
Sesampainya di lobi apartemen seikat bunga mawar telah di titipkan untuk Olivia, gadis itu mengerutkan keningnya dan kembali menolak bunga itu karena bunga mawar itu di kirim oleh orang yang tak menyebutkan identitasnya.
“jadi kau memiliki seorang fans terselubung?” tanya Derren penuh ketidak sukaan
Olivia hanya tertawa kecil sambil membongkar hasil buruan mereka dari pasar, Jonathan bahkan ikut serta membantu.
“Olivia, kita tidak perlu lagi belanja sayur selama satu bulan, dan aku yakin ini kita akan bosan terlalu banyak makan sayur” keluh Jonathan
“coba kau ajak Tiffany ke borough market, aku yakin ia juga akan kalap membeli sayuran segar!” Olivia tidak terima ia di salahkan.
Mereka bertiga kemudian memasak dan saling bantu membantu, setelah makan malam Derren segera pergi ke rumah sakit untuk melaksanakan tugasnya.
“siapa yang selalu mengirimimu bunga?” tanya Jonathan sambil mengeringkan palat alat makan yang di cuci Olivia
“aku tidak tau Joe” jawab Olivia
“dan tadi siang penjaga mengatakan seorang gadis mencari Derren”
“siapa lagi jika bukan Merry” kata Olivia yakin
“entah hanya perasaanku tapi gadis itu mempunyai banyak trik” kata Jonathan
“tidak baik berprasangka buruk” kata Olivia
“kau sekarang bukan seperti Olivia yang manja, kau sangat matang dan dewasa” hari ini kedua Kalinya Olivia mendengar orang yang mengatakan hal serupa padanya
“Joe, sekarang kedua orang tuaku telah tiada, aku harus mandiri” kata Olivia sambil matanya menerawang
“kau bisa mengandalkanku Olivia” Jonathan berkata dengan nada meyakinkan dan tulus
“Joe, terima kasih” air mata Olivia tiba tiba tergelincir “aku merindukan papi dan mami”
“maaf Olivia” Jonathan merasa tidak nyaman membuat Olivia menangis karena teringat kedua orang tuanya.
“tidak apa apa Joe, selama ini aku selalu menghindari hal hal yang mengingatkanku pada mereka” kata Olivia sambil memejamkan matanya, membiarkan bulir bulir air matanya semakin deras mengalir.
Jonathan merengkuh bahu Olivia, membawanya duduk di sofa. bagi Jonathan, Olivia bukan sekedar saudara sepupu. Meskipun usia Olivia lebih tua darinya tapi Jonathan selalu memperlakukan Olivia sebagai adiknya.
“siapa pun yang menyakitimu, aku tidak akan tinggal diam, jangan ragu ceritakan semua masalahmu padaku, aku pasti akan membantumu Olivia” katanya sambil memeluk Olivia.
Olivia semakin terisak mendengar perkataan Jonathan, Jonathan membeiarkan Olivia menangis untuk beberapa saat hingga puas.
“sudah malam, kau lebih baik tidur, matamu akan bengkak jika kau terus menangis”
Olivia mengangguk dan menyeka air mata yang memenuhi kelopak matanya dengan tisu.
Paginya Olivia dan Jonathan baru saja keluar dari lift, ternyata Merry sedang duduk dengan manis di lobi.
“Joe.... selamat pagi, hei Olivia” panggilnya dengan nada akrab
Olivia dan Jonathan saling berpandangan sesaat
“selamat pagi” sapa Jonathan dan Olivia sedikit bingung
“Joe apa kakakmu sudah kembali?” tanya Merry
“belum” jawab Jonathan sedikit malas, Jonathan adalah pria bermulut manis namun di depan Merry ia sama sekeli tidak bisa melakukan itu, entah kenapa ia sama sekali tidak tertarik pada Merry walaupun untuk berpura pura.
“kalau begitu aku akan menunggunya”
“selamat menunggu” kata Jonathan sambil tersenyum “ayo Olivia”
“Merry kami pergi dulu” kata Olivia setenang mungkin, batinnya ingin sekali menyeret gadis itu agar tidak menunggu Derren.
