
Livia dan hana bangun ketika hari sudah menjunjukkan pukul 11 siang
“livia” kata hana pelan
“hhhmmmmm” jawab livia malas, ia benar benar malas hingga tak ingin lagi melihat dunia
“siapa ayah dari anak yang kamu kandung?” tanya hana tanpa basa basi, ia tidak mampu lagi menahan rasa ingin taunya yang telah ia pendam semalaman walaupun ia menduga 90% itu adalah anak livia dan andrew
“andrew” guman livia
“sudah ku duga, jadi kapan kamu mau kasih tau dia?”
“never, ia udah mencampakkan aku, aku akan membesarkan sendiri meskipun tanpa andrew maupun naoki, uang tabunganku cukup kok buat biaya selama aku hamil dan persalinan, setelah itu aku cari kerja balik indonesia” jawab livia
“harus ada pria yang nikahinmu, kamu gila livia? gimana kau menyembunyikan ini dari keluarga kamu nanti?” tanya hana
“aku aja kasih tau mereka setelah aku melahirkan, biarkan aku memikirkannya dulu” kata livia sambil duduk dan mukai mencubit batang hidung di antara kedua matanya
“yang terpenting kita harus pergi dari apartemen ini, terlalu berbahaya disini, keluarga naoki tidak bisa kau anggap remeh” hana mengingatkan livia “sementara kau tinggal di apartemenku, memang tak terlalu besar dan mewah seperti apartemenmu tapi yang terpenting kamu aman” lanjutnya
“hanaaaa, untungnya aku memilikimu, beneran aku gak tau harus gimana kalau kamu kamu gak ada” livia mulai menangis kembali
“stop drama menangis, anakmu bakal sedih punya ibu cengeng yang taunya cuma menangis” keluh hana
“gimana caranya aku balas kebaikan kamu hana?” isak livia yang benar benar terharu
“cukup rawat keponakanku menjadi keponakan yang kawaii, oke?” kata hana sambil memeluk livia
“hana terima kasih”
“doushimasta” jawab hana
*sama sama
Setelah memakan sarapan mereka mulai mengepak barang barang livia memasukkan ke dalam koper, dan meninggalkan apartemen livia.
Malamnya hana memeras otaknya menemukan solusi untuk permasalahan livia, cinta memang perlu pengorbanan, salah satu dari naoki atau andrew harus ada yang rela berkorban pikir hana kumudian mengambil ponsel livia saat sahabatnya tertidur dan membuka kode aksesnya dengan menggunakan sidik jari livia, ia mencari kontak andrew dan hanya menemukan sebuah nomer dengan tulisan om andre jogja namun ia curiga kenapa nomer itu masuk daftar blokir? penuh keraguan ia mencatat nomer itu
Dan memanggilnya.....
Tidak ada jawaban, hanya operator yang meenjawab
Hana mengulanginya beberapa kali namun masih nihil
Akhirnya hana mengirim pesan bersama doa doa yang ia panjatkan
Sudah satu minggu berlalu livia tinggal bersama hana, ia menjalani hari seperti biasa, untungnya ia sama sekali tidak mengalami kehamilan yang sulit, nafsu makannya meningkat drastis.
Setiap hari naoki seperti biasa mengunjungi livia, naoki juga mendampingi livia untuk memeriksakan kandungannya, ia benar benar merawat livia dan calon bayi livia seperti darah dagingnya sendiri.
Ia bahkan tak perduli dengan pernikahannya yang tinggal menghitung hari, ia memilih tinggal di perusahaannya. Beberapa kali ibunya datang membujuknya untuk kembali namun naoki tidak menghiraukannya,
“naoki, aku harus pergi ke kyoto untuk beberapa hari ada masalah yang harus ku tangani, kurasa aku tidak bisa meninggalkan livia di sini meskipun setiap hari kau mengunjunginya” ujar hana
__ADS_1
“kau tidak bisa membawanya aku takut ia kelelahan di kereta”
“dia baik baik saja bahkan ia telah hamil ketika kalian pergi ke sidney bukan?” hana tampak ingin sekali membawa livia pergi ke kyoto “lagi pula beberapa hari lagi kau akan menikah, aku tidak ingin ia di sini meratapi pernikahanmu sendirian, setidaknya ia bersamaku di kyoto” hana berusaha meyakinkan naoki
“baiklah hana, tolong jaga dia” kata naoki setelah beberapa saat merenungkan kata kata hana “jadi kapan kalian akan berangkat?” tanya naoki
“besok pagi”
“secepat itu?”
Naoki berpikir sebentar
“baiklah” naoki kemudian memanggil sekretarisnya yang segera datang menuju apartemen hana dan menyerahkan sebuah tas kerja pada naoki.
