Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 28


__ADS_3

"pagi mom"


"pagi dek, kenapa udah bangun" lihat Kaila, Kirana meraih air mineral yang ada di meja.


"pingin pindah spot"


"Ok, ntar jika Al bangun kita akan ketempat lain atau mau kebagian timur Nusantara agar berbeda"


"sounds great mom. let's go" angguk Kirana duduk disamping Mominya.


"kita berempat dengan nak Bian, dek. jadi tidak bisa melakukan semuanya dengan terburu-buru"


Kirana tersenyum ketika seorang pengurus resort meletakkan sarapan untuk Kirana. "makasih"


"sarapan kak Bian" toleh Kirana setelah melihat Bian.


"mana Al, belum bangun" tanya Bian tidak melihat batang hidung Al disekitar Kirana.


"belum" geleng Kirana mengunyah nasi liwetnya.


"dia bisa beristirahat dengan nyaman karena ada didekatmu, selama ini dia hanya tidur 2-3 jam saja, itu sudah termasuk lama" ujar Bian.


"begitu kah. kenapa bisa" kerut Kirana.


"karena kamu jauh dariku" kecup kepala Alexandre dan duduk disamping Kirana.


"suka pegang sembarangan sih kak" lirik Kirana yang melihat pemuda itu tampak tidak menggubris nya, Alexandre meminum air mineral Kirana.


"Kirana mau ke tempat lain" kata Kaila, Alexandre mengangguk memakan sarapannya yang disediakan untuknya.


"mau kemana lagi" tanya Alexandre.


"kemana aja, asal kakak nggak ngikutin" tatap Kirana. Alexandre mengacak rambut Kirana lembut, "kamu udah janji kalo aku bisa selalu ada di sampingmu hingga kamu bersedia menikah denganku" jawab Alexandre santai, Kirana tersedak mendengar jawabannya.


"jadi nggak ada lagi acara jauh-jauh dariku, nggak ada lagi alasan jarak. ketika kamu di Jerman nanti aku juga akan ada disana, mau kamu pergi kemanapun aku akan ada didekatmu. jika mereka semua akan memberi laporan tentang apapun ada banyak cara untuk menghubungi dan mendatangiku. aku bukan laki-laki yang terikat dengan kerjaan" kata Alexandre, Kirana hanya diam mendengarkan. Kaila tersenyum melihat Kirana yang tidak bisa berkutik.


"nanti malam kita akan berpindah, sekarang nikmati hari dengan senang" ujar Alexandre menikmati sarapan paginya. Seth tiba didepan resort tempat mereka menginap.

__ADS_1


"pagi tante" salam Seth menyapa Kaila yang tersenyum lebar.


"pagi, langsung kemari" tanya Kaila, Seth mengangguk dan duduk disamping Bian.


"jam berapa ini" tanya Bian, Seth bergumam tidak jelas dengan pelan meraih kopi hitam yang dihidangkan didepannya.


"aku tau ini udah siang, waktu berangkat dari sana juga siang Bian" jawab Seth.


"serasa ada kakak bertiga kalo begini, lengkap" lihat Momi Kaila merasa seperti melihat ketiga putera kembarnya sedang sarapan pagi bersama, Kirana menatap bergantian ketiga laki-laki itu.


"ya" jawab Kirana singkat.


"jadi pingin menghubungi Popi sebentar" anjak Kaila masuk kedalam ruangan untuk menghubungi Pram, Kirana menghabiskan sarapannya dengan cepat.


"kalo mau bahas kerjaan sambil makan nggak papa, kak. nggak usah sungkan. Momi biasa dengan keramaian karena setiap ngumpul pasti ada lebih dari 7 orang jadi kalo nggak ada orang berisik malah Momi suka kuatir" senyum Kirana mengerti. Alexandre melihat Seth yang membalas senyuman Kirana.


"c'mon big, aku hanya membalas saja" lihat Seth mengerti keposesifan Alexandre ketika mereka berinteraksi dengan Kirana.


"kemarin ada seorang gadis yang mencarimu dengan perut yang sudah besar" ujar Seth tenang, Kirana terdiam sebentar dan kembali melanjutkan sarapannya.


"ia bertemu denganmu saat Kirana jauh darimu" senyum Seth menatap paras Kirana yang terlihat biasa saja mendengarkan obrolan mereka, Alexandre menopang dagu dengan kedua tangannya.


"jangan bikin Kirana menduga yang tidak-tidak mengenaiku Seth, jika itu terjadi maka kalian berempat yang akan menanggung beban yang aku derita akibat perlakuan Kirana nanti" jawab Alexandre tegas, Bian dan Seth mengangguk menyesap kopinya tanda mengerti ancaman itu tidak main-main jika menyangkut Kirana.


