
Kirana bergerak pelan membuka netranya ketika mendengar panggilan kewajiban paginya, dilihatnya ketiga saudara laki-laki nya tidur dan Alexandre berada di sofa panjangnya, ia duduk menggerakkan badannya agar tidak kaku, berjalan menuju bathroom untuk mengambil air suci. Ia keluar kamar mengenakan peralatan ibadahnya, bertemu dnegan Popi yang juga akan berangkat menuju tempat ibadah. Pram memeluk anak gadisnya erat dan mencium ubun-ubun rambutnya, bersama melangkah keluar dari rumah dan bertemu dengan para pekerja lainnya yang juga akan beribadah.
"mau jalan dengan Popi kedepan" toleh Pram setelah mereka melaksanakan kewajiban paginya. Kaila mengangguk tersenyum meraih jemari Popinya dan melangkah bersama.
"udara pagi yang beda" hirup Pram sesaat, Kirana memejamkan netranya menghirup udara yang bercampur dengan polusi.
"tapi ngangenin" angguk Kirana.
"apa mau tinggal disini aja" tanya Popi, Kirana tersenyum lebar.
"nanti jika selesai study" angguk Kirana.
"apa mau ikut Al menetap di X" goda Popi, Kirana meletakkan kepalanya di bahu Popi nya.
"sejauh apapun Kirana pergi, pasti dia akan selalu ada di sana" geleng Kirana.
"jadi teringat Momi dulu juga sepertimu, Popi juga pasti akan menemukannya walau diujung dunia sekalipun" mereka tertawa kecil.
"sebegitu nya Popi menginginkan Momi"
"sebegitu nya dek, sampai Popi mengira akan kehilangan Momi selamanya saat itu" hela nafas Pram.
"apa hanya Momi yang ada dihati Popi"
"hanya ada Momi, padahal ada gadis lain yang menyukai Popi juga tapi entah hanya Momi yang membuat Popi hilang kendali saat pertama kali bertemu"
"apa Momi juga langsung menyukai Popi" tatap Kirana, Pram menggeleng.
"Momi punya seseorang kala itu dan Momi bukan orang yang gampang berpindah hati. bagi Popi hanya Momi yang pertama dan terakhir"
Kirana tersenyum menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Popinya.
"tuan" hampiri penjaganya menyerahkan kunci kendaraan.
"makasih, tau aja" senyum Pram melihat Kirana yang segera naik di belakangnya.
"Pop, kesana" tunjuk Kirana, Pram memberi tanda mengiyakan permintaan Kirana.
"apa kakek akan sehat-sehat saja" tanya Popi tiba-tiba, Kirana menatap Popinya lama.
"tidak lama" jawab Kirana, Popi terdiam sebentar. "apa kamu berencana memberitahu Momi dan bunda" tanya Popi.
"hanya Popi"
"baiklah, jadi alasanmu mau menikah dengan Al"
"seperti Popi menemukan Momi"
"apa hanya itu saja"
"ketenangan jiwa granddad dan kakek saat merestui kak Al menjadi pendamping hidup Kirana"
"Popi akan merasa jauh darimu, dek"
"no, of course not Pop. Poppy always be my valentine everyday"
"bagaimana dengan ketiga anak muda yang mirip denganmu itu"
Kirana tergelak mendengar Popi memanggil ketiga saudara laki-lakinya.
"they always be"
"tadi malam Alexandre memintamu"
Kirana tampak terkejut mendengar nya "sungguh, dia berani meminta kepada Popi"
"ya, dan ketiga anak 7 antagonisnya"
Mereka tertawa kecil membahas topik yang menjadi perdebatan di meja makan tadi malam. Kirana hanya mendengarkan dan manggut-manggut memahami.
"ternyata disini" datang Wilaga diantar penjaga yang ada dirumah.
"lha masih tidur kan tadi" tepuk bahu Kirana pelan.
"kalo dibangunin juga bangun kan, nggak ada alasan kalo mau kulineran gini" lihat Wilaga segera memesan makanannya.