Jonathan tidak segera menginjak pedal gasnya ia memanggil Derren
“kau pulanglah ke apartemenmu, istirahat di sana, ada nyamuk pengganggu menunggumu di lobi”
Olivia mengerutkan kening, jadi Jonathan mengetahui Derren memiliki apartemen selain yang mereka tempati sekarang?
“aku hanya menyelamatkan saudaraku dari rayuan nenek sihir” kata Jonathan setelah panggilannya berakhir sambil menginjak pedal gasnya dan mereka berdua meluncur menuju tempat mereka menimba ilmu.
Sudut bibir Olivia tampak menyunggingkan senyum tipis.
Sementara itu Merry, sudah 2 jam ia menunggu Derren namun pria itu tidak juga muncul. Jadi ia mencoba menghubungi Derren melalui ponselnya.
“Derren, aku menunggumu di apartemenmu” kata Merry ketika Derren menjawab panggilannya dengan kata halo
“oh Merry ada yang bisa ku bantu?”
“tidak ada, aku hanya ingin mengobrol denganmu”
“kau bercanda” kata Derren dengan suara sedikit berguman karena ia mengantuk “aku baru kembali dari tugas malam aku perlu tidur”
“Derren? Di mana kau?”
“aku sedang tidur di rumah calon istriku”
“kau?” Merry nyaris menjatuhkan ponselnya
Hening sesaat
“sejak kapan kau memiliki calon istri...” nada kalimat itu lebih mirip dengan mengguman bukan pertanyaan
Hening.....
“baiklah, nikmati waktumu” kata Merry sambil mematikan sambungan panggilannya.
'Derren pasti berbohong, pasti Olivia memberitahu Derren perihal dirinya menunggu di lobi apartemen' Pikirnya
Buru buru Merry pergi ke fakultas untuk sedikit bermain main dengan Olivia.
“Olivia...” sapa Merry ketika Olivia sedang duduk bersama Miranda dan Theo di kantin
“hey Merry” sapa Olivia
“boleh aku duduk di sini?”
“oh silahkan”
“malam ini aku tugas malam”
“ooo....”
“aku telah mengganti jadwalku agar bisa sama dengan jadwal derren, asik sekali bukan? Kami bisa selalu bersama”
“baguslah” kata Olivia canggung
Sementara Theo dan Miranda, mereka hanya melirik wajah Olivia yang begitu terlihat tegang.
__ADS_1
“baiklah Olivia, aku pergi dulu, aku perlu tidur. sampai jumpa” kata Merry dengan nada riang.
Setrlah Merry meninggalkan mereka bertiga Olivia mulai mengaduk aduk ice taro blend di gelasnya, Wajahnya tiba tiba muram, tidak lama tanpa sepatah kata pun ia meninggalkan Theo dan Miranda yang duduk di depannya.
“ada apa dengannya?”
“ada sesuatu, aku mencurigainya sejak ia tidak tinggal bersamaku lagi”
“maksudmu?”
“kau ingat? Ketika Derren hendak memukulmu di depan club?”
“ya....”
“ada sesuatu yang mereka sembunyikan” kata Miranda
“maksudmu?”
“aku tidak berani menyimpulkan”
Mereka berdua mengangkat bahu masing masing bersamaan
Sementara Derren melemparkan ponselnya ke samping bantalnya dan kembali memejamkan matanya.
Menikmati tidurnya hingga pukul 4 sore Derren membuka matanya dan mendapati Olivia berbaring di samping tubuhnya dengan posisi membelakanginya.
Derren mengalungkan tangannya ke pinggang Olivia, Olivia tidak bereaksi apa pun namun tubuhnya jelas kaku. Hanya hembusan nafas pelan yang terdengar.
“apa yang kau pikirkan?” tanya Derren, ia tampaknya mengerti bahwa ada sesuatu yang membuat Olivia merasa tidak nyaman
“aku rindu papi” guman Olivia lirih
Derren merapatkan tubuhnya dan menciumi punggung Olivia
“apa kau ingin kita berkunjung ke Indonesia?”
