Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 7


__ADS_3

Kirana memandang jendela besar yang memperlihatkan butiran air hujan yang menempel di sela-sela hujan yang mengguyur petang itu, ia menyusuri tetesan air dengan jemari telunjuk nya, netranya menatap lekat setiap tetesan.


"Kira" dekati kakek, Kira menoleh dan menyandarkan kepalanya ke bahu kakeknya.


"kamu sudah hampir 17 tahun, bertambah dewasa jadilah kebanggaan Popi dan Momi mu" usap punggung tangan kakek, Kirana hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"apa kamu ingin tinggal dengan Popi dan Momi mu setelah ini, maka kakek akan memberi restu. maafkan kakek jika tidak menemanimu disana, kakek akan berkunjung kesana jika ada waktu"


Kirana menghapus airmata yang turun dengan sendirinya mendengarkan semua perkataan yang keluar dari kakek.


"masih ada keluarga ayah dan bunda yang akan menemani kakek, jadi Kirana tidak usah kuatir"


Alexandre yang menatap interaksi Kirana dengan keluarganya merasa menusuk hatinya, perasaan yang jarang ia dapatkan dari kedua orangtuanya yang sejak dulu sibuk mengurus bisnis hingga menggurita telah membuatnya menjadi laki-laki yang selalu sendirian. minimnya perhatian keluarga disaat dia beranjak dewasa membuatnya terbiasa untuk bersikap keras dan dingin, tanpa melibatkan perasaan yang harus dia simpan rapat-rapat didalam hatinya.


Alexandre pura-pura memejamkan netranya dengan tiduran di sofa panjang beralaskan bantalan kecil.


Kirana lebih banyak diam dan sesekali mengusap airmata mendengar kakeknya, Alexandre ingin memeluknya dan menenangkannya jika seperti itu.


"apa kata dunia jika Kirana selalu melow gini" datang Pramana tiba-tiba melihat Kirana setelah penjaga membuka pintu untuk nya. kakek tersenyum lebar melihat kedatangan cucu kedua lainnya dan menantu laki-laki nya.


Kirana menghapus airmata yang semakin deras turun saat melihat keluarganya berkumpul lengkap.


"jangan cengeng ah, dek. udah gede juga kita rayain dengan penuh kegembiraan bukannya malah nangis gini" tatap Wilaga menyamakan tubuhnya didepan Kirana dan menghapus airmata yang keluar dari sudut netra adek perempuan satu-satunya itu.


"kenapa lama baru menyusul" peluk Momi erat. Popi mencium paras istrinya itu banyak sekali.


Alexandre tersenyum lebar melihat kehangatan keluarga besar Bagaskara yang baru kali ini dilihatnya sendiri. ia duduk dengan tenang saat mereka tengah meluapkan kegembiraan berkumpul bersama kembali.


"aahh, mana anak perempuan ku satu-satunya" senyum lebar Popi memeluk erat putrinya dan menggoyangkan badannya kekanan dan ke kiri saking bersemangat berkumpul kembali dengan keempat putranya.


"apakah kalian mau langsung makan, kita bisa ke tempat makan sekarang" tanya Momi.


"bentar Mom, aku ingin ke bathroom dulu" kata Wilaga berlalu kedalam.


Popi meminum air mineral yang disodorkan oleh istrinya dan seketika menyadari ada tambahan orang selain keluarganya didalam ruangan itu. Alexandre tersenyum melihat Popi Kirana yang telah menyadari keberadaannya didalam situ, ia segera beranjak dan memberikan salam kepada ayah Kirana.


"malam om"


"malam, wah gerak cepat nih. udah datang duluan daripada om, nggak kedengeran lagi sampai sini" senyum lebar Popi menepuk bahu Alexandre pelan.


"apa kalian juga baru datang tadi"


"iya, om. habis Kirana selesai school, dia meminta untuk segera kesini"


"wah, tambah gede kepala tuh anak ada yang selalu siap untuknya" lirik Popi. Kirana memutar bola matanya jengah mendengar godaan Popi.

__ADS_1


"harus berantem dulu baru bisa diajak kesini, Pop" duduk Wijaya.


"wah seru dong, kan jarang liat Kirana meluapkan perasaannya. biasanya diam aja" tatap Popi.


"udah ketemu sama lawan yang seimbang, Pop. udah ketemu pawangnya" tawa Pramana, Kirana membulatkan bola netranya kesal.


"kakak, jangan godain adek lagi. tidak liat parasnya udah seperti kepiting rebus begitu, merah semua" pandang Momi.


"sesekali Mom, toh tengilnya juga kagak ilang" goda Pramana kembali, Kirana melempar bantalan sofa ke arah paras kakak kembar pertamanya itu.


"tuh, kan mom. bar-bar banget anak gadismu" adukan Pramana menerima lemparan dari Kirana.


