
mereka terdiam lama sembari melihat deburan ombak yang terdengar lembut disela-sela pendengaran, Kirana memejamkan netranya merasakan hembusan angin yang menyejukkan hati seolah-olah memberi ketenangan didalam diri.
"Kirana"
"hmmm"
"apa kamu tidak mau membuka yang kuberikan tadi"
Kirana menghela nafasnya lama mendengar perkataan Alexandre yang membuatnya harus merogoh samping celana longgarnya. ia menatap kotak kecil itu sejenak, dengan sedikit rasa malas ia membukanya pelan.
"aaahh... kenapa harus begini, kak. itu makanya aku nggak mau menerimanya" tatap Kirana merasa sungkan. sudah cukup baginya menerima pemberian Alexandre di toko buku kemarin, ia tidak ingin menambah budi yang harus dia balas.
"Just for you"
"kak"
"hhmmm"
Alexandre tersenyum sambil menutup matanya menikmati malam yang berbeda karena ada gadis yang dicintainya saat pertama bertemu dulu dan baru sekarang bisa menatapnya dengan segenap rasa di jiwa.
udara bertambah dingin seiring malam yang semakin larut, satu persatu mereka kembali masuk kedalam kamar peraduan yang telah disiapkan. Kirana akan beranjak dari posisinya saat Alexandre meraih jemarinya.
"temani aku disini, aku janji tidak akan melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman" tatap Alexandre, Kirana mengangguk dan kembali merebahkan diri di kursi panjang menikmati malam. lama kelamaan ia tertidur, Alexandre menoleh tersenyum melihat Kirana yang tidur dengan tenang, ia beranjak mengangkat tubuh Kirana menuju kamarnya ia menyelimuti pujaan hatinya itu.
"sweet dream sweetie, aku akan menjagamu diluar. jangan lupa untuk membawaku dalam mimpimu" kecup kening Alexandre pelan, ia segera beranjak dari kamar Kirana, menuju sofa besar yang nyaman untuknya tidur sambil melihat kearah pintu ruangan Kirana.
Popi Pram yang melihat semuanya hanya menghela nafasnya panjang, ia melihat semua dari tadi. perasaan tidak rela melihat kedekatan putri satu-satunya itu dengan seorang pemuda masih tertahan di dadanya, putri yang dijaganya dengan kasih sayang dekat dengan seorang pemuda lain membuat hatinya teriris hingga tiba-tiba sebuah tangan melingkar dari belakang.
"aku tau by, kita tidak akan pernah melepas mereka walau sudah mempunyai belahan jiwa mereka masing-masing. tidak akan ada yang rela melihat mereka dengan orang lain"
Pram menoleh mengusap punggung tangan Kaila dan meraih tubuh istrinya itu untuk didekapnya erat.
"belajarlah dari ayah yang dengan kebesaran hati menyerahkan putrinya untuk dibimbing menantunya. belajarlah kebaikan dari mom dan dad saat melihat anak laki-lakinya membagi perhatian kepada belahan jiwanya"
Pram mengecup ubun-ubun kepala Kaila berulangkali.
"aku tau, yang. hanya saja hatiku masih berusaha untuk mengerti" hela nafas Pram kembali.
"tugas kita menjadi orang yang dibutuhkan mereka berempat saat baik maupun buruk, saat sedih maupun bahagia, saat ada maupun tiada"
"aku tau, yang. aku tau" usap bahu Pram lembut.
"waktunya kita istirahat, tidak baik untuk laki-laki berumur tidur terlalu malam" senyum Kaila menatap paras suaminya yang masih terlihat muda.
"apa, siapa yang tua. kalo mau kita bisa punya baby lagi" tatap Pram cepat, Kaila memijit keningnya yang tidak kenapa-kenapa mendengar ucapan Pram barusan. ia segera berlalu meninggalkan Pram yang merajuk seperti anak-anak nya jika meminta sesuatu.
__ADS_1
"yang... yang.... jangan ninggalin gitu aja" ekor Pram dibelakang Kaila dengan cepat, takut dirinya tidak diperbolehkan masuk.
Alexandre tersenyum mendengar interaksi kedua orang tua Kirana barusan, ia belakangan baru sadar jika pendekatannya melalui kedua orang tua kembar empat itu membuat jalannya lebih cepat.
pagi hari keadaan bungalow masih terlihat sepi, karena yang muda begadang hingga dini hari membuat nyenyak dalam tidurnya, sedangkan yang lebih dewasa lebih memilih untuk berjalan santai disekitar bungalow.
"siang Kira" sapa bunda Kalai
"siang bund, Momi kemana" tanya Kirana menarik kursi dan duduk dihadapan Kalai.
"ada diluar menikmati hari" senyum Kalai, Kirana mengangguk menyeruput coklat panasnya.
"siapa dia, kak" hampiri Tania, Kirana menoleh menatap Tania yang duduk disamping Kalai, bundanya.
"anak keluarga Berardi, pewaris bisnis"
"ketemu dimana" tanya bunda Kalai.
"nemu, emang dibuang bund. ya kali dulu sama ayah bundanya digeletakin dipinggir jalan" sambar Tania, bunda Kalai meringis mendengarnya.
