
Kirana di dampingi Icha dan Tania memasuki rumah tengah tempat acara berlangsung, semua orang menatapnya dengan tatapan penuh dengan kekaguman, ketertarikan dan penasaran. Ia mengulas senyum tipis saat berjalan mendekati kedua orangtuanya dan duduk ditengah mereka.
"akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga... mbak Kirana, tadi mas Alexandre ditanya kenapa memilih mbak Kirana sebagai calon pendamping nya dan jawabannya katanya menunggu mbak Kirana datang" senyum pembawa acara melihat Kirana.
Alexandre tersenyum lebar menatap lekat manik netra Kirana saat duduk dihadapannya.
"nah, sekarang kita tagih nih janji nya mas Al tadi. kenapa milih mbak Kirana sebagai pendamping seumur hidup. Nggak main-main lho ini, kontraknya durasinya panjang ngalah-ngalahin sinetron si stasiun TV ikan terbang" goda pembawa acara, semua tamu undangan tertawa mendengarnya.
"karena Kirana adalah tulang rusukku yang hilang" jawab Alexandre datar. Mereka tertawa lebar mendengar jawaban Alexandre barusan.
"waduh... Ini calon mempelai pria kok yaa kayak nggak ada gregetnya tho ini, jawab nya datar banget, kita yang ndengerinnya malah geregetan sendiri lho ini" goda pembawa acara lagi, mereka tertawa bertepuk tangan.
Kirana bersemu merah menatap Alexandre yang tidak melepaskan tatapan nya sejak dia memasuki ruangan.
"sekali lagi deh, saya nanya. Mas Al, kenapa hanya mbak Kirana yang mampu menggetarkan perasaan di dalam hati" ulang pembawa acara penuh dengan penghayatan.
"mau jawaban yang jujur atau jujur sekali" goda Alexandre balik, mereka tertawa semakin riuh sambil menanti jawaban Alexandre yang berbelit-belit.
Pembawa acara tertawa sembari geleng-geleng kepala menyadari bahwa ternyata dirinya di kerjain oleh Alexandre, "aduh mas, kalo nggak inget di setiap sudut ada yang berpakaian item-item kayak mereka. Saya ingin meluk mas Al lho" godanya lagi, mereka tertawa meledek Alexandre.
"yang terakhir ini mas Al, nanti kita denger jawaban dari mbak Kirana" angguk pembawa acara tersenyum.
"dia yang membuat saya merasakan arti nya kehilangan, kesepian dan kehampaan" jawab Alexandre bernada berat.
"waduh, dalem banget kayaknya ini. kami nggak ikut-ikutan lho ibu, bapak dan mbak Kirana" kata pembawa acara saling menatap satu dan lainnya.
Mereka tertawa melihat tingkah kocak kedua pembawa acara itu merespon jawaban Alexandre. "jawabannya berat banget lho mbak Kirana, kayaknya udah lepas itu beban segunung yang dipikul mas Al" tatap pembawa acara saling bersahutan.
"nah, sekarang giliran mbak Kirana, kenapa milih mas Al. Yaa... Seperti yang kita lihat sekarang kalo mas Al memang ganteng sih. Nanti sekiranya jika mbak Kirana tidak menghendaki mas Al, saya bisa lho jadi penggantinya, lho.... Ehh... Kok malah nikung gini sih gue" goda pembawa acara perempuan membuat semuanya kembali tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"kamu itu sukanya gitu sih.... Nggak liat mbak Kirana aja cantiknya kebangetan, imut banget. Aku liat pertama kali aja udah suka, apalagi kalo suruh gantiin mas Al... Wadawh... Nggak kuat malam pertamanya" canda pembawa acara laki-laki, mereka semua larut dalam tawa canda.
"mohon maaf ibu, bapak. Maaf, kita bercandanya lewat tol terus ini, mohon maaf sekali lagi. Kita masih ingin mengawal perjalanan kisah cinta mas Al dan mbak Kirana di perhelatan ini. Jadi jangan di cut dulu job kita" isyarat tangan pembawa acara yang meminta maaf sedalam-dalamnya. Membuat semua yang menyaksikan bertepuk tangan merasa terhibur.
"nah, mbak Kirana. Sekarang gantian yang menjawab kenapa memilih mas Al" senyum pembawa acara.
