
Sementara di tempat tinggal Jonathan malam hari sebelum mereka bersitirahat untuk mengakhiri hari.
Tiffany sedang memberikan Kevin air susu ibu, sedangkan Jonathan memandangi ibu dan anak yang sama sama menggemaskan itu.
“darling, kapan Kevin berhenti merampas hakku?” tanya Jonathan dengan mimik wajah kesal
Tiffanny melotot galak pada suaminya
“kau harus mengalah sayang” kata Tiffany
“sampai kapan?” rengek Jonsthan
“sampai dua tahun” jawab Tiffany
Jonathan mengusap rambutnya frustrasi “dua tahun, yang benar saja itu terlalu lama” gerutunya
“memang harus seperti itu”
“kenapa tidak minum susu formula saja?” gerutu Jonathan lagi
“kau tidak menyayangi Kevin?” tanya Tiffany dengan nada kesal
“tentu saja aku sayang” jawab Jonathan cepat “tapi aku juga membutuhkan itu” sungut Jonathan.
“kau benar benar menyebalkan” kata Tiffany sambil menutupi dadanya dengan kain, namun tidak seberapa lama Kevin justru menjadi terganggu karena kain itu juga menutupi kepalanya.
“Kevin sudah kenyang sepertinya, ayolah Tiffany....” rengek Jonathan.
Tiffany memberikan Kevin pada Jonathan, ia kemudian menginstruksikan nanny Kevin untuk menghangatkan asi yang ada di dalam lemari pendingin. Ia tidak pernah bisa tenang setiap kali memberikan asi pada Kevin sedangkan suaminya ada di sampingnya, ia terus merengek karena iri pada putranya, benar benar suaminya sungguh pria yang sangat menyebalkan.
Kevin telah di tangani nannynya sekarang giliran Tiffany menangani suaminya,
“kau ingin memakan temanmu bukan?” tanya Tiffany menggoda Jonathan yang telah merebahkan tubuhnya, ia merangkak di atas tubuh Jonathan dengan seringai menggoda di wajahnya.
“temanku memang paling memahamiku” seringai Jonathan senang
“malam ini tidak gratis, ada syaratnya” kata Tiffany
“apa kartu bank mu telah limit?” tanya Jonathan sambil mengangkat kedua alisnya
“mana mungkin” kekeh Tiffany
“lalu?” Tanya Jonathan tangannya telah berada di pinggang Tiffany, menyusup masuk ke dalam gaun tipis yang dikenakan istrinya, menelusuri kulit lembut Tiffany.
“temani aku berbelanja besok” pinta Tiffany
“hanya itu?”
Tiffany mengangguk, merasakan nyaman karena jari jemari suaminya menyentuh kulit tubuhnya, membuatnya menginginkan lebih. Sentuhan gila dari jemari Jonathan yang dulu membuatnya kesal kini membuatnya selalu menginginkan lagi, lagi dan lagi.
“jam berapa kau ingin berbelanja?”
tanya Jonathan
“aku ingin makan siang bersamamu papa, kau sangat sibuk akhir akhir ini” rengek Tiffany
manja
__ADS_1
“baik, suamimu akan menemanimu besok, kita makan siang kemudian berbelanja” geram Jonathan sembari dengan lembut membalik posisi Tiffany menjadi di bawahnya.
Tiffany menatap wajah tampan Jonathan, temannya, suaminya.
“kenapa menatapku seperti itu?”
Tiffany mengangkat sebelah tangannya dan mengusap pipi Jonathan,
“kadang aku masih tidak menyangka, kau menjadi suamiku”
Jonathan mengecup bibir istrinya
“darling, aku mencintaimu” geramnya
“i love you more” kata Tiffany pelan, kata kata manis itu mengawali pergumulan hangat yang menyebabkan peluh mereka bercucuran, bersatu dengan hentakan hentakan kasar dan terkadang pelan, menyatu dengan erangan dan geraman yang terlepas dari bibir keduanya.
Mereka mengakhiri permainan teman makan teman mereka setelah beberapa babak, Tiffany meringkuk di dalam pelukan Jonathan karena kelelahan.
Siangnya Tiffany lebih dulu sampai di restauran di mana ia dan Jonathan akan makan siang, Tiffany duduk dengan anggun sambil membaca daftar menu. Tidak lama Jonathan datang, ia tampak tampan denggan setelan jas yang melakat di tubuhnya.
“konchiwa darling” sapanya sambil duduk di samping Tiffany dan menciumi pipi istrinya.
“Joe, ada banyak orang” protes Tiffany
“tidak masalah, kau milikku darling, aku berhak menciumimu” bela Jonathan
“kau pandai membela diri”
“tentu saja, jika aku tidak pandai aku tidak mungkin mendapatkan hatimu” jawab Jonathan di sertai seringai di wajahnya
Tiffany mencubit paha Jonathan pelan, wajahnya bersemu merah.
