
Kirana menatap keluar jendela ruang pasien walau semua keluarga berkumpul bersama tapi tidak membuatnya merasa lebih baik saat ini, beberapa kali ia menghela nafas tanpa suara menatap keluar tanpa melihat mereka bersenda gurau. Kaila mengusap kepala Kirana hingga empunya menoleh menatap Mominya itu, "sangat sedih" ujar Kirana pelan, Kaila mengangguk.
"tidak ada kejadian tanpa alasan dibelakangnya, dek. Mungkin untuk saat ini dia lebih memilih untuk kembali kepada sang peniup roh, jika dipaksa untuk tetap bersamamu maka akan terjadi hal-hal yang tidak bisa dimengerti" kata Kaila, Kirana mengangguk mengusap air mata disudut netranya.
"kita semua sedih tapi kita lebih sedih lagi jika melihatmu seperti ini. Ingat kata kakek sudah ada sutradara terbaik yang memberi lakon kepada manusia. Kita hanya wayang yang bergerak sesuai skenario" tatap Kaila, Kirana memejamkan netranya menghirup udara dalam-dalam, hatinya serasa sesak setelah mengalami hal yang membuatnya hancur berkeping-keping.
Alexandre mendekat dan memeluk tubuh istrinya dengan lembut mengusap punggungnya dengan pelan.
Seminggu setelah kepulangan Kirana dari rumah sakit keadaan kakek semakin menurun, keluarga sudah mengupayakan yang terbaik hingga mereka berserah diri sepenuhnya kepada sang pencipta atas keadaan kakek. Kirana sedang menemani kakek siang ini sendirian bersama dengan Alexandre karena sebagian besar keluarga nya sedang melakukan aktivitas lainnya.
"Kirana" panggil kakek pelan. Kirana menoleh dan mendekat kesamping bed.
"ada apa kek, apa ingin sesuatu" tanya Kirana tersenyum mengusap punggung tangan kakeknya, kakek menggeleng tersenyum mengulurkan tangannya mengusap kepala cucu perempuan tertuanya itu.
"apa masih sedih" tanya kakek, Kirana menggeleng tersenyum. "tidak kek, Kirana sudah ikhlas atas semua yang terjadi"
"kamu harus tetap kuat menghadapi semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidup, sudah ada sutradara yang mempunyai skenario terbaik" senyum kakek, Kirana tertawa kecil mengangguk.
"kakek minta maaf jika banyak mengecewakan mu"
"tidak kek, Kakek selalu menjadi yang terbaik untuk Kirana. Malah Kirana yang selalu merepotkan dan membuat kakek cemas karena badung" geleng Kirana mengusap air matanya, kakek tertawa kecil menepuk punggung tangan cucunya. "jadilah istri yang selalu menuruti perintah suami, seperti Momi yang selalu menemani Popi apapun yang terjadi, bunda yang selalu mengikuti ayah" kata Kakek, Kirana mengangguk dan semakin deras menitikkan airmata.
"K" ucap Kakek, Kirana menatap kakeknya dengan perasaan yang campur aduk. "ikhlaskan kakek menemui nenek dan grandmom disana" tatap kakek dengan suara bergetar, Kirana mengusap airmata dengan cepat untuk menatap kakeknya dengan jelas.
"iya, kek. Kirana ikhlas" angguk Kirana. Kakek tersenyum meminta Kirana untuk memeluknya, ia segera masuk dalam dekapan kakeknya dan menangis sesenggukan di bahu renta kakek tersayangnya.
__ADS_1
"selalu bersama dengan keluarga, apapun yang terjadi keluarga tidak akan pergi berpaling dan akan selalu menemani" senyum kakek mengusap airmata cucunya, Kirana mengangguk dan mencium telapak tangan kakeknya berulangkali.
"kami ikhlas kek, semoga kakek memaafkan kami semua" senyum Kirana perih, kakek tersenyum menepuk punggung tangan cucunya itu berulangkali.
Alexandre masuk melihat keadaan Kirana dan kakeknya setelah cukup lama mengurus sesuatu dengan yang lain.
"tidak apa-apa, dia hanya meluapkan rasa didalam hatinya" senyum Kakek mengerti melihat Alexandre yang menenangkan Kirana, Alexandre tersenyum mengangguk menatap kakek Kirana yang terlihat lebih segar.
"kakek terlihat sangat berbeda hari ini" kata Alexandre "benarkah, terimakasih banyak atas pujiannya, mereka yang melihat kakek hari ini juga mengatakan hal yang sama" tawa kakek pelan. Alexandre ikut tertawa melihat keadaan kakek yang jauh lebih baik.
"mau makan apa, yang. Kamu belum makan dari tadi" usap pipi Alexandre, Kirana menggeleng.
"bentar lagi mereka akan datang dan rumah kembali rame" senyum Kakek, Kirana menoleh mengangguk. "kalian pergi makan dulu, nanti kembali kesini. Kakek akan tunggu, jangan kuatir" kata Kakek, Kirana menggeleng.
"tidak apa, kakek baik-baik saja. Jangan risau, kakek akan menanti semuanya" tatap kakek, Alexandre segera membawa Kirana pergi dari ruangan pribadi kakek untuk makan.
