
Beberapa penjaga tampak berjalan dengan cepat saat pagi hari, Kirana hanya duduk melihat kesibukan banyak penjaga dan pekerja rumah keluarga besarnya sambil memakan buah potong yang disiapkan untuknya. Mereka sama sekali tidak menganggu keberadaan Kirana yang memperhatikan dengan tenang kesibukan akibat kehebohan Popi dan ayah pagi ini, kakek sesekali menyunggingkan senyum menatap Kirana yang berada disampingnya sembari melihat mereka bekerja.
"dek, mau apa" datang Pramana menyalami kakek lalu menatap adik perempuan nya, Kirana menggeleng memperlihatkan buah potong berada di pangkuannya. "ngapain sih mereka" kerut kening Pramana terheran-heran melihat para pekerja dan penjaga berjibaku melakukan suatu pekerjaan, Kirana mendesah menggeleng menyodorkan box buah potongnya, Pramana menoleh dan mencomot buah potong bersama dengan kirana sembari menonton mereka yang sibuk. kakek tertawa pelan melihat kedua cucu disampingnya.
"momi bilang jika akan ada acara mengundang semua untuk berdoa" kata kakek, Kirana dan Pramana melihat satu sama lain merasa heran.
"iya kah" tanya Kirana memastikan. Pramana mengangkat bahunya tanda tidak tahu juga, "Kakek yang minta agar rumah selalu diberkahi, Kirana dan Tania selalu sehat, cucu kakek yang laki-laki selalu lurus jalan hidupnya" kata kakek. Mereka berdua menoleh menatap kakek yang selalu tersungging senyuman di parasnya pagi itu.
"kenapa mereka sibuk banget begitu, ada acara pagi ini kah" tertegun Wilaga melipat kedua tangannya di dada, Kirana manggut-manggut.
"kenapa tidak ada yang tau" tanya Wilaga, Pramana menghembuskan nafasnya menggeleng.
"kayaknya posisi kita ke geser anaknya Kirana deh. Belum apa-apa aja udah bikin orang tua-tua pada heboh gini, liat aja mereka kayak nggak punya beban harus merhatiin anak empat yang kece banget gini" geleng-geleng kepala Pramana, Kirana menyandarkan kepalanya kebelakang.
"badanku lemes nih kak, mereka terlalu sibuk jadi membuatku nggak bisa gerak" kata Kirana, Wilaga dan Pramana saling memandang satu sama lain dan segera memperhatikan keadaan nya.
"apa mau jalan kesana mendekat, kalo nggak kita keluar aja. Mumpung pada sibuk jadi tidak begitu memperhatikan kita" kata Wilaga menaik turunkan alis netranya senang. Kirana tersenyum tipis melihat kakak keduanya yang sedang membujuknya untuk keluar rumah bersenang-senang. Kegilaan sering mereka lakukan jika berdua, mencoba petualangan baru, perjalanan baru atau makanan yang tidak pernah mereka coba sebelumnya. Kakak keduanya adalah laki-laki yang suka dengan adrenalin seperti halnya dengan Alexandre suaminya, sedangkan Pramana cenderung tipikal kakak yang mengayomi adik-adiknya yang lain, tidak pernah menunjukkan kelemahan didepan ketiga adiknya, berbeda dengan Wijaya yang lebih suka mengajak Kirana menikmati keindahan alam yang dapat menghasilkan sesuatu yang baru, menanam pohon atau melihat proses pembuatan suatu bahan menjadi sebuah barang yang berarti bagi orang lain.
Kirana mengangguk bersemangat menerima ajakan Wilaga untuk me refresh pikiran nya, ia beranjak bersama Wilaga menuruni anak tangga menuju garasi ayahnya.
"mau pake yang mana, dek" toleh Wilaga menatap beberapa kendaraan yang berjejer rapi di sana, Kirana mengetukkan jemari telunjuk nya di dagu melihat-lihat kendaraan yang mau dipakainya.
"yamg kecil aja, kak. Terlihat lebih enak" tunjuk Kirana, Wilaga mendekat untuk melihat kelengkapan kendaraan itu sebelum nantinya di pakai.
"kayaknya bisa dek" angguk Wilaga memperhatikan detail kelengkapan kendaraan itu, Kirana mencoba masuk untuk duduk di belakang kemudi.
"aku yang bawa, boleh" tanya Kirana, Wilaga tersenyum mengangguk mengusap kepala adeknya lembut kemudian berjalan mengitari kendaraan untuk duduk disamping Kirana.
__ADS_1
Mereka segera memakai seat belt sebelum kendaraan di nyalakan, tampak didepan garasi ada seseorang tengah menunggu kendaraan mereka keluar dan langsung menghampiri mereka.
"mau kemana" tatap ayah dengan pandangan menusuk, Wilaga dan Kirana nyengir melihat ayah Arga yang sedang dalam posisi garang.
