Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 87


__ADS_3

Selama Miranda dan Richard masih berada di Tokyo, mereka bersama Olivia dan Derren menikmati hari hari mereka bersama, sekedar berjalan jalan dan menikmati kuliner di negeri sakura.


Dan setiap hari Olivia bersama Miranda pergi berjalan jalan entah kemana, sementara Richard dan Derren mereka bertugas menjaga putri mereka, lalu setiap malam kedua gadis itu memasak bersama seperti ketika mereka tinggal bersama di London, tentu saja sangat menyenangkan karena seperti mereka kembali menjadi gadis remaja.


Setelah Miranda dan Richard kembali ke London, Olivia mendadak merasa seluruh tubuhnya terserang lelah. Malam itu di dalam kamar, Derren sedang memijit kaki istrinya.


“Apa sekarang lebih baik?” tanya Derren


Olivia mengangguk


“Aku sudah mengatakan padamu berulang kali untuk tidak perlu memasak lagi ke dapur, kau bandel sekali Olivia” omel Derren, Olivia mengeluh kakinya pegal karena ia terlalu bersemangat di dapur dan juga berjalan jalan.


“Derren aku perlu bergerak bebas, lagi pula kandunganku masih belum terlaku besar” kata Olivia membela diri, kandungannya baru menginjak usia 3 bulan dan suaminya memperlakukan Olivia solah kandungan Olivia berusia 9 bulan dan akan melahirkan dalam waktu dekat.


“Kau sekarang pandai membantahku mama”


“Kapan aku tidak pandai membantahmu?” kekeh Olivia


“Kau sangat nakal” gerutu Derren


Olivia menyeringai lebar


Derren akhirnya merebahkan tubuhnya di sisi tubuh Olivia


“Richard mengatakan Merry telah sembuh, apa kau ingin melanjutkan kasusnya?” kata Derren, ia baru saja mengingat obrolannya bersama Richard beberapa hari yang lalu.


Olivia menatap wajah suaminya


“Syukurlah” guman Olivia “Sudah cukup, ia sudah sangat menderita” hanya itu kata kata Olivia namun Derren tidak perlu menanyakan lagi, bahwa istrinya ingin yang terbaik untuk Merry.


Derren merengkuh tubuh Olivia yang kini semakin padat berisi, membawanya ke dalam pelukannya, meskipun ia ingin memakan Olivia malam itu namun ,melihat raut wajah kelelahan istrinya Derren mengurungkan niatnya.


Dua hari kemudian Olivia dan Keiko bertemu Takumi di sebuah studio musik untuk membahas materi lagu yang telah mereka pelajari, Olivia dan Keiko mulai menyesuaikan nada nada seperti yang Takumi inginkan.


Hampir dua jam mereka berlatih, tidak ada percakapan berarti antara Takumi, Keiko dan Olivia. Semuanya berjalan seperti sewajarnya.


Beberapa menit setellah latihan berakhir Derren datang untuk menjemput Olivia,


Dan hal hal seperti itu terulang selama beberapa kali, hingga jadwal rekaman yang di tentukan tiba.


Hari itu Derren menemani Olivia dan Keiko mengambil Video sekaligus rekaman, hal itu di lakukan secara bersamaan agar menghemat waktu.


Derren juga tidak banyak berkomentar, ia hanya duduk mengawasi istri dan adiknya hingga semua proses selesai dalam satu hari.


“Nona Olivia terima kasih atas kerja sama anda” kata Takumi


“Terima kasih kembali tuan Takumi” jawab Olivia dengan nada sangat sopan.


“Bagaimana jika kita merayakan ini dengan makan malam?” tanya Takumi “Maksud saya seluruh kru yang terlibat, kita bisa sambil berbicara masalah pemasaran dan pembagian royalti”


Derren yang berdiri di samping Olivia hanya diam saja memandang Takumi dengan tatapan tenang.


“Maaf tuan Takumi, saya sedang hamil, dan saya merasa sudah cukup lelah hari ini, saya harus pulang untuk istirahat” tolak Olivia dengan sopan “Saya akan kirim pengacara untuk mengurus semua dokumennya” Olivia mengelus perutnya yang mulai tampak membuncit, sekilas Takumi melirik telapak tangan Olivia dengan ekor matanya.