"bayar sendiri" tatap popi Pram.
__ADS_1
"ya elah, Pop. Sekalian napa, tega amat sama anaknya sendiri. Kalo kayak gini seperti anak tiri deh Laga"
"emang... ada anak emas, perak, perunggu, tiri, sah"
"isshh, makin ngelantur nih Popi, bilangin Momi nih kalo Popi ngomong yang nggak bener gini. nggak liat apa, muka kita berempat sama semua" Mereka tertawa lebar menertawakan kekonyolan yang sering dibuat-buat.
"ntar kakak pulang naik apa" tanya Kirana.
"gampang, yang tua ditinggal. Biar jalan agar selalu sehat"
"bener-bener nih anak"
"becanda Pop, kagak tau aja anaknya yang ini suka gitu" makan Wilaga setelah pesanannya datang.
"makasih bang"
"tinggal hubungi orang rumah, beres Pop. Ribet banget nih Popi"
Udah bangun semua kak"
"jam berapa sekarang, dek. Kayak kagak tau Momi dan bunda aja pasti heboh kalo nggak lengkap" angguk-angguk Wilaga.
"panjang umur Momi kalian, belum lama ditanyain udah menghubungi Popi" perlihatkan layar ponsel Popi.
"dimana, yang" salam Kaila, Pram memperlihatkan dua anaknya sedang makan.
"kenapa nggak ngajak-ngajak" lihat Kaila.
"Tadi abis dari kewajiban terus kesini, jalan berdua sama adek. Trus anak laki-laki kedua mu nyusul ke sini" jawab Pram.
"bawain pulang juga" kata Kaila.
"kesini aja Mom, ramean. Biar mang buburnya seneng" kata Kirana melambaikan tangannya.
"tunggu bentar disitu" tutup Kaila cepat.
"aman, ada pawangnya yang bayarin" kata Pram, Wilaga dan Kirana tersenyum. Tak berapa lama keluarga besar Bagaskara sampai dan membuat heboh penjual makanan.
"rusuh ikhh... Kalo pada datang" lihat Kirana, Pramana nyengir. Kaila mengusap bahu Kirana, "dah sarapan, dek"
"loh, Pop. Momi nggak bawa apa-apa, aku kira Popi yang bayarin nanti" raba kantong di badan Kaila.
"trus gimana nih. udah dimakan ini" pandang Wilaga masih mengunyah makanannya.
"makan aja kak biarin drama Popi dan Momi berlanjut" kibas tangan Kirana.
Alexandre menyentuh bahu Kirana pelan, ia mendongak menatap Alexandre dan menepuk bangku disebelah nya yang kosong.
"makan, aku udah selesai" Kirana meletakkan mangkuk berisi bubur yang masih hangat.
Alexandre mulai menikmati sarapannya, "mau makan apa lagi"
"tau aja kalo aku mau makan lagi sih, kak. Ntar nunggu agak longgar perutnya abis itu gas lagi"
"dek" datang Wijaya meletakkan makanan berat didepan Kirana.
"udah sampai kak" tanya Kirana tidak percaya, Wijaya mengangguk duduk disamping Alexandre.
"makasih, tau aja" tawa Kirana menyendok makanan yang dibawa Wijaya.
"hhmmm... The best nih" kata Kirana.
"kalo ke ujung gang gini, pasti nyobain apa aja. Seringnya rame-rame jadi makannya tambah banyak dan yang paling penting, rasanya otentik kaki lima yang ngangenin" cerita Kirana, Alexandre mengangguk.
"jika lama nggak pulang kesini gimana, yang"
"hhhmmm... biasa aja, nikmati hidup dimana aja. Itu lebih baik kan"
"tentu"
Beberapa makanan yang ada disana mereka makan bersama sambil berbincang dan bersenda gurau.
"jadi, kapan nih kita adain penyambutan dirumah" mulai Tania.
"kapan kak" timpali Kirana.
"besuk bisa nggak" tanya balik Alexandre.