Naoki mengeluarkan selembar cek ia menuliskan angka di atas cek itu 10.000.000 yen
“livia, pegang ini dulu, jika sesuatu terjadi padaku kau bisa mengandalkan cek ini untuk bebrapa waktu” kata naoki mengulurkan cek dan satu ikat uang pecahan 10.000 yen pada livia
“naoki kau terlalu berlebihan” kata livia “tidak naoki aku tidak bisa menerima itu terlalu banyak” tolak livia
“kemarilah” naoki menepuk pahanya menginstruksikan livia untuk duduk di pangkuannya
“apa kau mau membuangku dengan memberikanku uang sebanyak itu untuk pergi ke kyoto?” tanya livia mulai mulai terisak
“apa menurutmu aku pria jahat seperti itu?” tanya naoki “perusahaan baruku berkembang sangat pesat dan ketika aku ke sidney aku mendapatkan kontrak yang bernilai ratusan juta dolar, kau mendampingiku selama di sana anggap saja aku berterima kasih padamu karna kau dewi keberuntunganku” lanjutnya sambil mengelus pipi lembut livia
“naoki kau terlalu baik padaku, aku wanita jahat” livia menyembunyikan wajahnya di dada naoki, naoki mendekap gadis itu dengan penuh kasih sayang
“mulai sekarang jadilah gadis baik, jangan keras kepala, jaga dirimu baik baik sementara aku akan membereskan masalahku di sini, jika semua telah selesai aku akan menjemputmu di kyoto, kemudian kita akan menikah” kata naoki
“kau tau livia, meskipun tidak ada kau di antara aku dan nanami tunanganku, aku tidak akan menikahinya, aku akan menikahi gadis yang ku mau bukan gadis yang di sukai orang tua ku “ naoki berhenti sebentar “biarkan aku memelukmu sebentar lagi”
“ingat jaga dirimu dan calon anak kita dengan baik, aku akan segera menikahimu” bisik naoki
“benarkah?”
“yakusaku suru”
*aku berjanji
Livia membalas pelukan naoki, bahkan mereka sempat berciumn dengan penuh kelembutan untuk beberapa saat, livia sebenarnya enggan berpisah dengan naoki, ia tidak rela naoki menikahi gadis lain, namun ia sadar ia bukan wanita yang pantas untuk bersama naoki.
Hatinya sangat perih saat meninggalkan tokyo, kali ini ia meninggalkan tokyo untuk melepaskan naoki menikahi gadis lain.
6 hari telah berlalu, mereka tinggal di kyoto, di sebuah apartemen yang cukup mewah yang di sewa hana, dan hana hanya makan tidur dan pergi berjalan jalan dengan livia, livia mulai curiga karena sahabatnya sama sekali tidak pergi dari sisinya.
“hana kayanya kamu gak ada urusan apa apa deh di kyoto kita balik aja ke tokyo gimana? ini udah mau seminggu yah kamu gak ada ngurusin kerjaan kamu cuma membuntutin aku cari makanan” tanya livia ketikka mereka duduk di sebuah kedai ramen
“trus kenapa? Sekarang aku mending jadi pengawal kamu deh, wanita hamil yang banyak uang” kata hana sambil terkekeh
“wanita hamil yang menyedihkan” sahut livia sambil tertawa getir
“aku gak sabar pengen lihat bayi kamu, pasti cengeng kaya kamu” hana tertawa mengejek livia
__ADS_1
“kayanya galak deh, aku ngidam pedes soalnya” kata livia sambil menaburkan bubuk cabe yang di bawanya sendiri ke dalam kuah ramennya dan menyendok kuah tersebut memasukkan ke dalam mulutnya
“apa hubungan pedes sama sifat bayi?” hana mengambil menyendok kuah ramen livia dengan sendoknya dan merasakan kuah ramen livia yang di bilang pedas
“ya tuhan livia, ini gak ada pedes pedesnya” ujar hana “kamu itu ya makan indomie pake bubuk cabe aja udah beler” ejek hana
“hana aku jadi pengen makan sambel terasi”
“kita cari restoran indonesia aja, jangan bilang kamu mau masak dapur kita bisa kebakaran”
“oh iya kata naoki hari ini mobil ku datang katanya biar kita gak repot kemana mana naik bus di sini”
“beli lagi?” tanya hana
“enggak, masih audi A6 hadiah ulang tahunku tahun kemarin, masih bagus kok”
“bukan masih bagus itu, tapi kebangetan” kekeh hana “liv malam ini temenin aku ke acara ulang tahun temanku yah”
“kamu gak punya pasangan sampe minta temanin wanita hamil buat datang kepesta ulang tahun? Trus gege yang kemarin mana?”
“ada kok, nanti dia nyusul”
“tuh udah sama dia ngapain sama aku juga?”
“pokoknya ikut, kita belanja baju dulu yang bagus, aku bayarin kamu bajunya”
“aku males beli baju aku mulai gendut” pekik livia sambil memeluk bahunya
Hana tidak memperdulikan livia, ia menyeret livia mendatangi isetan mall dan membawanya ke counter counter merek terkenal untuk memilih baju, ia terus memaksa livia untuk membeli sebuah dress midi putih yang sangat pas di badannya, ia juga memilihkan beberapa coat edisi terbaru karena musim dingin akan segera datang, livia dengan kesal menerima semua yang dipilihkan hana untuknya,
“hana uangmu akan habis” livia merasa tidak nyaman
“tenang saja, aku baru saja mendapatkan uang dari tuan kaya raya” jawab hana santai sambil membayar semua barang yang mereka beli di kasir.
“kapan? Bukannya kamu nempel terus sama aku kaya lem bulu mata” livia masih curiga
“di sini” kata hana sambil menunjukkan ponselnya
“kamu nipu orang?” tanya livia polos
Hana hanya terkekeh
“thief.... ” pekik livia
“livia sssttttttt” hana meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya
“jadi beneran?” livia membelalakkan matanya
“enggak lah Cuma menjual kata kata aja sama tuan kaya, udah ah ayo pulang” kata hana menyeret livia untuk kembali ke apartemen mereka.
Livia mengeratkan jaketnya ke tubuhnya karena dingin padahal ini baru pertengahan musim gugur, namun udara lebih dingin di banding tahun sebelumnya.
'andai ke kyoto bareng naoki seoerti tahun tahun sebelumnya' batin livia
__ADS_1
Livia melangkahkan kakinya mengikuti hana yang tampak selalu bersemangat selama di kyoto, livia mengira sahabatnya sedang jatuh cinta.