
mereka segera bergerak untuk mempersiapkan diri menuju kediaman bang Ipat untuk memberi penghormatan terakhir bagi istrinya, Kaila memperhatikan anak-anaknya sebelum mereka beranjak keluar memastikan bahwa mereka sudah siap dan berada di depan rumah.
"Tania, dimana" tanya Popi melihat anaknya kurang satu, Wijaya menunjuk Tania yang sedang berjalan tenang ke arah mereka berada.
"mules perutnya" cengir Tania menggaruk tengkuk belakang nya, Kirana menepuk bahunya pelan memajukan bibirnya
"bentar-bentar ... Pop ... Kayaknya Kira mau kebelakang" lari Kirana secepatnya sebelum mereka semua protes karena sudah siap.
"aisshh, dua anak ini kalo mau pergi ada aja alasannya sih" geleng kepala Kaila menatap Tania yang hanya bisa nyengir memberi tanda peace dengan jemari tangan nya.
"kakak kebiasaan ihh... ngikut Tania aja" kata Tania membela diri.
"iya, kalian berdua sama aja. detik-detik terakhir mau pergi pasti mules bawaannya" kata Kaila datar, Tania tertawa ngakak memeluk Mominya yang selalu benar.
"momi tau aja, kalo nggak bisa sembarangan di rumah orang. Mending masih dirumah sendiri mulesnya lha kalo udah ditengah jalan, kan harus puter balik pulang. Repot Mom" alasan Tania.
"alesan aja, ada kuda biru noh... di setiap rest area. Ada tulisan gede fasilitas umum... fasilitas umum" tekankan Wilaga keras-keras kepada Tania. Kaila dan Tania tertawa lebar mendengar gerutuan Wilaga.
"kak Laga juga sama" julurkan lidah Tania membalas Wilaga.
"mending dia sekarang, bisa dimana aja walo setelahnya menggerutu" kata Wijaya tenang, Tania tertawa ngakak melihat Wijaya yang membelanya menghadapi Wilaga. Tak lama Kirana sudah terlihat dari dalam kediaman.
"Kalo begitu kita berangkat ke daerah pinggiran kota" angguk Popi melangkah keluar dan melihat para penjaganya yang berbaris rapi di depan rumah.
"pada ikut" lihat Pram tertawa pelan, mereka mengangguk hormat.
"yah, baiklah. Kalian sudah mengatur siapa yang akan tinggal kan" tanya Pram, salah seorang dari penjaga mengangguk memberikan laporan kepada Pram, Popi menghela nafasnya pelan mengangguk mengijinkan mereka ikut, Kirana melihat deretan motor terparkir sempurna dibelakang mereka
"Pop" naik turunkan alis netra Kirana melihat pemandangan menakjubkan sebelum berangkat.
"ayo, nggak usah mikir yang macam-macam. Biarin aja mereka pake itu karena lebih praktis dan merasa nyaman. Kita naik kendaraan yang lebih besar aja biar nggak ribet" senyum Kaila menatap anak-anaknya yang menginginkan hal berbeda, Tania dan Kirana memajukan bibir mereka protes karena tidak bisa riding bareng.
"ayo, ntar tambah siang sampainya" tepuk punggung belakang Wilaga kepada kedua gadis itu sebelum melangkah masuk kedalam kendaraan besar.
"kayak outing class deh kalo gini" tatap Tania, Kirana tertawa pelan.
"jadi kangen kalo outing class, melihat orang-orang yang berbeda dan antusias melakukan banyak hal" hela nafas Kirana, Tania tertawa pelan.
__ADS_1
"apaan, biasa aja deh kak. yang laki-laki mesti pada usil bikin sesuatu di luar ekspektasi Ujung-ujungnya bikin ngakak satu kelas" teringat Tania.
"nah itu maksudnya, terkadang bersama dengan yang lain membuat banyak pengalaman dan hal baru di luar kebiasaan, out of the box" angguk Kirana.
"tuan-tuan dan nona-nona... perjalanan memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. diharapkan untuk duduk dengan tenang dan mengikuti anjuran penjaga" kata salah satu penjaga mereka hingga mereka tersenyum lebar.
"kira-kira dong bang, yang masih gadis cuman Tania doang sekarang, yang satu udah unboxing belum lama" seru Wilaga, mereka tertawa lebar.
"bagi kami nona dek masih tetap gadis, tuan muda" jawabnya spontan, Alexandre tersenyum tipis mendengar jawaban penjaga keluarga Bagaskara.
"duh, bang. Siap-siap diajak olahraga nih ama pawangnya" ledek Wilaga, penjaga itu segera menatap Alexandre tersenyum lebar memohon ampun, Alexandre tertawa mengangguk mengerti.
"ada hiburan nggak bang" seru Wilaga. Penjaganya mengangguk dan memberikan opsi yang membuat mereka berseru tidak menyukai pilihan yang diberikan oleh penjaganya itu.
"kenapa" tanya penjaga merasa tidak bersalah dengan perkataannya, mereka tertawa senang melihat ekspresi para penjaganya yang gokil.