“Joe, jangan ungkit lagi” kata Tiffany sambil matanya melotot galak
“aku tidak membawa sopir” kata Jonathan
“....” Tiffany mengerti apa maksud suaminya, bercinta di mobil, sensasinya memang berbeda, mereka dulu ketika berpacarqn sering kali melakukannya secara kilat di mobil.
“bagaimana?” tanya Jonathan, “bisakah?”
“Joe, pilih apa yang ingin kau makan” Tiffany mengalihkan pembicaraan yang mengarah pada urusan kemesuman di otak suaminya yang semakin akut.
“aku ingin memakan temanku saja” geram Jonathan sambil menggertakkan giginya, akhir akhir ini tubuh Tigfany semakin padat sejak melahirkan, ia semakin gemas pada istrinya dan ingin terus memakannya jika sedang berdekatan.
“Joe kau sangat menyebalkan!” keluh Tiffany, kadang ia ingin sekali menanyakan pada Olivia apa Derren juga semesum suamninya, namun ia malu.
“panggil aku hubby, atau....” tangan Jonathan sudah mer***s bokong Tiffany.
“hubby.... apa yang ingin kau makan?” tanya Tiffany lagi, kali ini suaranya sangat lembut sambil menyingkirkan telapak tangan suaminya menjauh dari belakangnya
“apa pun, kau pilihkan saja” kata Jonathan dengan nada tak kalah lembut namun tatapan matanya terus memandangi wajah istrinya yang bersemu merah.
“jangan menatapku seperti itu” dengus Tiffany sambil menekan bell yang ada di meja mereka dan tak lama pelayan datang.
Tiffany memesan beberapa jenis makanan, Jonathan hanya tersenyum melihat betapa selera makan Tiffany sangat luar biasa sejak ia hamil dan menyusui, namun kali ini tubuhnya tidak begitu mengalami kenaikan berat badan seperti saat ia hamil, ia justru semakin sexy karena berisi.
Setelah makan siang usai mereka bergegas menuju pusat perbelanjaan terbesar di Tokyo,
__ADS_1
Sebenarnya Tiffany hanya ingin membeli beberapa gaun dan tas, selebihnya ia hanya ingin menikmati waktunya bersama suaminya yang semakin sibuk.
Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri counter counter brand ternama dunia, sudah lama mereka bahkan tidak ada waktu untuk melakukan traveling bersama.
“hubby, aku rindu traveling” rengek Tiffany
“kapan kau ingin pergi traveling?” tanya Jonathan senang
“kapan kau bisa meninggalkan pekerjaanmu?” Tiffany balik bertanya
“akan ku atur secepatnya darling”
“baiklah, ayo traveling” seru Tiffany senang
“bagaimana dengan Kevin?” tanya Jonathan
“ada dua neneknya yang siaga” kekeh Tiffany “kau jangan membawa sekretarismu lagi”
“aku perlu asisten untuk mengurus pekerjaanku darling”
Tiffany berdecih tidak senang
“lagi pula itu cukup membantu, aku bisa fokus pada dirimu”
“dulu saat kita pacaran kita sering pergi traveling dan kau tidak membawa asisten” protes Tiffany
“karena dulu belum banyak hal yang ku tangani di perusahaan, sekarang berbeda” Jonathan menjelaskan dengan sabar “apa lagi yang ingin kau beli?”
“tidak ada, ku rasa cukup” jawab Tiffany yakin
“hanya ini?” Jonathan menggoyang goyangkan paper bag di tangannya, jumlahnya ada lima.
“sudah cukup” kata Tiffany
“ku rasa belum” kata Jonathan, ia menyeret Tiffany masuk ke dalam Counter brand ternama lain dan memaksa istrinya untuk memilih lagi.
“Joe, Tiffany...” sapa seseorang
“hey... Taichi” sapa Jonathan
Mereka bertiga saling sapa karena telah lama tidak berjumpa.
“kalian menikah tapi tidak mengundangku” gerutu Taichi
“maafkan kami, persiapan kami terlalu mendadak” kata Tiffany
“baiklah baiklah, aku pergi dulu, nikmati waktu kalian” kata Taichi, setelah saling mengucapkan salam perpisahan Taichi meninggalkan tempat itu.
Begitu juga Jonathan dan Tiffany,
Taichi adalah ketua Osis saat mereka berada di sekolah menengah atas dan Tiffany adalah wakil ketua Osis.
Mereka seharusnya pernah dekat satu sama lain.
Karena rumah tangga Joe dan Tiffany adem ayem aja jadi author mau kasih dikit riak ombak bercampur badai 😆 kalian mau badai kecil apa yang besar???
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN JANGAN LUPA 😚😚😚