"jangan menjadikan ku alasan untuk melakukan hal yang memberatkan mereka kak, mereka selalu memberitahumu apapun yang tidak kamu lihat. itu berarti mereka peduli kepadamu bukan, jadi jangan selalu mengatasnamakan ku untuk memberi efek kepada mereka berempat. bukan begitu kak Bian, kak Seth" tatap Kirana meminta dukungan. Bian dan Seth manggut-manggut membenarkan Kirana. Alexandre menatap datar kedua laki-laki yang terlihat akrab dengan kekasihnya itu. "aku tidak suka jika kalian terlalu dekat dengan Kirana" terus terang Alexandre, ketiga orang yang ada dihadapannya seketika menoleh menatap horor Alexandre yang tidak bergeming.


"anak-anak, kita menuju timur Nusantara nanti sore. sampai sana mungkin malam. jadi kita tidak terlalu capek" ujar Momi Kaila saat melintas untuk keluar bungalow.


"mom, wait" seru Kirana meneguk dengan cepat air mineral nya.


"kak, keluar dulu dengan Momi" anjak Kirana menatap ketiga laki-laki yang sedang sarapan dan mengobrol.


Kirana menjalankan motor keluar dari pagar dengan Momi membonceng dibelakang. "kita kemana, mom" tanya Kirana memakai brown glasses yang bertengger pas di hidung kecilnya.


"just ride" tepuk Momi Kaila, Kirana mengangguk dan mengendarai motor dengan tenang.


"Mom, apa kak Al dengan K bisa bersama" toleh Kirana pelan. Momi terdiam, "apa kata hatimu, dek" tanya Momi balik.

__ADS_1


"tidak sepenuhnya mom, jika dibandingkan lainnya dia lebih baik" hela nafas Kirana.


"keluarganya juga tidak melihat kita dengan sebelah mata, hanya saja ayahnya memang orang yang lebih sibuk daripada Popi" senyum Momi hingga membuat Kirana terdiam.


"dia tidak pernah menunjukkan sikap kurang ajar kepada ketiga kakak kembarmu, dek. apalagi terhadap popi ataupun granddad dan kakek" tambah Momi.


"what do you think mom"


"dengannya Momi merasa tenang saat kamu bersamanya. apapun yang terjadi diantara kalian masih bisa dibicarakan bukan. Momi tau dia posesif tapi itu menunjukkan bahwa dia memang serius dan menunjukkan tanggung jawabnya untuk menjagamu"


"Momi mengerti perasaanmu karena Popi juga sebelas dua belas dengan Alexandre. awalnya Momi merasa tidak bisa mengikuti kemauan Popi. tapi disaat Momi tidak baik-baik saja hanya Popi yang menemani Momi tanpa menjudge apapun. hanya menemani sampai akhir" senyum Momi Kaila. Kirana tersenyum mengingat perjuangan Momi dan Popi mengurus keempat anaknya sekaligus.


"thank you Mom, for everything"


"it's a gift given by God to Momi and Popi and can't be replaced" tepuk bahu Momi Kaila pelan, Kirana manggut-manggut.


"so, mantapkan hatimu lebih dulu, minta di sepertiga malam dihadapan Tuhan maka akan ada jawabannya" senyum Momi. Kirana kembali menganggukkan kepalanya mengerti maksud yang disampaikan oleh Momi nya itu.


"minum disana yuk dek, sambil lihat sekitar. kayaknya asyik tuh" tunjuk Momi, Kirana mengarahkan motornya ke seberang jalan dimana deretan cafe terlihat sudah rapi menyambut pengunjung yang datang


"apa Popi akan menyusul Mom" duduk Kirana di sudut ruangan. seorang penjaga menghampiri mereka dan segera menyiapkan pesanan minum mereka.


"Mom" tatap Kirana, Momi menatap Kirana dengan menopang dagunya dimeja.


"apa Popi akan menyusul" ulang Kirana, Momi menggeleng pelan.


"belum bisa, sweetie" geleng Momi.


"aunty" seru seseorang, mereka menoleh kearah suara dan tertawa lebar melambaikan tangan agar mereka mendekat.


"long time no see, aunty" peluk pemuda itu pelan. Kaila mengusap punggung pemuda itu lembut.


"tentu kak, kakak yang lama tidak melihat aunty disana" senyum Kaila, Kirana tersenyum lebar menyambut uluran tangan pemuda itu.


"kenapa nggak bilang kalo pulang kesini dan ke Bali lagi" tanya pemuda itu tidak sabaran. Kirana menunjuk Momi nya "kayak nggak tau Momi aja sih kak Arka nih" kata Kirana.


"hhmmm, sebelas dua belas sama kamu dek" tawa lebar pemuda yang bernama Arka itu mengusap bahu Kirana lembut hingga membuat Kaila dan Kirana tersenyum lebar.

__ADS_1


Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all


__ADS_2