Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 71


__ADS_3

"Adi Kirana Bagaskara"


Mereka menoleh kearah asal suara yang memanggil nama Kirana, tampak seorang perempuan yang terlihat lusuh menghampiri mereka yang sedang duduk menanti kepulangan keluarga mereka dari peristirahatan terakhir istri salah satu penjaga mereka. Kirana mengerutkan keningnya sesaat tidak mengenali perempuan yang berada di depannya.


"maaf, saya tidak mengenal anda dan ini sedang ditempat orang berkabung, mohon tidak membuat suasana gaduh" kata Kirana pelan. Perempuan itu tertawa pelan tidak menghiraukan perkataan Kirana barusan, beberapa penjaga keduanya segera mendekat dan membawa perempuan itu pergi sebelum menimbulkan kegaduhan.


"kayaknya kenal deh kak" ingat-ingat Tania melihat perempuan itu dibawa pergi.


"bukankah dia dulu adalah teman yang berurusan dengan mu sebelum ke negeri orang" tepuk bahu Tania mengingat, Kirana berjenggit kaget menyadari jika perempuan itu adalah Delia, temannya yang dulu membuatnya adu mulut. Ia bergegas mendekat tempat para penjaganya membawanya pergi.


"Delia" kata Kirana pelan, perempuan itu menatap tajam dengan pandangan yang ingin menelan Kirana bulat-bulat.


"puas kamu melihatku seperti ini sekarang, hah" katanya garang, Kirana menggeleng menatap Delia sesaat.


"apa yang terjadi dengan mu adalah karena dirimu sendiri" geleng Kirana menatap keadaan Delia yang sekarang, ia tidak lagi terlihat arogan dan memandang orang lain seperti sampah.


"kamu yang membuatku seperti ini" tunjuk Delia dengan amarah yang besar. Kirana menghela nafasnya menatap Delia tidak habis pikir kenapa ia tetap saja tidak berubah walo keadaannya tidak baik-baik saja.


"apa kamu menyadari sesuatu, apa yang kamu banggakan dari dulu telah meninggalkanmu dan sekarang kamu tidak lagi bisa membuat orang lain bertekuk lutut kepadamu"


"kamu bukan siapa-siapa bagiku, Kirana" desis Delia marah. Kirana mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Delia.


"benar banget apa yang kamu katakan Delia, dari dulu sudah aku katakan jika aku memang bukan siapa-siapa. Apalah arti seorang Kirana, nggak ada artinya" jawab Kirana


"jadi kenapa kamu harus mengkhawatirkan aku dulu dan sekarang, nggak ada artinya bagimu kan. Trus kenapa dulu dan sekarang kamu terus membuatku terlihat dihadapan orang lain. sadar nggak sih Del, justru kamu yang terlihat menjadi antagonis" senyum Kirana, Delia mendesis pelan menatap Kirana dengan tatapan penuh dendam kesumat.


"apa yang selalu kamu lakukan kepada orang lain dengan niat jahat justru semakin memperlihatkan bahwa hatimu sangat hitam" kata Kirana, Delia menatap Kirana tajam. Para penjaga keluarga siap sedia disekitar Kirana.


"aahh, jangan mempersulit diri mu sendiri, Del. Kamu tau arti nama terakhir ku, bukan... Bagaskara. Kamu bisa cari arti nama keluarga itu dan tambahan info untukmu kalo ada nama Bimantara dan Berardi dibelakang ku"


"tidak sulit untuk mencari tau tiga nama keluarga itu untuk orang sepertimu, itu bukan sesuatu yang sulit" senyum smirk Kirana.


"aku tidak takut padamu" kata Delia dengan penuh amarah.


"benar banget, tidak boleh untuk takut kepadaku, takutlah pada sang pemilik alam semesta, sang maha pencipta segalanya" angguk Kirana pelan.

__ADS_1


"Kirana" kata Delia.


"tidak usah banyak memanggil namaku, Del. Kita bukan anak high school lagi yang penuh dengan darah muda menggebu-gebu memojokkan lawan. Ntar kamu malah tambah kesel dan itu tidak baik untuk kesehatanmu" geleng kepala Kirana.


"dan satu lagi, aku tidak mau menimbulkan pandangan yang tidak mengenakkan saat ini. Aku tidak bisa melihat bang Ipat tambah sedih melihatku diperlakukan seperti ini di saat dia kehilangan orang yang paling dicintainya. Aku menganggapnya keluarga seperti mereka yang saat ini ada di sekitar kami, jika kamu melakukan hal yang buruk ataupun mempermalukan kami maka mereka tidak akan segan-segan untuk menyingkirkanmu dengan cepat" kata Kirana.


"dasar kamu ******" gemerutuk gigi Delia menahan amarah.


"benarkah, apa aku harus bertanya pada abang disini. Siapa yang terlihat ****** sekarang, apa abang pernah melihat aku jalan dengan laki-laki lain selain orang terdekatku selama ini" senyum Kirana, mereka menggeleng.