Olivia menggeleng
“katakan padaku bagaimana agar kau merasa lebih baik?”
“Derren....” Olivia mulai terisak
Derren beralih posisi menjadi berada di depan tubuh Olivia
“tidak akan terjadi apa apa, percayalah padaku” kata Derren meyakinkan gadisnya sambil menyeka air mata Olivia yang mengalir melewati batang hidungnya.
“jangan berpikir macam macam, aku sangat mencintamu Olivia” Derren merengkuh tubuh Olivia ke dalam pelukannya.
Olivia semakin terisak, Derren membiarkan Olivia menangis di dadanya.
Derren paham betul posisi yang Olivia rasakan, ia saat ini tidak lagi memiliki orang tua, ia mencintai dan memiliki hubungan dengan pria yang tidak seharusnya, ia merasa posisinya tidak aman dari segi mana pun. Derren mengerti ketakutan Olivia.
Setelah 15 menit derren meminta Olivia untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.
“Derren kita mau ke mana?” tanya Olivia pada Derren
Derren hanya mengelus pucuk kepala Olivia dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Mereka sampai di Westminster Abbey
Derren mendudukkan Olivia di bangku gereja itu, ia berlutut di depan Olivia.
“Olivia ayo kita menikah, hanya kita berdua yang tau agar kita saling memiliki seutuhnya kau tidak perlu khawatir lagi” kata Derren
'tidak, aku tidak ingin menikah hanya karena khawatir pada Merry' batin Olivia
“Derren, aku tidak menginginkan pernikahan yang seperti itu, pernikahan bukan untuk permainan, kita masih terlalu muda” kata Olivia
“Olivia aku ingin kita mengikat janji di depan Tuhan, bahwa aku hanya bisa dimiliki olehmu dan begitu pula kau, kau hanya bisa menjadi milikku seorang”
“kita bisa menikah nanti, setelah kita sama sama menjadi dokter”
Olivia melepaskan gengfaman tangan Derren kemudian bangkit dari duduknya, ia setengah berlari keluar dari gereja itu.
Derren tentu saja mengejarnya.
Mereka akhirnya meninggalkan gereja itu, Olivia ingin kembali ke asrama.
“Derren aku ingin berpikir jernih, beri aku waktu untuk sendiri” pinta Olivia
Tanpa berkata apa pun Derren menyetujui permintaan Olivia.
Miranda terkejut melihat Olivia datang terlebih lagi matanya sembab dengan air mata.
“are you okay Olivia?” tanya Miranda sambil mengulurkan tisu pada sahabatnya
Olivia mengambil tisu tersebut dan menyeka air matanya
“terima kasih Miranda”
Miranda hanya memandangi wajah Olivia tanpa bertanya apa pun yang membuat Olivia menangis,
“apa kau lapar?” tanya Miranda
“tidak, aku tidak lapar” jawab Olivia sambil menyandarkan kepalanya di sofa “aku seharusnya tidak berada di London” kata Olivia tiba tiba
“maksudmu?” Miranda begitu tenang menghadapi Olivia
“ternyata keputusanku untuk kuliah di London membawaku ke dalam masalah rumit” jawab Olivia
“aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Olivia, tapi ku rasa pikiranmu saat ini hanya sedang kacau, kau lebih baik istirahat, jangan mengambil kesimpulan saat kau sedang emosi” kata Miranda.
“Miranda, aku ingin pindah universitas, aku ingin pergi dari sini”
“melarikan diri tidak menyelesaikan masalah” kata Miranda bijaksana “istirahatlah saat kau sudah siap menceritakan masalahmu, aku siap mendengarkannya, kau bisa percaya padaku meskipun aku belum tentu bisa membantu setidaknya aku busa mendengarkanmu” lanjutnya.
Olivia memeluk sahabatnya, saat ini ia benar benar tidak memiliki siapa pun selain Miranda, meskipun ia juga tidak siap untuk menceritakan hubungannya dengan Derren, ia merasa malu. Tentu saja, ia dan Derren adalah keluarga. Dan mereka telah menodai hubungan keluarga itu dengan hubungan terlarang. Namun setidaknya saat ini ada seseorang di sampingnya yang bersedia berbicara dengannya.
