yudha sudah” kata danu singkat


“mas danuuuu yudha nih mas gak mau ngalah sama adiknya” keluh livia


“livi udah” kata danu


“tuh kan mas danu belain mas yudha sekarang” keluh livia


“livi sini duduk” kata danu menepuk sofa di saamping danu


“udah mau jadi pengantin jangan lebay deh livi kaya anak tk” yudha menghempaskan bokongnya kembali di sofa


Livia dengan patuh duduk di sebelah danu dan memeluk erat lengan kakaknya menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya tidak memperdulikan keberadaan gendis, bagi gendis hal seperti itu sudah biasa ia hadapi, livia tidak pernah menganggapnya ada, livia memang tak menyukai kehadiran dirinya gendis sejak awal menyadari itu walaupun livia tak pernah mengucapkan apa apa, livia hanya menganggap keberadaan gendis seperti angin.


Andrew telah menyelesaikan memilih dan menyalin semua foto foto mereka, hanya tinggal memberikkan sedikit sentuhan mengedit dan memberi watermark, yudha menawarkan bantuannya, jadi andrew menyerahkan laptopnya pada yudha.


Andrew melirik tingkah livia yang bergelayut manja pada danu, sekilas melihat tingkah livia pada danu, ia ingat cara livia berbicara pada naoki.


Andrew memang hanya bertemu naoki dua kali namun dari cara naoki memperlakukan livia tampak jelas tak jauh berbeda dengan cara danu memanjakan livia, caranya berbicara, kelembutannya, dan andrew sekarang mengerti, mengapa livia begitu nyaman bertahan bersama naoki meskipun tanpa cinta, tanpa cinta? Benarkah? livia tidak pernah mengatakan tidak mencintai naoki seingat andrew.

__ADS_1


Tiba tiba ia merasa cemburu pada danu dan khawatir pada perasan livia sesungguhnya pada naoki.


__ADS_2