"see, mereka setiap hari bersamaku. Ada sepupuku disini juga, jadi darimana aku bisa menjadi ****** jika keluar saja mereka selalu membayangi gerakku" hela nafas Kirana.


"diam bukan berarti bisa di injak-injak Delia, bukan.... Aku tidak ingin orang-orang yang menyayangi ku mengetahui betapa tidak baiknya dirimu kepadaku agar mereka tidak melakukan hal yang lebih tidak manusiawi dibandingkan dirimu. Tapi sepertinya kamu tidak sayang dengan dirimu sendiri karena memperlihatkannya tepat di depan mereka"


"berkaca pada dirimu sendiri Delia" lihat Kirana lekat. Delia mengepalkan tangannya dan meludah ke arah Kirana hingga Kirana refleks mundur kebelakang dan benar saja para penjaganya segera mengamankan Delia dengan membuatnya tidak sadarkan diri. Tania mendekati Kirana dan melihat badannya apakah ada yang terluka.


"nggak usah lebay Tan, dengan sekali pukul Delia pasti akan roboh, tapi aku tidak akan berbuat seperti itu untuk membuatnya mengerti apa arti mengalah untuk menang"


Tania tertawa kecil, "lagak mu kak" tepuk bahu Tania hingga mereka tertawa senang. Para penjaga itu telah membawa pergi Delia dengan senyap tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain yang ada di sekitar mereka.


"yang" datang Alexandre duduk disamping Kirana.


"tidak ada yang berarti, penjaga sudah melakukan tugasnya dengan baik dan aku juga baik-baik saja" senyum Kirana memperlihatkan deretan gigi putihnya, Alexandre minum sembari menatap istrinya.


"kenapa kamu selalu bisa mengatasi apapun" tanya Alexandre, Kirana nyengir


"mungkin karena aku istri kecil penguasa bawah tanah" kata Kirana pelan, mereka saling menatap dan tersenyum lebar.


"pingin didalam ruangan hanya berdua aja" ujar Alexandre pelan, "ngapain. Kita nggak bisa ngapa-ngapain berduaan juga" tepuk bahu Kirana, Alexandre menghela nafas lupa akan hal penting itu.


"kapan selesainya, yang" tanya Alexandre pelan, Kirana menggeleng.


"tergantung fisik masing-masing orang, kak. semoga tidak lama" senyum Kirana beranjak dari tempatnya duduk mendekati keluarganya yang sedang berbincang dengan bang Ipat.


"turut berduka cita non dek atas kepergian kakek. Maafkan bang Ipat tidak bisa datang" tatap bang Ipat, Kirana tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"tidak apa bang, bang Ipat juga dalam keadaan yang sama, jadi Kirana mengerti"


"jika sudah waktunya dan kamu ingin kembali ke rumah maka kembalilah bang" kata Kaila. Bang Ipat mengangguk mendengar permintaan nyonya besarnya itu sekarang.


"terimakasih banyak nyonya atas kepercayaan nya kepada saya. secepatnya saya akan memberi kabar" angguk bang Ipat berterima kasih atas kebaikan hati keluarga yang dijaganya selama ini


Kirana melihat sekitar dimana keluarga dan tetangga bang Ipat memperhatikan mereka dengan seksama setelah mengetahui siapa mereka.


"hello" salam Alexandre menjauh agar tidak mengganggu mereka sedang berbincang-bincang.


"apa tidak bisa ditunda lagi" tanya Alexandre pelan menatap keluarga istrinya yang tengah asyik berkumpul.


"baiklah. Aku akan datang, tidak. Biarkan saja, aku akan menemuinya sendiri" tutup panggilan Alexandre menatap Kirana lekat, ia berat meninggalkan Kirana tanpa dirinya berada disisinya namun beberapa pekerjaan tidak bisa lagi dia tunda.


"yang" dekati Alexandre berbisik pelan, Kirana menoleh menatapnya.


"ijinkan aku untuk terbang ke negeri orang" usap pipi Alexandre


"ada pekerjaan yang tidak bisa mereka tangani, jika sudah selesai aku akan segera pulang menemui mu" kata Alexandre, Kirana mengangguk.


"ada Daniel dan Sean yang akan menjagamu, aku bersama dengan jack" tatap Alexandre, Kirana mengangguk.


"aku akan berangkat sekarang menggunakan motor dengan mereka bertiga" kata Alexandre.


Alexandre beranjak segera menjauh diikuti Kirana.


"Damian menginginkan pekerjaan diselesaikan segera dan aku harus menyaksikannya" genggam erat jemari Alexandre.


"jangan lupa untuk selalu menghubungiku, yang. Jika semuanya sudah selesai, aku akan segera kembali" kecup tangan Alexandre pelan.


"hati-hati, yang. Doaku selalu bersamamu" angguk Kirana mengerti, Alexandre mengangguk memeluk Kirana dan menciumi parasnya.


"Luv U honey, wait for me at home" senyum Alexandre menekan kedua pipi Kirana hingga bibirnya mengerucut membuat Alexandre tergelak melihat istrinya yang menggemaskan.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.

__ADS_1


luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...


__ADS_2