
Kirana melangkah menuju bandara bersama ketiga kakak laki-laki nya, tanpa kehadiran Alexandre yang sedang berada di negara lain untuk mengurus beberapa pekerjaan, Kirana tampak tertawa lepas mengobrol dengan kembaran nya tentang banyak hal. Akhir-akhir ini mereka selalu bersama menghabiskan hari berkumpul bersama dengan kedua orangtua mereka saat berada di tanah air, pesawat pribadi membuat perjalanan di udara menjadi lebih nyaman dengan beberapa penjaga yang dapat diandalkan.
tidak tampak Alexandre tidak membuat keseruan Kirana berkurang padahal lebih dari seminggu mereka tidak saling berjumpa, Kirana memaklumi keadaan yang membuat Alexandre harus pergi dan dimanfaatkan Kirana untuk mengunjungi banyak tempat bersama saudaranya yang lain.
"yang" tatap Alexandre dilayar ponselnya, Kirana melambaikan tangan berjalan pelan mengikuti langkah yang lain menuju ruang tunggu dibandara.
"udah mau berangkat"
Kirana mengangguk memperlihatkan orang-orang yang sedang bersama dengannya.
"aku masih belum bisa bersamamu, yang. hati-hati di sana"
Kirana mengangguk tersenyum, "kangen" kata Kirana, Alexandre tergelak mengusap layar ponselnya.
"aku berusaha menyelesaikan semuanya dengan cepat, aku sudah merindukan aroma tubuhmu" kata Alexandre pelan, Kirana menggeleng tersenyum.
"jangan terlalu kecapekan agar jangan berkurang kadar ketampananmu" goda Kirana, Alexandre tertawa tanpa suara menutup mulutnya mendengar gombalan receh Kirana menggodanya.
"aku kurang tidur, yang. Karena tidak bisa memelukmu saat lelah"
"hhmm... Ntar aku hubungi saat tidur"
"tidak pake apapun" senyum smirk Alexandre, Kirana tergelak menggeleng.
"biasanya juga hanya t-shirt gede" topang dagu Kirana.
Sean mendekat untuk memberitahunya jika pesawat mereka sudah siap, Kirana mengangguk berjalan pelan mengikuti langkah mereka yang lebar.
"hanya kami berempat kembali belajar, Popi dan Momi sebentar menetap di Jakarta untuk mengurus keperluan rumah" cerita Kirana, Alexandre mendengarkan perkataan istrinya dengan tenang, melihatnya sedang berinteraksi dengan para penjaganya dan saudara laki-lakinya karena hanya dia satu-satunya perempuan didalam kelompok itu.
"aku akan masuk, Luv U honey " lambai tangan Kirana sebelum memutuskan komunikasi dengan suaminya. Kirana melangkah memasuki kabin yang sudah diatur untuk kenyamanan mereka, "dek" panggil Wijaya menepuk seat yang ada di sebelahnya, ia mengangguk dan duduk disamping kakak ketiganya, berhadapan dengan kedua kakaknya yang lain.
__ADS_1
"nggak ada 1,5 tahun kita sudah selesai. Akankah kita selalu bersama" tatap Pramana
"aku berharapnya selalu bersama kak tapi kalian akan menemukan tambatan hati, itu yang tidak bisa ditebak. pinginnya di Indonesia aja bareng Popi dan Momi" senyum Kirana melipat kedua tangannya di dada.
"semoga Tuhan mengijinkan, tapi kayaknya nggak" tawa Wilaga.
"ada yang menggantikan Popi di Inggris menemani uncle Saka" hela nafas Pramana.
"and that could be U kak" kata Kirana.
"tidak juga, hanya pilihan pertama tentu saja aku, melihat kalian bertiga yang tidak terlalu suka company" senyum Pramana.
"aku mau" tatap Wijaya, mereka menoleh menatap Wijaya dengan pandangan terkejut karena selama ini dia lebih cenderung ke hobi agriculture.
"serius"
"really serious"
"baguslah, berarti anak laki-laki Popi dan Momi bisa diandalkan untuk kelangsungan hidup banyak orang" angguk Pramana.
"Jadi kita akan saling mendukung satu sama lain, akan saling melebarkan sayap dengan tidak saling menyakiti" kata Pramana menatap ketiga saudaranya lekat, mereka saling menatap dan mengangguk bersamaan.
"beri pengertian kepada pasangan kita yang akan menjadi pendamping hidup kita kelak agar bisa berdamai dengan keluarga besar. kita tumbuh besar seperti sekarang karena keluarga besar berjuang memberikan yang terbaik sudah seharusnya kita juga melakukan yang terbaik untuk keluarga" kata Pramana.
"pasti" angguk mereka bertiga bersamaan.
