Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 42


__ADS_3

Sesampainya di tempat tinggal mereka Derren memberikan Crystal yang telah tertidur pada nannynya, ternyata di meja makan telah di siapkan makan malam romantis, dengan lilin lilin kecil dan seikat mawar merah.


Derren melingkarkan lengannya di pinggang Olivia


“sebenarnya aku ingin melamarmu malam ini menggunakan cincin, tapi kau tidak sabaran sekali” kata Derren berbisik di telinga Olivia


Olivia mengerutkan keningnya


‘siapa yang tidak sabaran dan siapa yang minta di lamar?’ cibir Olivia dalam hati


“ayo Mrs. Tjiptadjaja” kata Derren sambil menarik sebuah kursi dan memberikan seikat mawar merah pada Olivia



“Olivia, ayo menikah secepatnya, oke?” tanya Derren sambil berlutut di depan Olivia


‘lamaran macam apa ini?’ batin Olivia geli bukankah biasanya pria akan bertanya ‘will you merry me?’


Jantung Olivia berdebar tidak karuan, seperti hendak melompat dari rongga dadanya, meskipun lamaran tidak romantis tetap saja Olivia merasa bahagia!!!


“Derren aku...”


“setelah kita mengambil sumpah dokter kita akan menikah, kau ingat kan janji kita dulu?”


Olivia membeku, tentu saja ia mengingatnya tapi bagaimana dengan Derren dan Merry?


Itu yang ada di benaknya sekarang!!! Namun kepalanya tak urung mengangguk juga


“Olivia aku ingin kau jadi milikku seutuhnya, secepatnya”


Olivia memeluk erat leher Derren, bahagia. Ia sangat bahagia, seketika ia melupakan Merry!

__ADS_1


“ayo menikah dan tinggal di tokyo...”


Olivia mengangguk lagi.


Derren melonggarkan pelukan Olivia, menatap dalam dalam mata Olivia yang penuh air mata, menyatukan kening mereka.


Tatapan mata mereka beradu, lalu bibir mereka bertemu, lembut dan dalam, penuh cinta, kerinduan dan sedikit putus asa, tidak ada nafsu.


“jangan pernah tinggalkan aku lagi Olivia, aku bisa gila, aku tidak bisa hidup tapamu. Aku mencintaimu sangat mencintaimu” bisik Derren lirih ketika bibir mereka terlepas


Tiba tiba Olivia mendorong dada Derren sedikit keras.


“kau selalu mengatakan cinta padaku tapi kau tidur bersama Merry” kata Olivia dengan suara serak, ia telah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mendengarkan pengakuan Derren yang mungkin akan menyakitkan.


“kau akan menikahiku hanya karena ada Crystal bukan?” lanjutnya mengeluarkan isi hatinya.


Olivia yakin Derren ingin menikahinya karena keberadaan Crystal bukan karena hal hal lain, bukan karena Cinta seperti yang tahun tahun yang oernah meteka lalaui bersama, keadaannya mungkin telah berbeda.


Derren menghela nafas berat, ini yang Derren tunggu akhirnya kata kata itu terlepas juga dari bibir Olivia.


Benar, selama Olivia bersama Derren ia memang tidak pernah berusaha membujuk Olivia, ia tak pernah merayu Olivia dengan kata kata manis, jika Olivia marah ia pergi ke tempat tinggal Miranda, orang yang akan menjemput dan membujuknya selalu Jonathan, dan berakhir mereka berdamai secara alami, Derren tidak pernah merayu dan membujuknya.


Derren dan Olivia memang ibarat dua magnet yang saling tarik menarik jika mereka berdekatan satu sama lai.


“baiklah” kata Olivia sambil menghela nafasnya, mempersiapkan diri untuk mendengar pemgakuan Derren.


“terima kasih sayangku, istriku” kata Derren, pandangan matanya menyiratkan secercah harapan.


