Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 2


__ADS_3

Minggu pagi Olivia sengaja bermalas malasan di atas ranjangnya, setelah beberapa menit hanya berguling guling di atas ranjang Olivia menyeret tubuhnya untuk keluar dari kamarnya, sesampainya di luar kamar ia mengangkat kedua tangannya dan menggeliat dengan nikmat, ia bahkan menggunakan setelan pakaian tidur yang cukup sexy dan transparan di tambah lagi ia tidak mengenakan bra.


Gadis itu hampir terlonjak kaget karena melihat seseorang sedang terlentang di sofa dengan wajah di tutupi dengan buku, Olivia pelan pelan mendekati dan membungkukkan badannya, mengambil buku itu dengan hati hati dan menatap wajah Derren yang tertidur dengan seksama, wajahnya halus dan lembut, ada bulu bulu halus di sekitar rahang dan dagunya, alisnya, rambutnya berwarna coklat, sedikit tampan menurut Olivia namun dimata Olivia ia tak setampan yang di katakan para mahasiswi di kampusnya.


Tiba tiba tangan kekar Derren menarik tubuh Olivia hingga ia terjatuh tepat di atas tubuh Derren.


“derren kau... kau bangun rupanya?” tanya Olivia gugup karena ia kini berada di pelukan Derren sepupu sekaligus musuhnya sejak kecil, dan Olivia belum pernah sedekat ini dengan pria.


Ralat! bukan dekat tapi bearada di pelukan seorang pria selain ayahnya.


“ya dan aku telah melihat dadamu dengan jelas tanpa terbungkus kain” Derren mendekap erat tubuh Olivia, kedua kaki Derren bahkan mmengunci paha Olivia dan menggesek gesekkan sesuatu yang keras kepaha Olivia.


'damn it' batin Olivia. ia tidak tidak bisa bergerak.


“kau... bajingan derren aku sepupumu!!!! Kau melecehkanku!!!” Olivia berteriak dan meronta ronta sebisanya


"salahkan dirimu sendiri, kau yang meminta kulecehkan" kekeh Derren


"otakmu yang harus segera dicuci, bego!!!" teriak Olivia


“jika kau menggunakan pakaian seperti ini lagi di rumahku aku akan benar benar menelanjangimu dan memperkosamu Olivia” kata derren sambil melepaskan tubuh Olivia.


Olivia berdiri dan membenarkan pakaiannya yang berantakan, sambil berkacak pinggang di depan Derren


“you're asholole!!!” umpat Olivia sambil mengambil buku yang terjatuh di lantai, melemparkan buku itu nyaris mengenai kepala Derren.


Derren hanya menyeringai jahat, lalu memungut buku tersebut.


Sebenarnya ia sedang membaca buku saat Olivia keluar dari kamarnya dan sengaja menutup wajahnya berpura pura tidur namun tak di sangka sepupunya membuka buku yang menutupi wajahnya dan memandangi wajahnya dengan seksama, Derren membuka sedikit matanya dan mengintip ternyata pakaian yang di kenakan Olivia sangat sexy apalagi saat Olivia ia menundukkan tubuhnya kain di bagian dadanya otomatis menjuntai ke bawah, ia bisa melihat dengan jelas gundukan di dada Olivia, tiba tiba hasrat kelaki lakiannya bangkit ia segera mendapatkan ide untuk menakuti Olivia.


Dengan kesal Olivia kembali ke kamarnya, ia segera mandi dan mengganti pakaiannya kemudian ia pergi ke dapur untuk memasak sarapannya, meskipun ia adalah gadis yang di manjakan orang tuanya namun Olivia memiliki hobi memasak dan membuat aneka kue seperti ibunya, jadi ia tidak kesulitan untuk mengurus dirinya sendiri di London.


Olivia mulai memakan sarapannya.


Tiba tiba Derren mendekati olivia yang sedang duduk di meja makan dan mengambil piring di depan Olivia


“Derren, kembalikan!!!”


Dengan santai Derren melahap pancake buatan Olivia


“tidak buruk Olivia, kau pandai juga ku kira gadis manja sepertimu tidak bisa membuat makanan” dengan santai ia terus menyuap dan mengunyah lalu meletakkan piring setelah keseluruhan isinya berada di dalam perut Derren.


