
Kirana melangkah menyusuri jalan belakang kompleks perumahan keluarganya, ia tersenyum menyapa perempuan setengah baya yang melambaikan tangan ke arahnya.
"bagaimana kabarnya nak Kirana, lama tidak pulang kayaknya" elus bahu perempuan itu pelan, Kirana mengangguk tersenyum mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu pelan.
"baik, bu. baru bisa pulang minggu ini karena sekolah yang nggak bisa ditinggal" duduk Kirana di kayu panjang yang dijadikan tempat duduk depan rumah.
perempuan paruh baya itu masuk sebentar mengambil air mineral bottle untuk Kirana, "ahhh, Bu Surti, kenapa repot-repot sih. Kan rumah Kira deket" tunjuk Kirana kearah pintu belakang rumah nya.
"nggak papa, air putih doang, nak. Kan lama kagak main" senyum bu Surti duduk di sebelah Kirana.
"makasih banyak bu, tau aja kalo haus" senyum Kirana membuka tutup bottle dan meneguknya pelan.
"yang lain kemana bu, kok sepi aja" lihat sekitar Kirana. Bu Surti menunjuk anak-anak yang berlarian kearah mereka.
"kak Kirana" lambai mereka senang, Kirana tersenyum membalas sapa mereka.
"main apa" tanya Kirana pelan. Seorang anak menunjuk mobil-mobilan yang di tarik menggunakan tali panjang. Kirana tersenyum senang melihat mereka antusias menceritakan semua yang terjadi.
"capek nggak" usap kepala Kirana lembut, mereka menggeleng dan berseru senang hingga membuat Kirana tergelak menatap mereka.
"kalo gitu kakak beli ice sendirian aja. Udah capek soalnya" goda Kirana, mereka berebutan seru ingin yang pertama ikut.
"kalo gitu semuanya ikut yuk, mumpung sore nggak panas banget, Ok" semangat Kirana. Mereka berseru riang melangkah dengan gembira diikuti oleh Kirana.
"bu Surti, jalan dulu yaa... Ntar balik kesini lagi" senyum Kirana, "ya" tawa bu Surti melihat mereka semua pergi dengan riang. Beberapa anak yang bertemu di jalan ikut dengan mereka menuju tukang ice yang berada dilapangan tengah padatnya rumah penduduk.
"banyak kak" lihat salah seorang diantara mereka.
"nggak papa, tambah banyak tambah seru. Rugi kalo yang ikut dikit" senyum Kirana mengibaskan tangannya, mereka berceloteh dengan riang sembari mengajak yang lain.
"hello" salam Kirana menjawab panggilan di ponselnya.
"dimana, dek" tanya Kaila.
"di belakang rumah Mom, main sama anak-anak. Mau beli ice bareng nih" kata Kirana.
"Ok, hati-hati" tutup Kaila. Kirana kembali meletakkan ponselnya didalam saku joger nya.
"kak, ada yang jualan makanan baru" tunjuk seorang anak yang lain.
"Ok, kalian suka. Kita beli kalo begitu" angguk-angguk Kirana, mereka berseru senang.
dengan berbaris mereka bergantian menerima makanan dan minuman yang mereka minta, Kirana duduk sembari mendengar celotehan anak-anak yang seru.
"kayaknya seru nih" datang Wijaya dan Tania dari belakang. Kirana segera menoleh tersenyum lebar melihat kedua saudaranya.
"kak, abis ini main bola yuk. Banyak yang mau" kata seorang anak. Wijaya mengangguk antusias segera menuju tengah lapangan melepas alas sendalnya, Kirana dan Tania menyaksikan dari tepi lapangan.
"apa yang lain tidak ikut" tanya Kirana menyeruput ice nya.
__ADS_1
"kalo udah tau kita kesini pasti nyusul" angguk Tania menerima ice nya.
"udah di bayar belum nih, kak. Main minum aja" tatap Tania cepat, Kirana nyengir menggeleng. "abisin ini dulu baru bayar deh, ntar kalo ada yang nambah"
"mang, bentar yak, jangan kemana-mana. Ntar kalo ada yang nambah" kata Tania, penjual ice memberi tanda Ok.
"pada kemana kok nggak ada orang dirumah" tatap Pramana.
"dibelakang kak, tadi Momi udah tau" lambai tangan Tania, Pramana segera menutup ponselnya.
"belum lama kita omongin udah nanya duluan" mereka berdua nyengir.
"besuk kakak udah siap" toleh Tania, Kirana mengangguk pelan menatap kelapangan dimana saudara dan anak-anak yang lain sedang main bola.
"harus dihadepin kan. Ada ketakutan, sedih, senang. Campur aduk jadi satu. Life goes on" angkat bahu Kirana menghabiskan makanannya dengan sekali lahap.
"apa tidak bisa di rewind" cengir Tania, Kirana tersenyum garing, "bisa, tapi akan ada penyesalan yang tak berujung jika aku mundur sekarang dan itu akan membuatku tambah terpuruk" gumam Kirana.
"apapun yang terjadi nantinya, Tania akan menjadi pendengar setia mu" sentuh bahu Tania, Kirana mengangguk.
"jika bisa nggak usah buru-buru menentukan siapa laki-laki itu"
Tania tersenyum lebar, "semoga hanya kekaguman saja melihat dia"
"lagi dong satu mang" tunjuk bungkusan Kirana, mamang penjual makanan kecil segera membuatkan kembali dan membawanya ketempat duduk Kirana. "makasih"
"ngapain" pakaikan topi Alexandre duduk disamping Kirana disisi yang lain, Kirana menekan topi agak kedalam.
