
"memang benar-benar copy-an mu, honey" senyum Pram, Kaila tersenyum. "karena itu yang paling penting, by"
"apa kedua orang tua mu setuju dengan permintaan Kirana" tanya Pram.
"ya, mereka menyerahkan semuanya kepada Al karena mengerti bagaimana Al selama jauh dari Kirana dulu"
"apa tidak apa-apa" ulangi Kaila.
"tentu Mom, dengan begitu maka Kirana juga akan terlindung sementara selama dia menyelesaikan study nya bersama saudaranya di Jerman nanti. Itu juga agar Al dapat menjaga Kirana lebih intens"
"apa Kirana tidak mengajukan permintaan lain" tanya Kaila hati-hati.
"tidak, Mom. Selama keluarganya semua lengkap maka dia dimana aja dan kapan aja ready"
"jangan terlalu kuatir dengan persiapan segala sesuatunya Mom, Al sudah mempersiapkan dengan matang semuanya. Bukan karena apa-apa tapi setelah Kirana menyetujui untuk mengikat janji, Al segera mengurus semuanya" angguk Alexandre.
"dibandingkan dengan mengatakan kepada ayah dan ibu, saya lebih nervous saat meminta ijin kepada Popi dan Momi saat ini" jujur Alexandre menyeka keringat dinginnya.
"Alexandre mengajak Kira untuk berolah raga tanding tadi agar terlihat lebih segar biar hatinya tidak terlalu dalam merasakan"
Kaila terdiam sebentar "apa karena keadaan kakek dan granddad" tatap Kaila. Alexandre mengangguk pelan. "baiklah kalo begitu, kita tunggu keputusan Kirana saja dulu" akhiri Pram, mereka mengangguk pelan.
"jika di ijinkan Al ingin tidur di sofa kamar Kirana dengan pintu yang tetap terbuka" ijin Alexandre pelan.
"tentu, Popi percaya padamu" angguk Pram akhirnya.
"terimakasih Pop, ada mereka bertiga juga yang akan menjaga Kirana pastinya" senyum Alexandre bernafas lega setelah mengutarakan semua niat baiknya kepada keluarga Kirana.
"apa ini tidak terlalu cepat, Al" tanya Popi, Alexandre tersenyum canggung.
"sebenarnya Al masih bisa menunggu tiga atau empat tahun lagi, Pop. kita berdua lebih matang secara usia dan pemikiran. Tapi melihat kondisi Kirana yang terguncang jika melihat kondisi kakek sekarang maka Al memberanikan diri untuk mempercepat semuanya, agar Kirana tidak menyesal di kemudian hari"
"terlebih lagi Al juga akan merasa lebih tenang saat dekat dengan Kirana dengan status yang pasti, selama ini Al sudah cukup melihat sikapnya saat jauh dari Al selama ini. Dia tidak pernah membiarkan laki-laki lain melihatnya lebih dari seorang teman, memang tidak sedikit yang jatuh hati padanya. Al tahu dan akui hal itu namun dia seperti membuat tembok pemisah antara laki-laki yang menyukainya" ungkap Alexandre, Pram mengangguk.
"terimakasih telah mengerti dan memahami sifat Kirana, Al"
"tidak mom, justru Al yang mengucapkan terimakasih karena telah menerima Al menjadi bagian penting perjalanan hidup Kirana disamping keluarganya, dengan keadaan Al yang seperti ini. pasti keluarga tidak mudah untuk menerima kedatangan Al" tunduk Alexandre hormat.
Kaila tersenyum menatap paras Alexandre yang memang mirip dengan Kirana.
"nyonya, makan malam sudah siap" datang salah satu pekerja rumah keluarga Bagaskara.
"baiklah, kita akan makan diruang tengah bersama dengan keluarga besar, Kirana tidak akan kenapa-kenapa. Tubuhnya sangat lelah hingga mungkin besuk pagi dia akan bangun" anjak Kaila meminta yang lain untuk mengikutinya menuju ruangan tengah dirumah tengah ayahnya. Mereka berjalan sambil mengobrol mengikuti langkah kedua orangtuanya.
"Mom, mana kak Kirana" lihat dengan seksama Tania saat personil makan malam berkurang satu.
"dia tertidur saat perjalanan pulang tadi sama kak Al, hanis diajak olahraga makai Dogi" senyum Kaila.
"isshh, kenapa tadi nggak ngajak Tania, seru tuh bisa mengeluarkan banyak energi" comot buah potong Tania.
"hhmmm, sayangnya mereka hanya ingin berdua" naik turunkan alis netra Kaila, Tania tertawa pelan mengangguk.
__ADS_1
"serasa dunia hanya berdua aja, yang lain pemeran pendamping" mengerti Tania.
"nah, itu tau. Makanya selesain school dengan benar baru boleh dunia milik berdua" goda Wilaga.
"tenang, kak. Sekolah tetap lancar, kalo larak-lirik cowok mah tetap jalan" senyum-senyum Tania.
"what, emang ada yang mau" goda ayah Arga.
"yah" seru Tania. Mereka tertawa.
"lho bener kata ayah, udah berapa yang nyangkut" angguk Pram.
"Pop, kenapa jadi ikutan ayah. Gini-gini banyak yang suka anak gadis keluarga kita, tau nggak" bangga Tania.
"mana, orang kagak ada yang pernah kesini" tambahi Kalai.
