Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 73


__ADS_3

Kirana menghirup udara yang terasa lembab, berbeda dengan Indonesia yang selalu dilimpahi dengan teriknya sinar mentari yang tidak semua negara dapat merasakannya, ia meraih coat tebal yang disodorkan Wilaga, memakainya sembari keluar menuruni anak tangga. Mereka berjalan dengan tenang diantara ratusan orang yang memadati bandara siang itu, mobil berukuran sedang menanti kedatangan mereka, barang bawaan diletakkan oleh pengemudi dibelakang. Mereka bergantian masuk untuk kembali ke rumah selama mereka belajar di negeri orang.


"mau membeli apa dulu sebelum sampai" toleh Kirana, mereka semua berebutan menyebutkan beberapa makanan.


"baiklah, kita akan mampir dulu membeli beberapa makanan, pilih sendiri. Aku akan menunggu" kata Kirana pada akhirnya tidak bisa menolak permintaan mereka.


Dan benar saja mereka dengan kekuatan penuh bergegas untuk membeli beberapa barang yang mereka butuhkan, Kirana hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mereka yang bar-bar.


"Sean, sana jika akan membeli" toleh Kirana.


"tunggu sebentar, aku akan bergantian dengan Daniel dan yang lainnya" geleng Sean melihat mereka semua, Kirana mengangguk mengerti sembari mengetik sesuatu dilayar ponselnya.


"maafkan aku, Sean. Jika selalu membuatmu repot" toleh Kirana menatap Sean yang berada dibarisan belakang.


"it's alright, nona dek. Terkadang aku juga merasa dirimu terlalu dikekang harus bersama orang lain setiap saat, aku mengerti" geleng Sean, Kirana menghela nafasnya berat.


"tapi tidak sebanding dengan penderitaan kalian yang menanggung beban karena perbuatan kekanakanku, bukan"


Sean tersenyum lebar menggeleng, "justru aku bersyukur kamu masih bisa melakukan apapun tanpa beban, disitu kami merasa nona dek adalah gadis yang normal"


"sekali lagi maafkan aku, terkadang lepas darimu atau yang lain membuatku bernafas, kamu tau kan apa yang aku maksud"


Sean tertawa mengangguk "sangat mengerti, bagi mu itu adalah sesuatu yang berharga bukan, ditambah lagi dengan kekuasaan yang dimiliki oleh big, membuatmu tambah susah untuk melepaskan diri dari bayangan"


Kirana mengangguk menghela nafasnya kembali. "tambah berat" Mereka tertawa kecil bersama saling memahami.


"apakah Daniel membuatmu nyaman nona dek" tanya Sean pelan.


"tentu, tidak apa-apa. Seiring waktu kita juga akan menjadi teman baik, terkadang justru membuat kita bertambah dekat karena satu frekuensi" kata Kirana, Sean mengangguk tersenyum.


"benar kata big bahwa dirimu adalah orang yang selalu melihat dari sisi yang orang lain tidak akan berpikir ke arah sana"


"benarkah, malah aku tidak pernah tau bagaimana orang lain menilai ku. Aahh... Jadi tambah kangen dengan kak Al" gumam Kirana menopang dagu melihat keluar kaca dimana saudaranya dan penjaga membeli barang keperluan.


Ponsel Kirana berdering, Ia hanya diam melihat siapa yang menghubungi nya, nama husband terlihat jelas di layar namun Kirana hanya menatapnya acuh tidak berusaha menjawabnya.


"jika big menghubungimu saat ini tidak usah diberikan kepadaku" kata Kirana cepat, Sean mengangguk.


Daniel tergesa-gesa berjalan menghampiri Kirana yang masih berada didalam kendaraan, "big" sodor Daniel pelan, Kirana menggeleng. Daniel mengangguk dan segera menjauh.

__ADS_1


Kirana memejamkan netranya menahan kantuk yang teramat sangat, ia segera tertidur menunggu mereka selesai.


Ia menggeliat pelan, merasakan tempatnya tidur sangat nyaman. Ia membuka netranya cepat menyadari ada yang salah saat ini karena seingatnya dia berada dalam perjalanan pulang dan tertidur di dalam kendaraan.


Waktu telah menunjukkan dini hari saat dia terbangun, ia beranjak keluar ruangan. Mendapati keadaan hening karena mereka lelah setelah perjalanan jauh, ia meminum air mineral dan membuka box pendingin mencari makanan yang ada. Menaruh didalam box penghangat, melihat keadaan rumah yang rapi seperti saat mereka tinggalkan.


Makanannya sudah hangat kembali, ia duduk dan memakan dengan tenang hingga terdengar suara pintu dibuka dengan pelan dari luar, Kirana secara refleks menatap kearah depan dimana Alexandre tampak terkejut mendapati Kirana terjaga di tengah malam sendirian dan sedang makan.


Ia melepas semua pakaian luarnya menaruhnya di sudut ruangan tempat menaruh coat, Ia segera menghampiri istrinya mengecup ubun-ubun rambut nya berulangkali.


"belum tidur" tatap Alexandre lekat.


