
Dikamar pasangan Olivia dan Derren, ketika sarapan di antarkan oleh pelayan, Derren dan Olivia baru saja selesai melakukan olah raga paginya.
Olivia benar benar tidak mengerti, suaminya bahkan hanya tidur beberapa jam atau bahkan menit namun ia masih sanggup untuk melakukan olah raga pagi.
“Jangan memandangiku seperti itu” rengek Olivia karena Derren terus saja memandangi wajahnya
“Kau sangat menggemaskan”
“Aku bukan Crystal” protes Olivia
“Kalian sama sama menggemaskan” kata Derren sambil meraih telapak tangan Olivia kemudian mengecupnya.
“Derren berhenti merayuku, makan sarapanmu”
Derren hanya menyeringai lalu memasukkan roti kedalam mulutnya,
“Derren suapi aku” pinta Olivia
“Baik ratuku”
Olivia dengan lahap memakan sarapannya dari tangan suaminya.
“Apa kau manja seperti ini saat mengandung Crystal?”
Olivia menyeringai
“Jawab Olivia”
Olivia kembali menyeringai
“Pasti kau berpikir aku merengek pada Theo” kata Olivia dengan nada menggoda Derren
“Akan ku patahkan tangan Theo jika bertemu lagi nanti” geram Derren
“Jadi seperti itu cara mu membalas budi pada orang yang merawat putrimu?” kekeh Olivia
“Dia telah bertindak terlalu jauh”
“Kau benar benar pria kejam Mr. Tjiptadjaja yang possesive” kata Olivia sambil tertawa bahagia karena Derren terbakar cemburu yang tidak masuk akal.
Memang dulu ia sering merengek pada Theo, dan Theo juga selalu menuruti apapun kehendak Olivia meskipun kadang keinginan Olivia berlebihan dan tidak masuk akal, seperti ia ingin makan kebab tengah malam dan Theo menemaninya berkeliling kota London untul mencari Restauram Timur tengah yang buka 24 jam, dan ketika mereka menemukannya, Olivia hanya menggigit kebabnya sedikit lalu membiarkan kebabnya seolah ia tak me gingat betapa perjuangan mereka mencari restoran itu tidaklah mudah.
Derren membawa Olivia membersihkan tubuh mereka lalu membawa Olivia kembali naik ke peraduan untuk memejamkan matanya.
Tapi baru saja Derren menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka Olivia tiba tiba merengek kembali
“Derren ayo kita ke Yogyakarta” guman Olivia tiba tiba
__ADS_1
“Baik, kapan kau ingin?” tanya Derren
Olivia meraih telapak tangan Derren dan meletakannya di perutnya
“Saat baby telah kuat” kata Olivia dengan nada mengambang
“Kita akan mengunjungi kakek dan nenek Tjiptadjaja juga” kata Derren sambil membelai lembut perut Olivia yang masih rata,
Olivia mengangguk
Derren menatap dalam dalam mata Olivia.
“Kau telah siap?” tanya Derren dengan hati hati
Sedikit keraguan terpancar di mata Olivia, Derren memahami itu. Sejak orang tuanya tiada Olivia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya kembali ke Indonesia, bukan Olivia namanya jika berani menghadapi kenyataan pahit. Bukan Olivia namanya jika tidak ketakutan menghadapi kepedihannya, Olivia bahkan sangat jarang berbicara tentang kenangan kedua orang tuanya, Olivia yang rapuh, penakut dan cengeng.
“Tidak perlu memaksakan diri” kata Derren dengan nada sangat lembut
“Aku rindu papi, mami” erang Olivia
“Aku tahu”
Derren meraih tubuh istrinya lalu membenamkannya ke dalam pelukannya, tidak mudah bagi Olivia gadis yang sangat di manjakan kedua orang tuanya menjadi yatim piatu dalam sekejap, Derren sepenuhnya memahami itu.
“Aku pasti membawamu ke sana, Crystal harus tahu di mana tanah air ibunya” kata Derren, Derren hampir saja lupa bahwa Crystal berkewarga negaraan Indonesia, silsilah rumit darah yang mengalir di tubuhnya membuat ia juga merasa sedikit bingung.
Secara dokumen, ia memang warga negara Indonesia, namun, secara fisik ia benar benar bukan seperti orang Indonesia. Ia dan Jonathan mewarisi separo gen Andrew dan Livia yang setengah keturunan Eropa yang tentu saja menjadi 100% postur tubuh dan wajah mereka tidak ada ciri ciri fisik dari asia.
“Iya...”
