Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 54


__ADS_3

Setiba di bandara kota tempat saudara kembar itu belajar, mereka menapaki bandara dengan santai berbincang-bincang tanpa beban, para penjaga berada disisi sambil tertawa senang meledek satu dengan yang lainnya.


Kirana melihat beberapa penjaganya yang berganti dengan pengawalan dari suaminya, "bang ipat" toleh Kirana.


"ya, non dek" dekati bang ipat dengan cepat.


"temanku ganti lagi, yaa..." lihatnya tidak enak, Bang ipat mengangguk sembari nyengir.


"tidak bisa diganggu gugat kalo sekarang non dek. ati-ati lho, yang sekarang lebih ganteng-ganteng dan muda-muda. Lebih banyak godaannya" bisik bang ipat, Kirana tertawa menggeleng dengan pelan.


"kira-kira membutuhkan waktu berapa lama membuat mereka menyingkir dengan sendirinya" tanya Kirana pelan.


"aduh, non dek. sekarang berat" silang tangan bang ipat di depan dada.


"masak sih, bang. Kan tinggal sat set aja, ntar Kirana yang bilang ma kak Al" tatap Kirana memelas, bang ipat tetap menggeleng menolaknya.


"gampang kok, non dek" dekati seseorang disisi yang lain mendengar bisikan mereka.


"gimana" tanya Kirana tanpa melihatnya.


"suruh big selalu menemani" ujarnya pelan, seketika Kirana menoleh melihat teman barunya itu sembari nyengir melambaikan tangan segera menjauh, bang ipat dan pemuda itu saling pandang tersenyum lebar melihat tingkah Kirana.


"harus ekstra sabar kalo menghadapi non dek, bukan karena dia anak perempuan satu-satunya di keluarga Bagaskara tapi karena sering ngilang tanpa aba-aba" hela nafas bang ipat, ia tersenyum mengangguk.


"makasih banyak bang, atas informasinya. Makasih juga sudah menerima kami menjadi bagian dari keluarga"


"jangan begitu, kita melaksanakan tugas untuk melindungi keluarga yang sangat baik. Jadi kita juga adalah keluarga" tepuk bahu bang ipat sembari tertawa lebar membuatnya juga akhirnya tertawa.


Kirana menyandarkan kepalanya ke pundak Popinya, "kenapa" usap kepala Popi pelan.


"kenapa tambah banyak yang menemani" dongak Kirana, Popi tersenyum mengecup kepala anak perempuannya lembut.


"karena tambah satu laki-laki yang posesif kepadamu jadi nyamuk pun akan dia bunuh jika mendekatimu" kata Popi nyengir, Kirana menghela nafasnya pelan.


"panjang umur, baru aja jalan"


"hello" salam Kirana


"udah sampai, yang" tawa Alexandre pelan. Kirana berdehem pelan mengikuti langkah Popinya.


"kenapa, apa sudah merindukanku"


"kenapa semakin banyak yang menemani" bisik Kirana


"coz U my strength"


"coz U my life"


"yang" panggil Kirana lirih, Alexandre tergelak mendengar Kirana merajuk.


"hanya selama aku tidak ada di dekatmu maka mereka akan berada di sekitarmu"

__ADS_1


"but it's too much" gigit bibir Kirana tidak suka, Alexandre tertawa pelan.


"tidak ada bantahan" ujar Alexandre akhirnya, terdengar helaan nafas Kirana berat membuat Alexandre tertawa.


"kamu tau, yang. Keselamatan mu sekarang adalah prioritas bagiku, jadi aku tidak bisa membuatnya berkurang jumlahnya"


"got it"


"Ok"


"honey, let me know everything U do" gumam Alexandre


"tanpa aku bilang, kakak juga akan tau detailnya dari semua" kata Kirana.


"aku ingin dirimu yang selalu mengabariku, itu berbeda lho, yang" kata Alexandre.


"Ok"


beberapa minggu berlalu, sosok Alexandre masih belum menemani Kirana tanpa menjelaskan lebih detail namun bagi gadis itu hal itu tidak menjadi kendala yang berarti karena Ia tahu jika Alexandre masih ada pekerjaan yang membuatnya harus jauh darinya. Ia sedang mengobrol bersama penjaga baru yang ditugaskan Alexandre karena ternyata ia mengikuti Kirana saat belajar.


"Kirana" panggil seseorang, mereka berhenti dan menoleh menatap pemuda itu yang segera menghampiri.


"Doni" senyum Kirana


"lama tidak melihatmu, apakah mau ngopi denganku" tanya Doni membalas senyuman


"tentu, tapi aku mengajak nya serta, apakah tidak apa-apa. Karena kami harus mengerjakan tugas setelahnya" tanya Kirana merasa tidak enak.


