Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 31


__ADS_3

Alexandre memejamkan netranya di sofa panjang ruangan pribadi Kirana, sedangkan Wilaga tidur disamping Kirana. Sampai ketika seseorang menyentuh lembut pipinya, Ia membuka netranya sedikit


"kita akan berangkat menemani kakek, apa kamu mau ikut" tatap Kirana, Alexandre meraih jemari tangan nya dan mengecupnya berulangkali.


"aku akan ke bathroom sebentar, tunggu" anjak Alexandre menuju bathroom ruangan Kirana.


"wanna change first" perlihatkan pakaian ganti Kirana yang diletakkan disamping ranjang. Alexandre segera melepas pakaiannya berganti dengan pakaian yang telah disiapkan Kirana.


"why am I gray and you are black" lihat Alexandre menatap joger dan Hoodie Kirana.


"I'll changed" bangkit Kirana masuk kedalam walk closet pribadinya.


"wow" gumam Alexandre pelan, Kirana menoleh dengan cepat menatap Alexandre yang berdiri dibelakangnya tanpa suara. Ia segera memakai joger abunya dengan cepat, "yang" dekap Alexandre dari belakang dan mengecupi punggung Kirana yang terbuka, tangannya mengusap perut Kirana dan bergerak ke atas meremas pelan benda kenyal nan padat Kirana.


"kita sedang ditunggu" lepaskan Kirana agar Alexandre menjauh namun tangan kuat Alexandre tidak dapat dilawannya. Kirana meraih Hoodie abunya yang tertahan oleh tangan Alexandre.


"yang" lirih Alexandre menyapu tengkuk Kirana menggunakan ujung hidungnya. Kirana memejamkan netranya menikmati sentuhan yang membuatnya melayang, Alexandre membalikkan tubuh gadisnya itu dan segera mencicipi manisnya bibir kekasihnya, Kirana merespon dengan pelan sentuhan lembut Alexandre hingga laki-laki itu bergerak turun untuk memberi tanda kepemilikan atas tubuhnya dan segera memakaikan Hoodie Kirana.


"aku tidak bisa berbuat lebih jika semuanya lengkap disini" kecup kening Alexandre, Kirana menghela nafasnya dan bergerak pelan untuk keluar.


"kamu selalu mencari cara" lirik Kirana, ia tertawa kecil. "But, you also like it, don't you?"


"ready" lihat Wilaga menatap keduanya saat tampak diruang tamu, Kirana mengangguk melangkah keluar. Tania melambaikan tangannya dari jauh saat Kirana tersenyum lebar.

__ADS_1


"dah pulang" dekati Kirana, Tania mengangguk memeluk nya erat. "ayo" isyarat dagu Tania memperlihatkan motor kesayangan ayahnya.


"apa ayah baik-baik saja" lihat Kirana tidak percaya, Tania tertawa sembari bertepuk tangan saking senangnya.


"asal sama si tengil itu, ayah baru boleh bawa" kesal Tania melirik Wilaga yang senyum-senyum. Ayah mendekat memeluk Kirana, "kakek sudah lebih baik, kalian semua ditunggu disana. Cepat berangkat agar tidak terlalu macet" senyum ayah Arga mengusap kepala Kirana lembut. Mereka mengangguk segera berpamitan, Alexandre menunggu Kirana di motor. Kirana segera mendekat dan duduk dibelakang lengkap dengan helmet, mereka melaju beriringan keluar dari kediaman keluarga. Malam yang cerah membuat jalanan menjadi padat, mereka bergantian menyalip kendaraan lain agar segera sampai dirumah sakit. Alexandre membuka kait helmet Kirana agar terlepas, "seru" riang Tania, Wilaga mengelus kepalanya mengangguk. Pramana menekan tombol box ajaib yang akan membawa mereka naik ke lantai ruang rawat inap kakek, terlihat Kirana tampak tidak tenang sebelum sampai di lantai ruang inap. Pramana menatap lekat adik perempuannya, "calm".


Kirana menatap Pramana dan mengangguk, Alexandre mempererat genggaman tangannya melihat Kirana yang tersenyum tipis menanggapinya. Mereka melangkah keluar box ajaib dan melihat Bian yang sudah menunggu mereka, "kakek sudah jauh lebih baik, sekarang beliau ada di ruang rawat" ujar Bian, Alexandre mengangguk. "istirahatlah, kita bergantian".


Bian mengangguk dan berpamitan dengan Kirana sebelum mengundurkan diri.


