Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 61


__ADS_3

malam yang panjang untuk mereka semua berkumpul, suara binatang malam menambah kepekatan dan keheningan suasana. Gelapnya malam tidak membuat mereka beranjak dari ruang tengah kakek, Kirana memeluk bunda yang baru saja datang dari luar.


"sudah lengkap semua" tatap Kalai, mereka melambaikan tangan ke arah bunda.


"beri kakek waktu untuk mengenali kalian kembali, maafkan kakek jika sering membuat kesalahan atau membuat kalian kesal karenanya. keinginan nya hanya satu melihat kalian berlima berkumpul disampingnya saat ini" hela nafas Kalai, Kaila menyeka air mata disudut netranya diam-diam.


"maafkan kami yang meminta kalian pulang saat ini, bukan dari kemarin-kemarin karena kalian semua juga sedang belajar dan keadaan kakek semakin menurun sehingga mau tidak mau kita harus menghubungi kalian" kata Kalai bergetar, Arga mengusap bahu istrinya menenangkan, Kalai menoleh dan tersenyum.


"momi dan bunda hanya bisa meminta kalian untuk menemani kakek beberapa waktu ini, semoga kakek bisa kembali sembuh dan menemani kalian hingga nanti" kata Kalai, mereka mengangguk dan saling berpelukan bersama-sama.


seseorang memberikan tissue untuk menghapus airmata, mereka kembali duduk menatap satu sama lain. Kirana meminta seorang pekerja membawakannya kopi dingin karena merasa haus, Alexandre mendekat kearahnya, "kak, jangan mendekat. Aku akan mual mencium aromamu" tatap Kirana menutup hidungnya, mereka semua menoleh bersamaan mendengar perkataan Kirana barusan.


"aku udah membersihkan diri, yang. parfumnya juga dirimu yang memilihnya" kata Alexandre menciumi aroma tubuhnya sendiri. Kaila segera mendekat, "dek"


"apa Mom, bilang sama kak Al. Jauhan dikit" kata Kirana merasa lemas segera bersandar ke belakang. Kaila memandang Kalai meminta Kalai memastikan sesuatu, "dek, apa merasa mual" pastikan Kalai. Kirana mengangguk tiduran, Kaila dan Kalai saling memandang dan tersenyum lebar.


"honey"


"yang" panggil Kaila dan Kalai memanggil suaminya masing-masing, mereka segera mendekat bertanya-tanya.


"bisakah membeli tespeck di kesehatan shop" pegang lengan Kaila menatap suaminya. Pram tampak belum sepenuhnya sadar akan permintaan istrinya itu, "apa" ulang Pram merasa terkejut akan perkataan istrinya, Kaila mengangguk tersenyum mengerti dengan ekspresi paras Pram. ia segera memegang bahu Kaila memastikan apa yang di dengarnya memang tidak salah, Kaila manggut-manggut tersenyum melihat Pram dengan intens. Arga melihat Kalai meminta penjelasan kenapa dengan mereka berdua, Kalai menepuk bahu suaminya itu sembari menggelengkan kepalanya jengah.


"ngapain Pop" lihat Wilaga merasa aneh dengan tingkah mereka berempat, Popi menoleh melihat putra keduanya itu cepat.


"kayaknya adek have a baby" kata Popi excited. Mereka menoleh bersamaan "apa" seru mereka segera berdiri terkejut. Kirana menegakkan badannya mendengar dengan jelas. "apaan sih Pop, Kirana hanya masuk angin. Kak Al aroma nya nggak enak untuk hidung Kirana. Nggak usah menebak-nebak berhadiah deh" kibas tangan Kirana di depan parasnya, mereka saling memandang dan segera bergerak dengan cepat, Alexandre memeluk istrinya mengecupi parasnya dengan bahagia. "aaa.... Jauh-jauh dariku, big" dorong Kirana agar Alexandre menjauh darinya, semua orang seketika heboh mendengar berita Kirana have a baby. Seorang pekerja keluarga membawakan pesanan minuman yang di inginkan Kirana.


"non dek, mau apa lagi" tanyanya, Kirana segera meminum kopi dinginnya.


"adalagi nggak mbak" tanya Kirana, pekerja rumah mengangguk beberapa kali bergegas pergi untuk membuatkan minuman lagi.


Pramana seperti orang yang linglung, mereka berlarian kesana-kemari tanpa arah malah meninggalkan Kirana sendirian duduk di ruang tengah.


"dek, mau kakak pijitin nggak. Mana yang nggak nyaman" duduk Pramana menatap Kirana tanpa sepenuhnya sadar, Kirana menggeleng merebahkan badannya di sofa panjang.


"kak, jangan dekat-dekat denganku. Jika tidak ada perlu jangan mendekati ku" kata Kirana, Pramana manggut-manggut segera menjauh beberapa centi dari adiknya itu. pekerja rumah keluarga meletakkan pitcher kopi dingin di meja dekat Kirana.

__ADS_1


"ada lagi non dek" tanya nya menanti permintaan Kirana yang lain. Kirana menggelengkan kepalanya memejamkan netranya. Alexandre melihatnya dari kejauhan, "big"


"aku disini, yang"


"bisakah menemaniku membeli rujak"


"Ok"


"dibelakang rumah" toleh Kirana, Alexandre tersenyum mendekat dan meraih tubuh istrinya. "walk or bicycle" usap kepala Alexandre, Kirana mendongak.