“Derren you're shamles...!”desis Olivia


“kau tinggal di sini gratis, setidaknya kau harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak untukku” kata Derren penuh kelicikan.


“nanti saat tante Livia datang akan ku laporkan semua perbuatanmu padaku” Olivia menggebrakkan tangannya di meja makan dan meninggalkan derren yang tersenyum penuh kemenangan, entahlah sudah berapa ratus kali ia membuat Olivia marah dan menangis sejak mereka kecil hingga mereka sama sama tumbuh dewasa. Meskipun hanya sekali atau 2 kali dalam satu tahun mereka berjumpa namun itu cukup membuat derren memiliki waktu untuk membuat sepupunya itu selalu berakhir dengan kekesalan tangisan dan kemarahan, bagi Derren hal seperti itu membuatnya sangat bahagia.


Sejak hari itu benar saja Olivia di paksa memasak untuk mereka berdua, derren mengancam akan melecehkannya jika oliva tidak menuruti keinginannya. Bahkan derren memberikan sebuah kartu bank untuk kebutuhan Olivia belanja bahan makanan, derren tidak pernah cerewet dan tidak pemilih dalam hal makanan, ia hanya tidak suka makan pedas seperti ibunya. Jadi Olivia tidak pernah memasak makanan pedas karena bisa di pastikan ia akan terkena ocehan panjang Derren.


Setiap hari derren dan Olivia berdebat untuk hal hal yang tidak perlu, seperti pagi itu Olivia sedang menonton acara gosip di televisi, karena hari minggu ia ingin bersantai.


Namun derren merebut remote control dan seenaknya memindah chanel televisi.


“kau menonton acara yang tidak berguna” kata Derren yang tiba tiba duduk di samping Olivia


Olivia memutar kedua bola matanya dengan kesal kemudian berdiri dengan kasar.


“kau benar benar pria menyebalkan!” maki Olivia sambil berkacak pinggang di depan Derren


“tubuh kurusmu menghalangiku menonton Olivia”


“oh ya aku tidak perduli”


“pergi dari depanku atau kau....”


“oooooohhh hahhaaha” Olivia tertawa hambar “kau mengancamku?” tanya Olivia sambil menaikkan kedua alisnya


Derren hendak menarik pergelangan tangan Olivia namun derren kalah cepat karena Olivia telah berpindah tempat dan...


Televisi telah dimatikan oleh Olivia, ia mencabut kabel penghubung listrik lalu ia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.

__ADS_1


Derren tertawa sambil menimang nimang remot kontrol di tangannya lalu melemparkan remot control ke atas meja.


Setengah jam kemudian Olivia mengendap endap keluar dari kamarnya dan pergi bersama teman temannya ke bioskop untuk menonton.


Sedangkan derren ia juga pergi, namun ia pergi ke perpustakaan.


Olivia kembali jam 10 malam, ia berjalan sambil menatap layar ponsel di tangannya, sesekali ia tersenyum simpul karena obrolan group di ponselnya.


“Olivia, kau pergi dari siang dan baru kembali jam 10 malam” kata Derren yang sedang duduk di sofa tempat mereka biasa menonton televisi.


Olivia melewati derren seperti derren adalah udara yang tak terlihat.


“Olivia!” panggil Derren lagi nadanya agak meninggi


“aku tidak tuli Derren”


“aku belum makan malam”


“apa?” Olivia terkejut


“masak untukku” Derren memang bekum makan dan ia tidak ingin makan selain masakan Olivia


Olivia menghentikan langkahnya di depan pintu kamarnya


“tuan Derren yang terhormat. kau bukan bayi, kau memiliki tangan kau memiliki kaki dan kau adalah calon dokter, kau juga pasti memiliki O T A K” kata Olivia sambil tersenyum sinis dan cepat cepat masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu lalu menguncinya.


Tidak terasa Derren dan Olivia telah melalui 4 bulan tinggal bersama dengan pasang surut emosi yang Olivia rasakan, namun ia telah terbiasa menghadapi derren, ia tidak lagi menangis setiap kali derren membuatnya kesal, dan ia mulai belajjar membalas perbuatan derren meskipun itu tidak banyak berhasil.