"ngumpul semua cucu kakek" senyum lebar kakek melihat pintu ruangan terbuka dan mendapati ke empat cucunya datang. Kirana memeluk pelan Kakek yang mengusap punggungnya berulangkali, "nggak usah berpikir yang terlalu berat, serahkan sama yang diatas, ada sutradara terbaik sepanjang masa yang sudah memberi lakon kepada para hambanya" senyum kakek. Kirana tersenyum lebar mengangguk, ia mundur untuk memberi kesempatan kepada yang lainnya agar mendekat kearah kakek. Alexandre menatap setiap gerak-geriknya yang mengusap pelan air mata di ujung netranya berulangkali tanpa disadari oleh orang lain. Ia menghela nafas melihat Kirana yang berusaha mati-matian untuk mengulas senyum maupun tertawa bersama dengan keluarganya. ruang inap terasa sepi setelah dini hari ketika popi, momi dan bunda pulang untuk beristirahat. Semua generasi muda terlihat menunggu didalam ruangan dan beristirahat. Kirana beranjak pelan membuka pintu untuk keluar, Alexandre mengerjapkan netranya menyadari Kirana tidak ada didalam ruangan. Ia segera bangkit dan membuka pintu melihat Kirana yang sedang berjalan pelan disekitar taman.


"honey" panggil Alexandre pelan, Kirana membalikkan badan menatap Alexandre yang mendekat.


"lepaskan yang harus kamu lepaskan, beri dirimu kelonggaran untuk bernafas dengan tenang" bisik Alexandre. Kirana mengangguk menyeka air matanya yang menetes pelan. Alexandre mengusap punggung Kirana pelan agar tubuhnya tidak bergetar terlalu hebat. "jangan bebani pikiran mu dengan keadaan kakek, beliau sudah jauh lebih baik dari sebelumnya bukan, nikmati waktu bersamanya jika pikiranmu memikirkan hal negatif maka kakek akan sedih" bisik Alexandre, Kirana melingkarkan tangannya di pinggang Alexandre dan mengusap-usap parasnya di jogernya.


"yaa... Kenapa jadi untuk buang ingus"


Kirana mendongak dan tersenyum mendengar protes Alexandre, "aku cari laki-laki lain aja" lepas Kirana membalas Alexandre yang segera menarik tangannya untuk kembali memeluknya. Kirana tertawa kecil dengan kelakuan Alexandre yang tidak terlihat memiliki kelompok bawah tanah sekarang.


"jika yang lain liat kelakuanmu saat ini kayak gini gimana, kak" pandang Kirana.


"biarin"

__ADS_1


"nggak nyangka iihh, suka nyiksa orang taunya bucin gini"


"nggak papa asal yang dibucinin tau kalo hanya dia" kecup ubun-ubun kepala Alexandre tertawa pelan, Kirana menjauhkan dagu Alexandre dari kepala nya.


"kenapa, yang"


"nggak usah deket-deket terus, kebiasaan" kerucut mulut Kirana tidak mau. Alexandre tertawa kecil melepas pelukannya.


"hanya kamu yang aku suka" angkat bahu Alexandre, Kirana menoleh sekilas. Dilihatnya Wilaga sudah berdiri tegak dengan melipat tangannya di dada melihat mereka berdua.


"cari makan" kata Wilaga, Kirana mengangguk melepas ikatan rambutnya. "apa semuanya tidur nyenyak" toleh Kirana, Wilaga mengangguk merengkuh bahu Kirana agar merapat.


"makan yang berkuah" senyum Wilaga, Kirana mengangguk mengiyakan. Alexandre mengikuti langkah mereka dengan melihat sekeliling yang terasa terlalu sunyi.


"ga" ucap Alexandre tiba-tiba, Wilaga mengangguk tanda mengerti setelahnya terdapat beberapa orang menghentikan laju langkah mereka.


"duh, lama nggak ada yang ngajak olahraga nih. Tapi sayangnya waktu kalian tidak pas" geleng kepala Wilaga menatap tajam kearah mereka, "apa kalian tidak istirahat malam-malam begini, nggak nungguin anak bini" seringai Wilaga, mereka menyeringai mengusap-usap rahang menatap ketiga orang yang ada dihadapannya. Kirana menghela nafas sembari mengikat rambutnya model bun sementara kedua laki-laki yang berada di kiri kanannya sudah melemaskan badannya dengan gerakan badan. "nggak nyangka mau makan aja harus begini dulu sih kak" usap tengkuk Kirana, Wilaga mengusap kepala adiknya itu. "enak kan biar makannya lebih bersemangat dan tambah banyak"


Kirana mundur kebelakang beberapa langkah untuk kedua orang laki-laki itu meladeni beberapa orang yang sudah siap siaga.


Hai....hai....hai... all readers terimakasih telah mendukung karyaku. terimakasih atas perhatian dan like kalian terhadap karyaku.


luv....luv....luv.... U all sekebon pisang goreng. terimakasih atas dukungannya selama ini...

__ADS_1


stay healthy all readers


__ADS_2