Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 32


__ADS_3

“terus saja tatap dia tanpa berusaha membuatnya kembali, dan kau akan menyesal karena Olivia mungkin akan segera dinikahi pria lain secepatnya, aku tau ia memiliki kekasih di London” kata Jonathan memulai profokasinya


Rahang Derren mengeras ia beralih menatap mata Jonathan dengan tatapan tidak suka, matanya menyipit.


Sudut bibir jonathan menyeringai penuh kemenangan, memang mudah memprofokasi kecemburuan kakaknya jika menyangkut Olivia.


"lihat saja, Olivia semakin cantik sekarang, pria mana yang tidak tergoda olehnya" Jonathan terus memprovakasi Derren


Tiffany merasa ketakutan melihat Ekspresi kakak iparnya, seumur hidup ia baru kali ini melihat tatapan mengerikan seperti itu.


Tiffany menyikut perut suaminya pelan agar menghentikan provokasinya.


“aku yakin ia akan melarikan diri lagi, lihat saja ia pasti tidak ingin berlama lama di Tokyo” bukan berhenti Jonathan justru menambahkan kilatan api amarah di mata kakaknya.


“dia milikku, selamanya milikku” guman Derren sambil melangkah pergi untuk menghampiri Olivia dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Olivia.


“om aku pinjam Olivia dulu” kata Derren pada Yudha.


“oh iya” Yudha tersenyum, bagaimanapun juga Yudha ingin mereka kembali berbaikan. ia tidak rela cucunya tumbuh tanpa ayah kandungnya.


Tentu saja Olivia protes, ia masih ingin mengobrol dengan pamannya.


“Derren kau jangan seenaknya! Aku belum menyapa tante Hana dan tante Livia” protesnya


“tante Livia?”


“mommy” kata Olivia meralat “dan aku juga belum menyapa mommy Zakia dan daddy Andrew”


“sebentar saja, menghirup udara segar di luar”


Derren membawa Olivia ke belakang bangunan itu, untuk menghirup udara segar, sebenarnya itu hanya alasannya saja, ia ingin meminta Olivia untuk kembali tinggal di sisinya, kembali padanya, dan tidak perlu kembali lagi ke London, namun ia tidak bisa terucap. Derren yakin Olivia pasti akan menolak jika ia terburu buru mengatakannya, gadis manja keras kepalanya ini pasti akan dengan gigih menolaknya bahkan akan mengibarkan bendera permusuhan dengannya.


Mereka masih tidak saling berbicara, hanya membisu.


5 menit... 15 menit....30 menit....


Bosan, Olivia tentu merasa bosan bosan, ia berbalik dan meninggalkan Derren namun dengan cepat pergelangan tangannya di tangkap oleh Derren dan detik berikutnya ia telah berada dalam pelukan Derren yang keras, kuat menyenangkan dan menenangkan.


“jangan melarikan diri lagi Olivia” kata Derren tiba tiba.


‘kau yang selama ini tidak melarangku untuk pergi!’ batin Olivia



Olivia meronta ronta, ia berusaha melepaskan diri, ia berlari masuk kedalam gedung itu kembali dan menuju toilet, mengatur nafasnya di depan cermin.


Jantungnya berdebar tidak menentu, ia memegangi dadanya. Debaran itu masih sama seperti saat pertama kali ia mulai jatuh cinta pada Derren, tidak ada kebencian sedikitpun di hatinya pada Derren.


Ia hanya tidak bisa menerima penghianatan Derren, bahkan jika Derren menghentikannya saat itu Olivia memang tidak akan pernah berani mendengarkan penjelasan Derren! ia sangat takut.... ia sangat takut jika semua yang ia lihat adalah nyata! ia sangat takut menghadapi penjelasan Derren...! Tapi nyatanya Derren sama sekali tak pernah mencarinya bukan?


Mengingat semua itu jantungnya terasa kembali sakit, seperti di remas.


Tiba tiba seseorang yang menjulang tunggu berdiri melingkarkan tangannya di pinggang Olivia dan memiringkan tubuhnya untuk menciumi punggungnya


“kau pandai memilih tempat sayang” bisik Derren


“Derren jangan kurang ajar! kau masuk toilet wanita” pekik Olivia


”biar saja semua orang disini juga tau, kau milikku”


”aku bukan barang!”


”apapun dirimu, kau hanya milikku” geram Derren sambil bibirnya menjelajahi kulit leher Olivia, mau tidak mau Olivia bereaksi.