"mang, 3 lagi" seru Tania.
"kapan datang" toleh Kirana, Alexandre menatap lekat manik netra Kirana
"baru aja dan dibawa kesini" isyarat dagu Alexandre menunjuk Pramana yang telah ikut main. Kirana menoleh menatap saudara kembarnya itu.
"nggak ikutan" toleh Kirana
"aku barusan membersihkan badan sebelum kemari, yang" kata Alexandre.
"kalo ikutan, ntar membersihkan badan di ruangan pribadiku" naik turunkan alis Kirana, Alexandre membuka netranya lebih lebar bergegas melepas sneaker nya dengan senang. Kirana tersenyum tipis melihat tingkah Alexandre yang seperti mendapat Jackpot.
"bu Surti" seru Kirana, seorang perempuan paruh baya keluar dari rumahnya, "udah mau pulang nak" senyum bu Surti melihat kelima anak muda keluarga Bagaskara yang bermandi keringat.
"ya Tuhan, pada ngapain kotor begitu" tawa bu Surti melihat mereka yang pakaiannya kusut dan kotor.
"biasa, main bola di lapangan sana. Kami pulang dulu bu, ngambil air bottle ini" senyum Kirana meraih bottle yang masih ada di kayu panjang untuk nya tadi duduk.
"iya, nak. Hati-hati kalo pulang salam sama Popi dan Momi nya yaa..." angguk bu Surti tersenyum.
"makasih banyak bu, kita pulang dulu. Sehat-sehat ya bu" salam Kirana menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan bu Surti.
__ADS_1
"makasih banyak nak, semoga selalu lancar segala urusannya" senyum senang bu Surti, Kirana dan yang lain mengangguk pamit dan segera melangkah menuju pintu belakang rumah.
"kalian kayak gini Momi pasti geleng-geleng kepala" lihat Kirana.
"lha tadi kamu yang nyuruh lho, yang. Buat main sama mereka" bela Alexandre.
"tapi, nggak gitu juga kali kak. Ini main bola sama anak-anak lho. Nggak ngajak gelut" tatap Kirana. Pramana menepuk bahu Alexandre pelan.
"diam adalah emas" bisik Pramana jika sudah mendengar Kirana seperti itu, Alexandre menghela nafasnya mengerti.
"ya ampun" geleng-geleng kepala Kaila melihat ketiga putranya yang kotor.
"towelnya ada dalam, Kirana siapin pakaian gantinya" laju Kirana menuju ruangan pribadinya, Alexandre mengikuti langkah Kirana masuk.
"kamu ikut masuk nggak, yang" goda Alexandre di pintu bathroom sebelum ditutup, Kirana menatap datar Alexandre yang segera menutup pintu sebelum keluar kata-kata bijak dari Kirana.
Ia segera mengambil pakaian ganti di walk closet untuk Alexandre, diletakkan ditepi tempat tidur dan segera melangkah keluar.
"Momi" dekati Kirana, Kaila menoleh dan memperlihatkan beberapa item pengerjaan untuk acara besuk pagi.
"harus begini" topang dagu Kirana sembari menghela nafasnya. Kaila mengangguk dan mendorong bahu putrinya kearah rumah tengah kakeknya. "see, semua sudah hampir selesai" senyum Kaila memperlihatkan pengerjaan ruangan yang masih di set oleh pekerja wedding.
Seseorang mendekat dan menjelaskan beberapa hal yang melibatkan Kirana di dalamnya, Kaila beberapa kali menatap Kirana untuk meminta persetujuan dan pada akhirnya Kirana hanya bisa mengangguk dan mengiyakan permintaan itu.
Bunda terlihat sedang mengecek beberapa item pekerjaan. "gimana, adek suka" datang Kalai.
"iya, bund. Kirana ngikut aja apa kata Momi dan bunda" angguk Kirana tersenyum.
"Kirana ke ruangan kakek dulu, mau ngucapin selamat malam" isyarat Kirana, mereka berdua mengangguk dan kembali mengobrol dengan penanggungjawab wedding.
Kirana menghela nafasnya panjang sebelum menaiki tangga menuju rumah tengah dimana kakeknya berada, ia mengetuk pelan pintu kamar sebelum diperbolehkan masuk.
"dek" senyum kakek melihat Kirana membuka pintu dan melangkah masuk kedalam.
"kakek nggak melihat persiapan buat acara besuk" senyum Kirana duduk di samping kakeknya ditepi tempat tidur.
"sudah tadi sore saat kalian main kebelakang, kakek senang kalian masih mau main ke belakang" tepuk-tepuk punggung tangan kakek.
"tentu saja, kek. Kita akan selalu main kebelakang jika berada di rumah sini" angguk Kirana menatap kakeknya.
"bagaimana dengan mu, apa kamu senang dan siap untuk acara besuk" tawa kecil kakek mengusap pipi Kirana.
"tentu, kek. Kirana senang jika kakek dan granddad merestui kami berdua" angguk Kirana menetes kan air mata tiba-tiba, Kakek mengusap air matanya yang jatuh.
"kakek baik-baik saja, Kira. Jangan membuat kakek berat mengantarmu" senyum kakek. Kirana tersenyum mengangguk meneteskan airmata lebih kencang tanpa suara, Ia memeluk tubuh renta kakeknya yang sudah sangat rapuh dimakan usia.
"beri kesempatan Kirana untuk membahagiakan kakek dan granddad, Ok" ucap Kirana lirih dengan susah payah mengeluarkan suara. Kakek mengangguk mengusap punggung cucu perempuan tertuanya itu.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
__ADS_1
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...