Sudah tiga hari Olivia tidak terlihat di tempat tinggal mereka, jadi Jonathan bertanya pada Derren pagi itu.
“ke mana Olivia? Aku tidak melihatnya beberapa hari”
“dia ingin tinggal diasrama”
“kalian bertengkar?”
“tidak” jawab Derren singkat, wajahnya penuh kegelisahan tampak begitu suram.
“lalu?”
__ADS_1
“dia cemburu pada Merry, dan....” Derren menggantung kalimatnya
“kau bertemu Merry?” jonathan mengerutkan keningnya
“tidak, aku sudah jelaskan pada Olivia aku tidak ada apa pun dengan Merry”
“lalu mengapa ia enggan kembali?”
Derren hanya mengangkat bahunya bersamaan
“kau benar benar payah” kata Jonathan “kau tidak membujuknya?”
“aku tidak ahli merayu dan membujuk sepertimu”
Jonathan menyambar kunci mobilnya dan melajukan BMW I8 nya dengan kecepatan sedang.
“Olivia.....” Jonathan merangkul pundak Olivia dari belakang gadis itu sedang duduk di bangku taman bersama Miranda dan beberapa mahasiswi lain
“Joe kau mengejutkanku” Olivia kesal
“kenapa tidak pulang? aku merindukanmu” Jonathan meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Olivia.
“Joe, aku ingin tinggal di asrama lagi”
Jonathan menarik pergelangan tangan Olivia dan membawa Olivia pergi menjauh dari teman temannya.
“Miranda aku pinjam Olivia dulu” teriak Jonathan, Miranda melambaikan tangannya.
Mereka berdua duduk di sebuah cafe tak jauh dari kawasan universitas, cafe itu milik Theo teman Olivia.
“pulanglah Olivia”
“Joe aku rasa aku tidak bisa tinggal bersama kalian lagi sekarang”
“kenapa?” tanya Jonathan penuh kelembutan
“aku lebih nyaman tinggal di asrama”
“kau bertengkar dengan Derren?”
“tidak.... tidak sama sekali” mereka menang tidak bertengkar
Jonathan menatap lekat lekat wajah Olivia yang jelas jelas terlihat penuh kegelisahan, sama seperti Derren.
“Olivia, aku tau semua hubunganmu dengan kakakku”
Olivia membeku, ia menundukkan wajahnya.
“tidak masalah, Andai tidak di dahului kakakku mungkin aku juga ingin menjadi pacarmu” goda Jonathan, tapi sungguh ia hanya menggoda, Olivia adalah adik baginya.
“Joe...!” Olivia memerah ia melemparkan tisu di tangannya ke arah Jonathan karena malu, wajahnya yang muram berubah merona.
“tidak perlu malu Olivia”
“Joe, aku rasa Merry lebih cocok untuk Derren” kata Olivia dengan nada lirih wajahnya kembali muram
Jonathan justru tertawa
“hahaha jadi kau cemburu pada Merry? Olivia kau benar benar lucu”
Olivia mengatupkan bibirnya karena kesal sambil memandang Jonathan
“kakakku bahkan sedikit pun tidak pernah memandangnya, tatapan matanya tidak pernah lepas darimu”
“Joe kau tidak mengerti”
“apa yang tidak ku mengerti?”
“kita keluarga, banyak yang aku takutkan, salah satunya kelak mungkin keluarga akan menentang hubungan kami, dan suatu saat jika kami berakhir mungkin kami tidak bisa menjadi keluarga seperti dulu lagi” ucap Olivia lirih
Jonathan memukul pelan kepala Olivia menggunakan buku menu yang terdapat di atas meja mereka, sampai saat ini mereka bahkan belum memilih apa pun, meja mereka masih kosong
“kau dan Derren tinggal menjalani hubungan kalian sebaik mungkin, jaga itu agar tidak ada orang yang tau hingga saatnya tepat dan kalian bisa menikah” Jonathan kemudian membuka buku itu dan memilih beberapa menu untuk ia pesan, dengan santai ia melemparkan buku itu kepada Olivia dan memberi kode pada Olivia untuk memilih.