Sentuhan bibir Derren terlalu hangat dan nyaman! Dan tidak lama bibirnya telah di ***** oleh Derren,


“Derren kau bajingan!” guman Olivia saat ciuman mereka terlepas


”kau pandai mengataiku sekarang” geram Derren lagi


”kau melecehkanku!”


”melecehkan? Jadi tadi malam 5 kali bukan termasuk pelecehan?” tanya Derren sedikit tertawa karena kata kata Olivia


Olivia memerah, mengingat permainan gila mereka.


Derren menciumnya lagi dan tubuhnya diseret oleh Derren memasuki salah satu ruang di toilet itu, Olivia telah duduk di atas pangkuan Derren, tubuh mereka telah bersatu, erangan erangan kecil meluncur dari bibir Olivia dan geraman geraman tertahan dari tenggorokan Derren.


“bajingan....” guman Olivia lagi saat ia telah mencapai puncaknya, kepalanya berada di ceruk leher Derren ia terengah engah mengatur nafas karena perbuatan pria yang sedang memangkunya.


“sssstttt.... pelankan suaramu” kata Derren sambil sambil kembali menggoyangkan pinggulnya melancarkan aksinya hingga ia puas mencapai tujuannya.


"Olivia kau menginginkan lagi bukan?" tanya Derren dengan nafas terengah engah


"tidak!" jawab Olivia lirih, ia juga masih terengah engah


"benarkah? tapi tubuhmu selalu menerimaku dengan baik" geram Derren


Mereka terdiam cukup lama, hanya meendengarkan detak jantung mereka masing masing, Derren masih dwngan posessive memeluk pinggang Olivia.


Setelah beberapa menit Olivia berdiri dan membenarkaan gaunnya yang berantakan karena Derren, wajahnya cemberut. Ia keluar dari toilet dan Derren dengan tanpa malu malu terus mengekori kemanapun langkah Oliva.


Olivia mendekati Livia tantenya dan memutuskan untuk menempel padanya sepanjang waktu, ia tidak ingin menjauh kemanapun lagi, ia takut pria yang terus mengekorinya itu menjebaknya lagi.


”Olivia, apa kau sudah makan?” tanya Livia

__ADS_1


”aku belum lapar mommy” jawab Olivia, ia memang benar benar kehilangsn mood pada makanan karena Derren terus melekat padanya.


”Derren, kau dari tadi hanya mengekori Olivia, tapi tidak mengambilkannya makanan dan minuman untuknya” Livia benar benar tidak mengerti mengapa Derren sangat tidak peka dan tidak pandai merayu gadis yang di inginkannya


Derren segera mengambil beberapa potong kue dan meletakannya di depan Olivia, ia juga mengambil segelas orange juice. Ia berniat menyuapi Olivia, namun kalah cepat Olivia lebih dulu mengambil garpunya dan memakannya sendiri dengan tergesa gesa hingga cake di piringnya dalam sekejap telah habis, rupanya permainan Derren telah dibaca Olivia.


Livia yang duduk bersama Hana dan Zakia saling menatap penuh arti, Livia benar benar geli melihat kelakuan keduanya, Derren yang tidak peka dan Olivia yang keras kepala!


Tidak berselang lama Sakura dan Yukari datang bergabung dengan mereka, mereka mulai mengobrol selayaknya ibu ibu.


Derren tampak mulai bosan, ia terus memgerutkan keningnya dan tatapan matanya seolah ingin membawa Olivia menjauh. Namun Olivia justru sengaja ikut bergabung dalam obrolan wanita.


”aunty Sakura, dimana Naomi? Aku tidak melihatnya”


”dia kembali ke rumah neneknya bersama Shizuku dan Ayumi, mereka belum mengerti pesta semacam ini menyenangkan” kata Sakura,


"ooo..." Jawab Olivia "tante aku ingin mengunjungi Sidney lagi nanti" Olivia berusaha mencari bahan pembicaraan


"benarkah? tante akan membawamu berkeliling sidney sepuasnya" jawab Sakura antusias "oh iya Olivia, bagaimana studymu?" tanya Sakura


"semuanya berjalan dengan baik, aku akan segera mendapatkan izin praktek" jawab Olivia


Sakura melirik pada tangan Olivia di bawah meja, jelas sekali tangan itu di genggam erat Oleh Derren.


”Derren kau kalah dari Joe, kau kapan akan menikahi Olivia?” tanya Sakura sengaja


Ekspresi Olivia langsung berubah menegang, Derren hanya melirik wajah Olivia yang menegang, tanpa menjawab pertanyaan sakura namun dengan lembut ia membawa tangan Olivia dan mengecup punggung tangan Olivia membuat wajah Olivia memerah.


