Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 49


__ADS_3

"morning" senyum Popi melihat semuanya berkumpul diruang tengah, Kaila menyodorkan teh manis panas untuk suaminya. Tania yang juga baru saja bergabung melihat Alexandre yang sedang tidak baik-baik saja.


"duh, kak Al. Kurang banyak tuh tatto nya" kata Tania mencolek dagu Kirana.


"belum tau dia kalo Pramana dan Wilaga berolahraga dengan Alexandre dulu" minum Popi keceplosan, Kirana menoleh cepat.


"apa yang belum Kirana tau" topang dagu Kirana, Alexandre tersenyum mengusap pipi istrinya lembut.


"dulu ketika tidak bertemu denganmu selama hampir 2 tahun. Mereka berdua membuat olahraga semakin exciting"


Kirana mengendikkan bahu terdiam sejenak melihat Popi yang nyengir merasa serba salah. "trus, lawan nggak" tanya Kirana, Alexandre menggeleng.


"karena kamu ada di hatiku" kata Alexandre, mereka tertawa mendengar gombalan maut Alexandre yang jarang mereka lihat.


"aduh, berat banget beban hidup ngontrak di dunia ini" hela nafas Tania.


"he em, besuk kita ke Venus aja jika bumi udah kelebihan kapasitas" angguk Popi.


"nggak mau Pop, mending mereka aja yang kesana. Kita tetap di sini, mereka cuman berdua kita kan ada banyak orang" geleng-geleng kepala Tania menolak permintaan Popi.


"dah, lah. Orang yang di gombalin diem aja kenapa kalian yang kebakaran sih" angkat dagu bunda Kalai.


Tania melihat Kirana yang menaik turunkan alis menatapnya, "senengnya udah ada gandengan, truk kali gandengan mlulu" kerucut mulut Tania.


"makanya biar nggak kayak truk jangan buru-buru ya, masih ada 3 tahun lagi kalo 19 mau kayak Kirana" kata bunda Kalai.


"bund, masih sekolah juga" protes ayah Arga.


"ya, nggak papa dong. Ayah kan masih bisa memilih calon menantu selama 3 tahun ini" tawa Tania tergelak, Kirana dan Kaila ikut tertawa.


"hhmm, tambah sulit kalo begini. Mending ngadain sayembara aja, siapa yang bisa melewati 3 kembar dan 1 anak tunggal ini berarti lolos seleksi" goda Popi Pram.


Ayah Arga memberi tanda setuju dengan jemarinya, "betul".


"nah, kan. Jadi malah Tania yang kena abu hangatnya kalo begini, nasib selalu jadi anak perempuan terakhir nih kayak gini" lagak Tania pura-pura sedih, Arga mengacak rambut putri nya itu gemas.


"kita buat lagi aja bund, biar dia ada banyak adik" kata Arga, Kalai manggut-manggut menyetujui usul suaminya.


"aahh, nggak lucu yah, bund. Masak iya, nanti anaknya kak Kirana dan kak Al sama dengan anak ayah dan bunda" rajuk Tania. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar Tania yang dikerjain.


"nggak papa, seru lho kalo om dan keponakannya seumuran. Ntar gedenya jadi kayak temen" kata Arga.


"idih, belum tentu kalo laki. Lha kalo perempuan. Kan nggak lucu" geleng Tania.


"udah, yah. Iihhh... Kasian liat anak perempuan mu, sukanya godain aja. ntar kalo ada yang beneran mau ayah yang repot nanti. Drama nggak mau anak gadis nya dipinang orang" tepuk Kalai pelan, Arga tersenyum masam melihat Alexandre dan Pram.


"udah, noh satu makanya yang satu di bilangin ntar aja" kata Arga, Alexandre tersenyum lebar memeluk Kirana menggoda ayah dan Popi nya.


"beneran nih anak" hela nafas pram melihat kelakuan anak menantunya yang nggak ada jaim-jaimnya. "hati-hati di rumah sendirian" takuti Wilaga dari belakang memegang bahu Tania pelan.


"kaka Laga, awas kalo pulang lagi kesini. Aku bikin berkedel" kaget Tania yang takut dengan hal seram. Wilaga tertawa mengacak rambut sepupunya, "rambutku" tatap Tania horor, Wilaga segera menjauh dan duduk di samping Momi nya.

__ADS_1


"Mom, jika dah sampai laut, suruh pilotnya menceburkan kak Laga dulu" kata Tania menatap Wilaga sadis. Kaila mengangguk tersenyum menonyor bahu Wilaga pelan.


"karena yang satunya udah punya pawang dan nggak bisa diganggu sering-sering" kata Popi, Wilaga memberi finger heart korea kepada Popi nya.


"kebiasaan tangannya usil sih" kerucut mulut Kirana merasa senang melihat Wilaga yang tersenyum lebar.


"dek, ada yang nyari tuh" kata Wijaya. Kirana mengerutkan keningnya dan beranjak menuju ruang depan untuk melihat siapa yang mencarinya, ia melihat seorang pemuda sedang berdiri dengan tegap dan menatap ke halaman rumah dengan seragam lengkap salah satu angkatan militer.


"hello" salam Kirana sesaat kemudian, ia segera membalikkan badannya dan tersenyum menatap Kirana.


"hello, lama tidak berjumpa" tatapnya penuh kerinduan.