Kirana menoleh menatap Alexandre lekat "sebentar lagi kakek akan pergi kak, tadi kami saling meminta maaf dan saling merelakan" ujar Kirana bergetar, Alexandre mendekap erat tubuh Kirana yang segera menangis pelan.
"aku sudah bilang merelakan kepergiannya untuk menyusul nenek dan grandmom, tapi hati ini sangat berat" sesenggukan Kirana, Alexandre mengusap punggung istri kecilnya itu lembut.
"kakek memang terlihat berbeda beberapa hari ini, seperti orang yang sudah suci dan bersih untuk kembali kepada sang pencipta" ujar Alexandre, Kirana mengangguk.
"aku disini, yang. Selalu ada di sampingmu" tangkup pipi Alexandre, Kirana mengangguk memejamkan netranya mengerti.
beberapa anggota keluarga sudah mulai pulang, mereka bergantian menemui kakek untuk menyapa jika mereka sudah pulang. Wijaya tampak sedang memperlihatkan sesuatu di gadget nya kepada kakek. Wilaga dan Tania mengobrol serius mengenai sesuatu, Pramana dan Kirana menonton saluran TV dengan Alexandre yang tertidur di samping Kirana.
__ADS_1
"dek, kemarin bang ipat menghubungi kakak" kata Pramana, Kirana menoleh menopang dagunya mendengarkan.
"keadaan istrinya sudah membaik dan mengajak kita untuk kerumahnya" kata Pramana, Kirana mengangguk.
"yang, ponselmu berdering" serahkan Alexandre, Kirana menoleh meraihnya dan melihat sekilas.
Pagi itu suasana masih tampak sepi, tidak ada aktivitas yang banyak dilakukan, Kirana masih bergelung di tempatnya tidur tidak terusik apapun. Alexandre tersenyum senang melihat istrinya bisa beristirahat dengan tenang tadi malam, seseorang mengetuk pelan pintu ruangan pribadi mereka, Alexandre berjalan pelan membukanya perlahan, seorang pekerja rumah mengatakan sesuatu dengan pelan agar Kirana tidak terganggu, Alexandre mengangguk dan segera keluar menuju rumah tengah kakeknya. Dilihatnya semua orang sudah berkumpul didepan bed Kakek, mereka hanya diam dan menangis melihat kakek yang terlihat tersenyum dalam tidur panjangnya, Alexandre hanya berdiri kaku tidak bisa menggerakkan badannya melihat pemandangan di depannya saat ini, Wilaga mengangguk menepuk bahu suami dari adik perempuan kembar nya itu pelan.
"kakek sudah tidak sakit lagi, Popi meminta agar Kirana tidak diberitahu dulu" kata Wilaga, Alexandre hanya menatap iparnya itu dengan kosong, tidak terlintas sesuatu di dalam pikirannya saat ini. Kaila menggenggam erat tangan ayahnya yang terlihat bercahaya dan bersih.
"terima kasih, yah telah menemani perjalanan kami hingga sekarang, terimakasih telah memberikan yang terbaik untuk kami berdua selama ini, terimakasih selalu ada di sisi kami, sekarang ayah bisa menemani momi disana bertemu dengan grandmom juga" senyum Kaila mengusap airmata, Pram mengusap bahu istrinya menguatkan.
"selamat jalan yah, kami ikhlas melepas mu untuk bertemu kembali dengan belahan jiwamu" angguk Kalai menangis, Arga memeluk istrinya menenangkan.
Beberapa tetangga sudah berdatangan setelah pekerja dan penjaga rumah keluarga memberitahukan kabar duka, rumah kembali ramai walau masih pagi sekali.
Kirana menggeliat pelan merasa jika tidak ada Alexandre disampingnya, ia menuju bathroom dan membersihkan dirinya, pagi ini dirinya ingin mengenakan pakaian serba putih hingga kebawah, dilihatnya beberapa model pakaian berwarna dasar putih di walk closet nya yang jarang disentuhnya, Alexandre masuk dan memeluk tubuh polos istrinya, membisikkan kata-kata mengenai kepergian Kakek, Kirana seketika membeku tanpa ekspresi hingga Alexandre menggoyang tubuhnya agar tetap sadar. Kirana menatap paras suaminya dengan tatapan kosong, Alexandre menggumamkan sesuatu ditelinga kanannya, ia segera tersadar dan mengangguk. Alexandre memakaikan underwear Kirana dengan cepat dan memakaikan pakaian putih untuknya, Kirana segera melangkah keluar ruangan untuk menuju kerumah tengah kakeknya. Alexandre segera membersihkan dirinya agar cepat menyusul istrinya yang sedang tidak baik-baik saja. Kirana bergantian memeluk anggota keluarga nya yang lain saling menguatkan, Popi mendekap erat putrinya mengecup pipinya berulang kali. Kaila menyandar di bahu Wilaga yang terlihat selalu bersama Momi nya, Kirana meraih jemari Mominya yang segera menoleh melihat putrinya, memeluknya erat menangis.
Kesedihan ketika orang terdekat dan tercinta pergi untuk selama-lamanya membuat dunia seakan runtuh buat kita, temani dan kasihi orang yang benar-benar peduli tanpa mengharap imbalan apapun.
Orang Tua kita adalah segala-galanya bagi kita apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya. Selamat membaca sembari ngopi ditemani sepiring pisang goreng bertabur coklat keju...
luv.... luv.... luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
__ADS_1
stay healthy all...