
Olivia menoleh pada Derren yang tidur dengan posisi terlentang di sampingnya, Ia kemudian bangkit menuju dapur untuk mengambil air minum karena kerongkongannya terasa kering dan ia memutuskan untuk sejenak duduk di kursi pantry sambil kedua tangannya memegang gelasnya yang terletak di atas meja, membiarkan pikirannya sedikit mengembara sambil memandangi cincin yang kembali melingkar di jarinya.
Sementara di dalam kamar Derren ia juga mendadak terjaga karena ia bermimpi Olivia pergi membawa Crystal “Derren, sejak saat ini aku melepasmu” kata Olivia persis seperti 3 tahun yang lalu dan mata Derren langsung terbuka lebar, jantungnya berdetak tak berirama.
Ia sangat takut Olivia kembali meninggalkannya, tidak ada hal tang kebih buruk dalam hidupnya selain kehilangan Olivia.
Mendapati Olivia tidak di sampingnya lagi, reflex Derren bangkit dari tidurnya, mencari Olivia di kamar mandi namun Olivia tidak ada di sana,
“Olivia, Olivia....” teriak Derren berulang kali dengan panik sambil keluar dari kamar
Olivia terkejut dan tergopoh gopoh berdiri
“Derren ada a....” belum selesai Olivia mengucapkan kalimatnya tubuhnya di tubruk oleh Derren, dan pelukan Derren begitu erat.
“jangan tinggalkan aku Olivia, jangan pergi lagi” katanya berulang ulang, tubuh Derren bergetar hebat,
Olivia membiarkan Derren memeluknya erat, bahkan pelukannya terasa seperti hendak meremukkan tulang belulang Olivia
“Olivia, jangan pernah berpikir pergi dariku, jangan pernah” Derren terisak
‘apa? Derren menangis?’ Olivia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi!!!
“Derren ada apa? Aku hanya mengambil minum” protes Olivia sambil berusaha sedikit membebaskan tubuhnya yang nyaris kesulitan untuk bernafas.
“bangunkan aku jika kau ingin sesuatu, oke? Jangan pergi sendiri”
“ini di dalam tempat tinggal kita kau berlebihan” protes Olivia
Derren mengeratkan pelukannya kembali namun kali ini tidak menyiksa seperti sebelumnya, jantung Derren berpacu cepat bahkan Olivia mampu mendengarnya.
“aku takut kau pergi lagi dariku, aku sangat mencintaimu Olivia...” Derren masih terisak
Hati Olivia menghangat mendengar kata kata Derren, namun sekejap saja entah kenapa ia kembali merasa putus asa, bayangan Merry berkelebat lagi di otaknya. Semakin ia bersama Derren ia semakin takut dengan bayangan Merry.
“Derren... aku tidak ingin ada Merry” lirih Olivia berguman
“kenapa kau begitu bodoh? sejak awal hanya ada kita, tidak pernah ada Merry, tidak ada siapa pun selain kau dan Crystal” sedikit tertawa di sela isakannya Derren menangkup wajah kecil Olivia dengan kedua telapak tangannya, ,emandangi wajah kecil Olivia, gadis yang sangat ia cintai.
Derren mulai menciumi Olivia di pipinya, matanya hidungnya dan bibirnya, bahkan ciumannya terkesan rakus dan penuh kepedihan.
__ADS_1
Olivia membalas ciuman Derren, dan tubuh Olivia menginginkan lebih terlebih lagi jari jemari Derren telah menyusup di antara gaun tidurnya, Olivia memerlukan tubuh Derren.
Ciuman dan sentuhan Derren selalu membuat Olivia tergila gila
“Derren aku butuh dirimu” bisik Olivia dengan suara rendah seperti memohon, tentu saja Derren sangat bahagia untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali Olivua mengatakan menginginkannya.
“akan kuberikan seluruh jiwa ragaku, padamu Oliviaku” bisik Derren lembut
Derren segera mengangkat tubuh kecil Olivia membawanya ke atas ranjang untuk memberikan yang Olivia butuh kan, bukan hanya Olivia yang membutuhkannya, dirinya juga sangat membutuhkan Olivia.
Olivia adalah racun yang mematikan, Olivia adalah candu baginya.