"udah ah kak, malu sama Al" tepuk dada Momi Kaila menengahi kedua anaknya.


"Pop, mau istirahat dulu atau kita jalan dengan anak-anak" tatap Momi.


"berduaan aja, yang. boleh nggak" naik turunkan alis netra Popi Pram.


"Pop" protes keempat putranya.


"kenapa, halal kok, suka-suka Popi dong"


"Mom, pilih Popi atau kita"


"oke sweetie" angguk granddad diikuti kakek yang berjalan dengan tenang.


"yang" tahan jemari Popi Pram.


"apa, kalo pada mau disini silahkan aja. masih ada dua laki-laki yang mau menemani ku kapan aja" tatap Momi Kaila datar. mereka bergegas keluar dengan tenang tanpa suara karena Momi mereka sudah memperlihatkan aura sebagai pemegang kendali di dalam keluarga.


Alexandre segera mengikuti dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya. kehangatan keluarga yang mampu membuatnya menjadi orang yang damai.


"kita berdua didepan" kata Wilaga, keempatnya mengangguk dan menaiki kendaraan yang berbeda.


"sweet" buka pintu kendaraan Alexandre, Kirana masuk tanpa banyak kata. mobil beriringan meninggalkan hotel tempat mereka menginap.


"apa Momi dan Popi mu selalu hangat begitu"


"hhmm"


"aku tidak sabar untuk melihatmu seperti itu saat kita bersama"


Kirana memejamkan netranya melipat kedua tangannya didepan tubuhnya. "bangunkan aku jika nanti sudah sampai. karena perjalanan akan sangat jauh"


"Ok, istirahatlah dulu, ntar aku bangunin"

__ADS_1


"Al" hubungi Wilaga cepat


"ya, K sedang tidur. aku akan berpisah dari kalian. jaga diri baik-baik, aku akan membawanya ketempat yang aman" jawab Alexandre pelan


"thanks, parents sudah dibawa dengan aman ketempat yang penjaga sudah ketahui, kak Pramana sudah mengikuti mereka, aku dan Wijaya akan ke arah lain"


"Ok, beri sedikit waktu untuk para penjagaku menemukan mereka" geram Alexandre mengemudikan mobilnya dengan tangkas.


"it's fine, jika K bangun dia juga akan mengerti, ini terkadang diluar kendali kita, aku titip K" matikan panggilan Wilaga.


Alexandre mendengus dingin mengusap rahangnya yang mengeras menahan kemarahan yang membuat darahnya mendidih untuk membalas.


ia melirik sekilas wajah teduh Kirana yang tertidur dengan tenang disampingnya hingga menurunkan tingkat kemarahan yang sangat luar biasa.


"hhmm" gumam Alexandre melihat jalanan kota bandung.


"kamu menemukan siapa" aktifkan suara Alexandre saat menerima panggilan.


"bagus, beri apa yang pantas dia dapatkan"


"apa penjaga K baik-baik saja" lirik Alexandre cepat.


"Ok, lakukan" jawab Alexandre menutup panggilan.


Kirana menggeliat pelan membuka netranya pelan.


"apakah terlalu jauh untuk ke tempat makan" sadar Kirana menatap keluar.


"maafkan aku sweet, tapi kita akan keluar dari Bandung sedikit. keluargamu baik-baik saja semuanya, ada yang mengikuti keluargamu tadi" elus pipi Alexandre. Kirana menahan jemari Alexandre yang menyentuhnya.


"grand dan kakek" tersentak Kirana menegakkan tubuhnya secara refleks.


"Wilaga bilang mereka tidak apa-apa. Besuk kita akan bertemu ditempat yang ditentukan. karena keadaan yang tidak mendukung begini maka kita akan berpencar dulu"


Kirana berdehem, mematikan ponselnya dan meletakkannya disamping.


Alexandre meraih jemari tangan Kirana dan menggenggamnya erat. "trust me sweet" tatap Alexandre, Kirana menatap jemarinya yang dibawa Alexandre untuk berganti transmisi kecepatan tanpa kendala.


"keluar lah, disini kita aman. penjagaku telah menyisir sekitar. malam ini kita akan menginap disini, pagi-pagi kita akan bertemu dengan mereka" ujar Alexandre memakaikan topi di kepala Kirana, meraih jemarinya dan bergegas membawa tubuh gadis itu masuk kedalam rumah yang cukup sederhana.


Hai.... hai.... hai..... all readers. terimakasih telah membaca karyaku ini, selalu beri dukungan dan like kalian kepada karya-karya yang aku persembahkan untuk kalian penyuka cerita novel di mangatoon. terimakasih banyak all readers semuanya.


Luv..., Luv U all readers sekebon pisang goreng. jangan lupa untuk me like karyaku setelah membacanya. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2