“aku lebih suka kau menjadi kakak iparku ketimbang orang lain, apalagi Merry, si rambut pirang itu lebih mirip nenek sihir. Dia memiliki banyak trik” kata Jonathan lagi
“dia tidak akan berhenti mengejar kakakmu selama Derren masih belum memiliki kekasih atau Derren dengan tegas menolaknya” kata Olivia sambil membaca daftar menu
“kau konyol sekali”
“aku?” Olivia mendongakkan wajahnya, keningnya berkerut
“jika Merry tidak terang terangan menyatakan cinta pada Derren apa yang harus di tolak?”
Olivia tiba tiba menutup buku menu itu.
‘benar kata Joe’ batinnya
“Olivia dari pada sibuk memikirkan Merry lebih baik kau jaga Derren baik baik, percayalah dengannya dan kau bisa pegang kata kataku Derren hanya mencintaimu, pria dingin itu tidak mudah di dekati” kata Jonathan meyakinkan Olivia.
“Joe tapi sekarang aku merasa hubungan kami menjadi rumit”
“tidak ada yang rumit, pikiranmu sendiri yang membuat ini menjadi rumit”
Olivia mencerna kata kata Jonathan, ia memang sempat berpikir untuk melepaskan Derren agar ia terbebas dari rasa cemburu dan posessive yang muncul di dalam benaknya.
Setelah mereka menyelesaikan makanan yang mereka pesan Jonathan dan Olivia kembali ke fakultas masing masing untuk belajar dan sore harinya Olivia kembali ke apartemen tempat tinggalnya setelah berpamitan pada Miranda.
Tengah malam Olivia terbangun dan talah ia berada di dalam pelukan kekasihnya Derren, Olivia menyembunyikan wajahnya di dada Derren dan menghirup aroma maskulinnya, Sangat menenangkan, Olivia sangat menyukai aroma kekasihnya itu.
“Olivia, aku merindukanmu” kata Derren dengan suara serak
“mmmmmm” Olivia tak menyangka Derren ternyata menyadari bahwa ia terjaga
Derren menarik tubuh Olivia dengan hati hati dan membuat tubuh Olivia berada di atas dadanya. Mata mereka beradu saling memandang di antara temaram lampu di kamar Olivia.
“Olivia aku sangat mencintaimu, you’re mine” telapak tangan Derren membelai lembut punggung Olivia
Olivia tersenyum mendengar kata kata Derren, meletakkan kepalanya diceruk leher Derren, menikmati debaran di dadanya yang begitu kencang, memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut tangan Derren dipunggungnya, tanpa sadar tubuhnya mulai menuntut sesuatu yang lain, ia ingin sentuhan tangan Derren di seluruh tubuhnya dan Olivia berinisiatif memulai permainan
“ride me... Olivia lakukan sesukamu...” geram Derren
Kali ini Olivia memimpin permainan, setelah memberikan sentuhan pada kekasihnya dengan hati hati Olivia menyatukan tubuh mereka, Derren telah berada di dalam tubuhnya, berputar putar putar, menghentak, pinggulnya mendorong dengan irama. panas dilam tubuh Olivia, hingga berkali kali, namun Derren belum juga mencapai puncaknya. cukup lama mereka memadu kasih, nikmat dan memabukkan hingga sesuatu yang panas menyembur di dinding rahim Olivia.
“Olivia, kau hanya milikku, aku milikmu, tidak akan ada orang lain diantara kita, aku sangat mencintaimu” Derren memeluk gadisnya yang kelelahan dan telah tertidur.
****JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN!!! 👍😊
__ADS_1
MAKASIH MANGA TOON FITUR BARUNYA MEMBANTU BANGET, KITA BISA UPDATE CHAPTER BANYAK TAPI BISA NGATUR WAKTU NOVELNYA RILIS 💖💖💖 UPDATE SETIAP JAM 8 MALAM 👌
YANG BELUM FOLLOW AUTHOR PLISSSSSSHHHHH FOLLOW AUTOR 😙😙😙**