Perjalanan dipenuhi dengan berbagai permainan yang menguji adrenalin, meningkatkan kepekaan Indra peraba, perasa dan pengecap yang membuat mereka tertawa penuh derita. tidak terasa mereka hampir sampai ditempat kediaman bang Ipat yang jauh dari jalan utama, mereka harus melewati jalan kecil yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar yang mereka pakai.
Tania dan Kirana menunggu ditepi jalan menuju rumah bang Ipat, mereka menunggu beberapa penjaga yang membawa motor menghampiri, "jalannya sudah jauh lebih baik daripada dulu bang Ipat nikah" kata Momi, Kirana memeluk Mominya melihat jalan yang sudah sedikit halus.
"tentu saja, saat bang Ipat menikah. dulu mereka belum pada menikah saat pertama kali menemani Momi, setelah beberapa tahun setelah Momi dipinang dan akhirnya menikah baru mereka bergantian memulai hidup baru" cerita Momi
"sama kayak kak Kirana, penjaganya juga belum ada yang nikah saat ini" angguk-angguk Tania.
"lha sama juga" kata Kirana menatap mereka yang tampak masih seumuran dengan mereka.
"kadang malah dikira sering gonta-ganti pasangan" hela nafas Tania menatap jauh kedepan.
"jadi nggak bisa larak-lirik cowok ganteng" angguk Kirana membenarkan, Tania mengangguk.
"soalnya udah banyak cowok ganteng yang mengelilingi jadi yang gantengnya nanggung nggak punya nyali" kata Kaila, mereka saling berpandangan dan tertawa mengangguk.
Alexandre mendekat memberikan kacamata coklat Kirana yang ada padanya bersamaan dengan penjaga Tania yang memberikan hal yang sama.
"duh, nasib gue gini amat yak. Dia diambilin ama suaminya, lha gue bukan siapa-siapa" tatap Tania nanar mengenakan kacamata hitamnya segera. Kirana menepuk-nepuk bahu sepupunya itu pelan.
"derita loe" anjaknya segera sebelum Tania membalas dengan pukulan keras sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"yang"
Kirana mengangguk dan naik di belakang Alexandre di motor untuk menuju kediaman bang Ipat. Mereka beriringan menuju jalan perkampungan dimana bang Ipat sekeluarga tinggal. Banyak orang telah hadir memberikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga bang Ipat saat mereka sampai.
Pram dan Kaila berdiri paling depan untuk menemui bang Ipat dan keluarganya disusul oleh anak-anak mereka dan rekan penjaga lainnya.
Kirana duduk di barisan kedua setelah kedua orang tuanya dan kakak laki-laki nya. Orang-orang yang datang sedikit banyak melihat kedatangan mereka dengan bertanya-tanya, karena tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Namun keluarga mereka tidak terlalu memperhatikan, Kirana sedang mengobrol dengan Tania dengan Alexandre yang berada di sisinya terlihat sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"yang" bisik Alexandre pelan. Kirana menoleh menatap layar ponsel Alexandre menampakkan seorang laki-laki tengah berada di ruangan dengan kondisi yang terlihat tidak baik-baik saja.
"sudah mulai kah" tanya Kirana pelan, Alexandre mengangguk. "kak Alexandria tidak tahu"
"gimana dengan putrinya" tanya Kirana.
"tidak begitu dekat karena sering meninggalkan mereka berdua dengan alasan perjalanan bisnis ataupun kerja"
"lepaskan dan asingkan dipulau terpencil tanpa alat komunikasi. Biarkan dia bertahan hidup disana" kata Kirana.
"baik, setelah aku memastikan dia tidak akan bisa lagi menjalankan pengaruhnya untuk menyakiti siapapun terutama kamu maka aku akan membiarkannya pergi" senyum smirk Alexandre.
"kayaknya sebentar lagi prosesi mengantar ke peristirahatan terakhir istri bang Ipat" kata Tania pelan, Kirana mengangguk melihat sekitar yang sudah mulai mempersiapkan segala keperluan untuk prosesi pemakaman.
"non, ini air mineralnya" serahkan penjaga kediaman Bagaskara kepada Tania dan Kirana, "makasih" angguk Tania mengambil nya dan segera meneguknya hingga setengah nya.
"Tania" panggil Kaila, Tania mencondongkan tubuhnya kedepan agar dapat mendengar perkataan mominya dan segera menggelengkan kepalanya.
"Momi bilang apa kita ikut ke pemakaman tidak jauh dari sini" toleh Tania, Kirana mengangguk.
"udah aku bilang kalo kita nunggu disini aja, biar kakak laki berempat yang kesana" senyum Tania, Kirana memberikan tanda setuju dengan jemarinya.
"kita berdua tunggu sini aja, kalian semua yang berangkat ke sana" toleh Kirana ke arah suaminya, Alexandre mengangguk mengerti.
Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
Selamat membaca karyaku semuanya...
See U next chapter..
__ADS_1