Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
27


__ADS_3

TOKYO


Naoki memandangi langit tokyo melalui jendela kaca di perusahaannya, ia telah duduk di tempat itu tanpa beranjak sejak pagi hari hingga hampir pagi kembali. Perasannya sangat sakit, jantungnya seperti di tikam belati, di tusuk ribuan jarum,


Naoli hanya diam tak bergeming ia masih mmenyesali dirinya, seharusnya livia menjadi pengantinnya...


Livia....


Livia....


Livia....


Ia meraskan kepalanya berat, suara suara itu memenuhi kepalanya...


Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam 5 pagi...


Berkali kali ia menghembuskan nafas dengan kasar, dadanya terasa sesak...


Ia merasa tubuhnya lemas, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruangan kerjanya, mencoba memejamkan matanya.


Beberapa hari yang lalu ia telah dapat melepaskan gadis pujaannya, namun hari ini ia merasakan sakit yang luar biasa, lebih sakit di bandingkan ketika livia menemuinya di rumah sakit dan memberitahukan pilihannya.


Air matanya tiba tiba terjatuh meluncur membasahi kedua pelipisnya, ini adalah air mata pertama yang terjatuh dari matanya semenjak ia bukan lagi kekanakan...


Dan akhirnya ia tertidur.


Tepat pukul 10 pagi naoki di bangunkan oleh sakura untuk sarapan dan meminum obatnya, sejak naoki memutuskan untuk pergi dari rumah orang tuanya, dan mengundurkan diri sebagai CEO dari perusahaan keluarganya, sakura memilih mengikuti kakaknya dan sekarang membantu pekerjaan naoki di perusahaan pribadinya sakura memutuskan untuk merawat naoki, sakura tidak tega membiarkan kakaknya menjalani kehidupan sendirian sementara penyakit lambungnya masih belum sembuh total.


Sakura menatap iba kakaknya,


“oniisan, kau mencintai livia bukan? Kenapa tidak kau rebut saja dia, aku yakin livia neesan juga mencintaimu” sakura mencoba membicarakan masalah yang sedang di hadapi kakaknya


“sakura chan” kata naoki sambil menekan kedua pelipisnya “dalam hidup ini ada hal hal yang tak bisa di paksakan” lanjutnya


“tapi lihat dirimu sendiri, oniisan kau sangat menyedihkan”


“aku hanya perlu waktu sedikit untuk menerima kenyataan” jawab naoki “dan kau sakura chan, kau lebih baik kembali kerumah, kau harus tetap kuliahmu bukan?”


“aku bisa kuliah sambil bekerja dan merawatmu oniisan” jawab sakura, ia tidak akan meninggalkan kakaknya dalam keadaan terpuruk seperti ini


Sakura memandang iba pada kakaknya, kedua orang tua mereka selalu membanggakan naoki kakaknya karena ia sangat patuh dan selalu menjadi yang terbaik di sekolahnya, nilai nilai akademis kakaknya tidak pernah berada di peringkat nomer 2, ia selalu berada di peringkat nomer 1, entah tekanan dari orang tua atau memang kecerdasan otak kakaknya.


Kakaknya selalu mematuhi keinginan orang tuanya, bahkan kakaknya mempunyai impian menjadi seorang dokter bukan sebagai seorang pengusaha lagi lagi orang tua mereka memaksakan kehendak mereka agar naoki meneruskan bisnis mereka, mengharuskan naoki kuliah di bidang ilmu tekhnologi, namun sejauh ini walaupun menjadi pengusaha bukanlah impiannya kakaknya namun tetap saja kakaknya itu menjalani dengan baik bahkan menjadi sangat sukses.