“Oh sayang sekali” kata Takumi tampak kecewa “Baiklah sampai jumpa” kata Takumi, ia memandang Derren dan Olivia yang menghilang di balik pintu.


“Takumi-kun” sapa Keiko


Takumi menoleh ke arah sumber suara,


“Kei...”

__ADS_1


“Kau sepertinya sangat mengagumi kakakku Olivia” kata Keiko langsung


Takumi hanya tersenyum simpul


“Kakak lelakiku sangat mencintai Olivia, mereka seperti di takdirkan untuk berjodoh sejak kecil” kata Keiko


“Aku tidak memiliki maksud apa pun pada Olivia” Takumi membantah


“Aku tidak bermaksud menuduhmu” kata Keiko


“Aku tahu, awalnya aku memang” Takumi berhenti sejenak untuk menghela nafasnya “Awalnya aku ingin mendekati Olivia, namun aku benar benar tidak memiliki celah” kata Takumi sambil melangkahkan kakinya menuju sofa diikuti oleh Keiko


“Kenapa kau berpikir kau memiliki kesempatan?” tanya Keiko setelah mereka berdua duduk dengan nyaman di atas sofa


“Mungkin itu hanya obsesiku, aku terpesona pada pandangan pertama”


Keiko terkekeh “Percayalah, kau seorang bintang yang sangat bersinar di Jepang, ada banyak gadis yang menginginkanmu, kau tidak perlu membuang waktumu lagi untuk mendekati wanita bersuami”


Takumi mengangkat bahunya.


“Percayalah padaku Takumi, Olivia tidak bisa hidup tanpa Derren kakakku begitu juga sebaliknya”


“Apa yang membuat mereka terikat seperti itu? Apa karena anak?”


“Aku tidak mengerti hal-hal rumit seperti itu” Keiko kembali terkekeh, ia tidak mengeryi apapun tentang rumah tangga “Oh iya, masalah Royalti, Olivia akan menyumbangkan semua hasil bagiannya ke yayasan amal milik mereka” lanjut Keiko


“Yayasan amal?”


“Ya, aku pikir bagianku juga lebih baik di sumbangkan”


“Kalau begitu sumbangkan juga bagianku juga Kei-chan” kata Takumi,


“Jangan berkata lagi kau masih ingin mendekati Olivia Oneesan” kata Keiko dengan tatapan mengancam Takumi


Keiko tertawa ringan “Sepertinya aku akan menikah dalam waktu dekat”


“Oh ya? Kenapa tidak ada desas desus maupun gosipnya?”


“Baru sekedar rencana” kata Keiko sambil membenarkan posisi duduknya


“Umurmu masih sangat muda Kei-chan”


“Ku rasa aku telah matang” jawab Keiko penuh percaya diri kemudian ia melirik jam di pergelangan tangannya.


“Kemana asistenmu?” tanya Takumi


“Mereka menunggu di mobil”


YOGYAKARTA-INDONESIA


Olivia duduk di samping makam orang tuanya, air matanya masih terus membasahi pipinya , hampir setengah jam ia berlutut sambil menangis tanpa berkata apa pun.


Olivia mengira bahwa ia telah mampu mengubur semua kepahitan kehilangan kedua orang tuanya setelah tahun tahun yang ia lalui, ia mengira dirinya telah mampu menerima apa yang telah menjadi takdirnya.


Namun faktanya mengunjungi makam kedua orang tuanya, membuat jantungnya terasa seperti di robek oleh ratusan belati.


“Mami, papi, seharusnya kalian menyaksikan Olivia sekarang telah menjadi dokter, Olivia memiliki Crystal, dan Derren yang selalu menggertak menjadi suamiku” kata Olivia di sela isakannya “Tapi papi, mami, jangan khawatir Derren tidak pernah lagi menggertakku, dia menjadi suami yang sangat baik”


Derren yang berjongkok di samping Olivia mengelus pundak istrinya dengan lembut, sementara Crystal yang berada dalam kungkungan pelukan ayahnya ia tampak tak mengerti, ia hanya memandang wajah ayahnya, kemudian bergantian memandang wajah ibunya yang sedang menangis tanpa berkomentar apa pun.