"tentu saja tidak masalah" angguknya tersenyum, Kirana mengangguk.


Doni berbincang lama dengan Kirana tentang banyak hal, mengenai Delia yang sekarang berbeda dari kehidupannya yang dulu setelah mencari keributan dengan Kirana kala itu, Kirana hanya sesekali mengangguk mendengarkan cerita Doni tentang teman-teman yang berada di negara sendiri. Sean memisahkan diri dari meja mereka berdua untuk memberi waktu mereka mengobrol tanpa merasa canggung jika ada dirinya.


"apa kamu tidak ikut dalam grup chat dengan teman-teman" tanya Doni, Kirana menggeleng.


"nope, tidak begitu tertarik dengan yang gituan Don, sesekali bertukar kabar dengan kedua teman baik. hanya itu"


"apa belajarmu berjalan lancar" alihkan perhatian Doni


"so far it's fine"


"hhmm, aku nggak nyangka kalo Wijaya adalah saudara kembarmu, tapi memang kalian mirip dikira karena berjodoh" senyum Doni mengingat saat mereka school dulu, Kirana tersenyum tipis.


"kenapa kami tidak tau mengenai apapun tentang mu Kirana"


"maksudnya"


"biasanya informasi anak-anak selalu cepat menyebar, anak siapa, tinggal dimana, bla... bla.." tatap Doni, kirana mengerutkan keningnya sesaat .


"malah nggak tau kalo anak yang lain nya gimana, kalo aku bukan anak siapa-siapa hanya kebetulan mendapat beasiswa bisa sekolah disana dan sekarang bisa nerusin disini"


"hhmm... Aku tau tapi terkadang kepo juga pingin tau dirimu Kirana" gumam Doni, Kirana tersenyum menggeleng pelan.

__ADS_1


"nothing spesial with me, just be good student aja"


Doni tersenyum menatap Kirana lekat, "masuk sini juga bukan perkara mudah kan, Kira"


Kirana mengendikkan bahu tidak mau menanggapi terlalu jauh.


Seseorang mendekat kearah mereka dari arah belakang Kirana duduk dan segera mendaratkan pantat nya disamping Kirana sembari tersenyum lebar, Sean yang melihat kedatangannya segera beranjak menjauh dari Kirana.


"aahh... kak. Kapan datang, kenapa tidak memberi tahuku" toleh Kirana terkejut mencium punggung tangan suaminya dan memeluknya sesaat.


"langsung dari rumah" usap kepala Alexandre lembut menatap istrinya yang terlihat semakin mempesona.


"aahh, langsung kemari" mengerti Kirana melihat Alexandre yang mengiyakan perkataannya.


"gimana kakek"


"baik, lebih sehat karena sering keluar berjalan di belakang rumah" senyum Alexandre, Kirana tertawa kecil mendengar nya.


"apa sudah selesai, mari kita pulang" tatap Alexandre.


"aahh, tentu. Tadi aku bersama Sean, dimana anak itu sekarang" celingukan Kirana melihat meja Sean yang telah kosong.


"ada aku bukan" senyum Alexandre, Kirana mengangguk.


"bentar, kak. Aku masih ngobrol dengan Doni yang baru aja ketemu setelah acara di school waktu itu" kata Kirana, Doni menatap interaksi keduanya sembari diam.


"tidak apa, Kirana. lain waktu kita ngobrol lagi, masih banyak waktu buat kita mengobrol" angguk Doni mengerti, Kirana mengangguk dan segera berpamitan.


"kenapa lama ngobrol nya" raih jemari Alexandre, Kirana menghela nafas.


"belum ada satu jam kita ngobrol"


"kenapa harus lebih dari satu jam" tatap Alexandre, Kirana menatap balik paras suaminya itu tanpa kata.


"sorry" ujar Alexandre pelan.


"belum ketemu Popi dan Momi"


"nope"


Mereka melangkah menuju kendaraan yang dikendarai oleh Sean, "welcome back big" tunduk Sean sesaat, Alexandre mengangguk pelan masuk kedalam kendaraan Kirana.


"apa semua sudah selesai" tanya Kirana didalam kendaraan yang segera melaju kearah kediaman Bagaskara.


"apa kamu sudah mengetahui sebagian kabar dari Indonesia" tanya Alexandre, Kirana mengangguk.


"tentang beberapa hal, tadi Doni juga ngobrolin hal itu, Momi sesekali mengatakannya juga. Sean dan bang ipat juga"


Alexandre terdiam lama menggenggam jemari Kirana tenang sembari melihat keluar kaca samping. Kirana hanya terdiam melihat kelakuan Alexandre yang terlihat tidak baik-baik saja.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.

__ADS_1


luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...


__ADS_2