Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 29


__ADS_3

"yang lain mana dek" kerut Arka hanya melihat mereka berdua, Kaila tersenyum menggeleng.


"kita hanya beberapa hari di sini kak, jadi om dan ketiga kakaknya nggak ikut. mereka ingin mengunjungi negara lain karena sebentar lagi akan masuk kuliah"


"benarkah, mereka akan masuk kuliah bentar lagi. aishh... ternyata waktu cepat berlalu kan dek, tau-tau udah masuk college aja nih. mau ngambil di Inggris juga kah" terkejut Arka tidak menyangka.


Kirana menggeleng, "tidak kak, kita ingin di Jerman, semuanya pindah kesana. ingin suasana baru aja" senyum Kirana menopang dagunya menatap Arka yang terlihat gagah.


"kakak disini ngapain, sama om Arden nggak" tanya Kirana, Arka tertawa menggeleng.


"nggak, kakak hanya melihat projects baru yang akan digarap nantinya. papa tidak bisa jauh dari mama" bisik Arka pelan, Kirana tertawa kecil mengangguk.


"sama kayak yang di depan kakak. nggak bisa jauh juga" kata Kirana, mereka tertawa kecil.


"tentu saja papa mu tidak akan bisa jauh dari mama mu. karena dulu sering ditinggal terus saat masih sama kakek untuk mencari berlian" jawab Kaila, mereka tersenyum lebar, mengobrol hingga akhirnya Arka harus pergi untuk bertemu dengan temannya membahas projects yang akan dikerjakannya nanti.


"tambah ganteng aja kak Arka" lihat Kaila.


"hmm, baru giat-giatnya mencari berlian Mom" canda Kirana, Kaila tersenyum lebar.


"anak itu kayaknya menyukaimu dek" toleh Kaila, Kirana mengangguk.


"Kirana tau kok Mom, saat masih Junior 9, kak Arka selalu sempetin main kerumah dan sering kali menginap. dilihat dari sikapnya terhadap Kirana" ngerti Kirana.


"cie... anak gadis Momi banyak yang suka juga" goda Momi Kaila, Kirana tersenyum tipis.


"terkadang malah nggak nyaman lho Mom saat ketemu gini. Serasa ada yang nggak lepas karena perasaan canggung"


"kenapa tidak begitu dengan Alexandre"


"don't know Mom, mungkin karena sebelumnya tidak saling mengenal maka tidak ada perasaan"


"beberapa pemuda mendekati mu juga, dek. Tapi adek tidak pernah bersikap sama seperti seperti saat bersama Alexandre"


"begitu kah Mom, aku tidak menyadari jika sikapku berbeda"


Kaila mengangguk pelan sembari memakan cemilannya yang hampir habis.


"tumben dia tidak menyusul mu, ini termasuk lama" lihat Kaila.


"apa Momi tidak melihatnya, orangnya udah ada disudut ruangan dari tadi" isyarat dagu Kirana menatap lurus Alexandre yang tengah mengobrol dengan Seth, Kaila menoleh ke kanan untuk memastikan perkataan putrinya itu.

__ADS_1


"baguslah kalo dia sudah ikut, Momi jadi nggak kuatir jika tersesat atau ada apa-apa" angguk Momi meminum habis teh hangatnya.


"Mom, apa kakek baik-baik saja"


"why do you say that Kirana"


"don't know hanya merasa kakek sedang tidak baik-baik saja sekarang" hela nafas Kirana. Kaila mengerutkan keningnya dan segera meraih ponselnya untuk menanyakan kabar ayahnya. Kaila berdiri segera setelah menutup ponselnya setelah melakukan panggilan.


"you are right, K. Kakek sedang tidak enak badan" jalan Kaila bergegas meninggalkan cafe, Kirana segera mengikuti langkah Momi yang sedang tidak menentu hatinya. Alexandre menatap mereka berdua yang bergegas keluar. "ada apa" dekati Alexandre dengan cepat.


"kakek sedang tidak baik-baik saja, Momi baru saja menghubungi orang rumah di Jakarta" toleh Kirana, Alexandre meraih jemari Kirana menuntunnya kearah mobil, "biarkan mereka yang mengurus motornya Mom, kita naik kendaraan ini saja" sentuh Alexandre pelan, Kaila mengangguk dan segera masuk kedalam kendaraan.


"kota ke bungalow sebentar untuk mengambil barang sembari menunggu Chopper" tatap Alexandre, Kirana menghela nafas memejamkan netranya bersandar.


Kaila melakukan panggilan beberapa kali ke orang-orang yang berbeda.


"sweet" sentuh jemari Alexandre, Kirana membuka netranya dan menoleh menatap Alexandre. "dari mana Momi tau kakek sedang sakit"


"aku merasa kalo kakek sedang tidak baik-baik saja, kak. seringkali itu selalu benar jika hatiku merasa tidak tenang" kata Kirana pelan.