Beberapa menit kemudian Derren membujuk istrinya untuk kembali ke kediaman mereka di Yogyakarta. karena telah terlaku lama istrinya menangis sambil berjongkok di sisi makam.

__ADS_1


Sesampainya di rumahnya, Olivia menuju kamar mendiang kedua orang tusnya, tangannya mengambil beberapa album foto dari lemari.


Masih dengan air mata berderai ia mulai membuka album foto itu halaman demi halaman.


“Derren” erang Olivia


“Ya sayangku”


“Aku ingin menjual beberapa aset di sini”


“Kau yakin?”


Olivia mengangguk “Kembali ke rumah ini membuat hatiku sangat sakit” kata Olivia terbata-bata


Derren tersenyum, merengkuh istrinya ke dalam pelukannya, menciumi pucuk kepalanya.


“Apa kau perlu pendapat kakek dan nenek serta om Yudha?”


Olivia menggeleng


“Baik, biar orang orangku mengurus semua” kata Derren dengan nada penuh kasih sayang “Tapi aku ingin tetap memiliki sebuah rumah di sini, bagaimanapun juga, kita memiliki asal usul dan silsilah dari kota ini” lanjut Derren, Herdiana nenek kandungnya berasal dari kota pelajar, itu tidak bisa di pungkiri begitu saja.


Olivia hanya mengangguk


“Aku akan mencari lahan yang tepat, kau ingin rumah bergaya apa?” tanya Derren “Pink minimalis?”


Olivia menyeka air matanya, ia sedikit terkekeh sambil membebaskan tubuhnya dari pelukan suaminya.


“Derren aku tidak menyukai lagi warna itu”


“Oh ya? Aku tidak yakin” goda Derren


“Oke, aku masih menyukainya” kesal Olivia, ia meraih sebuah album lain yang tampak usang.


Sebuah Foto terjatuh ke lantai saat Olivia hendak memindahkan album itu ke pangkuannya.


Derren memungut foto itu, itu adalah foto Livia mengenakan seragam sekolah menengah atas, dan Danu tampak mengenakan almamater di universitasnya.


Livia tampak melihat ke arah kamera dengan wajah berseri seri sedangkan Danu tampak memandang Livia dari belakang dengan tatapan yang sulit di artikan, namun bukan itu yang membuat Derren tercengang, tulisan di balik foto itu, tulisan yang hampir pudar karena tinta yang termakan oleh waktu.


'Hanya Livi dan Tuhan yang tahu'


Jelas itu tulisan Danu, karena Derren sangat tahu seperti apa bentuk tulisan ibunya.


“Foto siapa?” tanya Olivia


“Foto papi” kata Derren sambil memasukkan foto tersebut ke dalam saku jaket yang masih di kenakannya.


“Kenapa kau menyimpannya?”


“Hanya ingin” jawab Derren sekenanya “Olivia” suara Derren terdengar lirih “Kau tahu? Kenapa Tuhan mempersatukan kita?”


“Karena kau sangat mencintaiku” jawab Olivia seolah ia sedang mengejek Derren


“Kata katamu terdengar seperti kau tidak mencintaiku saja” kata Derren sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Olivia


“Kau menjebakku”


“Ya menjebakmu dengan cinta”


‘Cinta Livia dan Danu yang tak sampai, namun Tuhan menggantikan dengan cinta pada keturunan mereka’ batin Derren,

__ADS_1


Tidak perlu mendengar langsung dari bibir ibunya, namun ketika Danu meninggal, Derren sempat mendatangi kamar tidur ibunya yang berada di kediaman keluarga Artajaya, tak sengaja Derren menemukan buku harian milik ibunya ketika remaja, buku harian itu kosong hanya ada beberapa foto Livia dan Danu, Livia menuliskan sebuah kalimat ‘Mampu ku genggam, namun mustahil ku raih.’


__ADS_2