KYOTO


Sore hari livia dan andrew mengantarkan seluruh keluarga mereka ke kansai untuk kembali ke jakarta


“bunda ayah.... nanti sering sering ya kesini” pinta livia pada kedua orang tuanya


“iya nak, ayah sama bunda pasti bakal sering jenguk kamu” kata yunita sambil memeluk putrinya “jaga dirimu, jangan merepotkan suamimu” dan menciumi kedua pipi livia


Livia mengangguk, lalu beralih ke pelukan doddy ayahnya


“ayaaah, livi bakal kangen ayah” katanya


“putri kecil ayah, ayah juga bakal kangen terus sama livi, telfon ayah setiap hari dan jaga cucu ayah baik baik” bisik ayahnya sambil mengecup pucuk kepala putri satu satunya itu


“mommy, sampai jumpa lagi” kata livia memeluk sofia mertuanya


“livia ingat pokoknya kalau andrew macam macam langsung hubungi mommy, mommy akan cepat cepat ke kyoto buat hajar dia” kata sofia yang membuat andrew menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


“daddy, samapai jumpa lagi” kata livia memeluk ayah mertuanya


“jaga kesehatanmu livia” kata ayah mertuanya


Sedangkan andrew ia sudah mendapat wejangan wejangan yang memenuhi isi kepalanya sejak tadi siang, wejangan dari kedua orang tuanya belum lagi dari danu, yaa wejangan dari danu yang membuatnya takut melebihi wejangan dari mommynya.


Sedangkan kedua orang tua livia hanya mengatakan “titip livia ya nak andrew”


Livia mendekati yudha dan memberikan sebuah kotak kepada yudha


“mas yudha ini buat mas yudha, buka nanti pas udah sampe di jogja, inget ya di bukanya nanti kalo udah sampe di JOGJA” livia menekankan kata jogja.

__ADS_1


“apaan sih livi? bikin penasaran”


tanya yudha


“udah jangan bawel”


Livia mendekati danu dan memeluk danu “mas danu...” suaranya berubah manja, berbeda dengan cara ia berbicara pada yudha barusan


“livi, baik baik sama suamimu, jangan menyusahkan, jangan cengeng, kalo ada apa apa langsung telfon mas danu oke?” kata danu mengusap usap punggung livia sambil mendekap penuh kasih sayang, bibirnya mengecup pucuk kepala adiknya, bahkan andrew melihat kasih sayang danu pada livia berlebihan sebagai seorang kakak pada adiknya.


Livia menarik tubuhnya dari dekapan danu dan mendekati gendis yang berada tepat di samping danu.


“mbak gendis cepat hamil yah, biar kita nanti sama sama punya anak yang imut” kata livia memeluk gendis.


Ini pertama kali livia mengajaknya berbicara selain bertanya keberadaan danu.


Gendis tersenyum kecut, bahkan sejak pernikahannya dengan danu pria itu baru menyentuhnya saat malam pertamanya dan malam di hari pernikahan livia.


“iya livia, doakan mbak cepat hamil” jawab gendis.


Entah apa yang membuat danu menerima gendis sebagai pacarnya, sejak awal hubungan mereka gendis lah yang berinisiatif menyatakan cinta pada danu, dan danu langsung menerima tanpa memikirkan apa apa, bahkan danu langsung meminta gendis bekerja di perusahaannya sebagai sekretarisnya.


Semula gendis mengira danu menerimanya karena danu juga merasakan perasaan yang sama.


Bahkan hubungan mereka menjadi bertunangan, dan akhirnya menikah, danu bersikap biasa saja pada gendis. Dan gendis dengan bodohnya bertahan pada pria yang dingin dan tak mencintainya hingga 10 tahun.


Di perjalanan pulang dari osaka menuju kyoto andrew menanyakan pada livia kado yang di berikan pada yudha


“kok yang lain gak di kasih kado sih sayang cuma yudha aja?”


“yang lain gak butuh kado kaya gitu drew”


“isinya apaan sih? Sayang kamu gak jahilin yudha kan?” tanya andrew penasaran


“pengen tau apa pengen tau?”


Livia tertawa terbahak bahak membayangkan isi kado yang akan membuat yudha mengamuk


“pengen tau, serius”


Tetap saja andrew kaget hingga menginjak rem mobilnya mendadak dan kepala livia mengenai dasboard mobil


“drew kamu mau bunuh istri kamu yah?!” tanya livia kesal


“maaf sayang, lagian kamu iseng banget, kasihan loh yudha pasti kesel banget pas buka kado” kata andrew prihatin pada yudha namun ia tertawa juga “ tapi ngomong ngomong kapan kamu belinya?”


