
Kirana membiarkan Alexandre untuk beristirahat sesampainya mereka di kediaman Bagaskara selama di negara tempat mereka belajar, ia mengobrol dengan Momi seperti biasanya.
"dek" topang dagu Momi melihat anak perempuannya, Kirana mendongak menatap paras Momi yang terlihat masih sangat muda walau sudah mempunyai anak empat.
"Momi mau menemani kakek dulu, Momi merasa jika kakek lebih membutuhkan Momi saat ini" ujar Kaila pelan, Kirana serasa lemas badannya mendengar perkataan mominya barusan, ia mengerti jika mominya merasakan hal yang sama seperti dirinya jika ada yang tidak beres, bedanya adalah dia bisa merasakan jauh-jauh hari sedangkan mominya tidak.
"apa momi tidak apa-apa jika kesana tanpa Kirana" genggam jemari Kirana saling menguatkan, Kaila tersenyum tipis menepuk punggung tangan anak bungsunya.
"sebenarnya berat untuk dihadapi, momi tidak tau harus merasa bagaimana dek, sedih sakit, takut, cemas. Semuanya campur aduk tapi momi harus tetap hadapi. kakek selalu mengatakan jika kita harus ikhlas jalani hidup sebaik kita bisa, semampu kita melakukan yang terbaik. sudah ada dalang yang mengatur segalanya lebih baik buat kita umatnya"
"let me know if something happen, Mom" ujar Kirana lirih. Kaila mengangguk mengusap kepala Kirana lembut sembari tersenyum.
"jika Momi menghubungimu langsung pulang, Ok. Tidak usah banyak berpikir yang tidak-tidak mengenai kakek, sebisa mungkin kita berikan yang terbaik untuk kakek dan granddad. Hanya mereka yang menguatkan kita selama ini" kata Kaila, Kirana mengangguk memejamkan netranya.
"Momi tenang meninggalkan mu karena Alexandre sudah menemanimu disini, walo banyak yang menjaga hingga momi merasa tidak kesepian saat kalian kuliah" senyum momi, Kirana tersenyum membalasnya.
"bang ipat ikut kan mom"
"iya, karena dia sudah akan berhenti untuk menemani istrinya" angguk momi
"what, why" tidak mengerti Kirana, Kaila menepuk bahu Kirana.
"umur bang ipat udah tidak muda lagi, dek. Dia yang menjaga momi sejak kuliah juga, dia ingin menjaga istrinya yang sudah sering sakit. Anak-anak nya juga sudah besar jadi istrinya sering sendirian" kata Kaila.
"but..."
"do U best, dek. Kita tetap akan saling berkomunikasi jika terjadi sesuatu pasti kita akan tau segera" kata Kaila, Kirana menghela nafasnya.
"beberapa hari ini momi akan berangkat, jika adek sedang ada di luar momi akan kabari" kata Kaila, Kirana mengangguk.
"Popi ikut" tanya Kirana
"kapan Popi akan membiarkan momi pergi lama, Popi akan ke Inggris bentar mengurus beberapa hal mengenai perusahaan, sekarang beberapa asisten kepercayaan granddad dan Popi sudah bisa berjalan dengan baik tentu saja karena ada Alexandre jadi semakin lebih berkembang"
"kenapa terlihat serius sih" datang Popi memeluk kedua perempuan tercintanya itu.
"serius apaan, emang baru dengerin Popi ngajar" tepuk dada Kaila, Pram tergelak mencium pipi Kaila berulangkali. Kirana tersenyum lebar melihat tingkah kedua orang tuanya yang bertolak belakang.
"nggak malu ada anaknya udah gede gini" jauhkan badan Kaila dari suaminya, Pram semakin menempelkan tubuhnya hingga Kaila susah bernafas, Kirana tertawa dibuatnya.
__ADS_1
"kemana Al" tanya Pram, Kirana menunjuk ke ruangannya dimana Al sedang terlelap.
"kita akan berangkat dua hari lagi, Popi akan langsung ke Inggris bentar mengurus beberapa hal bersama yang lain. Sedangkan granddad dengan Momi akan pulang ke rumah langsung" kata Pram, Kirana dan Kaila mengangguk berbarengan.
"apapun yang terjadi kita harus saling menguatkan satu sama lain, tidak ada aku, kamu atau semau gue, yang ada adalah kita, bersama-sama. Entah itu keluarga Bagaskara atau Bimantara" pandang Pram, mereka mengangguk.
"Momi punya kita berenam, ada kita yang selalu berada disamping Momi apapun keadaannya, buruk, sedih, susah, ingin merasa sendiri. Kita selalu akan ada dan selalu bersama" raih jemari Pram, Kaila tersenyum mengangguk. Kirana meraih kedua jemari orangtuanya tersenyum.
"ada kami berempat yang akan selalu berada disamping, Mom. No matter what" remas Kirana lembut, Kaila mengangguk.
"kak, ayo makan dulu" ketuk pintu Kirana. Pramana segera keluar duduk disalah satu bangku mengitari meja berisi makanan untuk makan malam.
"apa kak Al belum bangun" toleh Wilaga datang. Kirana menggeleng menyendok makanannya.
"mungkin dia terlalu lelah dan ketika dia sampai merasa nyaman" kata Kirana.