Tubuh mereka bersatu, membuang segala keresahan yang menghantui pikiran mereka masing masing, menikmati nikmatnya madu kasih sayang diantara desahan dan geraman.
Hanya Derren yang mengerti yang Olivia butuhkan, hanya Olivia yang mengerti apa yang Derren inginkan.
Matahari telah terik, sinarnya menyeruak masuk ke dalam kamar mereka, seperti biasa mereka selalu membuka tirai jendela setiap kali bercinta di kamar itu, masih seperti dulu, sambil memandang langit London di malam hari.
Olivia membuka matanya, memandangi wajah Derren yang masih terlelap.
Tampan, ya sangat tampan dan sexy. ia adalah salah satu pria idaman di fakultas mereka dulu.
Saingan cinta Olivia sangat banyak kala itu, jika bukan karena mereka hidup satu atap mungkin Olivia juga tidak akan bisa mendapatkan hati Derren yang sangat dingin.
“kau bangun?” tanya Olivia tergagap.
“mmmmmm.... Olivia terima kasih telah memberikanku seorang putri yang cantik” bisik Derren seraya membawa Olivia ke dadanya
“Derren lepaskan, aku harus bangun, aku ingin memandikan Crystal” kata Olivia, ia ingin menghindar Derren karena panas di wajahnya terasa merambat hingga ke daun telinganya.
“ada nannynya yang mengurus”
“ia juga perlu ibunya”
“papanya Crystal lebih perlu mamanya” kata Derren dengan nada manja
“kau sewa saja nanny untuk mengurusmu” kekeh Olivia, nada suaranya kali ini lebih terdengar riang dan begitu ringan.
“aku ingin nanny yang namanya Olivia Putri Artajaya” kata Derren sambil membuka matanya dan pandangan mereka beradu sesaat.
__ADS_1
Merasa semakin gugup Olivia segera meronta ronta melepaskan diri dari pelukan Derren dan bergegas melompat turun dari ranjang,
“coba saja kau cari di agensi penyedia baby sitter” kata Olivia sambil masuk ke dalam kamar mandi, saat hendak menutup pintu kamar mandi kaki Derren menahan pintu itu dan sedetik kemudian pria itu telah berada di dalam kamar mandi bersamanya
“keluar” kata Olivia galak
“aku juga ingin mandi” kekeh Derren menggoda Olivia
“Derren...”
“bersama seperti waktu kita kecil” Derren memotong ucapan Olivia sambil menggodanya.
Wajah Olivia memerah, Derren segera membawa Olivia berada di bawah pancuran shower. Sambil bercanda dan melakukan hal hal lain, memadu kasih kembali untuk merasakan betapa mereka benar benar tidak pernah puas meskipun semalam telah saling memiliki.
Setelah mereka sarapan Derren mengenakan setelan kemeja hitam di padukan dengan celana jeans, terlalu tampan!!! Olivia benci mengakui itu, bahkan di balut dengan pakaian biasa saja Derren masih tetap terlihat tampan.
“papa where are you go?” tanya Crystal seolah mewakili ibunya
“papa ada sedikit urusan sayang” kata Derren sambil mengangkat putrinya dan menciumi perut Crystal membuat gadis kecil itu terkekeh.
“icytal ikut” rengeknya
“papa kerja sayang” jawab Derren dengan lembut
Wajah Olivia tampak tidak senang, matanya menatap curiga.
“Crystal bersama mama dulu, nanti sore papa akan pulang” kata Derren membujuk putrinya
“Crystal sama mama ya” Olivia mengambil Crystal dari tangan Derren
“hari ini kau di rumah saja jangan ke mana mana, aku ada sedikit pekerjaan”
Olivia mengangguk tapi wajahnya cemberut
“jangan cemberut, aku bekerja untukmu dan Crystal” kata Derren sambil mengusap usap pucuk kepala Olivia.
“papa pergi dulu” kata Derren sambil mengecup kening Olivia dan Crystal bergantian
Sedangkan Crystal ia meronta ronta dan menangis tidak rela ayahnya pergi meninggalkannya.
__ADS_1
CRYSTAL SAMA AUNTY AUTHOR AJA ATAU SAMA AUNTY READERS MAU GA????
TAP JEMPOL JANGAN LUPAAAA 😙😙😙😙😙😙