“pas kita jalan jalan drew 2 hari sebelum kita nikah itu, aku menyelinap” jawab livia “keren kan drew?” jawab livia dengah bangganya


“keren dari hongkong” keluh andrew istrinya ini ternyata bukan kucing jinak yang lucu, tapi rubah yang licik. Andrew tersenyum gemas sendiri.


Baru saja mereka berdua sampai di apartemen andrew memberikan sebuah kotak berwarna pink kepada livia.


“drew kamu ngerjain aku yah, apa ini isinya?” tanya livia panik


“buka sayang” kata andrew


“gak mau drew, kamu buka sendiri aja”


“aku gak jahil kaya kamu yah livia, buka aja hadiah buat pernikahan kita" andrew mulai tidak sabar


Livia menatap galak ke arah andrew dengan takut takut ia membuka kotak tersebut dan ternyata isinya sebuah kunci mobil


Seperti yang di katakan andrew, itu sebuah kunci mobil bugati chiron


“drew kamu menghambur hamburkan uang, aku gak perlu ini. Audi ku masih bagus, aku juga jarang pake mobil, lagian aku nanti hamil, ngurus bayi aku gak ada waktu pake mobil” di luar dugaan andrew livia tidak senang dengan hadiah yang ia berikan


“livia kenapa kamu kayanya senang banget sama hadiah dari naoki sedangkan hadiah dari aku kamu tolak” Suara andrew sedikit tidak senang


"aku gak nolak, aku cuma bilang aku gak perlu mobil itu"


"tapi aku gak suka livia kamu pake mobil jelek itu lagi"


“kamu yah drew" livia mulai tersulut emosi "jangan bawa bawa naoki" bela livia pada naoki

__ADS_1


"aku gak bawa bawa naoki, cuma kayanya kamu gak bisa lupain dia, ngebela dia terus"


"kamu berlebihan, aku gak perlu hadiah mobil mewah untuk hadiah pernikahan"


“aku tidak berlebihan, aku mampu membeli, aku bisa beliin kamu 5 kalau kamu mau. buat aku 1 buah bugati masih gak ada apa apanya”


“stop drew..! aku gak suka ya kamu banding bandingin diri kamu sama naoki, aku gak suka kamu bawa bawa dia dalam pertengkaran kita” dengan ketus livia mengucapkan kata katanya lagi “tapi karena udah di beli, oke aku terima, terima kasih” kata livia dan berlari ke kamarnya


Livia kesal karena andrew menganggapnya masih seperti dulu, cewek matre yang segalanya di ukur dengan uang, jelas saja andrew dan naoki tentu kebih kaya raya andrew namun menghina pemberian naoki, andrew sungguh keterlaluan menurut livia.


Sedangkan andrew, ia sangat kesal dengan livia, ‘kenapa wanita sangat sulit di pahami?’ Batinnya


Ia mengusap kasar rambutnya dan merebahkan tubuhnya di sofa


Kemudian ia ingat kata kata danu sebelum ia mengantarkan seluruh keluarga ke kansai


“andrew, livia itu segalanya bagi kami, jadi tolong jaga dia, rawat dia dengan baik, jangan sampai ia terluka hatinya, apalagi dengan kata kata kasar, seumur hidup livia tidak pernah di bentak ataupun di marahi, tolong ingat kata kataku” kata danu yang dingin langsung membuat nyali andrew menciut.


“iya mas” hanya itu kata kata yang bisa andrew ucapakan


“kalo kamu nanti gak sanggup lagi ngurus dia, kembalikan dia padaku, aku sendiri yang akan mengurusnya” lanjutnya lagi dengan suara dingin, ‘danu selalu bersikap dingin padaku apa salahku?’ Batin andrew dan kata kata danu? Kenapa harus mirip dengan kata kata naoki????