"tentu, karena ada kamu" senyum Wilaga, Kirana nyengir.
disela-sela makan, mereka saling mengobrol banyak hal dengan penuh tawa dan canda.
Pagi hari mereka bersiap untuk melakukan aktivitas pagi, Alexandre berjalan menyusuri jalan menuju kampus Kirana bersama dengan keempat orang lainnya. "yang"
"aku akan ke X, sementara kamu ke kampus. Kabari aku jika akan pulang sehingga aku dapat memperkirakan waktu" senyum Alexandre, Kirana mengangguk.
"sudah terasa segar badannya"
"he em, tidurku sangat nyenyak karena tau kau ada didekatku" senyum Alexandre, Kirana memutar bola netranya jengah.
"kalo gitu, aku akan masuk dulu, kak. Ntar aku kabari jika sudah selesai" peluk Kirana ringan melambaikan tangan melangkah masuk ke gedung kuliah nya, Alexandre tersenyum menatap istrinya yang semakin menjauh. Seseorang segera mendekat melangkah menemani Alexandre
"apa ada pergerakan dari mereka kembali"
"tidak big, kejadian kemarin membuat mereka mengalami banyak kerugian" jawabnya.
"apa kamu ingin menggantikan Sean menemani Kirana"
ia tersenyum lebar, "tidak, Sean orang yang tepat untuk menemani nona dek sekarang"
"apa tidak akan menyesal" ulang Alexandre, ia menggeleng pelan.
__ADS_1
"jika nanti saatnya pasti bisa menemani nona dengan kesungguhan hati" ucapnya hati-hati. Alexandre tersenyum tipis mendengar jawaban orang terdekatnya itu.
"aku akan lebih tenang jika kamu yang berada di dekatnya karena pasti akan kamu jaga dengan sepenuh hati dan dia juga tidak akan mempermasalahkannya saat melihatmu" hembus nafas Alexandre menyeberang jalan menuju sebuah bangunan tua yang berada didepannya. Mereka masuk dengan tenang diantara beberapa orang yang berlalu lalang, masuk ke dalam ruangan di lorong panjang paling ujung.
Kirana merentangkan kedua tangannya keatas, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. "kita kemana" tolehnya menatap Sean.
"kita ada satu lagi bimbingan" jawab Sean.
"aku tau, maksudku menunggu waktu jeda kita akan kemana" angguk Kirana berjalan menuju kantin yang sedikit ramai oleh pelajar lain. Kirana mengambil tempat makan dan menaruh beberapa makanan diatasnya, Sean menunjuk tempat longgar yang ada ditengah ruangan. Mereka segera duduk saling berhadapan .
"big sedang ada urusan di gedung Z ditemani oleh Daniel" tatap Sean sebelum Kirana menanyakan keberadaan Alexandre kepadanya yang dijawab dengan anggukan oleh Kirana.
"apa sedang ada sesuatu yang penting melihat kak Al tidak banyak kata" tanya Kirana, Sean menggeleng.
"aku tidak begitu mengerti lebih dalam apa yang terjadi di luar karena tugasku adalah menemanimu selama di sini karena big tau jika aku juga menyukai bidang ini dan ingin belajar lagi kebetulan non dek memilih bidang ini juga" senyum Sean, Kirana mengangguk.
"bagaimana awalnya bisa ketemu dan menjadi bagian dari kak Al" tanya Kirana, Sean menatap Kirana lama sebelum menjawab pertanyaan Kirana barusan
"non dek pasti sudah tau detailnya" kata Sean pelan, Kirana menggeleng. "aku lebih suka menanyakannya langsung daripada melihat laporan"
"membela diri dan pada akhirnya membuat banyak orang terluka" jawab Sean lirih, Kirana mengerutkan keningnya meminum air mineralnya hingga setengah.
"more detail" ujar Kirana siap mendengarkan, Sean menatap Kirana yang tenang.
"aku tau kenapa big sangat mencintaimu non dek, kenapa jika gadis lain mendekat maka dia akan mundur 10 langkah tapi dengan mu dia akan maju 20 langkah saat kamu mundur selangkah" senyum Sean Kirana mengerutkan keningnya sesaat.
"hanya non dek yang tidak melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, tidak mudah mempercayai sesuatu"
"hhmm" dehem Kirana menegakkan badannya.
"sering berkelahi membuatku seperti orang yang arogan dan tidak terarah hingga pada akhirnya ketemu dengan seseorang yang mengajak untuk bergabung bersama dengan big, tentu saja tidak mudah dan gampang bekerja bersama yang lain but itu sepadan dengan apa yang terjadi dalam hidupku sekarang. Tuhan memberi jalan agar aku belajar untuk menjadi lebih baik lagi" senyum Sean, Kirana mengangguk.
"apa kenal dengan Pras" kerut Kirana sebentar, Sean tertawa mengangguk, Kirana manggut-manggut pelan.
"kita adalah keluarga sekarang, Sean. semua yang menjaga adalah keluarga kami. Tidak ada yang lebih dan kurang, semua dalam porsinya masing-masing. Kuharap dirimu dan teman-teman big lainnya akan selalu bersama dengan kami hingga ujung waktu" senyum Kirana, Sean mengangguk tersenyum mengerti.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya. Selamat membaca sembari ngopi ditemani sepiring pisang goreng bertabur coklat keju...
luv.... luv.... luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
__ADS_1
stay healthy all...