"kakek sudah tidak ada, tinggal granddad satunya orang yang harus kita jaga" kata Pramana.
"dan dek, jaga diri baik-baik. Bisakah... Tidak semua orang yang kita temui adalah orang yang sependapat dengan kita, terkadang mereka hanya ingin mengambil sesuatu dari kita" kata Pramana, Kirana mengangguk pelan.
"maafkan kak, terkadang nggak mau melihat kejelekan orang lain makanya hanya melihat hal positif dari mereka saja"
__ADS_1
"tidak masalah, yang penting adek lebih mawas diri. Jangan tinggalkan penjagamu walo apapun keadaannya, mereka akan dalam bahaya jika kamu melakukan sesuatu tanpa mereka kecuali jika ada Alexandre, itu hal yang berbeda" senyum Pramana. Wilaga menyunggingkan senyum menatap Kirana.
"ada yang mau dikatakan kak Laga" topang dagu ko naik motor kala itu" kata Wilaga pelan.
"what" ulang Kirana, Wilaga manggut-manggut membenarkan.
"semakin kamu main pergi gitu aja, semakin banyak penjagamu kena tekanan mental. Jangan dikira mereka hanya menghadapi kebengalan mu main kabur tapi juga merasakan kekejaman Alexandre menghajar anak buahnya tidak becus menjaga istrinya" kata Wilaga, Kirana membuka mulutnya tak percaya mendengar perkataan kakak keduanya itu.
"makanya kak Pramana bilang jangan tinggalkan penjagamu walo apapun keadaannya karena taruhannya nyawa mereka" kata Wilaga.
"Popi hanya menempatkan penjaga bukan menempatkan pembunuh disampingmu, K. Lain kalo dengan suamimu, dia menempatkan pembunuh yang berada di sisimu. Dia akan bersikap terbalik antara dirimu dan yang lain" kata Wilaga.
"untungnya dia bucin kepadamu hingga merubah sifat hitamnya sedikit demi sedikit"
"kakak iparnya sekarang ada dalam ruangan bawah dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan hidup ato mati dan dia sekarang baru menghadapi kemarahan kakak perempuannya karena hal itu" kata Wilaga pelan.
Kirana mengangguk menunggu Wilaga meneruskan ceritanya, "aku tau hanya bagian itu saja, kak. Karena dia tidak begitu detail menceritakan kepada ku, kak Al hanya bilang itu adalah urusan yang hanya dia sendiri yang harus menyelesaikannya tanpa harus aku tau agar tidak kuatir. Itu saja" kata Kirana
"benar, saat kamu menghilang dari hidupnya. dia tidak mempermasalahkan apapun yang dilakukan kakak iparnya karena hanya menargetkan dirinya tapi setelah kakak iparnya mencoba melukai mu untuk menyerangnya maka dia mulai melakukan perlawanan. Entah berapa banyak luka fisik dan mental yang dia tanggung selama ini, makanya dia tidak mau kamu mengetahui nya"
"Daniel yang selalu memberitahuku setiap langkah yang diambil oleh kak Al agar kita tahu harus bagaimana melindungi mu disaat dia tidak ada di dekatmu" terangkan Wilaga.
"hingga pada akhirnya Wijaya harus mati-matian belajar menembak agar bisa melindungi mu" kata Pramana pelan, Kirana terkejut menoleh cepat menatap Wijaya yang tersenyum lebar mengangguk memperlihatkan telapak tangan nya yang penuh dengan kulit yang mengeras selama memegang beberapa senjata selama pelatihan.
"aahh.... Jadi terhura..." ujar Kirana memeluk erat Wijaya yang tertawa senang melihat adik perempuan nya sangat bahagia.
"nggak usah lebay, dek" jauhkan kepala Pramana agar tidak memeluk Wijaya saja, Kirana tergelak maju kedepan memeluk kembaran pertamanya itu erat bergantian dengan Wilaga.
"I often wonder, actually if twins are born, the last one born is the first child, right. because it gives the younger siblings a chance to come out first. because he had to look after his younger siblings" ujar Kirana serius. Mereka berempat saling berpandangan, segera mengacak dan mengusap paras Kirana agar tidak berpikir terlalu jauh hingga membuat mereka tertawa senang.
"dalam keadaan kita keberadaan mu sama sekali diluar dugaan dek, makanya kamu adalah anak terakhir yang ada di perut Momi. Selama kita ada di dalam, hanya kita bertiga yang terlihat. Justru kita bertiga yang melindungi mu agar kamu selamat dan kamu tetap adek kecil kita bertiga" jawab Wilaga kesal melihat Kirana yang tidak terima dengan urutan waktu lahir mereka.
__ADS_1
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all