"lapar" jawab Kirana pelan mengunyah makanan nya cepat tanpa memperdulikan Alexandre, setelah selesai ia membersihkan peralatan makan yang dipakainya melangkah masuk ke ruangan nya diikuti Alexandre tanpa ada suara dari keduanya. Alexandre menutup pelan pintu sesaat setelah istrinya masuk, Ia menahan laju Kirana dengan menggenggam lengan tangan Kirana.


"yang" ujar Alexandre lembut, Kirana menoleh


"hhmm, kenapa"


"kenapa tidak menjawab panggilanku"


"aku mengantuk" jawab Kirana cepat melepaskan pakaian luarnya dan segera masuk kedalam cover bed ternyamannya. Alexandre menghela nafas mengerti bahwa Kirana sedang marah, Ia merebahkan tubuhnya disamping Kirana, memeluk nya.


"maafkan aku" ulang Alexandre, Kirana hanya diam tanpa kata.


"honey, maafkan aku terlalu lama meninggalkanmu" kecup pipi Alexandre mengusap pipi Kirana satunya dengan jemari.


"aku harus menyelesaikan nya dengan benar sebelum kembali menemui mu" hela nafas Alexandre ditelinga Kirana, benar-benar takut jika istrinya tidak mau memaafkan dan memintanya pergi.


"aku tidak mau membuatmu berpikir yang tidak-tidak, setiap saat aku bisa menghubungi mu pasti akan aku lakukan. Jangan seperi ini, yang.... Kamu membuatku tersiksa" kelu Alexandre meminta Kirana memaafkannya.


"yang.... Don't like this. Aku benar-benar tidak kuat jika kamu begini" ujar Alexandre lemah memeluk Kirana erat.


"pengap, kak" jauhkan Kirana, Alexandre menahan pergelangan tangan istrinya, menahan tubuh Kirana dibawahnya.


"aku tau salah karena tidak menghubungimu beberapa hari. Maafkan aku karena benar-benar tidak ada waktu untuk menghubungimu, yang" tatap Alexandre lekat.


"aku tau, aku ngerti karena aku memang tidak ada artinya bagimu" angguk Kirana, Alexandre mencium bibir Kirana dengan cepat tanpa memberinya kesempatan untuk mengambil nafas hingga membuat tersengal-sengal.


"say it again" tantang Alexandre menatap istrinya. Kirana membalas tatapan Alexandre.

__ADS_1


"aku tidak ada artinya bagimu" ulang Kirana belum selesai namun Alexandre telah membekap bibirnya dengan ciuman yang membara dan menuntut.


Alexandre memaksa membuka bibir istrinya dan mengabsen setiap inchi dalamnya, Kirana memukul dada Alexandre agar melepaskannya. "Al" tatap Kirana nanar, Alexandre bergulir kesamping dan memeluk tubuh Kirana lembut.


"maaf" cicit Alexandre kembali, Kirana menangis dengan keras dalam pelukan hangat suaminya yang mendengarkan dirinya meluapkan rasa kesalnya hingga Kirana kembali tertidur bersama Alexandre yang juga tertidur dengan nyenyak.


hari sudah semakin siang namun kedua insan itu masih bergelung saling mendekap erat, Kirana menggeliat merasakan panggilan alam mengeluarkan air dari tubuhnya, ia mengurai pelukan Alexandre untuk ke bathroom.


Alexandre masih tertidur pulas, Kirana selesai membersihkan dirinya keluar dari ruangan pribadi nya.


"siang dek" lihat Wijaya menggigit makan siangnya, Kirana mengangguk mengambil roti bulat berisi berbagai isian.


"kak Al, disini. Masih tidur" kata Kirana, Wijaya mengangguk mengunyah makanannya.


"kapan datang"


"dini hari, saat aku makan karena lapar. Tau-tau ada yang buka pintu ternyata dia" jawab Kirana mengusap saus yang ada di pojok bibirnya.


"apa kalian bertengkar" tanya Wijaya pelan melihat netra Kirana yang terlihat seperti mengeluarkan airmata lama.


"tidak, lebih tepatnya mengeluarkan kekesalan karena tidak selalu memberi kabar" geleng Kirana, Wijaya tersenyum kecil.


"dulu kamu tidak memberi kabar lama dia juga sangat sabar menantimu tanpa mengganggu mu trus kenapa hanya beberapa minggu kamu merasa kesal"


Kirana mengernyitkan dahinya sebentar dan mengangguk pelan.


"dia sudah berusaha sebaik yang dia bisa, K. Meninggalkan pekerjaan untuk segera menemui mu dengan segala resikonya hanya agar kamu tidak berpikir yang tidak-tidak, padahal pekerjaan yang dia lakukan untuk kebahagiaan mu dan baby kalian juga nanti"


Kirana terdiam lama menghabiskan dengan cepat makanannya dan segera beranjak meninggalkan Wijaya, ia meraih coat panjangnya.


"aku keluar bentar kak, hanya akan berjalan-jalan" kata Kirana pelan, Wijaya mengangguk.


Hai... Hai.... Hai.... all readers terimakasih telah mampir membaca karya baruku ini. terimakasih telah me like karyaku ini. dukungan kalian sangat berarti bagi kami yang selalu memberikan karya terbaik untuk all readers di mangatoon.


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng.


terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all.

__ADS_1


__ADS_2