__ADS_1
"gimana Mom, bund. Di tantangin tuh sama calon mantu" naik turunkan alis Kirana.
"anak ini" geleng-geleng kepala Kaila.
"makin cepat makin baik tuh" kompori Tania.
"langsung resmi aja ya, nggak mau yang neko-neko dulu" topang dagu Kirana, Alexandre mengangguk.
"ayah dan ibu udah nunggu mau datang kapan" kata Alexandre
"dua hari lagi" ucap Kaila, Popi menoleh cepat
"yang bener, yang" tanya Pram, Kaila mengangguk.
"baik, malam setelah kewajiban malam Mom" angguk Alexandre, Kaila tersenyum mengangguk memberi tanda Ok.
"kita bahas detailnya nanti dirumah, tidak ada yang sulit jika masih ada roma, ya kan kak Wilaga" goda Kaila. Wilaga memberi tanda Ok dengan jemarinya.
"ayah dan bunda gimana" toleh Kirana, Kalai mengangguk tersenyum. "tentu, dua hari sudah cukup untuk mempersiapkan semuanya. Nggak ada yang tidak bisa dilakukan dengan nama belakang Bagaskara dan Bimantara, kan" kata Kalai berlagak, mereka tertawa.
"berarti Al kabari ayah dan ibu sekarang agar bersiap dari sekarang" kata Alexandre.
"tentu saja, mereka yang paling penting bukan" senyum Kalai, Alexandre tersenyum mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"yang, menginginkan sesuatu yang berarti bagimu" tanya Alexandre, Kirana menggeleng.
"ada granddad dan kakek sudah cukup bagiku. Karena restu mereka yang membuatku mau menikah denganmu", Alexandre tersenyum mengangguk. Popi dan Kaila saling memandang satu sama lain.
"ada apa" tanya Kaila. Kirana menggeleng, "no, Mom. Kakek selalu mengenal laki-laki yang mendekati Kirana selama ini, hanya kak Al yang diperbolehkan untuk dekat lebih jauh, Momi remember dengan anak pejabat Y, kakek bilang masih ada yang lain. anak petinggi Z, granddad hanya tersenyum. Ketika mereka bertemu kak Al pertama kali sudah mengatakan suka" hela nafas Kirana.
"jika kakek dan granddad merestui, maka Popi, Momi, ayah dan bunda bahkan papa dan mama akan mengatakan iya" terangkan Kirana.
"walau hatimu tidak suka" tanya Popi. Mereka memandang pram dengan tatapan tanda tanya.
"what, ada banyak kemungkinan kan" angkat bahu Pram.
"tentu, Pop. Awalnya memang tidak mau" angguk Kirana.
"terus" tanya Tania.
"karena keluarga semuanya mendukung kak Al maka Kirana mulai tertarik. Nggak mungkin kan, Kirana menutup mata melihat kebaikan yang kak Al lakukan" senyum Kirana, Alexandre tersenyum menggenggam jemari Kirana.
"thank U"
"oohh, so cweet" peluk Tania erat ke Pramana.
"malu dek"
"ishh, adegan romantis nih kak. Pagi-pagi lho, yang lain berangkat kerja kita malah asyik nongki ngabisin duit" majukan bibir Tania.
"ayok ah, pulang. Semakin panas nih" anjak Kirana.
"siapa yang bayarin" ingatkan Wilaga.
"udah kak, pulang. Ada empat orang tua yang bisa dijadikan jaminan" tepuk Kirana nyengir, Wilaga tertawa ngakak.
"dasar, anak ini" pandang Popi, Kirana memberi tanda peace.
Alexandre menunggu Kirana hingga naik kendaraan.
"jalan, yang" tepuk Kirana, Alexandre e itu.
"langsung nikah, kan. Yang"
"iya, jangan nanya melulu" tepuk bahu Kirana sedikit terasa.
"takutnya kamu berubah pikiran" jawab Alexandre.
"jangan berpikir yang enggak-enggak. Nggak ada yang perlu dikuatirin"
"baiklah"
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...
__ADS_1