"jalan, yah. Bosen kalo dirumah, pada sibuk banget jadi Kirana ngajak kak Wilaga untuk keluar bentar" jawab Kirana melongok dari kaca jendela samping. Arga berjalan mendekat "dek, bukannya ayah nggak boleh tapi kondisimu belum bisa kemana-mana saat ini. Kita nanti harus cek ke dokter memastikan keadaan mu dan baby mu baik-baik aja, jika itu sudah kita ketahui baru kami bisa ngebolehin kamu kemana aja" hela nafas Arga, Wilaga dan Kirana hanya melongo diam mendengarkan perkataan Arga barusan.
"yah" protes Kirana
Arga menggeleng, tidak mau memperdebatkan soal itu lagi. "kak, bawa mobilnya masuk ato kalo mau keluar sendirian aja, adek nggak boleh ikut" kata Arga membuka pintu samping Kirana agar ia segera keluar. Kirana menghela nafasnya melihat sikap ayahnya yang lebih protektif, ia segera melepas seat belt dan melangkah keluar dari dalam kendaraan.
"yang" datang Alexandre tergesa-gesa dari arah dalam, ia melihat badan istrinya yang baik-baik saja, "bisakah untuk dirumah saja dulu, aku akan menemani. Jangan keluar dulu ya..." senyum Alexandre, Kirana berlalu pergi tanpa sepatah kata pun kepada mereka bertiga, Alexandre dengan cepat mengikuti langkah istrinya agar tidak terjadi sesuatu.
"kenapa dia" toleh Popi melihat Kirana yang terdiam berlalu masuk kedalam ruangan pribadinya.
"ayah tidak memperbolehkan dia untuk keluar mengendarai kendaraan dengan Wilaga" kata Alexandre cepat, Popi melebarkan netranya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"anak ini, beneran deh... Kalo ada apa-apa gimana nanti dijalan" hela nafas Pram menggeleng sambil memijit pelan keningnya melihat tingkah anak perempuan satu-satunya itu tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri.
"apa kamu marah" dekat Alexandre, Kirana menggeleng pelan.
"tidak, jika bukan ayah, maka Popi yang akan datang atau justru kakak yang akan segera membawaku dengan paksa ke dalam rumah kembali jadi wajar jika semuanya bersikap seperti itu" rebahan Kirana di tempatnya tidur, Alexandre mengusap rambut Kirana pelan.
"karena kita kuatir dan sangat menyayangi mu" tatap Alexandre. Kirana memejamkan netranya.
"jika ayah dan ibu tau maka mereka juga akan melakukan hal yang sama" kata Alexandre, Kirana mengangguk.
"penjagamu juga akan berkali-kali lipat lebih dari sekarang"
__ADS_1
"what" buka netra Kirana lebar
"semakin kamu melakukan apapun tanpa kita tau maka akan bertambah pula penjaga yang akan berada disekitarmu"
"apa kakak mengancamku" tatap Kirana marah.
"no, tentu saja tidak akan pernah aku membuatmu merasa begitu, yang"
"kamu yang membuat keputusan sulit untukku meninggalkan mu sedetik saja sekarang, jika tidak dariku maka akan ada dari ayah, atau dari Popi" geleng Alexandre.
"bukan aku yang membuat keputusan sendirian, yang. Kamu tau sendiri, didalam sini dipastikan ada penerus kita berdua, kita lho... Yang. Our baby, it's not easy choice" hela nafas Alexandre, Kirana membuang parasnya kesamping agar tidak menatap wajah tampan suaminya.
"honey, jika bisa maka aku akan membawa mu pergi dan tinggal di pulau terpencil agar tidak ada yang melihatmu, tapi aku tidak bisa melakukannya bukan, pasti kamu akan membenciku lebih dalam" peluk Alexandre, Kirana terdiam lama.
"maafkan aku kak" ujar Kirana pada akhirnya, Alexandre menggeleng.
"kamu berharga bagiku dan aku tidak bisa kehilanganmu lagi, apa kamu mengerti" tatap Alexandre, Kirana terdiam.
"apa kakak akan pergi jauh" tanya Kirana tiba-tiba.
"tidak dalam waktu dekat karena aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan baby disini" usap Alexandre ke perut Kirana yang masih terlihat datar.
"sebenarnya aku yang tidak bisa jauh dari mu, yang. Kamu tau hal itu dan itu sudah cukup untuk menjadi alasan kan"
Kirana membenarkan posisinya agar merasa tenang dalam dekapan suaminya, Alexandre mengusap-usap punggung istri nya hingga ia tertidur lelap. Alexandre ikut tertidur pada akhirnya agar Kirana tidak terbangun jika Ia bergerak sedikit saja.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya. Selamat membaca sembari ngopi ditemani sepiring pisang goreng bertabur coklat keju...
__ADS_1
luv.... luv.... luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...