"jalan" berdiri Kirana mengecup bibir Alexandre ringan, Pramana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik perempuan nya yang tidak kira-kira.


"Tania ikut" cengir Tania segera mendekat, Kirana menggeleng.


"hanya sebentar, temani kakek" tepuk pipi Kirana, Tania tersenyum.


"jangan lama-lama" kata Tania mengerti, Kirana mengangguk berjalan pelan bersama Alexandre.


"mau kemana malam-malam gini" datang Kaila melihat kedua anaknya akan keluar.


"mau nyari rujak Mom dibelakang rumah, Kirana menginginkannya"kata Alexandre, Kaila tertawa kecil mendengarnya.


"Baiklah, it's Ok. Temani adek mencari yang masam-masam, harus sabar jika tidak ada kabari Momi" lambaikan tangan Kaila melihat mereka berdua keluar dari rumah.


dua orang penjaga keluarga Bagaskara segera mendekat menggunakan Boogie car agar kedua putra Bagaskara itu nyaman dalam perjalanan.


"ngapain bang" tatap Kirana berhenti. Alexandre memberi isyarat agar menjauhkan kendaraan itu secepatnya, mereka mengangguk dan melajukan kendaraan agak menjauh.


"jalan aja, yang" senyum Alexandre.


"nggak usah senyum terus kak, nggak kuat ngliatnya" jalan Kirana kembali, Alexandre menepuk keningnya pelan menghela nafasnya mengejar langkah istri kecilnya itu cepat takut berubah lagi mood nya melihat dirinya tidak ada disisinya. Beberapa penjaga tertawa tertahan melihat penderitaan Alexandre yang selalu salah di mata nona muda mereka.


"yang, cepetan. Lelet banget sih" toleh Kirana, Alexandre segera mendekat menggenggam jemari Kirana erat. mereka berjalan melewati pintu belakang.


"ini hampir pukul 9 lho, yang" kata Alexandre melihat sekeliling, Kirana menatap Alexandre dengan tatapan menusuk, Alexandre mengusap tengkuknya melihat arti tatapan istrinya itu.

__ADS_1


"maaf, yang. Kalo begitu, ayo kita kesana dulu aja" senyum Alexandre lembut mendorong bahu istri kecilnya pelan kedepan, Kirana berjalan keliling mencari penjual rujak sudah menutup dagangannya, ia menghela nafasnya letih setelah berjalan cukup jauh. Alexandre menyodorkan air mineral bottle yang segera diteguk Kirana cepat. "nona dek" sapa seseorang melintas di depan mereka yang segera menoleh.


"nyari apa malam-malam" sapanya tersenyum.


"nyari yang jualan rujak pak erte" tatap Kirana lesu, pak erte tertawa pelan.


"ya udah tutup tho non dek, apa mau saya antar ke yang jual. Siapa tau masih ada stok untuk jualan besuk" senyum pak erte mengerti, Kirana tersenyum lebar mengangguk mengikuti langkah lebar laki-laki paruh baya yang berada di depannya.


"makasih pak erte, sudah mau nolongin" kata Kirana terlihat senang.


"jangan sungkan non dek, kalo ada apa-apa, kan bisa meminta suaminya untuk mencari nya" kata pak erte, Alexandre tersenyum mengangguk mengusap punggung Kirana.


"pingin jalan ke belakang juga pak erte, kangen suasana belakang. Disana nggak ada yang ngangenin kayak gini" senyum Kirana, pak erte tertawa mendengar candaan Kirana.


"kalo gitu di sini aja lagi non dek, nggak usah jauh-jauh pergi keluar, masuk angin nanti" balas pak erte, Kirana tertawa mengangguk. Alexandre tersenyum melihat Kirana yang bahagia.


"bukankah begitu nak londo" kata pak erte, Alexandre dan Kirana tersenyum lebar saling berpandangan.


"saya lebih mudah memanggil dengan nama itu" kata pak erte, Kirana mengangguk mengiyakan.


"namanya Al pak erte, jarang pulang ke sini karena keluarganya di luar. Karena punya istri tinggal disini jadi sekarang sering pulang kemari" jawab Kirana.


"ya jelas harus sering pulang kesini kalo nggak, nggak dibukain pintu suruh tidur diluar" goda pak erte, mereka tertawa lebar.


"saya lama baru ketemu lagi dengan Kirana pak erte, lama banget nyarinya. Nggak ada yang tau keberadaannya" kata Alexandre, pak erte menoleh.


"lha kan rumahnya disini, dari dulu malah. Berarti ini udah ketiga generasi yang menetap disini" cerita pak erte.


"iya, pak erte" angguk Alexandre.


"tapi, nak Londo ini mirip lho sama non dek, pantes jodoh yaa..." kata pak erte.


"masak pak... Nggak ada ganteng-ganteng nya itu kak Al" lihat Kirana menatap paras suaminya lekat. Mereka tertawa kecil melihat Kirana yang tidak terima jika Alexandre adalah pria yang diatas rata-rata.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya. Selamat membaca sembari ngopi ditemani sepiring pisang goreng bertabur coklat keju...

__ADS_1


luv.... luv.... luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...


__ADS_2