"hehehehe.... Kalo itu agak susah deh bund, soalnya kak Kirana dan Tania seringnya ketemu diluar" jawab Tania. Mereka menatap Tania sesaat hingga membuatnya nyengir.
"kita nggak sembarangan ngasih tau alamat, kan. Hanya ketemu di kafe atau dimana, tidak yang neko-neko, yah" jelaskan Tania, Arga manggut-manggut sambil mengunyah makan malamnya.
"seringnya ketemu dimana" pancing Kalai.
"di cafe tongkrongan kita bund, agar aman. Ada kak Wijaya juga yang sering nemenin kita ketemuan, walau dengan jarak yang nggak dekat ditambah penjaga. Aman lah" cerita Tania.
"kalian berdua kompak ya, kalo begituan" tatap Popi. Tania memberi emoticon hati ala korea kepada Pram.
"kan anak sekolah, Pop. Jadi menikmati hidup"
"baru punya semangat membara, kan kak. bikin hidup lebih hidup" senyum Tania.
"emang kamu juga nggak begitu" tanya Pramana, Wilaga menoleh.
"dengan anak jenderal, kembar juga. Punya kakak laki-laki" jelaskan Wijaya.
"what, dari mana tau" kaget Wilaga. Mereka tertawa mendengar nya.
"lah, kan ada Tania yang suka mendengar dimana-mana" tunjuk Wijaya, Tania manggut-manggut mantap.
"temannya temanku" jawab Tania senang menggoda Wilaga.
Wilaga berdecak pelan, "baru menyeleksi" jawabnya santai.
"idih, emang perlombaan pake diseleksi segala" kata Tania.
"ya elah, siapa tau ada yang lebih cocok lainnya" senyum-senyum Wilaga.
"isshh, lagakmu kak. Orang mepet terus gitu, ada cewek lain juga nggak dilirik" majukan bibir Tania, Wilaga tersedak dan segera mengambil air mineral di gelas.
"nah, loh kak... kenalin dong sama kita" senyum-senyum Kaila.
"tenang, Mom. Nanti kalo udah yakin pasti akan Laga kenalin" angguk-angguk Wilaga.
__ADS_1
"anaknya kayak apa" tanya Kalai, Wilaga mengeluarkan ponselnya mencari moment gadisnya dan memperlihatkan pada semuanya.
"cantik, imut" lihat Kaila, Kalai mengangguk.
"belum di approve, Mom. masih banyak saingan" cengir Wilaga. Kaila menepuk bahu Wilaga pelan.
"fighting"
"pasti, selama roma ada pasti ada jalan" isyarat jemari wilaga tanda Ok. Alexandre ikutan tertawa bersama keluarga besar baru nya.
"pawangnya Kirana ada lho, Tania" tunjuk Wijaya.
Tania mengibaskan tangannya pelan "nggak papa, pasti kak Al juga lebih tau karena penjaganya selalu memberi laporan, kan. tenang aja, karena kak Kirana lebih memilih kak Al" naik turunkan alis netra Tania.
"sok tau nih Tania, kalo Kirana suka sama yang lain gimana" usap kepala Arga gemas.
"ayah lupa, kakak sepupu laki-laki yang di sukai kak Laga juga mendekati kak Kirana lho. nggak ada yang mempan" bela Tania.
"jangan-jangan kamu lagi yang suka sama kakaknya" goda Pramana. Tania tertawa pelan mengangguk.
"aku suka sama adiknya, orangnya tenang, misterius" buka kartu Tania, Arga tersedak segera minum.
"oh Tuhan, kenapa anak gadis cepet banget gede nya sih" geleng-geleng kepala Kalai, Kaila tertawa.
"Al sudah meminta Kirana" isyarat Kaila ke arah Alexandre, Kalai terkejut menatap kembarannya itu beralih ke Alexandre bergantian.
"serius" buka lebar netra Kalai menaruh tangan kanannya di dada tak percaya, Kaila tersenyum mengangguk.
"Popi nya sudah merestui, hanya tinggal nunggu Kirana mengatakannya sendiri nanti. ayah dan ibu Al sudah ada di dekat sini. Kita tinggal nunggu keputusan Kirana" kata Kaila, Kalai menekan dadanya merasa ada sesuatu yang hilang.
"barusan dia mengatakan nya sebelum makan malam, resminya kita tanya Kirana dulu baru keluarganya Alexandre akan datang" mengerti Kaila.
"Bund" sentuh bahu Tania menyadari bahwa bundanya takut kehilangan Kirana.
"everything will be fine, Kal. they will stay with us" usap bahu Kaila mengerti.
"kenapa aku jadi merasa sedih sih, Kai" genggam jemari Kalai. Kaila menepuk punggung tangan Kalai pelan.
"karena dari mereka berempat masih baby, kita yang mengurusnya berdua. Ketika Tania nanti menemukan belahan jiwa nya, kita akan melalui nya bersama-sama"
"kenapa jadi gini sih, bund and Mom. Kirana sama Tania nggak kemana-mana, hanya tambah keluarga menjadi lebih ceria kan" topang dagu Pramana.
Kalai dan Kaila menatap Pramana mengangguk membenarkan.
"iya, ya kak. Tambah seru dong nanti kalo ngumpul begini. jadi nggak sabar mendengar suara baby" semangat Kalai. Alexandre gantian yang tersedak mendengar ucapan Kalai, mereka menatapnya dan tertawa gembira.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...
__ADS_1