Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 52


__ADS_3

"jangan menuduh sembarangan" tunjuk Delia meradang, Kirana melipat kedua tangannya di dada.


"wanna bet"


"aku tidak melakukan apapun" desis Delia menatap Kirana dengan latar ketiga cowok tampan, Kirana tersenyum smirk.


"aku sudah memberimu kesempatan untuk tidak menggangguku, but do you know if you are digging your own grave and that means your family will also bear the arrogance that you are doing now" hela nafas Kirana sedih.


"aku tidak akan kalah darimu, kamu bukan siapa-siapa" gemeretak gigi Delia menatap Kirana ingin menelannya bulat-bulat, Kirana tersenyum smirk mengangguk.


"benar, aku bukan siapa-siapa dan kamu juga benar kalau aku memang tidak ada niat untuk mengalahkan mu" angguk Kirana tenang.


"tapi, Ra. Dia sudah banyak membuat teman kita dikeluarkan dari sekolah hanya karena menyinggung nya" protes Sisy tidak terima.


"aku tau, just relax. Ok" angguk Kirana menatap Sisy dan terkejut saat mengetahui suami dan kedua sahabatnya sudah berada di belakang nya sedari tadi.


"trus kenapa kalian bertiga masih berdiri disini dengan tenangnya, c'mon guys let's play U role" balik badan Kirana menatap para cowok yang berada dibelakangnya dari tadi, mereka mengangguk dan segera menepi untuk melakukan permintaan Kirana.


Banyak orang yang lebih tertarik dengan kejadian diantara mereka hingga tidak butuh waktu lama orang-orang sudah berkerumun disekitar mereka, Kirana tidak memperdulikan sekitar dan malah berbalik untuk berbincang dengan Alexandre.


"Möchte ich es jetzt loswerden"


(mau aku lenyapkan sekarang)


"nope, just show him what happened earlier and make him stop standing on the ground" senyum smirk Kirana, Alexandre mengangguk tersenyum.


Sisy dan Arka melihat interaksi keduanya dengan tatapan tanya namun tidak berani bertanya karena Kirana terlihat nyaman mengobrol dengan cowok itu. Ketos berjalan maju diantara mereka berdua, "ada apa" tanyanya menatap mereka bergantian, Kirana mengendikkan bahunya menatap Delia yang menatapnya dengan tatapan menghunus.


"apa kalian tidak malu telah membuat keributan di acara seperti ini" tatap ketos kearah Delia dan teman-temannya.


"dia yang memulai duluan, kenapa loe selalu membelanya" tatap Delia tajam, Ketos menatap Delia dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


"apa yang harus gue bela, dia selalu bisa membela dirinya sendiri tanpa orang lain membelanya. Justru lo yang selalu ingin mencari gara-gara dengannya" balas ketos.


Delia berdecih sebal mendengar perkataan ketos yang menurut nya selalu membela apa yang Kirana lakukan karena diam-diam menyukai nya. Tak butuh waktu lama di big screen belakang pengisi acara tampak menampilkan banyak kejadian yang terjadi selama Kirana sekolah memperlihatkan kelakuan Delia dan geng nya menindas teman-teman lainnya. Mereka menatap dengan tatapan yang penuh dengan prasangka, terdengar kasak-kusuk diantara mereka mengenai Delia dan geng nya. Delia menoleh dengan cepat ke Kirana dan ingin mencabik-cabik parasnya hingga membuat Alexandre menepis dengan cepat lengan Delia sebelum menyentuh tubuh Kirana.


"jangan bertindak diluar batas kemampuanmu nona, kamu tidak akan pernah dapat tidur dengan tenang jika sedikit saja kamu menyentuh tubuhnya" senyum smirk Alexandre, Delia menatap Alexandre penuh pertanyaan namun terintimidasi oleh sorot netranya yang tajam.


"big, we're done" dekati Damian dan Bian, Alexandre mengangguk segera meraih jemari Kirana dan membawanya pergi dari situ. Kirana menoleh tersenyum smirk menatap Delia sebelum menjauh.


"kita sudah melihat latar belakangnya dan sebentar lagi akan lenyap" ujar Damian setelah agak jauh dari mereka, Alexandre mengangguk membuka pintu kendaraannya agar istrinya masuk, Kirana segera duduk dengan tenang. Alexandre mengendarai kendaraan dengan pelan sembari menatap tajam Kirana.

__ADS_1


"what" tatap Kirana balik.


"kamu terlalu lembut, yang" hela nafas Alexandre pelan.