”kau ini, masih saja pendiam sejak kecil” dengus Sakura sedikit kesal.


Derren masin tidak mempedulikan, ia kemudian sibuk bermain main dengan jari jemari Olivia.



Tidak jauh dari mereka Keiko berulang kali mengambil foto Derren dan Olivia, ia seperti paparazi. Ia mengambil berpuluh puluh pose mereka secara candid.


”akan ku pilih nanti yang paling romantis untuk di bagikan ke media sosial” gumannya


”kirimkan padaku juga” suara itu mengagetkan Keiko


Keiko menoleh pada sumber suara


”om Andrew kau mengagetkanku” keluh Keiko


Andrew tersenyum


”kau seperti penguntit sejak tadi”


”om Andrew memata memperhatikanku?” tanya Keiko


”baiklah, ayo kita selfie” ajak Keiko, ia membalik kamera ponselnya dan mulai mengambil foto bersama Andrew,


”om fotonya Kei share di grup keluarga saja ya” usul Keiko


”ide bagus” kata Andrew sambil mengelus rambut di pucuk kepala Keiko.


Sedikit tersrnyum kecut, seharusnya gadis manis ini adalah putrinya. Ia sangat manis, seperti Livia ibunya. Tingkahnya, cara berbicara dan kerlingan matanya, ia memiliki sebagian diri Livia.


Setelah bercakap cakap bersama Andrew, Keiko mendatangi Jonathan dan Tiffany


“Joe oniisan, Tiffany oneesan Omedeto” kata Keiko penuh semangat sambil memeluk Tiffany dan Jonathan bergantian, tentu saja semangatnya berada di puncak karena ia dalam kemenangan besar.


”terima kasih Kei” jawab Tiffany


“oh iya Joe oniisan kau ingat kan dengan Mercedez AMG GT?” sindir Keiko


“apa maksudmu?” Jonathan salah tingkah jarena perbuatan adiknya


“jangan pura pura lupa oniisan” kata Keiko sambil mengerlingkan matanya


“aku tidak mengerti”


“baiklah aku ingatkan, neeee Tiffany oneesan jangan marah karena aku yang mendapatkan hadiah dari pernikahan kalian”


Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“hubby?” Tiffany meminta penjelasan dengan tatapan galak khas Tiffany


“baiklah" Jonathan mau tidak mau harus menjelaskan "aku dan Keiko bertaruh, dalam setahun setelah kita lulus aku pasti bisa menikahimu”


“dan?”


“dan aku kalah, kau baru saja hamil, apa boleh buat?”


“jadi jika aku tidak hamil kau tidak menikahiku?” Tiffany mengerutkan keningnya


“jangan lupa kau sendiri yang tidak ingin buru buru menikah” Jonathan membela dirinya


“hallooooo..... ada aku di sini” sapa Keiko dengan mimik kesal pada peengantin yang sedang berdebat.


Tiffany mendengus “apa taruhan kalian?” tanyanya


“mercedez AMG GT” jawab Jonathan dengan suara pelan.


“oh sayang sekali, seharusnya aku memiliki mobil baru hubby” tanpa di duga Tiffany juga bersemangat

__ADS_1


“kau tidak marah?”


“siapa bilang aku tidak marah? Tentu saja aku marah karena kau kalah” jawab Tiffany dengan eksperssi kesal


“lalu aku harus bagaimana darling?"


“kau harus membeli mobil itu dua unit, satu untuk membayar taruhanmu dan satu untukku sebagai kado pernikahan untukku”


“lalu kado untukku?” tanya Jonathan penuh harap


“apa pernikahan yang selalu kau impikan ini tidak cukup?” tanya Tiffany dengan tatapan galak


kembali


“kalian berdua memerasku” kata Jonathan sambil mengentakkan telapak tangannya pelan dengan posisi miring di atas kepala Keiko adiknya.


"arigatou oniisan" Keiko terkekeh dan secepat kilat melarikan diri.


Tidak lama setelah Keiko pergi seorang pria bermata biru datang menghampiri mereka bertiga itu adalah Anthonino.


“Nino kau datang” seru Tiffany sangat gembira, sepupunya sangat sibuk, mereka bahkan telah lebih dari 4 tahun tidak berjumpa.