Pagi itu olivia menghadiri kelas jam 9 pagi, dan betapa kesalnya ketika melihat siapa asisten dosen mata kuliahnya.


‘Cih...’ batin Olivia ‘sudah cukup di rumah melihat pria menyebalkan itu kenapa harus bertingkah seolah olah ia benar benar mahasiswa paling jenius dan menjadi asisten dosen? Dia bahkan baru semester 3 tapi gayanya sangat sombong’ Olivia mengetukan polpennya ke mejanya sambil memandang Derren dengan tatapan benci.


Ia bahkan telah mengabaikan apa saja yang di jelaskan oleh dosen di depannya, Olivia hanya ingin mencekik sepupu yang telah menyusahkan hidupnya menjadikannya tukang masak setiap hari.


Apalagi mengingat Derren selalu mengatur menu harian dan tidak megizinkan Olivia memasak sesuka hatinya, benar benar pria yang kejam tifak berperasan dan pantas untuk di benci.


Braaakkkkk sebuah buku berukuran tebal tergeletak dengan keras di mejanya


Rupanya kelas telah berakhir dan parahnya lagi semua gadis di kelasnya kini menatap ke arah Olivia dan d


Derren.


Olivia mengambil buku itu dengan kasa, memelototkan matanya dengan galak pada Derren dan meninggalkan kelas tanpa mengucapkan apapun.


Miranda mengejar olivia, sementara Derren berjalan dengan wajah tenang menuju ruang dosen.


“Olivia...” miranda duduk di depan Olivia dengan penuh rasa heran


“kau sepertinya memiliki dendam pribadi pada Derren”


“hhhmmmm” Olivia menyedot juss kemasannya hingga berbunyi “ssssrrrrtttttt” menandakan jus itu telah habis.



“kau mengenalnya bukan?” tanya Miranda memulai introgasinya pada Olivia


“sudahlah Miranda, ia pria menyebalkan tidak seperti yang kalian kira” olivia menggerutu “baiklah aku akan kembali” kata Olivia bermaksud untuk kembali ke tempat tinggalnya, ia sudah merencanakan untuk mencaci maki derren sesampainya di apartemen mereka.


“baiklah Olivia, bolehkah aku mengunjungi ke apartemenmu sesekali? aku bosan tinggal di asrama”


‘tidak mungkin!!!! ’ batin Olivia ‘gawat jika itu terjadi' Miranda akan tau kebohongannya


“bagaimana jika aku saja yang pindah ke asrama? Rasanya aku juga ingin tinggal di asrama” tiba tiba Olivia memikirkan ide itu untuk menghindari Derren yang sangat menyebalkan.


“kita bisa sekamar” kata Miranda antusias


“ide bagus aku akan memikirkannya” kata Olivia “baiklah aku akan pulang dulu” lanjut Olivia sambil melangksh pergi dan melambaikan tangan pada temannya.


Baru saja ia sampai di apartemen tempatnya tinggal Derren keluar dari kamar dengan pakaian rapi,


“cepat bersiap atau kau ku tinggalkan” kata Derren dengan nada dingin

__ADS_1


“hah? Bersiap?” Olivia mengerutkan keningnya


“aku sebenarnya tidak ingin mengajakmu ke tokyo namun ini perintah wanita penggila belanja”


“wanita penggila belanja? Tokyo?” Olivia berguman


“ya kita akan merayakan natal di Tokyo dan mommy memintaku membawamu, waktumu bersiap 20 menit dari sekarang”


“kau gila Derren!!! Kenapa baru saja memberi tahuku?” olivia terpekik panik


“cepat atau ku tinggalkan, akan ku beritahu mommyku dan Joe bahwa kau enggan ikut” ancam Derren


“dasar licik!!!!” olivia melotot galak pada derren, ia benar benar ingin mencakar wajah sepupunya.


Secepat kilat ia mengambil paspor, pakaian dalam make up laptop dan beberapa potong pakaian yang bisa di jangkau dengan cepat tanpa berpikir, lalu mengganti pakaiannya dan menyeret kopernya.