“Merry menjebakku, hari itu aku terlalu lelah dan menunggumu yang tak kunjung sampai hingga aku tertidur tanpa menggunakan pakaian, aku tidak tau bagaimana cara ia masuk, seingatku aku sudah mengunci pintu” kata Derren sambil menatap Olivia “dan setelahnya ia mengancam akan membunuhmu jika aku tak menjauhimu” lanjut Derren dengan nada getir.


Olivia menatap Derren dengan pandangan bingung.

__ADS_1


Ia merasa pusing karena cerita Derren dan Merry bertolak belakang


“saat itu aku tidak berada di London, aku tidak bisa menjagamu setiap waktu, aku tidak memiliki pilihan, ku akui itu adalah kesalahan terbesarku, aku tidak berusaha menghentikanmu dan tidak tau kau mengandung Crystal. kumohon maafkan aku Olivia”


“sekarang ku mohon beri aku kesempatan, aku akan menebus semua kesalahanku, akan ku tebus waktu yang telah kusia siakan, apa pun untukmu Olivia, kau dan Crystal ayo kembali ke Tokyo di sana tidak akan ada yang bisa menganggu kita”


Olivia masih bingung, antara yang ia lihat dan apa yang di jelaskan Derren padanya. Mana yang harus ia percaya?


“Derren aku lapar” kata Olivia tiba tiba, ia tak berminat untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Derren.


“baiklah” kata Derren, ia melihat wajah Olivia kembali muram.


Derren tau otak Olivia telah terlanjur tertanam lebih mempercayai kebohongan Merry karena kesalahannya yang tak mencari Olivia selama ini.


Dan Derren juga tidak memiliki bukti yang menguatkan pembelaannya.


Sepertinya ia harus berusaha lebih banyak dan bersabar lagi untuk membuat Olivia benar benar kembali menjadi miliknya, gadis pujaannya yang sangat keras kepala, entah bagaimana caranya menghancurkan tembok yang menghalangi antara ia dan Olivia.


Malam sebelum mereka berdua tidur Derren mengambil ponsel Olivia di atas nakas samping tempat tidur, ia menggenggam jari jemari Olivia dan mengambil foto genggaman tangan mereka dengan menonjolkan cincin dijari manis Olivia.


“Derren kau sangat narsis, kau seperti remaja sedang puber” kekeh Olivia mengejek


Derren tidak mempedulikan ejekan Olivia, setelah mengotak atik ponsel Olivia ia kembali meletakkan ponsel di tempat semula lalu naik ke tas ranjang berbaring di samping Olivia dam memeluk gadis pujaannya.


“tidur sayang” bisiknya pada Olivia seraya mengecup keningnya.


Dan mereka tenggelam dalam lamunan masing masing hingga benar benar tertidur.


Tengah malam nafas Olivia terengah engah, ia terbangun dari tidurnya... Bayangan suram itu datang lagi, entah berapa kali sejak ia melihat Derren dan Merry di atas tempat tidur, Olivia sering terjaga tengah malam karena melihat bayangan itu. Sebenarnya bayangan menakutkan itu tidak pernah muncul lagi sejak adanya Crystal, namun malam itu bayangan paling menyakitkan dalam hidup Olivia datang kembali.


Kedua orang tuanya meninggalkannya, Derren juga pergi bersama Merry, dan Olivia di tinggalkan di padang pasir yang terik sendirian. Ia kehausan dan tak ada seorang pun yang menolongnya. Selalu, selalu seperti itu mimpi yang menghantuinya.

__ADS_1


Olivia menoleh pada Derren yang tidur dengan posisi terlentang di sampingnya, Ia kemudian bangkit menuju dapur untuk mengambil air minum karena kerongkongannya terasa kering dan ia memutuskan untuk sejenak duduk di kursi pantry sambil kedua tangannya memegang gelasnya yang terletak di atas meja, membiarkan pikirannya sedikit mengembara sambil memandangi cincin yang kini kembali meingkar di jarinya.



__ADS_2