"dia tidak membuatku kenapa-kenapa, jadi tidak usah terlalu berlebihan" senyum Kirana, Alexandre mengusap rambut Kirana.


"Popi sudah tahu" tanya Kirana, Alexandre mengangguk.


"bukan dariku, banyak yang mengunggahnya hingga membuat Bian harus menurunkan dengan paksa" jawab Alexandre lirih, Kirana menyandarkan kepalanya ke punggung seat dan memejamkan netranya.


"pulang dapat wejangan panjang nih"


"tidak akan, mereka pasti akan mengatakan kamu hebat telah menyelesaikan semuanya dengan smooth" senyum Alexandre, Kirana tersenyum mengecup pipi suaminya pelan.


"thanks, you also looks cool before"


"aahh, suamimu memang selalu tampan. Istriku" senyum Alexandre senang mendengar pujian dari Kirana yang tergelak.


"ya...ya...ya... But looks like U wanted to eat him alive"


"memang, kalo tidak ada kamu sudah aku bawa dia untuk dilenyapkan" putar kendaraan Alexandre mengikuti jalan masuk rumah keluarga Bagaskara.


"are U Ok" datang Popi melihat kondisi Kirana, "good job, dek" senyum Popi mengusap kepala Kirana dan memeluknya hangat.


Momi melihat ke arah suami dan anak perempuan satu-satunya berjalan masuk dengan senyuman senang, ia tersenyum melihat keluarganya baik-baik saja.


"thanks Al" tepuk bahu Kaila saat menantu nya itu memberi salam, Alexandre tersenyum lebar mengangguk.


Kirana memeluk Mominya, "lapar Mom" cengir Kirana mengusap bahu Momi, Kaila mengangguk menuju meja makan. Kirana duduk dan mengambil makanan yang ada di meja.


"bener-bener nggak merasa kasian dengan keluarganya" tatap Popi, Kirana mengunyah makanannya dengan tenang, "don't do anything with her family Pop" tatap Kirana, Popi menggeleng.


"kali ini bukan Popi yang melakukannya, suamimu yang mengambil alih tugas Popi"


Kirana menoleh menatap Alexandre sedang menyeruput black coffe nya.


"hanya sedikit memberinya pelajaran karena sikapnya yang tidak memandang orang lain dengan baik" senyum Alexandre.


"apa yang kakak lakukan" kerut Kirana


"hhmm... tidak ada, hanya memberi sedikit kejutan dalam hidupnya kalo harta akan hilang dalam sekejap dan itu akan membuatnya menjadi lebih menghargai hidup orang lain"

__ADS_1


"kasian keluarganya"


"lebih kasian lagi orang-orang yang dia perlakukan tidak baik dan tidak ada yang bisa membela mereka, yang" geleng Alexandre.


"dunia tidak akan kekurangan orang jahat tapi bukan berarti orang jahat tidak bisa baik, bukan" kata Alexandre, Kirana menghela nafasnya kembali makan dengan tenang.


"Mom, apa udah siap untuk berangkat nanti malam" tanya Kirana, Kaila mengangguk mengunyah pelan buah potong yang disediakan oleh pekerja rumah keluarga.


"apa ada yang harus dibawa kesana" tanya Kaila.


"ada, sambal" angguk Kirana, Kaila tergelak mengangguk.


"kenapa yang ribet sekarang kamu dek, dulu perasaan kagak begini juga" topang dagu Popi.


"lama durasi stay nya Pop, biasanya hanya dua atau tiga minggu atau paling lama dua bulan" senyum Kirana menggeleng.


"suami mu kan masih ada disini, minta tolong untuk membawakannya" toleh Kaila, Kirana menoleh menaik turunkan alis netra menatap Alexandre manja.


"apa upahnya" senyum Alexandre


"any thing"


"Ok" senyum smirk Alexandre


"aahhh.... No.... No... I take it back" teringat Kirana setelah sadar dengan janjinya tadi, Alexandre menggeleng.


"U promise"


"no, aku bawa sendiri aja" geleng-geleng kepala Kirana menyadari akibat nanti yang akan dilakukan oleh Alexandre.


Mereka bertiga tertawa lebar melihat Kirana yang tidak bisa membatalkan janjinya.


"terima kekalahan dek" tepuk-tepuk punggung Popi meninggalkan mereka berdua.


"kak, no" geleng Kirana, Alexandre menggeleng berlalu pergi keluar. Kirana menghela nafasnya menutup parasnya dengan kedua tangannya.


"forget that I already married"


Luv U all reader dengan sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.


Selamat membaca karyaku semuanya...

__ADS_1


See U next chapter..


__ADS_2