"dia melihat Kira, ketika grandmom sakit dirumah sakit dulu tanpa Kirana tau"
"terus" pandang Tania menatap Kirana penasaran.
"nggak ada yang terus. karena belokan jadi nggak boleh terus" jawab Kirana kalem, Tania ngedumel nggak karuan mendengar perkataan Kiran yang sudah dalam mode seperti Wilaga.
"hhmm, nggak Momi, nggak bunda sama aja" jawab Kirana menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"serius Kira, tidak seperti yang lain. kayaknya ini istimewa" jawab Kalai.
"kalo Sagitarius mah zodiak bund, pasti nya serius kalo ndeketin kak Kirana. kalo main-main jangan harap keluar hidup-hidup dari laki-laki dewasa semuanya" kata Tania sekenanya.
"aku sudah menolaknya, bund. berulangkali bahkan, anehnya dia nggak apa-apa, sekarang dia jadi pengajar bidang olahraga di school" jawab Kirana kesal. Tania membulatkan netranya mendengar jawaban Kirana.
"segitunya kak, waahh... waahh... nggak main-main nih cowok" geleng-geleng kepala Tania merasa takjub.
"nah, itu malah udah dua langkah lebih dulu daripada yang kemarin-kemarin. Popi dan Momi juga udah beri lampu hijau, makanya dia main gas aja" senyum Kalai.
"bunda aja yang ngadepin, aku udah nggak mau berkata apapun lagi" hela nafas Kirana.
"iisshh, bunda nggak mau nolak punya menantu kayak gitu" kibas tangan Kalai menolak permintaan Kirana.
"tenang kak, masih ada aku yang selalu berada di pihakmu" tepuk dada Tania yang berujung batuk-batuk karena tepukannya terlalu bersemangat.
Kalai mengusap kepala putrinya gemas, "liat aja, berani apa nggak kamu" cibir Kalai.
__ADS_1
"tentu saja bund, nggak ada yang bisa menghalangi Tania"
Kirana tertawa pelan melihat Tania yang selalu bersemangat "ngapain ribut pagi-pagi" acak rambut Wilaga, Kirana menatap horor kembaran nomor dua nya itu. Wilaga menjulurkan lidah menanggapi reaksi Kirana.
"kak Kira mau mengusir setengah bule itu" jawab Tania keras agar terdengar oleh Alexandre yang sedang tidur.
"kenapa baru sekarang sih dek, kan kemarin-kemarin bisa" jawab Wilaga tidak kalah keras. Alexandre menyunggingkan senyum tipis mendengar pembicaraan mereka dimeja makan.
"katanya sih sayang kak, tapi nggak tau tuh masih apa nggak" sindir Tania kenceng. Kalai menggelengkan kepalanya dan beranjak dari duduknya menuju keluar tidak mau ikut dalam permainan anak-anak nya sekarang ini.
"tuh, dah denger lho orangnya. awas kalo penjaga bayangannya pada muncul saat kamu sendirian" sentuh bahu Wijaya tiba-tiba dipundak Tania.
"kakak, bikin jantungan tau.. kenapa anak Momi nggak ada yang kalem kayak aku" buka netra Tania lebar-lebar mendapati Wijaya yang bikin kaget.
"gitu aja udah keder, noh yang kamu sindir lebih kejam dari para penjaga Popi dan ayah"
"nggak ngaruh" geleng kepala Tania kuat-kuat.
"tunggu kamu ke rumah sana, baru teriak ketakutan" minum Wijaya.
Alexandre terbangun dan segera membersihkan dirinya di bath room yang ada diruangan tengah, Kirana menunggu didepan pintu dan menyerahkan perlengkapan bath kepadanya. Alexandre tersenyum menerimanya dan segera mengganti pakaiannya.
"iisshhh, kak Kira. taunya bucin" sungut Tania menatap keberadaan Alexandre yang sudah berada ditengah mereka.
"beda, memperlakukan tamu dengan baik dan bucin itu berbeda" jawab Kirana mengendikkan bahunya.
"yang bener dek... kenapa kalo ada yang mendekat langsung lari 500 m" tanya Wilaga, Alexandre menatap Kirana menunggu jawaban.
"karena memang nggak mau dekat dengan mereka"
"lha ini, kenapa bisa" cecar Tania merasa tidak terima.
"kak Kira kan tau mereka juga bukan orang sembarangan. juga nggak kalah dari setengah bule ini" lirik Tania.
Kirana terdiam, menggelengkan kepalanya pelan. "ntar aku tanya mereka masih mau sama aku nggak, kebetulan masih menyimpan kontak mereka di ponsel" topang dagu Kirana. Alexandre menatap Kirana lembut, "mereka tidak akan berani mendekatimu lagi" gumam Alexandre.
"widiwh.. gerak cepat nih bule" senyum Tania memberikan pujian.
"thanks, itu bagian dari tanggungjawab untuk melindungi perempuan yang istimewa kan" tatap Alexandre sekilas. Tania mengendikkan bahu.
"sweet, hari ini mau kemana" tanya Alexandre.
"Spain" toleh Kirana.
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...
__ADS_1
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all