“Apa cinta kita nanti akan seperti Papi dan mami?” tanya Olivia dengan nada murung
“Ya, seperti janji kita di atas altar pernikahan, sampai maut memisahkan kita” jawab Derren dengan nada pasti “Jangan berpikir macam macam Olivia” Deren mengecup kepala istrinya, gadis manja dan cengeng yang selalu ia gertak sejak kecil.
“Tidurlah, baby dan mamanya belum cukup tidur hari ini” lanjut Derren
“Papa juga” Olivia melanjutkan, ia mengeratkan pelukannya di pinggang Derren, membenamkan wajahnya di dada suaminya yang ditumbuhi bulu bulu halus, menghirup aroma maskulin yang mampu menenangkan jiwa Olivia, hanya Derren yang mampu membuat Olivia memiliki gairah hidup sejak kepergian kedua orang tuanya.
Sementara di sebuah mall kelas atas di kota Tokyo.
Keiko mengenakan pakaian senada dengan Crystal dan tentu saja senada dengan Livia juga, ketiga wanita itu benar benar kompak, hanya Kevin saja yang mengenakan pakaian yang sedikit berbeda karena ia adalah pria satu satunya di antara mereka, tentu saja bodyguard yang menjaga Keiko tidak termasuk dalam hitungan.
Mereka berempat hanya pergi ke Mall namun membawa 2 body guard, 2 baby siter dan satu orang asisten Keiko, yang bernama Sarah.
“Hufft...” dengus Livia “Bagaimana mungkin bisa belanja dengan tenang sementara Crystal berlarian ke sana kemari” keluh Livia karena Crystal tidak mau duduk di strolernya seperti Kevin yang dengan patuh duduk di strolernya.
“Crystal bisakah kau duduk manis seperti Kevin?” bujuk Livia
__ADS_1
“Tidak mau, Crystal sudah besar, Kevin masih bayi” jawab Crystal dengan wajah judes menentang perintah Livia
“Mommy, biarkan saja, tentu saja Crystal tidak mungkin diam seperti Kevin, jangan samakan mereka, Kevin masih 8 bulan” dengus Keiko membela Crystal, ‘bagaimana bisa ibunya tidak memahami anak kecil? Apa benar wanita ini pernah melahirkan 4 orang anak?’ batin Keiko.
“Tapi mommy tidaak bisa konsentrasi memilih apa pun” gerutu Livia
“Mommy koleksi barang barang milikmu sebaiknya di lelang untuk amal” usul Keiko
Livia mencibir putri satu satunya
“Aku tidak perlu melelang barang barangku untuk beramal”
“Barangmu terlalu banyak mommy”
“kau boleh memakainya”
“Gaya itu terlalu tua untukku mommy”
“Omong kossong, aku belum tua”
“Kau mommyku dan Crystal cucumu, siapa bilang kau tidak tua” dengus Keiko kesal, bagaimana mungkin ibunya mengaku belum tua? Yang benar saja.
“Necan, i want this bag” Crystal menunjuk sebuah tas kecil dari brand ternama dunia yang memang di desain khusus untuk anak anak
“Wich colour you want?” tanya Livia, meskipun Crystal dianggap mengganggu acara belanjanya tapi tetap saja Livia tidak bisa menolak kehendak Crystal.
“Pink” tunjuk Crystal pada warna Pink, warna kesuakaan Olivia ibunya yang tentu saja meracuni otak putrinya juga.
“Oke, kau akan mendapatkannya” kata Livia, ia segera meminta pegawai menyiapkan pembayaran.
Melihat itu Keiko tidak mau kalah, ia juga mengambil tas yang sama, hanya dengan ukuran yang berbeda. Melihat Keiko yang tak mau kalah Livia menggelengkan kepalnya.
Setelah acara berbelanja yang menyenangkan wanita wanita Yamada itu segera menuju sebuah Restoran bergaya barat yang ada di dalam Mall tersebut, mereka menikmati makan siang mereka yang hampir terlambat.
Livia tiba tiba mengingat Hana dan Yukari kedua sahabatnya yang kini telah menjadi keluarganya, cukup lama mereka tidak bberjumpa untuk sekedar makan siang atau minum teh bersama sama.
Ia segera memberi menghubungi kedua sahabatnya untuk mengatur jadwal pertemuan.
Kemudian mereka melanjutkan acara belanja mereka. Seperti tidak akan puas.
SLOW UPDATE KARNA AUTHOR GAK KEJAR TARGET 😚😚
SABAR YA KYOTO LOVERS 😚😚😚
Untuk Married with Pilot
__ADS_1
Chapter akan di update setelah setelah waktunya tepat, karna kalau author update chapter sekara g cerita akan menjadi timpang.
Simpan aja dulu di daftar fav kalian 😙😙