Andrew bergidik melihat tatapan danu yang tampak mengintimidasi setiap menatap ke arahnya, ada sedikit kecurigaan andrew setiap melihat tatapan danu terhadapanya seolah melihat tatapan livia setiap kali livia menatap ke arah gendis.


Ia telah mengamati dan memikirkan selama 1 minggu kebersamaan mereka, sebenarnya ia semakin curiga.


'*Apakah livia mencintai danu?'


'Apakah danu mencintai livia*?'


Mereka bukan saudara mungkin saja tumbuh benih cinta di antara mereka, andrew telah mengetahui livia bukan anak kandung keluarga artajaya langsung dari mulut mereka saat andrew berkunjung untuk melamar livia. Andrew merasa kepalanya menjadi pusing memikirkan hal hal itu.


Jika benar kecurigaannya maka saingan cintanya bukan hanya naoki namun juga ada danu.


Andrew bangkit menuju kamar dimana livia berada, istrinya sedang berkutat dengan macbooknya, bermain game seperti yudha, istrinya bahkan tidak memikirkan pertengkaran mereka sedikitpun.


Sebenarnya ketika andrew di luar livia sedang membuka sebuah folder foto foto dirinya bersama naoki, namun mendengar andrew membuka gagang pintu livia segera mengklik tanda x di ujung kanan atas layar macbooknya dan beralih ke aplikasi game.


“sayang maaf” kata andrew memeluk livia dari belakang


“mmmmmmmmm”


“jalan jalan yuk, pake mobil baru” kata andrew merayu livia


“males drew aku capek mau tidur”


“mau aku masakin gak?” tanya andrew


“gak mau” jawab livia singkat


“dedenya nanti kelaperan loh kamu kan belum makan malam” andrew mengingatkan


“drew aku masih kesal yah sama kamu, kamu beliin aku mobil gak sesuai sama aku, aku ini cewek yah, cewek, aku gak butuh mobil dengan cc besar kaya gitu, itu terlalu cepat” livia mulai mengeluarkan unek uneknya


“kamu bisa pakai sopir sayang”


“terus apa gunanya kamu beliin mobil kalau aku gak bawa sendiri, orang lain yang nyetirin?”


andrew menggaruk tengkuknya lagi “salah lagi” gumannya


“oke kita jual lagi terus kamu beli yang baru sesuai keinginan kamu” andrew berusaha mengalah “ayo kita cari makan dulu” kata andrew membujuk livia yang akhirnya diangguki livia, ia menutup macbooknnya dan mereka akhirnya mengendarai bugati yang menjadi sumber pertengkaran.


Bahkan livia mengambil beberapa foto selfienya di dalam mobil dan berdiri di depan mobilnya dan dengan pamer memposting di instagramnya,


‘bilang gak mau tapi di pamerin? Dasar cewek susah di mengerti’ gerutu andrew dalam hati


YOGYAKARTA


Sore hari berikutnya yudha sesampainya di yogyakarta ia teringat hadiah yang di berikan livia padanya, ia segera membukanya dan alangkah kesalnya, ia tidak tau harus marah atau tertawa dengan hadiah yang adiknya berikan karena itu adalah sex toys berbentuk alat kelamin wanita dengan batere dan ada sebotol cairannya juga.


“buat mas yudha yang kelamaan jomblo” pesan livia di secarik kertas


Ya memang yudha jomblo, bukan karena tidak laku tapi karena kesibukannya, ketika duduk di bangu SMA ia terkenal play boy hingga di bangku kuliah predikat itu masih melekat. Namun sekarang ia telah lama menjomblo dan tidak memiliki pacar karena benar benar tidaknada waktu untuk memikirkan percintaan. namun ia tidak khawatir sama sekali dengan kejombloannya sekarang lagi pula ia sedang akan berusaha untuk seseoarang juga.

__ADS_1


Yudha memasukkan benda karet itu ke dalam kotak dan menyimpannya ke dalam lemari, mungkin suatu saat akan berguna. Bibirnya menyeringai kecil.


Kemudian mengirim pesan pada livia “awas kamu livi!!!”


__ADS_2