"apa hanya kakek saja yang bisa kamu rasakan" tanya Alexandre, Kirana menggeleng pelan.


"tidak, keluarga lainnya juga"


mereka segera turun dan bergegas masuk kedalam kamar masing-masing untuk mengemas bawaan sebelum Chopper datang menjemput.


"K" cari Momi Kaila. Kirana mendekat dengan menjinjing tas kecil yang dibawanya dan meraih bawaan Momi nya segera.


"kak Al sedang didepan berbicara dengan yang lain" kata Kirana pelan, Kaila mengangguk meminum air mineral yang disiapkan dimeja.


"Mom, semuanya akan baik-baik saja, kakek pasti berjuang" usap punggung tangan Kirana, Kaila mengangguk menepuk-nepuk punggung tangan Kirana pelan.


"kita berdoa yang terbaik untuk kakek, apapun yang digariskan oleh yang diatas maka kita harus ikhlas" tatap Kaila, Kirana memeluk Momi nya erat memberi kekuatan.


"Mom, kita harus pergi sekarang" datang Alexandre, mereka berdua segera menoleh dan berjalan keluar.


"K" kata Alexandre pelan. Kirana menoleh menunggu perkataan Alexandre selanjutnya.


"aku ada disini menemani" senyumnya mengusap kepala Kirana yang hanya mengangguk pelan dan segera menyusul Mominya masuk kedalam Chopper.


Mereka bergegas berjalan masuk kedalam lorong rumah sakit yang merawat Kakek, "Kal" panggil Kaila pelan, Kalai menoleh kebelakang dan melihat saudara kembarnya berjalan sedikit lebih cepat kearahnya, mereka saling berpelukan dan menangis dalam diam, Kirana memeluk bundanya.

__ADS_1


"kakek tidak mengeluh apapun, juga tidak mengatakan kalau beliau merasakan sakit, ketika aku melihatnya berjalan tidak stabil baru aku tau bahwa kakek sedang tidak baik-baik saja" hapus airmata Kalai menceritakan semuanya, Kaila mengangguk dan duduk seraya mendengarkan Kalai, Kirana menyeka air matanya yang menetes tak berhenti saat mendengarnya.


"K" usap bahu Alexandre tidak berdaya melihat kesedihan Kirana saat ini.


"aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikuatirkan" tatap Kirana, Alexandre memeluk Kirana erat, mengusap punggungnya menenangkan.


"kalian pulang saja dulu kerumah, biar Momi dan bunda yang menunggu kakek. Nanti kita gantian untuk berjaga" sentuh Kaila, Kirana mengangguk memeluk kedua perempuan kembar itu sebelum pergi.


"Bian akan menemani Momi disini" pamit Alexandre, Bian mengangguk dan duduk tidak jauh dari mereka, Kaila mengangguk berterima kasih.


"sweet" panggil Alexandre lembut, Kirana tidak menghiraukan dan terus berjalan menjauh, Alexandre meraih jemari Kirana hingga ia segera menoleh.


"apa yang kamu pikirkan" senyum Alexandre, Kirana menatap Alexandre nanar.


"nggak ada, otakku tidak ada isinya" kata Kirana pelan tanpa tau sebabnya.


"yang"


"pulang" jalan Kirana tanpa tau arah, Alexandre meraih bahu Kirana dan membawanya keluar dari rumah sakit.


"adek" salam Pramana, Alexandre mengangguk menatap layar ponsel Kirana dan memperlihatkan Kirana yang hanya diam menatap keluar jendela tanpa kata.


"is she okay" lihat Pramana tidak sabar, Alexandre menggeleng sedikit.


"dari tadi dia seperti itu ketika mendengar kakek masuk rumah sakit"


Pramana mengusap parasnya seketika, "jangan tinggalkan dia walau sebentar karena dia bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat" tatap Pramana.


"apa kalian semua bisa" kerut Alexandre, Pramana menggeleng.


"hanya dia saja, kemarin saat grandmom pergi dia juga seperti itu. Kami dalam perjalanan pulang kesana"


"hhmmm, baiklah. Momi dan bunda ada dirumah sakit ditemani Bian" kata Alexandre.


"penjaga bunda dan Momi juga ada disekitar jadi jika ada apa-apa masih ada Bian yang dapat diandalkan" angguk Pramana mengerti.


Alexandre tidak melepaskan tautan jemari tangan Kirana karena dia tahu gadis kecilnya itu sedang tidak baik-baik saja.


"kak, lepas. Aku mau tiduran dikamar dulu" ujar Kirana melangkah terus kedalam, Alexandre hanya mengikuti langkahnya dalam diam.


Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...

__ADS_1


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all


__ADS_2