Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 10


__ADS_3

"semoga selalu diberi yang terbaik dek" peluk Popi Pram menciumi seluruh paras putri kecilnya saat melihatnya keluar kamar. Kirana tersenyum lebar melihat keluarga nya sedang berkumpul di pagi hari yang cerah ini.


"apa Kirana tertidur lagi ketika berpindah" tanya Kirana menatap popinya yang mengangguk, mereka kemudian bergabung dengan anggota keluarga lainnya.


"semakin sabar dalam menghadapi apapun anak-anak ku, jangan saling berpaling satu sama lain. kalian adalah satu, jika kalian bersatu maka akan menjadi kekuatan yang mampu berdiri tegak" usap punggung Momi Kaila, Kirana mengangguk memeluk Momi erat.


"siap, Mom. akan selalu Kirana ingat pesan Momi" kata Kirana meneteskan air mata disudut netranya, Momi Kaila menyeka nya pelan.


"don't cry Mom, not good for Momi's face" goda Wijaya memeluk dari belakang. Momi menepuk lengan anak laki-lakinya itu pelan


"isshh, Momi masih bisa perawatan untuk menghilangkan kerut nanti" jawab Momi asal.


"hhmmm, gampang. nggak akan berkurang uang Popi kalo untuk perawatan" angguk Popi duduk disamping granddad.


"liburan berarti" senyum-senyum Momi menaik turunkan alis netranya menatap semuanya. "go" senyum Pramana bersemangat.


"tapi nggak ada drama lagi kan" sahut Kirana memakan kudapan kecil yang ada di meja. Kirana meminum cokelat hangat dari Mominya. ia segera mencium punggung tangan kakek dan granddad nya. "makasih atas semuanya kek, grand. Kirana tidak akan membuat sesuatu yang akan mengecewakan kakek dan granddad" senyum Kirana.


"tentu K, jadi perempuan tangguh untuk dirimu sendiri" Kirana tertawa pelan mendengar perkataan kakeknya.


"just the day untuk kita" anjak Kirana memeluk Wilaga erat. "hhmm" elus kepala Wilaga. Pramana memeluk Kirana dari belakang, Wijaya bergabung.


"beri sedikit break untuk dirimu sendiri. bisa kan, K" tatap Pramana. Kirana mengangguk pelan.


"kapan kita akan berangkat" toleh Momi. Kirana melihat sekeliling dan tidak mendapati sosok Alexandre didalam rumah.


"dia pergi sebentar untuk mengurus yang kemarin, tadi sudah menitip pesan agar kau tidak bertanya-tanya" kata Pramana pelan, Kirana hanya terdiam tidak mengatakan apa-apa karena tidak ada gunanya.


ia tahu Al akan memberi mereka pelajaran olahraga yang sangat tidak ingin dia lakukan jika tidak terpaksa, bagaimanapun orang-orang itu telah mengganggunya dan itu berarti tidak ada ampun bagi seorang Alexandre Berardi.


Kirana mengikuti keluarganya menuju ke Chopper yang akan membawa mereka berpindah kembali untuk berlibur. "apa bunda sudah diberitahu"


"sudah, jika mereka selesai akan menyusul"


Kirana melihat pemandangan kebawah saat lepas landas dimana semuanya terlihat semakin kecil diatas ketinggian, yang terlihat hanya hamparan hijau pepohonan dibawah sana.


"kak, kita akan kemana" tanyanya menatap Wilaga.


"Momi hanya bilang liburan" angkat bahu Wilaga.


"nggak akan tahu kalo nanya sama kak Laga, adanya ngikut aja. urusan begini nanya kak Mana seharusnya" hembus nafas Kirana menatap kakaknya lekat, Wilaga tertawa kecil.


"nggak asik dek kalo semuanya tahu, bagi tugas" pejam mata Wilaga. Kirana melempar pandangan kearah kumpulan awan yang terlihat berkumpul di satu awan besar.


"don't to close with Al"


"got it"

__ADS_1


"he dangerous"


"I know"


"be careful"


"got it"


mereka keluar dari chopper saat tiba di landasan. Kirana menggenggam erat tangan Popinya saat dilihatnya Popi Pram menunggunya keluar.


"don't walk alone" ingatkan Pram, Kirana mengangguk mengerti dengan peraturan yang terkadang berubah.


Alexandre tersenyum melihat penampakan Kirana yang berjalan tenang diantara laki-laki yang mengitarinya.


"happy the day, K. hope all happiness" senyum Al. Kirana mengangguk berlalu begitu saja, Wilaga menepuk bahu Alexandre memberi kekuatan.


"U looks dangerous" senyum Wilaga, Al tertawa kecil mendengar perkataan saudara kembar Kirana.


"apa dia sudah tahu"


"nope, aku hanya mengingatkan jika kamu laki-laki yang berbahaya" senyum seringai Wilaga. Alexandre kembali tertawa.