"sama dengan kak Al, hanya dia yang membuat saya merasakan kehangatan, ketenangan dan rasa kangen" senyum Kirana, Alexandre tertawa kecil mendengar jawaban Kirana.
"pantes, mereka saling memiliki" sahut pembawa acara laki-laki.
"kenapa emangnya" penasaran pembawa acara perempuan.
"mereka kayak medan magnet, saling melengkapi. Disaat satu sedih yang lain menghibur. Disaat yang satu tidak baik-baik saja yang satunya menggenggam erat jemari tangan nya" kata pembawa acara laki-laki.
"betul, seperti utara dan selatan timur dan barat. Saling melengkapi dan menarik satu dengan yang lainnya" tambahi pembawa acara perempuan.
Kirana dibawa masuk kembali kedalam ruangan yang sama untuk kembali di touch. "mau minum, dek" sodor Wijaya duduk di depan Kirana dengan menumpu kedua kakinya, Kirana meminum air mineral dengan pelan.
"nervous" tatap Wijaya, Kirana mengangguk. Wijaya mengusap-usap jemari Kirana agar terasa lebih hangat.
"makasih, kak"
"jangan kuatir, kita semua disini. Tidak akan terjadi hal-hal yang tidak perlu"
"Ok"
"kamu terlihat sangat cantik, terlihat seperti Kirana yang berbeda, lebih matang" senyum Wijaya, Kirana tersenyum mengusap punggung tangan Wijaya.
"tetap menjadi kakakku yang hebat"
__ADS_1
"pasti, akan selalu ada untukmu" angguk Wijaya menghela nafasnya. Kirana tersenyum tipis berkaca-kaca.
"kita bertiga" datang Pramana dan Wilaga, Kirana tersenyum meneteskan airmata.
"kita datang berempat, apapun yang terjadi kita berempat adalah sama" kata Pramana, mereka mengangguk pelan. Kirana mengusap pelan air mata nya menggunakan tissue yang disodorkan pekerja wedding yang menemani nya.
Alexandre bersiap untuk mengucapkan janji didepan keluarga Kirana dan Berardi, Ia beberapa kali menghembuskan nafas dan mengeluarkannya dengan sedikit kasar, berdiri dengan tegak namun tidak fokus dengan keadaan sekitar.
"rileks, big. Kita menemani" pijat pelan Damian melihat ketegangan Alexandre.
"hhmmm"
"apa aku aja yang melakukannya" senyum menggoda Seth, Alexandre meliriknya tajam. Bian terlihat tenang saat keduanya beradu pandang sedangkan Jack hanya mengamati keadaan.
Mereka menoleh saat seorang pekerja wedding memberitahu bahwa waktu nya Alexandre mengucapkan kata sakral untuk mengikat Kirana. Mereka melangkah bersama menuju tempat yang telah ditentukan. Ayah Alexandre tersenyum menepuk bahu putranya memberi dukungan. Popi duduk didepan Alexandre didampingi oleh penghulu yang akan menuntun Alexandre mengucap kalimat sakral.
Keadaan menjadi hening sebelum Alexandre memulai, ia menghela nafas menetralisir perasaan tegang, cemas di hatinya. Prosesi serasa berjalan dengan lambat bagi Alexandre, ia menunggu arahan dan petunjuk dari penghulu ketika akan mengucapkan janji. Dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas, ia mengucapkan kalimat sakral tanpa ada kesalahan. penghulu menanyakan kepada para saksi yang menyaksikan prosesi menyatakan sah.
Alexandre menghembuskan nafas lega setelah melaluinya, ia tersenyum melihat semuanya dengan lebih jelas. Masih tidak percaya bahwa baru saja dirinya mengikat janji suci dengan Kirana melalui Popi Pram sebagai wali sah Kirana.
Pram tersenyum menatap Alexandre yang seperti terlepas dari beban berat yang ada di pundaknya, ia bersyukur bahwa yang menjadi pendamping anak perempuan satu-satunya adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat mencintai Kirana.
Kirana memasuki tempat prosesi akad dengan ketiga saudara laki-lakinya, ia di arahkan untuk duduk disamping Alexandre setelah proses akad selesai di lakukan oleh Alexandre tadi.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...
__ADS_1