“selamat mey mey, tentu saja aku harus datang karena ini hari besar adikku” katanya ramah


“xie xie Nino-gè” kata Tiffany


"aku akan memberimu berkat" kata pria tampan bermata biru itu


“hubby kau belum sempat berkenalan dengan Nino bukan?" Tiffany dengan hangat mengenalkan sepupunya Anthonino pada Jonathan suaminya


Jonathan berjabat tangan dengan Anthonino pria yang pernah ia cemburui, mereka sedikit mengobrol hingga tak lama Olivia dan Derren muncul, Tiffany juga mengenalkan Anthonino pada mereka berdua.


Acara lempar bunga segera akan di mulai, Keiko kembali datang menghampiri kakaknya.


“Tiffany oneesan, saat lempar bunga nanti lemparkan bunga pada Derren atau Olivia oke?” kata Keiko membisiki Tiffany


Tiffany mengangguk mengerti.


“oh iya Kei, kenalkan ini sepupuku” kata Tiffany mengenalkan Anthonino pada Keiko,


mereka berdua berjabat tangan untuk saling berkenalan, Keiko buru buru pergi, ia menjadi gadis yang paling sibuk, sedangkan ekor mata Anthonino tak henti hentinya mencuri curi padangan pada Keiko yang sama sekali tidak merespon kehadiran dirinya.



Teman teman lajang Jonathan dan Tiffany telah berdesak desakan, Keiko benar benar menyeret Derren dan Olivia meskipun tanpa percakapan, ia masih canggung pada Olivia dan pada Derren ia enggan berbicara karena kakaknya yang pendiam itu ia anggap menyebalkan. Ia terus memaksa agar keduanya turut serta meskipun gesture tubuh mereka menolak namun Keiko terus memaksa hingga terpaksa mereka berdua menuruti keinginan Keiko, ia bahkan menyeret keduanya hingga mereka berada di bagian terdepan dan bunga yang di lempar mempelai pengantin jatuh tepat di dada Derren.



Semua bersorak gembira...


Derren hanya tersenyum senyum kemudian memberikan bunga itu pada Olivia, namun Olivia menerimanya tanpa minat.


“kau pandai menargetkannya sayang” bisik Jonathan pada istrinya


“aku mengukur memakai skala berapa kemiringan jarak antara aku dan Derren, aku cerdas bukan?”


“kau memang istriku, tentu saja cerdas aku berhutang piala Galileo padamu” padahal baru tadi sepulang dari gereka mereka saling mengatai bodoh!!!


Tiffany tersenyum puas bunga yang ia lempar mengenai salah satu targetnya.


Ketika pesta hampir berakhir Nameera datang, ia datang bersama seorang pria asing yang dikenalkan sebagai teman sesama pilot.


Nemeera menghampiri Jonathan, Tiffany, Vicky, Derren, Olivia dan Keiko yang sedang duduk sambil menyantap makanan di meja.



“Joe, Tiffany selamat” kata Nameera memberi selamat yang di sambut hangat oleh Jonathan dan Tiffany, sedangkan Keiko dan Vicky asik bermain ponsel dan membuat cerita untuk media sosialnya.


“di mana kau menginap Nameera?” tanya Jonathan setelah Nameera duduk


“aku tidak menginap, kami terbang lagi pukul 10 malam”


“wah jadwalmu sibuk sekali”


“ya begitulah”


“jika kau datang ke Tokyo lagi menginap di rumah mommyku saja” kata Jonathan berbasa basi


“betul Nameera, kamarku tidak ada yang menempati, kamar kakakku juga kosong sekarang, nanti akan ku suruh orang mengubahnya agar cocok untukmu” kata Keiko tiba tiba menimpali


‘kakakku? Mereka juga kakakku! Bukan milikmu saja’ batin Nameera tidak suka.


“baiklah” jawab Nameera di iringi senyum terpaksa.


Nameera melirik Derren yang Olivia, Derren sedang menyuapi Olivia sambil pertengkaran pertengkaran kecil sesekali terdengar, Derren sama sekali tidak melirik dengan kedatangannya, Olivia juga hanya menyapanya dan tak mengajaknya berbicara apa pun.


Nameera ingin sekali merasakan kehangatan kakak kakaknya, ia ingin memiliki kakak yang menyayangi dirinya sebagai satu satunya adik perempuan seperti mereka menyayangi Keiko.


**HARI INI AUTHOR ULANG TAHUN YANG KE 16 😍😍😍🎂🎂🎂🎂🍫🍫🍫


DOAKAN AUTHOR YA SEMOGA CEPAT BESAR 😄😄😄😄


DAN DI LAMAR SAMA BABANG SEAN 😋😋😋😋


POKOKNYA TAP JEMPOL KALIAN WAJIBBB!!!! 😚👍👍👍👍💖💖💖**

__ADS_1


__ADS_2