“bodoh, dimana jaketmu? Ini musim dingin” kata derren sambil masuk ke dalam kamar Olivia dan mengambil jaket gadis itu dan melemparkan jaket itu kepada pemiliknya.


Olivia menagkap dan mengenakan jaketnya kemudian berlari mengejar Derren menuju mobil.


Perjalanan 6 jam ke Doha dan transit dari Doha menuju Haneda benar benar membosankan. Di tambah lagi mereka berdua benar benar tidak saling berbicara, menambah suramnya hidup 17 jam bersama Derren.


Di sisi lain Derren menyeringai licik, Olivia belum mengingat tugas yang tadi pagi ia berikan, jika ia mengingat tugasnya pasti sepupunya akan berteriak dan memarahinya, apalagi ia melihat Olivia meletakkan bukunya di meja, gadis itu tidak membawa serta tugasnya. Derren tidak sabar menantikan moment kemenangannya.


Sesampainya di Tokyo mereka di jemput oleh Andrew, ayah kandung Derren. Ekspresi derren langsung menghitam, wajahnya tampak suram, rupanya mereka juga merayakan natal di Tokyo namun itu bukan hal yang menggembirkan bagi Derren.


Apalagi ayahnya membawa Zakia istrinya dan Nameera putri tunggal mereka, Derren meyakini ayah biologisnya menghianati ibunya saat ibunya mengandung Jonathan mengingat usia Nameera hanya berjarak 4 bulan dengan Jonathan adiknya, Livia ibunya tidak pernah mengatakan apa apa, wanita cantik yang di juluki wanita penggila belanja oleh anak anaknya itu selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali Derren mulai mengorek kisah masa lalunya bersama Andrew.


“mommymu sibuk dia pergi bersama Naoki ada rapat penting para pemegang saham”


“hhhmmmm.... tidak masalah” jawab Derren santai


“hallo om Andrew, hey Nameera” sapa Olivia pada Andrew dan Nameera putrinya


“hey Olivia lama tidak bertemu” sapa Nameera kemudian kedua gadis itu sedikit berbagi cerita di kursi penumpang.


“Nameera, apa rencanamu nanti setelah lulus sekolah?”


“aku ingin menjadi pilot jika daddy mengizinkan” katanya dengan nada ramah


“hebat, kau akan menjadi pilot wanita yang sangat keren” Olivia dengan nada kagum.


“okairi oniisan” teriak keiko adik Derren yang sangat cantik, dengan perpaduan wajah Eropa dan Jepang, usinya baru 16 tahun namun tinggi badannya kini 175 cm dan bakat seninya ia telah memasuki dunia hiburan dengan mudah.


*selamat datang di rumah


“tadaima kei-chan” kata Derren sambil memeluk adiknya


*aku pulang


“Olivia oneesan... aku merindukanmu kau tidur di kamarku kan seperti biasa?” Keiko melepaskan tubuhnya dari pelukan kakaknya Derren dan beralih memeluk Olivia dengan hangat



Keiko 👆👆


“tentu saja... aku juga merindukanmu Keiko, kau semakin cantik dan lihat kau semakin tinggi saja”


“tentu saja, aku seorang model dan mungkin suatu saat nanti aku akan jadi midel Victoria secret” jawab Keiko percaya diri.


“aku tidak sabar melihatmu menjado angel di victoroa secret”


“dan aku tidak sabar menunggumu menjadi seorang dokter yang cantik”


kedua gadis itu mengobrol dengan sangat akrab sambil menaiki anak tangga menuju kamar dan melupakan Nameera, bagi nameera perlakuan keiko Derren dan Kenzo sudah biasa. Hanya Jonathan yang sedikit bersikap ramah padanya.


“apa kau tinggal disini?” tanya derren dingin dengan nada menyindir pada andrew ayahnya


“tidak kami akan kembali ke hotel, sampai jumpa nanti malam” kata andrew dan melangkah pergi menuju mobilnya di ikuti oleh Nameera.


TOLONG DONG TEMAN TEMAN JANGAN PELIT AMA JEMPOL DAN LETAKKAN DI FAVORIT.

__ADS_1


__ADS_2