"Raka" teringat Kirana, Raka tertawa mengangguk mendekat. Kirana tertawa lebar melihat Raka yang lama sekali tidak bertemu.


"lama tidak bertemu, duduk dulu" persilahkan Kirana, Raka tersenyum lebar mengangguk dan mengambil tempat duduk di depan Kirana.


"aku sedang pelatihan dan belajar dua tahun ini dan baru kembali, bertanya ke beberapa teman dan akhirnya menemukan mu" senyum lebar Raka, Kirana tersenyum mengangguk.


"aahh, silahkan minum dulu" persilahkan Kirana setelah salah seorang pekerja rumah keluarga Bagaskara menghidangkan minuman panas. Raka mengangguk.


"bagaimana kabarmu, Kirana" tatapnya lekat, Kirana mengangguk.


"seperti yang kamu lihat sekarang, baik-baik aja"


"apa sudah selesai sekolah"


"sudah dan sayangnya tidak lagi berada di sini"


Kirana mengangguk tersenyum, "harus berkumpul menjadi satu nggak boleh pisah-pisah lagi" hela nafas Kirana, Raka tersenyum melihat Kirana baik-baik saja.


"Kamu terlihat lebih matang sekarang" usap dagu Raka melihat paras Kirana yang terlihat berbeda, Kirana mengendikkan bahunya pelan. "apa kata komandan aja"


Raka tertawa pelan, "bertambahnya usia membuat kita bertambah pengalaman"


"yap, bertambah pula penderitaan" angguk-angguk Kirana, mereka tertawa bersama.


"apa semuanya baru ngumpul, kedengeran ramai" kata Raka.


"yap, karena kemarin ada acara jadi semuanya harus datang" angguk Kirana.


"dimana belajarnya sekarang"


"lumayan jauh karena tiga dari empat memilih disana mau nggak mau yang satu harus ngikut walo dengan ancaman dari Momi. But it's okey, he do well"


"apakah Wilaga" senyum Raka.


"no, kak Pramana yang ingin tetap di Inggris. But granddad mau ikut bersama kita jadi dia mengalah" senyum lebar Kirana menggeleng, Raka tersenyum lebar menatap lekat Kirana.


"Apa kamu menikmatinya juga"


"tentu saja, aku sangat menikmati jika semuanya ngumpul begini, kan sama dengan dirimu yang selalu hangat bersama keluarga. Mama mu adalah perempuan hebat sama seperti Momi yang senang jika semua ngumpul, apa mau bertemu mereka" tanya Kirana.

__ADS_1


"tidak, aku takut mengganggu kebersamaan kalian. Jarang bisa ngumpul bareng karena kesibukan yang tidak bisa melakukan hal apapun bersama, bukan" senyum Raka, Kirana mengangguk.


"berapa lama kamu di sini"


"mungkin nanti malam kembali setelah dua minggu lebih disini, harus belajar lagi. Mengejar passion hidup" ulang Kirana menirukan perkataan Raka dulu. Mereka tertawa melihat satu sama lain.


"ya, karena tidak semua mampu mengejar apa yang benar-benar di inginkannya jika tidak berusaha dengan sungguh-sungguh"


"Raka" lihat Pramana dari dalam, Raka tersenyum lebar melihat kakak kembar Kirana.


"lama tidak melihatmu, sekarang benar-benar menjadi laki-laki yang gagah dengan seragam ini" senyum lebar Pramana menerima salam dari Raka.


"kamu yang nggak pernah pulang dengan Wilaga" geleng Raka.


"hhmm, karena ada beban anak pertama bukan" senyum Pramana duduk disamping Kirana, Raka tertawa pelan.


"ayo kita masuk. Kami baru ngumpul bareng lho, ada kamu tambah seru nih" kata Pramana, Raka tersenyum lebar menggeleng.


"no, aku hanya mampir setelah bertugas tadi. Lama tidak bertemu Kirana"


"aahh.. Begitu kah, hanya Kirana yang mau dilihat" naik turunkan alis Pramana, Raka tertawa lebar.


"tidak juga"


"kalian akan berangkat kapan"


"nanti malam biar bisa tidur lama karena sampai sana nanti matahari sudah tenggelam lagi" senyum Pramana.


"ada pertemuan di school dulu agak siang" tambah Kirana.


"apa mau aku antar"


"no...no... Nggak mau lagi ada kehebohan di school. Ingat kan waktu tiba-tiba datang ke sana kala itu dan gimana reaksi anak cewek melihat kalian" kibas tangan Kirana di udara mengingat saat Raka dan teman-temannya menjemputnya. Raka tertawa mengangguk mengingat peristiwa itu.


"ingin mengulang kembali" kata Raka tersenyum menatap Kirana lekat. Pramana tersenyum melihat Raka yang masih memiliki rasa terhadap adeknya.


"nope" geleng kepala Kirana pelan menolak keinginan Raka.


"pergi bersama Wijaya"


"nope, Nur alleine, just alone" hembus nafas Kirana.


"tambah banyak yang suka nanti" kerut Raka.


"masa sih"


"U more beautiful, Kira" ungkap Raka, Kirana memutar bola netranya merasa biasa saja.


Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.


Selamat membaca karyaku semuanya...

__ADS_1


See U next chapter..


__ADS_2