"thanks bro, kamu sudah mengingatkannya" tepuk bahu Alexandre.


"U welcome" jawab Wilaga acuh, Alexandre mengekor tidak jauh dari keberadaan Kirana yang memilih berada dikedua sisi grandparents nya.


"kak Kirana" peluk erat Tania, putri dari saudara kembar momi Kaila yaitu bunda Kalai.


"maaf baru bisa ketemu" tatap Tania mengusap bahu sepupunya pelan, Kirana tersenyum mengangguk mengerti.


"tambah cantik aja anak bunda" peluk bunda Kalai menggoyang badan Kirana ke kiri dan kekanan.


"makasih bund, sehat selalu"


"tambah dewasa, anakku" senyum ayah Arga memeluk Kirana, mengusap kepala nya. Kirana tersenyum mengangguk menerima perhatian dari keluarga Momi nya itu.


"ah, siapa dia. kenapa aku tidak pernah melihatnya" kerut Tania menatap Alexandre yang duduk tidak jauh dari Kirana, ia segera berdiri dan berjalan menuju ketiga orang yang baru saja datang.


"hai, namaku Al. teman Kirana, semoga dia mau melihatku lebih dari teman" angguk Alexandre memperkenalkan diri.


"hai, kami bunda dan ayah dari kembar empat itu dan ini Tania anak kami sepupu mereka" senyum Kalai memperkenalkan diri tersenyum melambaikan tangan dari jauh saat melihat interaksi Alexandre dan Tania. Tania mengangguk pelan menghampiri kedua kakeknya.


"darimana" usap bahu kakek.


"nunggu ayah ketemu orang"


"berarti ayah selama ini belum pernah ketemu orang dong" timbrung Wilaga, Tania mengerucutkan mulutnya melihat kelakuan Wilaga yang rese.

__ADS_1


"aduh, ketemu kakak lagi" tepuk kening Tania berlalu, Wilaga tersenyum lebar.


"jangan gitu, gini-gini temen mu pada naksir kakak lho" ekor Wilaga tidak mau meninggalkan Tania yang selalu membuatnya kangen untuk berdebat hal-hal yang tidak penting.


"ya, karena mereka mudah tertipu dengan serigala" jawab Tania ketus, mereka tertawa mendengar ucapan Tania yang selalu berujung sadis jika berbicara dengan Wilaga.


"apa aku pernah memperlihatkan bulu serigala ku ketika bertemu dengan domba-domba seperti mereka"


condong Wilaga menanggapi Tania.


"Mom, bawa pulang kak Laga" toleh Tania tidak mau menanggapi kakak sepupu nya itu lagi karena pada akhirnya pasti dia yang akan kalah.


"ini udah pulang ke tanah air, noh bule yang disana itu yang seharusnya di deportasi biar nggak bikin onar" jawab Wilaga mengendikkan bahunya menatap Alexandre sekilas yang malah tersenyum lebar melihat tingkah mereka berdua.


"coklat hangat" sodor Kirana, Al menoleh menatap Kirana dan menyentuh jemarinya yang menyodorkan mug berisi coklat hangat dihadapannya.


"thanks" senyumnya ceria, Kirana mengangguk dan berlalu.


"ini untuk mu" sodorkan kotak kecil Alexandre, Kirana hanya menatap kotak itu lama.


"tidak ada tradisi seperti ini didalam keluarga kami. ucapan dan doa sudah cukup"


"aku hanya akan memberi sekali ini saja"


Kirana menghela nafasnya panjang. "kak"


"please"


"tidak baik menolak rejeki, nak Al bilang hanya sekali ini saja" senyum Momi Kaila mengusap punggung Kirana. ia meraih dengan enggan kotak kecil itu dan memasukkannya kedalam saku celananya.


"makasih"


"aku yang berterimakasih karena kamu sudah mau menerimanya" kata Alexandre tenang.


"kita makan siang sekarang, semua sudah disiapkan. kita pindah ke rumah tengah" beritahu Momi Kaila saat para pekerja rumah Bagaskara memberitahu bahwa persiapan telah selesai dilakukan.


hari istimewa bagi keempat penerus keluarga Bagaskara berjalan dengan sukacita, kegembiraan dan tawa canda mewarnai hari itu dengan berkumpul bersama sepanjang hari.


"kek, istirahat dulu. ini sudah beranjak malam" sentuh bunda Kalai pelan, Kakek mengangguk dan beranjak dari tempatnya berada diantara anak dan cucunya.


Alexandre berpindah dari tempat duduknya agar berada disamping Kirana. "apa selalu seperti ini saat kalian merayakan hari istimewa ini"


"tidak selalu, karena kesibukan makanya jika ada kesempatan bersama akan kami lakukan. keluarga Popi tidak bisa kesini karena sedang berada di negara kincir angin" geleng Kirana menyandarkan kepalanya kebelakang yang terasa pegal.


Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2